NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:783
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Keributan Di Keluarga Mahesa Utama

Baru akan keluar, netra Satya menangkap sosok wanita tinggi semampai, yang bertingkah aneh.

Langkahnya tertahan di ambang pintu ruangan Heru. Matanya menyipit penuh selidiknya saat mengamati gerak-gerik mencurigakan dari pegawai kantoran tersebut.

Wanita itu, hampir terbentur pintu. Lalu cepat-cepat ke meja samping. Tersentak sesaat, begitu melihat Satya keluar.

Satya memicing. Itu jelas bukan mejanya. Sebab si wanita, hanya diam, membelakanginya. Pura-pura sibuk merapikan tumpukan map kosong dengan jemari yang gemetaran hebat. Mungkin menutupi intrik mengupingnya.

"Aneh," desis Satya, heran. Tanpa peduli, ia melangkah cepat. Menuju lift. Mengabaikan kecurigaannya demi segera kembali ke Melati. Untuk mempersiapkan pernikahan mereka.

Sepeninggalan Satya. Si wanita cepat mengambil ponsel. Menghubungi seseorang.

Ia melangkah terburu-buru menuju sudut koridor yang sepi untuk membisikkan hasil, menjadi detektif dadakan.

"Nyonya, saya mendapat info penting. Tentang keponakan Tuan Heru."

Belum diketahui dengan siapa dia bicara. Hanya saja rautnya yang semula serius. Langsung berubah sumringah. Seakan mendapat undian lotre.

Wanita itu tersenyum licik, usai menuangkan konspirasi besar, yang sukses dilaporkannya.

---

Satya memutuskan singgah ke toko emas, yang hampir tutup. Langkah kakinya terburu-buru memasuki ruko bernuansa hangat itu. Membawa secercah harapan asmara di tengah kepungan intrik keluarganya yang kian memanas.

“Permisi, maaf.” Satya mengetuk etalase kaca yang berkilauan.

“Ya.” Seorang gadis menyambutnya ramah. “Ada yang bisa saya bantu, Kak?” Si gadis meletakkan kain beludru hitam di atas meja, tersenyum sopan.

“Saya mau melihat cincin lamaran.”

“Baiklah.” Si gadis memberikan katalog kepada Satya. “Silakan dipilih model dan kotak cincinnya.”

“Ini bagus.” Satya menunjuk salah satunya. Sepasang cincin bermotif ukiran silang yang tampak dramatis sekaligus elegan.

“Ini untuk yang wanita emas. Yang pria perak, ya, Kak.”

“Lho kenapa begitu?” Satya menautkan alis. Bingung. Ia memiringkan kepalanya, menatap si gadis penjaga toko emas dengan heran.

“Ya, karena cowok nggak boleh pakai emas,” jelas si gadis penjaga toko.

“Baiklah. Berapa harganya?” Satya bersiap membayar. Ia meraba dompet di saku celananya, bersiap menguras sisa tabungan gajinya demi memuliakan Melati.

“Ukurannya dulu.”

“Ukuran?”

“Ya. Bawa gadismu kemari. Biar kita bisa ukur jari.” Si gadis penjaga toko tersenyum simpul, menyodorkan alat pengukur lingkar jari berbentuk deretan cincin besi.

“Aku akan ajak dia. Tunggu sebentar. Lima belas menit aku akan kembali.” Satya berbalik panik, hendak mangkat. Namun, suara si penjaga toko, menahannya.

“Toko kami mau tutup,” sergah si gadis penjaga toko. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore. “Begini saja. Aku kasih nomorku. Nanti kakaknya bisa ukur sendiri jarinya. Lalu kirim pesan gambar ke aku.”

Satya berpikir lama, baru menjawab, “Bagaimana kalau besok siang, aku ajak gadisku ke sini?”

“Boleh.” Si gadis penjaga toko mengangguk. Ia mulai merapikan katalog ke dalam laci etalase.

“Kalau begitu, permisi ya. Besok aku ke sini lagi.” Satya buru-buru melangkah. Sambil membetulkan maskernya. Kembali ke bengkel.

Ia bergegas menembus keremangan sore, tak sabar ingin segera memeluk gadis buta pujaannya dan membisikkan drama rencana pernikahan mereka yang kian nyata.

---

“Makasih, ya, Mbak.” Melati menerima bingkisan dari Kristi. Jemari lentiknya meraba permukaan plastik pembungkus makanan itu dengan perlahan di tengah kegelapan dunianya.

“Sama-sama.” Kristi tersenyum sombong. Melipat kedua tangan di dada, memandang rendah kamar kos Melati yang sederhana dengan tatapan penuh jijik. “Itu karena pacarku loyal. Dia merayakan ulang tahunku di resto mewah. Ini karena kamu nggak ikut saja. Karena aku kasihan. Jadi aku bawakan.”

“Iya.” Melati meraba meja, untuk meletakkan nasi kotak. “Makasih.” Ia mengulas senyum tipis, mencoba mengabaikan nada meremehkan dari tetangga kosnya itu.

“Em, ngomong-ngomong soal pacar. Saranku ya, mumpung kamu belum lamaran. Mending cari deh laki yang kaya. Masa iya dapat pemuda burik, plus kere pula. Mana maen.” Kristi melangkah mendekat, sengaja menyenggol bahu Melati demi menanamkan keraguan.

“Namanya juga jodoh, Mbak. Kita hanya mengikuti arahan sutradara hidup.” Melati menjawab tenang.

“Kalau belum menikah. Masih belum bisa dibilang jodoh. Yang nikah aja belum tentu jodoh, ya, khaaaan?” Kristi terus mempengaruhi Melati.

Ia mencibir, sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang dicat blonde dengan gestur angkuh.

Meski begitu, Melati masih tetap pada pendiriannya. Melanjutkan sisa hidup dengan Satya. Toh selama ini, pemuda yang ia kenal hanya Satya. “Nggak apa, Mbak. Saya sudah mantap sama Satya.”

“Bagus Melati!”

Suara lain tiba-tiba menimpali. Membuat Melati refleks mencari sumber suara. Ia memiringkan kepala ke arah pintu luar yang terbuka.

Sementara Kristi yang tahu langsung merengut. “Apaan seh, Ir. Ikut-ikutan aja lho kamu.” Langsung menegur Ira, teman depan kamarnya.

Ia berkacak pinggang, menatap tajam Ira yang baru saja bersandar di pintu dengan senyum mengejek.

“Justru kamu yang ikut-ikutan, Mbak.” Ira tersenyum sinis. Melangkah masuk, memposisikan dirinya berdiri di samping Melati. “Ngapain ikut campur urusan Mbak Melati? Lha wong yang jalani kan dia? Bukan Mbak Kristi. Menurutku ya, malah sebaiknya Mbak mikir. Pacaran kok sama laki orang. Iya, tahu dah perawan tua. Tapi mbokyo nyarinya laki lajang, yang serius.”

“Kamu ini ngomong apa sih? Mas Alfian itu mau cerai dari istrinya.” Wajah Kristi seketika pias, suaranya melengking tinggi demi menutupi rahasia hubungan gelapnya.

“Dari zaman kapan bilang mau cerai. Buktinya setahun lebih lho. Cuma janji, nggak dilakukan. Masih mending Mbak Melati, pacaran nggak sampai hitungan bulan. Sudah diseriusin.” Ira lalu mengarahkan wajah ke Melati. “Sudah Mbak Mel, omongan Mbak Kristi jangan diambil hati. Dia saja statusnya masih digantung. Sok mau nasihatin orang.”

Melati hanya tersenyum. Mengangguk setuju. “Iya, Mbak.”

“Ish, dikasih masukan positif nggak didengerin. Jangan nyesal ya nanti.” Kristi menghentakkan kaki, sebelum berlalu pergi.

Ia mengentak langkah kasarnya di sepanjang koridor, menyisakan keheningan yang dramatis setelah badai sindiran yang ia lontarkan di hadapan Melati.

---

“Risma aku mau bicara.” Heru meletakkan pakaian kotor di rak. Pelan. Ia melepas jaket kulitnya dengan tangan bergetar. Menyembunyikan badai kepanikan yang sejak sore menghantam dadanya setelah pertemuan dramatis dengan Satya di kantor.

“Tentang?” Risma yang sedang menikmati pijatan alat elektronik-nya, perlahan memicing. Ia membetulkan posisi duduknya di atas sofa satin mewah. Menatap sang suami dengan pandangan dingin yang sarat akan intrik busuk.

“Bram.”

“Bram?”

“Ya. Dia ke kantorku sore tadi. Mengatakan kalau dia ingin menikah dengan gadis miskin. Teman-nya satu panti.” Heru mendengkus kasar. Mengambil duduk di sisi ranjang. Ia meremas sprei dengan erat, meluapkan beban pekerjaan serta rasa bersalah di masa lalu, yang kian mengimpit. “Jujur aku kurang setuju. Apalagi ….”

“Kenapa tidak setuju?” Risma meletakkan alat pijatnya di atas nakas. Ia menegakkan punggung, menatap Heru dengan senyuman licik yang teramat sinis. “Bram itu sudah dewasa. Sudah bisa menentukan arah hidup. Kalau cinta kenapa tidak? Biarkan saja dia bercinta bersama kekasih miskinnya."

“Masalahnya dia menuntut hak-nya.” Heru menyela dengan nada berat, menatap istrinya nanar.

“Hak?” Risma tersentak. Hampir menjatuhkan kunci nakas yang sedang dipegangnya.

Wajahnya seketika pias, dilingkupi kemarahan yang meluap-luap dalam drama perebutan harta keluarga Utama. “Mana mungkin? Dia sudah tidak ada hak! Bram sudah mati! Mayat tak butuh hak!”

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!