DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: TENDA BIRU**
**
Pagi itu, sebelum benar-benar berangkat ke Jakarta, David masuk ke kamar tempat dia menginap, mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi rekening yang sekarang sepenuhnya dia kuasai. Tujuh puluh juta, sisa tabungan pribadi David yang selama ini cuma mengendap tanpa pernah dipakai untuk apa-apa yang berarti, dia tarik tunai lewat bantuan Anto, dimasukkan ke dalam amplop coklat tebal.
"Mak," dia menyodorkan amplop itu, suaranya berusaha tenang walau dadanya berdebar, "ini buat modal usaha lagi. Buat benerin gerobak, atau buka usaha lain kalau Mak mau."
Mak Inah menatap amplop itu lama, tangannya gemetar saat menerima, "Dadang, ini kebanyakan, Mak gak bisa nerima ini."
"Mak harus nerima," David memaksa lembut, "ini juga, Dudung, sekolahnya udah saya bayar lunas sampai lulus SMA nanti. Tiga tahun ke depan, Dudung gak usah mikirin SPP lagi."
Dudung yang berdiri di samping, matanya langsung berkaca-kaca, "Kak David, kenapa baik banget sama kita?"
David hanya tersenyum, tidak menjawab dengan kata-kata yang sebenarnya ingin dia ucapkan, hanya mengangkat bahu pelan, "Anggap aja ini balas budi, dari saya yang udah pernah ditolong sama Kang Dadang."
Mak Inah memeluk amplop itu ke dadanya, air mata mengalir lagi, tapi kali ini bukan air mata yang murni perih, ada sedikit kelegaan terselip di sana, "Makasih, Dang. Mak tau, di mana pun kamu sekarang, kamu masih jagain Mak sama Dudung."
David mengangguk, menahan diri sekuat tenaga supaya tidak ikut runtuh di depan mereka, lalu berpamitan, memeluk Mak Inah sekali lagi, memeluk Dudung lebih lama, sebelum akhirnya melangkah ke mobil yang sudah menunggu di depan gang.
***
Perjalanan pulang ke Jakarta, entah kenapa, David meminta Rambo mengambil rute memutar, lewat jalan kecil yang dulu sering dia lewati setiap sore, jalan yang menuju rumah Kirana.
"Kenapa lewat sini, Vid?" Anto bertanya dari kursi tengah.
"Pengen liat aja," David menjawab pelan, matanya menatap keluar jendela dengan harapan kecil yang bahkan dia sendiri tidak berani ucapkan.
Begitu mobil mendekat ke gang rumah Kirana, matanya menangkap sesuatu yang membuat dadanya seketika membeku. Tenda biru besar berdiri di halaman, kursi-kursi plastik tersusun rapi, dan di gerbang, terpasang janur kuning serta spanduk bertuliskan dua nama yang berdampingan.
Kirana & Ujang.
David meminta Rambo menghentikan mobil, turun sendirian, berjalan mendekat dengan langkah yang semakin berat setiap detiknya. Dari kejauhan, dia melihat Kirana, memakai kebaya sederhana, sedang dirias di teras rumah, sementara di sampingnya, Ujang, yang baru kemarin lari ketakutan setelah memukuli Dudung, sekarang berdiri dengan jas pengantin, tersenyum puas seolah dunia berpihak penuh padanya.
David berdiri di ujung gang, tidak berani melangkah lebih dekat, badannya kaku, dadanya seperti diperas habis oleh tangan yang tidak terlihat.
Dia ingat, jelas sekali, bagaimana dia memberikan napas terakhirnya sendiri demi mendorong tubuh itu jauh dari rel kereta. Dia ingat detik-detik terakhir sebelum kegelapan datang, dan satu-satunya yang ada di pikirannya saat itu hanya satu nama.
Dan sekarang, nama itu akan menikah dengan orang yang dulu memanggilnya "Kang Dadang" penuh hormat, orang yang menangis paling keras di pemakamannya, tapi kemudian berubah jadi sosok yang memalak adiknya sendiri tanpa rasa bersalah.
Anto, yang turun menyusul, melihat wajah David yang sudah pucat, mencoba menarik pelan, "Vid, udah, yuk, kita pulang aja."
David tidak bergerak dulu, matanya masih menatap tenda biru itu, menatap Kirana yang sesekali tertawa kecil mendengar candaan dari ibu-ibu yang merias wajahnya, tertawa yang dulu selalu ditujukan untuknya, sekarang ditujukan untuk dunia yang sudah melanjutkan hidup tanpa dirinya.
Perlahan, dia membalikkan badan, melangkah kembali ke mobil dengan kepala tertunduk, dan begitu pintu mobil tertutup, dia menyandarkan kepalanya ke jendela, membiarkan air matanya jatuh dalam diam, tidak ada suara isakan, hanya jejak basah yang mengalir pelan, sunyi, seperti seluruh dunia ikut menahan napas bersamanya.
"Aku rela kehilangan segalanya buat dia," gumamnya nyaris tak terdengar, "dan sekarang dia bahagia sama orang yang dulu jadi sahabat aku sendiri."
Mobil melaju meninggalkan Lembang, membawa kembali ke Jakarta, ke kehidupan baru yang penuh kemewahan tapi tetap saja terasa kosong setiap kali bayangan tenda biru itu muncul kembali di benaknya.
*(bersambung)*