Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 18
Riven menekan pedal gas lebih dalam, membiarkan raungan halus mesin mobilnya membelah jalanan.
Kendaraan mewah itu melaju meninggalkan pusat kota, bergerak menuju wilayah pinggiran yang semakin jauh dari keramaian beradab.
Gedung-gedung pencakar langit yang angkuh perlahan lenyap dari pandangan, digantikan oleh deretan bangunan tua kusam yang berdiri rapat dan berhimpit di sepanjang jalan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras waktu, jalanan aspal yang semula mulus mulai berganti dengan permukaan yang retak, bergelombang, dan dipenuhi lubang di sana-sini.
Riven menurunkan kecepatan, menjaga agar kolong mobil rendahnya tidak menghantam batu. Tak lama kemudian, ia memutar kemudi, berbelok memasuki sebuah gang sempit yang pengap, hanya cukup dilalui oleh satu kendaraan.
Namun, tepat saat ia mematikan mesin, sepasang matanya menangkap siluet yang sangat ia kenal di ujung gang.
Seorang gadis berwajah bening dan berkulit putih cerah bersinar sedang berjalan sendirian.
“Angie...” gumam Riven lirih, nyaris tak terdengar.
Namun, Angie tidak menoleh. Kepalanya tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya dari dunia.
Langkah kakinya cepat, namun tampak goyah dan lemah, seolah ia sedang mengerahkan sisa tenaga terakhirnya untuk lari dari sesuatu yang mengerikan.
Tanpa membuang waktu, Riven segera mendorong pintu mobil dan melangkah keluar.
“Angie!” panggilnya lebih keras.
Gadis itu tetap bergeming, terus melangkah gontai menyusuri jalanan berbatu.
Riven mendecak, lalu mempercepat langkahnya. Dengan postur tubuh yang tinggi dan langkah kaki yang jauh lebih panjang, ia dengan mudah memangkas jarak, menyusul Angie, lalu berputar memotong jalannya. Satu tangannya terulur, menahan lengan gadis itu dengan sentuhan yang tegas namun hati-hati.
“Angie. Ada apa?”
Gadis itu tetap bergeming, menolak menatapnya.
“Aku membawakan dompet dan ponselmu. Kau meninggalkannya di….” Kalimat Riven mendadak tercekat di tenggorokan.
Secara perlahan, Angie mengangkat wajahnya. Dan sekali lagi, Riven dipaksa menatap sepasang netra yang sama seperti malam itu.
Wajah cantik dengan kulit pualam yang kini memerah dan basah karena terlalu banyak menangis. Matanya sembab, sementara bibir tipisnya bergetar hebat menahan badai emosi yang siap meledak.
Sebuah wajah yang entah mengapa, selalu tampak seperti jeritan minta tolong yang tersontek sepi.
Namun kali ini, ada pemandangan lain yang membuat jantung Riven terasa aneh. Di pipi kiri Angie, terdapat bekas kemerahan yang kontras dan membengkak. Pola jemari yang jelas. seseorang baru saja menamparnya dengan keras.
“Apa yang terjadi dengan wajahmu?” Tanpa sadar, didorong oleh dorongan impulsif yang asing, Riven mengangkat tangan, mencoba menyentuh bekas merah di pipi Angie.
Namun, Angie langsung menarik kepalanya mundur secara refleks. Gerakan menghindar yang penuh ketakutan itu membuat tangan Riven membeku di udara selama beberapa detik. Merasa telah melanggar batas, pria itu perlahan menarik kembali tangannya ke sisi tubuh.
“Ah... maaf,” bisik Riven, merasa bersalah.
Angie hanya menggigit bibir bawahnya, meredam isak tangis. Namun belum sempat ia membuka suara untuk menjelaskan, sebuah teriakan kasar memecah keheningan gang dari kejauhan.
“Angie!”
“Angie, tunggu!”
Suara berat seorang pria menggema. Angie sentak menoleh ke belakang, dan kilat teror langsung menyala di matanya. Tak lama kemudian, seorang pemuda dengan napas terengah-engah berlari mendekat ke arah mereka. Itu Bobby. Pakaian kerjanya tampak berantakan, menandakan ia baru saja berlari cukup jauh.
Namun, yang membuat Riven terpaku adalah reaksi instan dari Angie. Begitu melihat kehadiran Bobby, gadis itu justru melangkah mundur, menjadikan tubuh tegap Riven sebagai tameng, lalu menyembunyikan dirinya di balik punggung besar pria itu.
Jemari kecil Angie mencengkeram ujung jas mahal Riven dengan begitu erat, hingga kainnya berkerut.
Riven menolehkan kepala sekilas. Melalui cengkeraman itu, ia bisa merasakan getaran ketakutan yang menjalar hebat dari tubuh Angie.
Tatapannya kemudian kembali beralih, mengunci sosok Bobby yang kini telah berdiri di hadapan mereka dengan napas memburu.
“Angie, aku mendengar kabar dari tetangga kalau ayahmu memukulmu lagi,” ucap Bobby, berusaha mengatur napasnya yang putus-putus. “Aku langsung lari dari tempat kerja. Aku mencarimu ke rumah, tapi rumah kosong.” Bobby melangkah maju, sorot matanya dipenuhi kecemasan yang berlebihan.
“Angie…”
Namun, Angie tetap bergeming di balik punggung Riven, mempererat cengkeramannya.
Merasa diabaikan, Bobby kehilangan kesabaran. Ia melangkah maju, mengulurkan tangan kasar untuk meraih lengan Angie. Namun sebelum jemari pemuda itu sempat menyentuh kulit Angie, Riven sudah bergerak lebih cepat.
Tangan kiri Riven terangkat, mendarat telak di dada Bobby, lalu mendorong pria itu mundur beberapa langkah dengan satu sentuhan kokoh.
“Dia tidak mau.” ucap Riven. Suaranya datar, dingin, namun sarat akan nada ancaman yang membuat atmosfer sekitar mendadak mencekam.
Bobby mengernyitkan kening, napasnya memburu tidak terima. Tatapan matanya yang sengit berpindah dari Riven ke arah Angie yang masih bersembunyi.
“Angie, kenapa kau bersembunyi di belakang orang asing ini?” Matanya menyipit penuh selidik. “Siapa laki-laki ini? Hah?! Apa kau mengenalnya!”
“Angie, jawab aku!” panggil Bobby lagi, nadanya mulai meninggi.
Tetap tidak ada jawaban. Saat itulah, pandangan Bobby turun dan menyadari sesuatu. Tangannya yang semula mengepal perlahan mengendur, terkunci pada pemandangan di bawah sana.
Bukan hanya mencengkeram jas, jemari kecil Angie kini telah menyusup, menggenggam erat telapak tangan Riven. Bahkan Riven sendiri baru menyadarinya saat rasa hangat dari jemari gadis itu menyentuh kulitnya. Genggaman yang begitu erat dan putus asa, seolah-olah Riven adalah satu-satunya dahan di tepi jurang yang bisa menyelamatkannya dari kehancuran.
Bobby terdiam cukup lama, menatap tautan tangan itu dengan raut wajah yang perlahan mengeras egois. “Kalian... pacaran?”
Pertanyaan gila itu menggantung berat di udara malam. Riven memilih untuk tetap diam dengan ekspresi sedingin es, sementara Angie tidak melontarkan bantahan apa pun.
Bobby mengembuskan napas kasar, tertawa sinis untuk menutupi harga dirinya yang terluka.
“Baguslah. Aku hanya ingin memastikan kau tidak mati, Angie. Semua orang di depan gang sedang membicarakanmu. Mereka bilang kau sendiri yang memancing amarah ayahmu.” Bobby menggelengkan kepala, nada suaranya berubah menyalahkan. “Kau tahu sendiri dia paling tidak suka diganggu kalau sedang minum-minum dengan temannya. Kenapa kau malah mendatanginya?”
Pandangan Bobby kembali jatuh pada pipi Angie yang membengkak. “Kau dipukul separah itu? Coba aku lihat…”
Saat Bobby kembali mencoba merangsek maju, Riven tidak lagi memberi toleransi. Ia mendorong dada Bobby jauh lebih keras dari sebelumnya, hingga pemuda itu terhuyung mundur satu langkah besar.
“Ku bilang, sudah cukup,” potong Riven. Tatapan matanya kini sepenuhnya berubah sedingin predator. Suaranya merendah, menekan setiap suku kata dengan intimidasi yang nyata. “Dia tidak mau. Apa kau tuli?”
Rahang Bobby mengeras, wajahnya memerah padam karena amarah dan rasa malu yang bercampur menjadi satu. Jelas sekali ia membenci dominasi pria asing di depannya.
Namun setelah beberapa detik terlibat perang urat saraf lewat tatapan mata, Bobby akhirnya memilih mundur. Ia melempar lirikan sinis penuh dendam pada Riven, sebelum memberikan tatapan terakhir pada Angie yang tetap abai.
Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan melangkah pergi dengan menendang batu kecil di sekitar kakinya.
Riven tetap bergeming di posisinya, memastikan hingga sosok Bobby benar-benar lenyap di kelokan ujung gang. Baru setelah itu, ia memutar tubuhnya menghadap Angie.
“Dia sudah pergi.”
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor