NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Orang yang Sama

"Udahlah, Ma. Kemarin-kemarin pas Rakha menderita, Mama ke mana saja? Bahkan Rakha tidak pulang seminggu pun Mama tidak pernah repot-repot mencari! Jangan sok peduli sekarang! Apa mungkin sekarang karena Papa lagi nggak ada di rumah, jadi Mama baru berani menghubungi aku, iya?!"

Rakha menatap ibunya dengan tatapan kosong, dingin, dan mati, sebelum berbalik melangkah masuk ke dalam taksi daring yang kebetulan baru saja sampai di depan pagar.

"Maafkan Mama, Nak... Hikss... Mama benar-benar minta maaf," isak Rossa nelangsa sambil meratapi kepergian mobil taksi yang membawa putra sulungnya menjauh, tenggelam ke dalam kegelapan malam Jakarta.

Rossa kembali melangkah masuk ke dalam mansion dengan tubuh gontai layaknya mayat hidup. Namun, saat melewati area ruang makan yang berantakan, ia menyadari Rayi sudah tidak ada di kursinya. Sebuah firasat buruk yang sangat pekat mulai menghantui benaknya. Ia segera berlari panik menuju kamar tidur putra bungsunya.

Tok! Tok! Tok!

"Rayi, ini Mama, sayang. Kamu sudah tidur?"

Karena tidak kunjung ada jawaban dari dalam, Rossa nekat memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci. Detik berikutnya, sepasang mata Rossa membelalak sempurna melihat pemandangan horor di dalam kamar.

Barang-barang di atas meja nakas berserakan hancur, dan botol obat penting milik Rayi tampak tumpah berhamburan di atas lantai bulu. Rayi sendiri sudah terduduk lemas bersandar pada kaki ranjang, kedua tangannya mencengkeram dada kirinya dengan wajah yang mulai membiru gelap menahan rasa sakit yang mematikan.

"Rayi!!!" teriak Rossa histeris.

Dengan sisa tenaga histerianya, ia memapah tubuh lemah anaknya yang sudah separuh pingsan menuju mobil Alphard di garasi, lalu menginjak gas sedalam-dalamnya melesat membelah jalanan protokol menuju rumah sakit pusat.

Di koridor rumah sakit yang dingin, putih, dan menyengat oleh bau cairan antiseptik, Rossa duduk di kursi besi ruang tunggu dengan seluruh tubuh gemetar hebat. Matanya tidak lepas menatap lampu merah di atas pintu IGD yang tertutup rapat.

Tak lama kemudian, pintu besi itu terbuka. Seorang dokter spesialis jantung keluar dengan wajah yang luar biasa serius dan lelah. Ia mengajak Rossa masuk ke dalam ruangannya untuk berbicara secara empat mata.

"Jadi... bagaimana kondisi putra saya, Dok?" tanya Rossa dengan suara yang nyaris habis, tercekat di tenggorokan.

Dokter itu menghela napas berat, menatap dokumen rekam medis di depannya dengan tatapan sendu. "Anak Anda menderita stadium akhir dari kardiomiopati, yaitu penyakit degeneratif otot jantung yang menyebabkan jantungnya melemah drastis dan sudah hampir tidak bisa memompa darah ke otak. Kondisinya malam ini sangat kritis, Madam. Saya sarankan untuk segera mendaftarkan nama Rayi ke institusi pencarian donor jantung nasional secepatnya, meskipun peluang keberhasilan menemukan donor yang cocok sangat kecil di negara ini. Dan... jujur, berdasarkan grafik medisnya, jika tidak ada donor dalam waktu dekat, dia mungkin tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi."

Kalimat medis itu seolah menjelma menjadi vonis mati yang menghantam telak kepala Rossa. Seluruh pasokan energi di tubuhnya mendadak lenyap. Ia merosot jatuh dari kursi, bersimpuh di lantai dingin dengan tangis yang pecah tanpa suara. Pandangannya mulai mengabur hitam oleh air mata sebelum akhirnya kegelapan total menyelimuti kesadarannya. Rossa jatuh pingsan di lantai ruangan dokter tersebut.

****

Di sisi lain kota, pendar cahaya lampu neon putih dari sebuah minimarket di seberang jalan tampak sangat kontras dengan kegelapan malam yang sunyi di sekitar area gang kos-kosan triplek.

Taksi daring yang membawa Rakha berhenti tepat di depan toko bercahaya terang tersebut. Niat Tuan Muda Bagaskara itu malam ini sangat sederhana: menguras rak minimarket untuk mengisi persediaan makanan instan, kopi, dan minuman kaleng demi stok di kamarnya yang sepi.

Sementara itu, di seberang jalan, suasana Rumah Makan Bu Sinta pun mulai melandai pasca-jam tutup sif malam. Alin baru saja selesai mengelap meja kayu terakhir menggunakan kain lap lecek hingga mengkilap, sementara Elis, rekan kerjanya yang bertugas di kasir, sedang menyandarkan sapu ijuk di sudut ruangan.

Aroma sisa tumisan kangkung dan cairan pembersih lantai yang tajam memenuhi udara malam saat mereka bersiap-siap mengunci gerbang besi rumah makan.

"Lin, Kakak duluan ya. Ojek online-nya udah nungguin di depan gerbang tuh," ucap Elis sambil menepuk pelan bahu Alin. Ia sudah menggenggam ponselnya yang menampilkan peta digital perjalanan.

"Iya, Kak Elis. Hati-hati di jalan!" sahut Alin ramah dengan senyum manis yang sayangnya tersembunyi di balik masker kain hitamnya, sambil menyampirkan tas kain lusuhnya ke bahu.

Tak lama kemudian, dua rekan kerja lainnya, Emilio dan Diana, berjalan beriringan menuju parkiran samping. Emilio sudah menaiki motor NMAX hitam miliknya yang terparkir gagah.

"Mau pulang bareng kita nggak, Lin? Searah kan sampai depan gang?" tawar Emilio sambil membetulkan letak helm halfface-nya.

Alin terkekeh pelan melihat posisi duduk Diana yang sudah siap membonceng dengan anggun di belakang Emilio. "Nggak usah, Bang Emil. Lagian Alin mau duduk di sebelah mana coba? Masa kita mau cabe-cabean bonceng tiga sih! Abang mending antar Kak Diana aja sampai rumahnya yang jauh. Kalau Alin kan tinggal jalan kaki sepuluh menit menyusuri gang juga sampai kosan."

Setelah melambaikan tangan melepas kepergian rekan-rekannya, Alin memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke minimarket di seberang jalan demi membeli air mineral tambahan. Ia berjalan santai menyeberangi jalan aspal yang mulai sepi. Jarum jam tangan plastiknya baru menunjukkan pukul 20:10 malam, yang berarti ia masih punya waktu kurang lebih empat jam sebelum sihir Cinderella Effect dari ubi rebusnya habis tepat di tengah malam nanti.

Saat berjalan, Alin sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam toko bercahaya terang benderang itu, takdir sedang memasang perangkap epik untuknya.

Di dalam minimarket, Rakha sedang berdiri tegap di depan meja kasir, menunggu giliran mesin pemindai menghitung tumpukan belanjaan makanan instannya. Saat sepasang mata elangnya secara tidak sengaja menyapu ke arah luar kaca transparan besar toko, gerakan tangannya yang hendak merogoh dompet langsung terkunci mati.

Melalui kaca film yang jernih, ia melihat seorang gadis yang mengenakan kaos putih polos melar dan celana jeans abu-abu monyet sedang berjalan menyeberangi jalan menuju ke arah tempatnya berada. Masalahnya, gadis itu memakai masker kain hitam tebal yang sangat ia kenal.

Alis Rakha bertaut sempurna, memicu memori otaknya. Postur tubuh yang mungil, gaya rambut ponytail yang diikat asal-asalan, dan cara berjalan gadis itu... terasa sangat familiar di dalam basis data ingatannya.

Sialan... itu kan cewek pelayan warung gila yang kemarin sore menumpahkan jus buah naga ke hoodie delapan juta gue! Gue hampir lupa kalau bocil bermasker itu masih punya utang ganti rugi cicilan seumur hidup sama gue! batin Rakha dengan seringai dingin yang mendadak terbit.

Sepasang matanya menyipit tajam, mengunci mati pergerakan sosok gadis itu yang kini melangkah semakin dekat ke arah pintu sensor otomatis minimarket.

Tepat di area luar teras depan pintu masuk, Alin menghentikan langkah kakinya sejenak. Merasa napasnya sedikit sesak dan pengap setelah diperas tenaga mencuci piring seharian, Alin mengulurkan tangan rampingnya, menarik tali masker kain hitamnya hingga terlepas sepenuhnya dari daun telinganya. Ia menghela napas panjang, menikmati embusan angin malam yang menerpa permukaan kulit wajahnya yang putih bersih, halus, dan glowing merona tanpa cacat sedikit pun akibat efek magis ubi rebus.

Alin sama sekali tidak menyadari, jika di balik pintu kaca tebal yang hanya berjarak dua meter di depannya, ada Rakha yang sedang menatap lurus ke arah wajah cantiknya dengan tatapan tajam, penuh kemenangan, sekaligus... syok yang luar biasa gila.

Deg!!!

Jantung Alin seolah dicopot paksa dari rongganya saat pintu kaca otomatis minimarket itu mendadak terbuka lebar dengan bunyi sensor ting-tong yang sangat nyaring. Pandangan matanya yang polos langsung bertabrakan tegak lurus dengan sepasang mata elang mematikan milik Rakha yang sedang berdiri mematung di depan meja kasir.

Kedua mata Rakha membelalak sempurna sampai hampir melompat dari kelopaknya. Otak genius Tuan Muda Bagaskara itu mendadak mengalami korslet total seakan disambar petir di siang bolong.

T-tunggu dulu... Rakha membatin dengan napas tertahan.

Gadis glowing luar biasa cantik yang ada di depannya ini adalah cewek gila yang kemarin siang cengar-cengir menekan hidung babi di depan kaca mobil mewahnya. Tapi... kenapa dia memakai baju pelayan loak yang sama? Dan kenapa dia memegang masker hitam milik pelayan warung yang menumpahkan jus buah naga ke bajunya?!

"L-lo..." suara Rakha tercekat, menunjuk wajah Alin dengan jari gemetar. "Jadi lo cewek gesrek yang di mobil gue... sekaligus pelayan ceroboh penyiram buah naga itu?!"

Alin mematung dengan mulut setengah terbuka di ambang pintu minimarket. Rahasia identitas ganda yang ia sembunyikan rapat-rapat sejak siang hari runtuh total berkeping-keping di bawah siraman lampu neon yang super terang benderang.

Mampus... tamat sudah riwayat hidupku! Dia tahu kalau bidadari yang gesrek dan pelayan miskin yang dia benci adalah orang yang sama! batin Alin menjerit histeris dalam kepasrahan total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!