Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!
Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19-Ungkapan Cinta
Lula melirik Arhan dengan sinis. "Kalo emang penting disini aja Arhan. Enggak perlu kamu capek-capek ngeluarin uang banyak cuman buat izinin aku kerja. Rugi!" Tukasnya dengan tegas.
"Enggak akan rugi buat aku kalo orang yang aku baik in itu kakak. Tolong kak, please...." Arhan yang akan menggenggam tangan Lula yang sedang mengepal malah gagal karena Lula lebih dulu memindahkan posisi tangannya.
Lula menghadap kearah lain, membelakangi cowok itu, menahan rasa sesak yang tiba-tiba saja muncul. "Oke, tapi cuman sekali itu aja, seterusnya jangan lagi."
Arhan tersenyum senang mendengar jawaban dari Lula. "Makasih kak. Nanti aku jemput yaa..."
Lula tak menjawab ucapan Arhan membuat Arhan akhirnya pergi dari kelas itu dengan langkah pelan.
Saat sudah memastikan bahwa Arhan benar-benar sudah tidak ada di kelasnya, barulah air mata yang sudah sedari tadi ia tahan itu keluar. Lula nangis dengan pelan saat melihat komunikasi nya dengan Arhan yang saat ini sudah benar-benar hancur lebur. Tidak ingin ada yang melihat, Lula pun menenggelamkan kepalanya pada kedua tangan yang sudah ia lipat silang dimeja. Tuhan, kenapa rasanya semenyakitkan ini?
***
***
***
Seperti ucapan Arhan tadi bahwa ia akan menjemput Lula sore itu. Ia benar-benar sudah siap dengan stelan casual nya. Kaos putih dengan celana Levis pendek diatas lutut hingga memamerkan kulit putih yang sudah ditumbuhi bulu-bulu dibagian kakinya, dimana hal tersebut semakin membuat pesona Arhan Ardigo semakin mempesona.
Tak lama kemudian, Arhan sampai didepan toko bunga grasea, tempat Lula bekerja.
Lula muncul keluar dari toko setelah mendengar suara deru mesin motor milik Arhan.
Setelah mereka sudah meminta izin dan Arhan yang memberikan bayaran gantinya, mereka pun meninggalkan tempat tersebut.
Selama perjalanan hanya ada keheningan satu sama lain. Lula sebenarnya ingin sekali bertanya pada Arhan, kemana ia akan dibawa pergi, namun sekuat tenaga ia urungkan dan lebih memilih diam saja.
Arhan melihat wajah Lula dibalik spion yang sengaja ia arahkan pada wajah Lula. Wajah diam Lula yang seperti sedang memikirkan sesuatu yang begitu berat. Seperti ingin dilepaskan namun ditahan oleh cewek itu. Ingin menanyakan namun Arhan takut akan merusak mood cewek itu nantinya. Akhirnya Arhan memilih untuk diam saja tanpa mau berucap lagi.
Lama perjalanan mereka, akhirnya sampai juga disebuah taman yang terasa begitu sepi pengunjung.
Lula turun dari motor Arhan, melepaskan helm yang terpasang dikepala nya. Menatap taman yang sepi itu dengan seksama. Mencoba mencerna kenapa Arhan mengajak nya kemari.
Arhan yang sudah turun dari motor dan melepas helm nya langsung menatap wajah Lula dengan senyuman tipisnya. "Ayo kita masuk ke area taman nya kak." Ajak Arhan yang segera menggandeng tangan Lula dengan erat. Membawa cewek itu semakin memasuki taman yang sudah ia persiapkan beberapa hari yang lalu.
Lula diam dan mengikuti Arhan namun dengan perasaan yang kini sedang bertanya-tanya akan kemana cowok itu membawanya.
Lula menatap taman sekeliling dengan perasaan yang berbeda. Bunga Lily pink yang ada dimana-mana bahkan hampir keseluruhan taman dipenuhi dengan Lily pink kesukaan nya. Ditengah-tengah taman itu ada sebuah air mancur dengan patung bunga Lily, diatasnya terdapat tulisan "Lula My Love".
Jantungnya semakin berdebar kencang tidak nyaman. Apakah Arhan ingin....?? Lula langsung menggelengkan kepalanya. Ia menghentikan langkahnya secara mendadak, membuat Arhan yang masih menggandeng tangan cewek itu langsung berhenti juga, melihat Lula.
"Arhan, aku mau pulang." Titah Lula kemudian. Ini pasti firasat nya benar kalau Arhan akan mengungkap kan sesuatu padanya.
Arhan mengangkat satu alisnya. "Aku belom bicara sama kamu, kenapa minta pulang." Ucap Arhan yang tiba-tiba saja mengubah kata 'kakak' menjadi 'kamu'.
Lula menggeleng. "Pulang aja ya."
Arhan tetap menarik tangan Lula. "Please, untuk kali ini biarin aku ungkapin apa isi hati aku selama ini."
Perlahan namun pasti, Arhan membawa Lula ke arah pancuran air yang berada ditengah-tengah taman tersebut. Tangannya tak hentinya menggenggam tangan mungil milik Lula.
Sesampainya ditempat itu, Lula menatap air pancuran bunga Lily itu dengan getir. Dadanya bergemuruh hebat. Apakah ini adalah hal yang ia mimpi-mimpi kan dulu?? Yah, dulu sebelum hubungannya dengan Arhan harus di paksa berhenti.
"Lula Khansa." Panggil Arhan dengan suara lembutnya, membuat sepasang mata indah dari seorang cewek yang sedari awal melihatnya sudah dibuat jatuh cinta sedalam-dalamnya.
Arhan mengambil tangan satunya lagi milik Lula. Mereka berhadap-hadapan dengan begitu dekat. "Aku bawa kamu kesini karena aku ingin mengungkapkan perasaan dan isi hatiku yang sudah lama ku pendam." Ucap Arhan yang tak melepaskan pandangan matanya pada sosok Lula. Wajahnya menunjukkan keseriusan pada cewek didepan nya itu.
Deg.... Deg.... Deg.... Deg...
Jantung Lula berdebar dengan begitu hebat, semakin lama jantung nya seperti semakin ingin keluar dari dalam tubuhnya.
Sebelum kembali melanjutkan ucapannya, Arhan menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan guna menetralkan dirinya agar lebih tenang lagi. "Aku Arhan Ardigo sangat sangat sangat mencintai Lula Khansa. Lula, aku ingin kamu menjadi milikku, apakah kamu mau menjadi pacarku?." Akhirnya apa yang Arhan pendam selama ini tersampaikan juga. Ia memejamkan matanya, menunggu jawaban dari cewek itu. Arhan berharap hasilnya akan sesuai dengan bayangan nya selama ini, sesuai dengan rencananya selama ini. Ia yakin perasaan nya dan perasaan Lula sama.
Srek!
Dengan penuh kekasaran yang ada dalam dirinya, Lula menghempaskan tangan Arhan yang menggenggam tangannya. Membuat Arhan membuka matanya, menatap Lula dengan penuh kebingungan.
Lula menelan salivanya yang seperti sangat tercekat di tenggorokan nya. Mencoba menetralkan dirinya agar tidak rapuh. "Bercanda kamu enggak lucu sama sekali." Tukasnya dengan penuh kesinisan.
Mata Arhan beberapa kali berkedip lalu menggeleng cepat. "Aku serius Lula, enggak bercanda. Buat apa kaya gini aku bercandain." Jelas Arhan kemudian dengan sangat berkata jujur.
Lula menggeleng. Ia mengalihkan pandangannya tidak mau menatap sta Arhan. "Maaf, aku gak bisa jadi pacar kamu. Makasih udah mau ngungkapin isi hati kamu, sekali lagi maaf, dan aku selama ini hanya anggap kamu sebagai adik kelas ku." Pinta Lula kepada Arhan.
Degh....
Arhan menatap tak percaya dengan jawaban yang Lula lontarkan. Apa barusan? Untuk pertama kalinya ia menembak seorang cewek dan pertama kalinya juga ia ditolak. Tapi, entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa apa yang Lula bicarakan sekarang semuanya adalah bohong. "Lula, jangan bercanda. Aku tau kamu bercanda kan?." Tanya Arhan yang masih sangat tidak percaya dengan apa yang Lula bilang bahwa cewek itu tidak mencintai nya.
Wajah Lula berubah datar, sangat datar, kemudian cewek itu menunjukkan senyuman sinisnya. Senyuman yang begitu jahat dan tidak pernah Arhan lihat sebelumnya.