Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Air Mata Desi
Hari ini, Desi kerja seperti biasa. Sementara suaminya Ridwan sedang libur. Tadi pagi, Desi sudah memasak untuk anak-anak dan suaminya. Desi tidak mau mengambil ijin kecuali keperluan mendesak. Maka, ia tetap bekerja seperti biasa meskipun suaminya libur.
Tepat pukul 2 siang, Desi dan Bagas pulang dari sekolah. Desi memilih berjalan kaki saja menuju rumahnya. Dia tidak mau merepotkan suaminya, kebetulan jarak dari rumah ke sekolah juga dekat, hanya sekitar 500 meter. Sesampainya di rumah, dia melihat suaminya sedang bermain dengan Aqilla dan Rafi. Muncul kebahagiaan di hati Desi. Tapi hanya sesaat karena dia juga mengingat akhir-akhir ini suaminya jarang pulang alasan lembur dan juga ingat nafkah yang diberikan suaminya yang semakin tidak pantas mengingat gaji suaminya cukup besar.
'Ah, sudahlah. Jangan diingat terus.' , ucap Desi di dalam hati.
Begitu sampai di depan rumah, Desi dan Bagas mengucapkan salam hampir bersamaan.
"Assalamu'alaikum...." , ucap Desi dan Bagas.
"Wa'alaikumsalam. Mama pulang." , jawab Aqilla dan Rafi sambil berlari ke arah Desi.
"Anak mama lagi main apa ini?" , tanya Desi.
"Lagi main cama ayah. Main kuda-kudaan. Ayah jadi kudanya." , jawab Aqilla sambil tertawa senang.
"O iya. Ya udah lanjut lagi mainnya ya, mama ganti baju dulu." , jawab Desi.
"Iya mama." , jawab Aqilla.
"Ayok ayah kita main lagi." , ucap Aqilla pada ayahnya.
"Ok deh." , jawab ayah Aqilla.
Selesai berganti pakaian, Desi kembali ke depan berkumpul bersama anak-anaknya. Bagas juga ikut bergabung.
'Tumben ayah mau main sama adek-adek.' , ucap Bagas dalam hati.
Mereka semua berkumpul dan bercanda tawa seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Desi mencoba melupakan semua kesedihannya dan ikut bermain. Setelah capek bermain, akhirnya mereka beristirahat. Desi menyuruh anak-anaknya untuk tidur siang. Juga dia dan suaminya beristirahat siang di kamar. Sore hari, Desi terbangun. Dia melihat suaminya masih tidur nyenyak. Dia penasaran ingin mengecek hp suaminya. Beberapa waktu lalu, dia pernah mencoba mengecek hp suaminya tapi karena takut tidak selesai hanya sampai bisa membukanya, hp suaminya menggunakan kata sandi. Saat Desi coba dengan tanggal lahir suaminya ternyata bisa. Desi yang penasaran akhirnya diam-diam mengambil hp suaminya dan membawanya keluar kamar. Desi segera mengecek hp suaminya. Betapa kagetnya dia setelah membaca chat wa suaminya dengan perempuan lain. Isi chat wa tersebut menggunakan kata-kata sayang dan mesra. Desi segera mengembalikan hp suaminya ke tempat semula.
'Pantas mas Ridwan selama ini jarang pulang, mungkin dia menginap di rumah perempuan itu dan mungkin uang gajinya juga dia berikan ke perempuan itu. Miris sekali nasibku.' , ucap Desi dalam hati.
Kemudian Desi merenung, tanpa terasa air mata mengalir, semakin lama semakin deras dan dia juga menangis sejadi-jadinya. Menangisi nasib yang telah menimpanya. Dia tak habis pikir, mengapa suaminya tega mengkhianatinya padahal selama ini, dia sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya dan juga berusaha menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga, memasak, mencuci. Bahkan, dia mempekerjakan mbok Muna untuk membantunya menjaga anak-anak saat dia bekerja supaya tidak merepotkan suaminya juga. Desi bekerja untuk membantu suaminya agar ada pemasukan tambahan karena dulu sebelum dia bekerja, penghasilan suaminya kurang untuk mencukupi kebutuhan apalagi saat itu gaji suaminya belum sebesar sekarang. Desi pun memutuskan untuk bekerja dan tentunya diijinkan oleh suaminya. Tapi, apa balasan yang diberikan oleh suaminya. Sebuah pengkhianatan. Desi masih menangis sesenggukan.
'Buat apa aku menangis, tidak ada gunanya. Sayang air mata ini untuk menangisi laki-laki seperti dia.' , bathin Desi.
Akhirnya, Desi mengusap air matanya. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri apapun yang terjadi pada suaminya dia tidak akan perduli dan tidak akan pernah lagi menangis untuk suaminya. Saat ini, dia hanya fokus ke anak-anak nya saja. Dia akan bekerja lebih giat untuk kebahagiaan anak-anak nya. Dia tidak akan berharap apapun dari suaminya. Dia akan berusaha sendiri untuk merawat dan mendidik anak-anak nya.
Kemudian, Desi segera mandi, solat dan beres-beres rumah juga memasak untuk makan malam. Saat lagi asyik memasak, tiba-tiba Aqilla terbangun.
"Mama lagi ngapain? Ayah mana?" , tanya Aqilla.
"Mama lagi masak sayang, ayah masih bobo. Aqilla mau mandi dulu apa mau bangunin ayah dulu?" , tanya Desi.
"Mau mandi dulu ma, habis itu baru bangunin ayah. Tadi siang ayah janji mau ajak Qilla sama abang Rafi jalan-jalan." , jawab Qilla.
"Ok sayang. Sebentar mama matikan kompor dulu ya. Emang Aqilla mau jalan-jalan kemana sih?" , tanya Desi gemas pada anak bungsunya sambil menggendong Aqilla ke kamar mandi.
"Qilla mau ke taman mama yang ada perosotannya habis iti beli es krim kata ayah." , jawab Qilla.
"O iya, mama diajak nggak?" , tanya Desi sambil memandikan Aqilla.
"Terserah mama." , jawab Qilla.
Selesai memandikan Aqilla, Desi langsung memakaikan Aqilla baju yang agak bagus karena Qilla bilang mau jalan-jalan sama ayahnya.
"Kita bangunin abang Rafi dulu yuk." , ajak Desi.
"Iya ma." , jawab Qilla.
"Abang bangun, kita kan mau jalan-jalan sama ayah." , ucap Qilla membangunkan abangnya.
"Iya Qilla, ini abang udah bangun. Qilla udah mandi ya, harum banget." , tanya Rafi.
"Udah donk. Cepetan abang mandi sana. Bau...bau...Qilla mau bangunin ayah." , jawab Qilla.
"Iya Qilla, ini abang mau mandi." , jawab Rafi.
Kemudian Qilla segera berlari ke kamar ayahnya untuk membangunkan ayahnya. Setelah menyiapkan baju Rafi, Desi kembali ke dapur melanjutkan masaknya.
"Dek, itu bajunya sudah mama siapkan di kamar." , ucap Desi begitu melihat Rafi keluar dari kamar mandi.
"Iya mamah, makasih mah. Mamah yang terbaik." , jawab Rafi.
"Iya dek, adek juga anak mama yang pintar." , ucap Desi.
Setelah rapi, Rafi menyusul adik nya di kamar ayahnya.
"Ayok ayah cepet mandi. Kita mau jalan-jalan nie." , ucap Qilla menyuruh ayahnya mandi.
"Iya sayang, wih anak ayah sudah cantik dan ganteng nie." , jawab ayah Qilla.
"Iya donk, makanya ayah cepat mandi sana." , jawab Qilla dan Rafi.
Selesai mandi, Ridwan mengajak anaknya ke taman.
"Mama mau ikut nggak?" , tanya Ridwan.
"Nggak usah yah, mama lagi masak nie." , jawab Desi.
"O ya udah. Ayok anak-anak kita pergi." , jawab Ridwan.
Kemudian Ridwan dan anak-anak nya pergi jalan-jalan, sedangkan Desi melanjutkan memasak. Selesai memasak, Desi beristirahat sebentar sambil nonton tv dan menunggu anak-anak nya pulang. Bagas baru bangun tidur dan menghampiri Desi.
"Mama, kok sepi? Pada kemana?", tanya Bagas.
"Adekmu lagi jalan-jalan sama ayah. Tadi Bagas masih tidur soalnya." , jawab Desi.
"O iya, nggak papa ma, Bagas juga lagi malas pergi." , jawab Bagas.
"Ya sudah, Bagas mandi dulu ya biar seger. Nanti kalau ayah pulang kita langsung makan sama-sama." , perintah Desi.
"Iya mama. Bagas mandi dulu." , jawab Bagas.
"Iya sayang. Anak pintar." , jawab Desi.
"Siapa dulu donk mamanya." , jawab Bagas sambil tertawa lalu pergi ke kamar mandi.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.