Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Kehidupan tenang Aminah terasa begitu menyenangkan, disini dia tidak perlu mendengar keributan yang dibuat oleh ibu dan adiknya serta mantan pacar gila yang Mokondo tidak tahu diri.
"Bagaimana kabar kamu disana Aminah, kamu sehat?". Tanya Bella digrup sebelumnya.
Mereka memang sengaja tidak mengeluarkan Aminah dari grup kerja mereka karena sudah menganggap Mina bagian dari mereka selama ini sekalipun Aminah sudha pindah bekerja
"Alhamdulillah aku sangat senang, Teman-teman semuanya baik dan menyambut aku dengan sangat baik, tidak perlu khawatir".
Aminah mengembangkan senyumnya melihat pesan grup tempat kerjanya dulu, dia sungguh terharu karena mereka masih tetap membiarkan dirinya berada didalam grup itu dan tetap menanyakan kabarnya
"Syukurlah jika seperti itu Mina, kami senang kamu bisa diterima baik disana dan memiliki banyak teman, oh iya tadi ibumu datang kesini kembali buat keributan".
Membaca itu, Aminah langsung menghela nafas kesal, keluarganya ini tidak henti-hentinya membuat keributan kesana kemari, dia sungguh tidak enak kepada bos dan juga teman-temannya disana
"Terus apa yang terjadi, dia tidak merusak barang kan? ". Tanyanya dengan penasaran.
Dia tahu betul watak ibunya jika sedang kesal itu sebabnya dia bertanya, dia khawatir jika ibunya merusak apapun ditempat kerjanya, dia kasihan pada teman-teman dan juga bosnya karena harus kembali terlibat masalah dengan kelaurganya itu terutama ibu dan adiknya
"Dia mengamuk dan marah tentu saja, tapi dia langsung pergi saat sadar jika dia sudah kita laporkan polisi, dia takut kalau sampai ditangkap jadilah dia melarikan diri karena takut".
Bella menambahkan emoji tertawa pada tulisannya karena mengenang betapa paniknya ibu Aminah karena dia mengingatkannya tentang laporan bos mereka kepada polisi saat itu.
Semua teman-temannya juga ikut memberi emoji tertawa karena mengingat kejadian itu, mereka jelas melihat bagaimana ibu Aminah berlari ketakutan
"Dia mencari kamu Mina, dia tidak percaya jika kamu sudah pindah kerja karena dipecat, dia juga sempat mengatakan dia sekarang dalam keadaan sulit karena tidak bisa sama sekali menghubungi kamu dan semua dirumah mereka harus dipangkas habis karena kamu tidak akan bisa dimintai uang lagi".
Bram menambahkan cerita Bella karena dia juga berada dalam satu shift bersamanya saat ibu Aminah datang.
Aminah hanya bisa menggelengkan kepalanya walau teman-temannya tidak melihatnya, dia merasa sangat sedih karena ibunya hanya mencarinya karena uang bukan karena khawatir pada keberadaan dirinya.
Sejak dulu keberadaannya hanya sebagai tambang uang untuk memenuhi kebutuhan dan gengsi sang ibu terutama untuk adiknya si Lisa
"Tidak apa-apa teman-teman, biarkan saja, Terima kasih karena tidak memberitahukan tempat kerja ku sekarang, aku memang sudah memblokir nomor mereka karena selalu meneror ku dengan meminta uang, itu sebabnya aku tidak tahu kabar mereka".
" Sama-sama Mina, biarkan saja mereka, nanti kalau sudah waktunya barulah kamu ketemu mereka, biar mereka tahu jika kamu itu berharga bukan sekedar dompet berjalan mereka".
"Benar yang dikatakan Bella Mina, biarkan saja mereka dulu agar mereka kapok dan tahu bagaimana hidup mereka tanpa kamu, agar kelak mereka bisa lebih menghargai kamu".
Keduanya sama-sama memberi semangat kepada sahabatnya itu, mereka memang cukup dekat dengan Aminah selama ini jadi mereka tahu bagaimana perlakuan keluarganya kepada Aminah.
"Iya Bram, makasih yah semuanya, aku beruntung bisa menjadi bagian dari kalian disana walau aku sudah pindah ditempat baru, kalian masih tetap teman-teman yang mengingatku".
Cairan bening itu akhirnya tumpah, rasa syukur karena dia memiliki sahabat yang baik sekaligus rasa sakit yang dia Terima dari keluarganya kini bercampur aduk.
"Tentu Mina, kami semua sudah menganggap kamu saudara kami, kami akan membantu sebisa kami".
Percakapan mereka akhirnya terhenti karena Aminah akan beristirahat sebab dia akan kerja kembali esok hari.
Sedangkan Fadil yang merupakan mantan kekasih Aminah yang tidak punya malu itu kini tengah mengincar seorang gadis yang merupakan putri dari pemilik perusahaan, dia dengan gencar untuk mendekati nya agar hidupnya kembali terjamin seperti dulu.
Dia mulai melancarkan aksinya saat ini, dia tengah berada di cafe tempat nongkrong gadis bernama Yasmin itu untuk mencari perhatiannya
"Bruk".
"Heh, kamu jalan tidak pake mata Hah, kamu tidak tahu berapa harganya baju ini? ". Bentak seorang gadis cantik dengan pakaian modis itu.
Dia menatap garang pemuda didepannya karena berani menabrak dirinya sampai bajunya kotor padahal bajunya ini limited edition
"Maaf aku tidak sengaja". Ucap Ardi dengan pelan.
Dia mengepalkan tangannya karena gadis ini ternyata sangat sombong dan juga arogan.
"Huh, pemuda seperti mu itu banyak diluaran sana, lelaki modal tampang dan sengaja mencari muka padaku, kamu kira aku tidak tahu trik murahan mu itu? ". Ucapnya dengan sinis.
Dia memandangi Ardi dari atas sampai bawah seolah menilai lelaki yang ada dihadapannya ini
Ardi yang merasa telah dipermalukan kini menatap tajam gadis itu, dia tidak menyangka gadis ini sangat berbeda dengan yang lain, tapi mengingat betapa kayanya gadis ini dia mengundurkan niatnya untuk memberinya pelajaran.
"Aku tidak sengaja, tadi kan sudah kubilang, lagian kamu itu kalau jalan jangan sambil main handphone, sudah salah malah nyolot lagi".Sungut Ardi tidak Terima.
Kesan yang tadi ingin dia pamerkan kini berubah menjadi kekesalan karena perempuan ini seenaknya saja, dia memang tidak menabraknya melainkan perempuan itu sendiri yang melakukannya.
"Tidak suah mengelak dan berbohong!, lelaki seperti mu sudah banyak kutemui, sekarang ganti rugi bajuku ini, aku yakin bahkan gajimu setahun juga tidak akan mampu membelinya".
Dia menunjuk kasar wajah Ardi dengan geram dan penuh emosi wajahnya memerah karena amarah.
"Disini ada CCTV-nya jadi kita lihat saja siapa yang menabrak, jika itu aku maka aku akan ganti bajumu berapapun harganya". Sombong Ardi.
Dia memang sengaja membuat perempuan itu menabraknya dan dia juga tahu ada CCTV yang mengarah pada tempat mereka. Dia memang sudah merencakannya dengan matang, dia sudah mengawasi Yasmin beberapa hari jadi dia cukup tahu jika perempuan ini sangat suka menghina orang lain.
Mereka yang ada disana hanya diam saja menonton keributan yang ada di hadapan mereka
Yasmin tersenyum tipis kemudian mengangguk dan berjalan kedalam resepsionis untuk meminta rekaman CCTV untuk membuktikannya.
Yasmin mengusap wajahnya melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan bagaimana tadi dia menabrak lelaki dihadapannya itu.
Dia merasa malu tapi ego dan sikapnya kembali mengeras karena merasa semua itu hanya rekayasa.
"Persetan dengan CCTV-nya, saya mau pulang, saya tidak mau berurusan dengan laki-laki seperti mu". Jawabnya sambil melangkah menjauh.
Ardi yang melihat itu hanya tersenyum tipis karena rencananya berjalan mulus
"Aku pasti mendapatkan kamu Yasmin, persetan dengan tunangan kamu itu".