NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30- Menuju hari -H

Waktu berjalan terasa bergulir lebih cepat dari biasanya. Lembaran kalender berbalik satu per satu, membawa Alena dan Bara ke titik yang kini tinggal menghitung hari menuju malam sakral pernikahan mereka.

Atmosfer di kediaman utama Bramantyo berubah menjadi medan perang diplomasi yang sibuk.

Bukannya tidak, selama proses persiapan, Sofia berkali-kali mencoba mendebat dan merongrong setiap keputusan suaminya, mulai dari pilihan vendor katering internasional, daftar tamu VIP, hingga tata dekorasi aula hotel bintang lima yang telah dipesan.

Namun, Bramantyo tetaplah pria bertangan besi. Ia sama sekali tidak goyah oleh keluh kesah beracun sang istri.

Dengan otoritas mutlaknya, semua rencana matang sesuai jadwal. Akibat skala pesta yang begitu megah, Bara pun ikut terseret dalam pusaran kesibukan, menghadiri rapat konfirmasi, mencocokkan jadwal para kolega, hingga memastikan sistem keamanan perimeter hotel berada di tingkat tertinggi.

Berbeda halnya dengan sang calon pengantin wanita. Di Alena’s Floral Boutique, suasana justru terasa teduh dan tenang. Karena Bramantyo telah mengambil alih seluruh urusan birokrasi pesta, Alena pun kini memiliki banyak waktu yang senggang.

Ia masih sempat mengenakan celemeknya, memotong tangkai-tangkai bunga, dan menyapa beberapa pelanggan setianya dengan senyuman yang jauh lebih cerah dari biasanya.

Namun, pada siang itu, toko sedang sepi. Gerimis tipis di luar kaca menahan orang-orang untuk bepergian. Begitu juga para pelanggan yang hendak ke toko pun mengurungkan niat mereka.

Kini, Alena berdiri di dekat meja rakitan, jemarinya dengan telaten merangkai kelopak mawar putih menjadi sebuah buket meja yang cantik.

Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum-senyum sendiri, sambil menatap cincin pemberian Bara yang melingkar di jari manisnya.

"Menikah... dalam beberapa hari lagi," batin Alena. Rasanya ada desir halus yang menggelitik hatinya.

Segalanya terasa seperti mimpi yang bergerak dalam kecepatan tinggi. Satu bulan lalu ia hanyalah seorang penjual bunga yang cemas akan kehilangan tokonya, dan kini, ia bersiap melangkah ke panggung pelaminan bersama seorang pria yang siap menyerahkan seluruh hidup untuk melindunginya.

Perhatian Bara, ketulusan pria itu, dan binar matanya yang selalu tersipu setiap kali Alena menggoda status mereka, benar-benar telah menyembuhkan sudut-sudut hatinya yang dulu gersang.

Namun, ketika keheningan toko berpadu dengan suara rintik hujan, benak Alena mendadak ditarik mundur oleh arus memori yang pekat.

Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan mata yang mendadak kosong dan dalam.

Aroma mawar di tangannya entah mengapa sesaat berubah menjadi aroma yang sangat ia kenal di masa lalu, aroma mesiu, karat besi, dan anyir darah.

Pikiran Alena terbang melintasi waktu, kembali ke sebuah malam bertahun-tahun lalu di dunia bawah yang dingin. Dunia mafia tempat ia dibesarkan sebagai sosok yang ditakuti. Di dunia kelam itu, pernah ada seorang pria bernama Marco.

Marco adalah kilas cahaya pertama yang pernah Alena miliki. Pria tangguh, bertangan dingin, namun memiliki kelembutan yang hanya ditunjukkan pada Alena seorang.

Alena mengenang bagaimana malam itu Marco menatapnya dengan binar yang sama seperti yang dimiliki Bara saat ini.

Marco bahkan sudah menyiapkan sebuah kotak beludru kecil di sakunya, bersiap melamar Alena dan membawa wanita itu keluar dari lingkaran setan dunia hitam untuk hidup bahagia.

Namun, takdir di dunia mafia tidak pernah membiarkan pangeran dan putri hidup tenang.

Sebelum kata lamaran itu sempat terucap, mobil mereka dikepung. Penyerangan brutal dari faksi musuh terjadi begitu saja tanpa persiapan.

Alena masih ingat dengan sangat jelas bagaimana tubuh Marco terhuyung di depannya, dan melindunginya dari hujan peluru, sebelum akhirnya mati tragis bersimbah darah di pelukannya.

Kematian Marco adalah alasan terbesar mengapa Alena memutuskan menghancurkan faksi musuh berkeping-keping, membuang identitas lamanya, dan melarikan diri ke kota ini untuk menjadi orang biasa yang sederhana.

Prak.

Alena tersentak saat gunting dahannya tidak sengaja terjatuh ke lantai keramik, hingga membuyarkan seluruh lamunan kelamnya.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan untuk mengusir sesak yang sempat mampir di dadanya. Dan, ia pun segera menepis bayangan masa lalu itu.

"Tidak. Itu sudah lama berlalu," gumam Alena pada dirinya sendiri, lalu memungut guntingnya kembali.

Kemudian ia menatap lurus ke luar jendela toko yang menembus rintik hujan. Ada ketakutan kecil yang manusiawi di sudut hatinya, berharap kejadian buruk atau kutukan masa lalu itu tidak akan pernah terulang kembali di pernikahannya dengan Bara nanti.

Alena tau, Sofia dan Mico mungkin sedang merencanakan sesuatu yang busuk untuk merusak hari bahagianya. Namun, Alena yang sekarang bukan lagi gadis rapuh yang menangis di atas jasad kekasihnya.

"Aku hanya ingin hidup bahagia dengan pasanganku dan tidak ingin mengusik siapapun. Jadi, jangan renggut apapun lagi dariku...."

Tepat saat pikiran itu melintas, pintu toko terbuka. Lonceng berdenting ramah, Bara pun melangkah masuk dengan napas yang sedikit terengah. Rambutnya agak basah karena cipratan gerimis, namun wajahnya langsung melembut begitu melihat Alena.

"Alena," panggil Bara, seraya berjalan cepat menghampirinya dan meletakkan sebuah kotak kue kecil di atas meja.

"Maaf aku terlambat datang. Rapat dengan pihak hotel tadi sedikit molor, tapi aku sempat membelikan kue kesukaanmu di jalan tadi."

Melihat wajah polos dan penuh perhatian dari pria yang beberapa hari lagi akan menjadi suaminya, seluruh sisa kabut masa lalu di kepala Alena menguap dalam sekejap.

Ia lalu tersenyum dengan sangat tulus dan melangkah maju untuk mengusap sisa air hujan di pelipis Bara dengan jemarinya.

"Terima kasih, Bara. Kamu pasti sangat lelah," ucap Alena.

Bara menggeleng kemudian menggenggam tangan Alena yang ada di pipinya lalu mengecupnya perlahan dengan penuh rasa hormat. "Melihatmu seperti ini... semua lelahku langsung hilang."

Alena menatap mata Bara yang bersih tanpa kepalsuan. Di dalam hati, ia bersumpah demi masa depannya, ia akan menjaga pria ini, menjaga pernikahan mereka, dan memastikan tidak akan ada satu orang pun dari masa lalu maupun masa sekarang yang bisa merusak kedamaian yang telah mereka bangun bersama.

(Apa rencana dan keinginan Alena akan terpenuhi? Yuk lanjut ke cerita selanjutnya...)

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!