Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
AHBER DAN ESKAY
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.
Cahaya matahari menembus tirai jendela kamar Layla. Burung-burung berkicau dari halaman belakang.
Ahber sudah bangun sejak subuh. Ia menyiapkan sarapan sederhana: roti panggang, telur, dan susu hangat.
“Papa…”
Suara kecil terdengar dari arah kamar.
Ahber menoleh. Layla berjalan keluar dengan rambut acak-acakan dan boneka kelinci masih dipeluk.
“Sudah bangun?”
Ahber mengusap kepala putrinya. “Cuci muka dulu. Sarapan sudah siap.”
Layla mengangguk lalu berlari ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia kembali duduk di meja makan.
“Hari ini Papa kerja?” tanya Layla sambil menyuap roti.
“Iya. Tapi sebentar saja.”
Ahber menuangkan susu ke dalam gelas. “Sorenya kita ke taman lagi, ya?”
Mata Layla langsung berbinar. “Beneran?”
“Beneran. Janji kemarin.”
Ahber mengaitkan kelingkingnya lagi. Layla ikut mengaitkan sambil tertawa kecil.
Jam tujuh, Ahber mengantar Layla ke sekolah. Di gerbang, Layla melambai dengan semangat.
“Papa hati-hati!”
Ahber mengangguk lalu melaju pergi.
Kantor tidak seramai biasanya. Ahber menyelesaikan berkas-berkas penting lebih cepat dari target. Pikirannya terus melayang ke taman kota.
Jam empat sore, ia sudah sampai di rumah. Layla baru pulang 10 menit sebelumnya.
“Papa sudah pulang!” Layla menyambut dengan memeluk kaki Ahber.
“Iya. Siap ke taman?”
“Siap!” Layla berlari ke kamar mengambil buku gambar dan kotak krayonnya. “Buat Raka.”
Mereka kembali ke taman yang sama. Cuaca cerah. Angin sore bertiup pelan.
Layla langsung berlari ke area ayunan. Tidak ada Raka di sana.
Wajahnya sedikit kecewa, tapi ia tetap duduk dan mulai menggambar.
Ahber duduk di bangku kayu tidak jauh dari situ. Ia memperhatikan putrinya sambil sesekali mengecek ponsel.
Tiga puluh menit berlalu.
Tiba-tiba terdengar suara lari-lari kecil.
“Layla!”
Layla mendongak. Senyumnya langsung mengembang.
“Raka!”
Anak laki-laki itu berlari dengan napas terengah. Di tangannya ada buku gambar juga.
“Kamu datang!”
“Iya. Aku janji kan.” Raka duduk di sebelah Layla. “Itu apa?”
“Gambar buat kamu.” Layla menyodorkan kertasnya. “Ini kita di taman. Itu Papa di bangku.”
Raka menerima gambar itu dengan hati-hati. “Bagus banget. Makasih, Layla.”
Ia lalu mengeluarkan selembar kertas dari bukunya. “Ini buat kamu juga.”
Gambar itu adalah pesawat kertas terbang di atas langit biru. Di bawahnya ada dua anak kecil melambai.
“Layla dan Raka,” kata Raka pelan. “Biar kita ingat hari ini.”
Layla memeluk kertas itu. “Aku suka.”
Mereka lalu duduk berdampingan. Menggambar bersama. Sesekali tertawa karena krayon mereka tertukar.
Dari kejauhan, Ahber memperhatikan. Ada seorang pria dewasa duduk di bangku seberang taman. Memakai kemeja biru tua. Sedang membaca koran, tapi matanya sesekali melirik ke arah Raka.
Pria itu tampak familiar.
Ahber mengerutkan dahi. Ia yakin pernah melihat wajah itu… lima belas tahun lalu.
Pria itu berdiri saat Raka pamit pulang. Ia berjalan menghampiri Raka, merapikan kerah bajunya, lalu menggandeng tangannya.
Sebelum pergi, pria itu melirik ke arah Ahber. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat dada Ahber terasa berat.
Layla melambai pada Raka. “Sampai jumpa besok!”
Raka ikut melambai. “Sampai jumpa!”
Begitu mereka pergi, taman kembali sepi.
“Papa.”
“Hm?”
“Tadi itu ayahnya Raka, ya?”
Ahber mengangguk pelan. “Mungkin.”
“Lucu ya. Papa dan ayahnya Raka sama-sama jagain kita dari jauh.”
Layla tertawa kecil lalu menarik tangan Ahber. “Pulang, yuk.”
Di perjalanan pulang, Ahber beberapa kali melirik ke kaca spion. Tidak ada mobil yang mengikuti.
Tapi firasatnya tidak enak.
Malamnya, setelah Layla tidur, Ahber membuka laptop. Ia mengetik nama: _Eskay Mahendra_.
Nama yang dulu sering disebut dalam rapat besar. Nama yang menghilang setelah sebuah skandal perusahaan 15 tahun lalu.
Foto yang muncul di layar membuatnya terdiam.
Pria di foto itu… sama dengan pria di taman sore tadi.
Ahber menutup laptop. Napasnya berat.
Di kamar, Layla menggumam dalam tidur. Memeluk erat gambar pesawat kertas pemberian Raka.
Takdir memang aneh.
Pertemuan dua anak kecil di ayunan… ternyata mempertemukan kembali dua orang dewasa yang dulu pernah saling melukai.
Dan di luar sana, Eskay juga sedang menatap foto lama. Foto dirinya, Ahber, dan dua orang lain. Dengan tulisan di belakangnya: _“Sahabat. Sampai kapan pun.”_
Ia berbisik pelan, “Akhirnya kita bertemu lagi, Ahber.”
*BERSAMBUNG*
like + bunga biar semangat deh/Smile/