NovelToon NovelToon
KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.

Dan ketika ia membuka matanya kembali…

Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konversi Qi

"Nah," ucap Wu Xuan, nadanya santai seolah ia baru saja menghabiskan secangkir teh sore. "Apakah ada artefak lain lagi yang tidak terpakai di gudang guild kita, Pa, Ma?"

Di dalam suite mewah yang kedap suara itu, layar holografik berbingkai emas dan biru di mata Wu Xuan masih menyala, mengukuhkan sebuah kemustahilan yang baru saja merobek tatanan nalar.

Wu Jiang menatap putranya dengan napas tertahan. Tangan sang Penguasa Samudera Beku itu tanpa sadar mengepal erat. Seumur hidupnya, ia telah memanjat mayat jutaan monster, membangun kekaisaran dari nol, dan memegang otoritas yang bisa membuat negara berlutut.

Namun di hadapan anaknya yang baru bangun ini, ia merasa pengetahuannya tentang dunia tak lebih dari butiran debu.

"Artefak seperti itu..." Wu Jiang akhirnya berbicara, suaranya terdengar berat dan dipenuhi penyesalan yang jarang ia rasakan. "Papa lebih banyak menjualnya ke pasar gelap atau menukarnya dengan material tempur."

Wu Xuan menaikkan alisnya sedikit, menunggu penjelasan.

"Untuk menerjemahkan satu prasasti kuno dari Tower, Sistem membutuhkan bayaran jutaan poin kontribusi dan material yang sangat langka," jelas Wu Jiang, raut wajahnya mengeras. "Itu memakan waktu, menguras sumber daya, dan seringkali hasil terjemahannya hanyalah sejarah rongsokan dari peradaban yang sudah mati. Papa mengira itu tidak efisien."

Mendengar itu, Wu Xuan menggelengkan kepalanya perlahan. Sebuah gerakan kecil yang menyiratkan rasa sayang sekaligus ironi.

"Informasi adalah mata uang paling mematikan di seluruh alam semesta, dan manusia-manusia ini menukarnya dengan besi yang akan berkarat," batin sang ahli strategi, menahan tawa sarkastisnya agar tidak menyinggung ayahnya.

"Jika kau membutuhkannya, Xuan'er," sela Wu Jiang dengan cepat, matanya memancarkan tekad seorang tiran yang siap membakar uangnya. "Papa akan memerintahkan divisi intelijen untuk melacak semua prasasti dan artefak mati yang pernah kita jual. Papa akan memborong semuanya dari pasar gelap, pelelangan, atau merebutnya kembali dengan paksa dari guild lain jika mereka menolak menjualnya."

Wu Xuan tersenyum tenang, mengangkat tangannya untuk menghentikan niat ayahnya.

"Tidak perlu, Pa," ucap Wu Xuan, nadanya elegan namun mengandung kepastian yang absolut. "Benda yang dibeli dengan uang terlalu murah nilainya. Biarkan saja mereka menyimpannya untuk sementara waktu. Lagipula... aku akan mencari dan mengambilnya sendiri saat waktunya tiba."

Sebelum Wu Jiang sempat mencerna makna dari kalimat penuh perhitungan itu, pintu ganda suite terbuka.

Xu Xin melangkah masuk dengan langkah cepat yang terukur. Di belakangnya, Butong berjalan kaku dengan tubuh raksasanya yang gemetar, menuntun tangan seorang gadis kecil yang menatap sekeliling dengan mata berbinar-binar. Bu Yue.

"Tuan Muda," lapor Xu Xin, membungkuk dalam. "Saya telah membawa mereka sesuai perintah Anda."

Pandangan Wu Xuan seketika beralih dari kedua orang tuanya. Ia melangkah santai melintasi ruangan marmer itu. Saat Butong melihat pemuda itu mendekat, instingnya memerintahkannya untuk berlutut, namun sebelum lututnya menyentuh lantai, Wu Xuan mengangkat jarinya.

"Berdirilah, Santai saja." perintah Wu Xuan datar, membuat otot-otot Butong membeku dan menuruti perintah itu secara refleks.

Wu Xuan tidak mempedulikan pria besar itu. Ia berjongkok, menyejajarkan tatapannya dengan Bu Yue. Gadis kecil itu tidak lagi terlihat seperti mayat hidup. Rona merah menghiasi pipinya, dan napasnya mengalir dengan sangat lancar.

"Hai, gadis kecil," sapa Wu Xuan dengan senyum lembut. Ia lalu berdiri, berjalan menuju kulkas pendingin berbahan kristal di sudut ruangan, dan mengambil sepotong kue stroberi berlapis krim kualitas tertinggi yang disediakan khusus untuknya.

Ia kembali dan menyodorkan piring kecil itu ke tangan Bu Yue. "Makanlah dulu. Kita akan melakukan sebuah transaksi kecil, dan kau butuh gula agar pikiranmu tidak tegang."

Bu Yue menatap kue itu dengan mata berbinar, lalu menatap ayahnya sejenak untuk meminta persetujuan. Butong mengangguk kaku, nyaris tidak bisa menahan air matanya melihat putrinya bisa makan makanan manis tanpa harus muntah darah.

"Terima kasih, Kakak!" ucap Bu Yue riang, mulai memakan kue itu dengan lahap.

Di dalam benaknya, Wu Xuan sedang menyusun jaring rencananya. 'Bocah ini adalah asetku. Sirkulasinya sudah terbentuk, tapi Mana di dalam tubuhnya terlalu padat untuk ukuran seorang anak. Jika dibiarkan, wadahnya akan retak. Aku butuh energi untuk memancing resonansi fisik, dan ia butuh pembuangan energi agar Dantian barunya bisa melebar. Simbiosis yang sempurna.'

Setelah Bu Yue menghabiskan kuenya dan mengusap mulutnya, Wu Xuan menepuk lantai berlapis karpet tebal di tengah ruangan.

"Duduk bersila seperti yang Kakak ajarkan di ruang medis," instruksi Wu Xuan.

Bu Yue menurut tanpa ragu. Ia duduk melipat kakinya, punggungnya ditegakkan dengan sangat disiplin, sebuah kebiasaan yang langsung tertanam di alam bawah sadarnya oleh Wu Xuan sebelumnya.

Semua orang di ruangan itu—Wu Jiang, Wu Yuena, Xu Xin, Juhao, dan Butong—memperhatiakan dengan diam. Mereka membentuk formasi setengah lingkaran yang agak jauh, tidak berani mengeluarkan suara, menatap lekat-lekat pada keajaiban apa lagi yang akan dilakukan oleh Wu Xuan.

Wu Xuan ikut duduk bersila tepat berhadapan dengan Bu Yue.

"Gadis kecil, tutup matamu," ucap Wu Xuan lembut. "Kau bisa merasakan mangkuk air di perutmu itu?"

Bu Yue memejamkan mata, wajahnya terlihat serius. "Bisa, Kakak. Mangkuknya sangat penuh. Airnya hangat dan terus berputar."

"Bagus," kata Wu Xuan. Ia lalu mengulurkan kedua telapak tangannya, mempertemukannya dengan kedua telapak tangan kecil Bu Yue di udara. Kulit mereka bersentuhan.

"Air di mangkukmu sudah terlalu padat," jelas Wu Xuan dengan analogi yang sangat mudah dicerna. "Jika terlalu penuh, airnya bisa tumpah dan menyakiti tubuhmu. Sekarang, dengarkan suaraku. Setiap kali kau membuang napas, dorong sebagian kecil air itu dari mangkukmu, naikkan ke lenganmu, dan alirkan ke telapak tangan Kakak. Jangan takut, Kakak akan menangkap air itu."

Bu Yue mengangguk. Dengan kepolosan dan konsentrasi seorang anak yang tidak dibebani oleh keraguan duniawi, ia mulai mendorong mana yang bercampur Qi di dalam Dantian barunya.

Di mata para pengamat tingkat Country Tier seperti Wu Jiang dan Yuena, apa yang terjadi selanjutnya adalah fenomena yang merobek fondasi akal sehat mereka.

Dari tubuh Bu Yue, sebuah gelombang energi berwarna biru pekat yang sangat murni mulai merambat melalui lengan gadis itu, lalu berpindah... langsung ke dalam telapak tangan Wu Xuan!

SYUUUT.

Wu Xuan, yang sebelumnya tidak memiliki setetes pun fluktuasi energi, kini bertindak sebagai palung laut yang tak berujung. Begitu energi biru itu memasuki tangannya, sel-sel milik Wu Xuan yang sedang kelaparan langsung bereaksi. Tapi kali ini, mereka tidak melahapnya dengan brutal seperti saat memakan batu spiritual atau artefak.

Di bawah kendali kesadaran Wu Xuan, sel-sel mikroskopis di dalam lengannya bertindak layaknya mesin penyulingan.

Mana itu dikonversi menjadi Qi.

Sel-selnya menyerap Qi yang kasar dan liar itu, menghancurkan struktur molekulnya, menyaring kotorannya, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih padat, jauh lebih murni, dan jauh lebih berbahaya.

Di dalam tubuhnya, sebuah percikan kecil berwarna emas kehitaman tercipta. Percikan itu sangat kecil, lebih tipis dari sehelai rambut, namun saat ia berdenyut di dalam meridian Wu Xuan, ruang hampa di dalam jiwanya terasa seolah baru saja mendapatkan ledakan nuklir.

"Akhirnya..." batin Wu Xuan, senyum tirani perlahan mengembang di wajahnya, meski auranya tetap tenang. "Sebuah resonansi. Tubuh ini akhirnya bisa mencerna dan mengubah tatanan energi dunia ini menjadi Qi."

Sambil terus menyerap mana dari Bu Yue, Wu Xuan dengan sangat hati-hati membalikkan sepersekian persen dari Qi yang baru saja ia saring, mengirimkannya kembali ke dalam tubuh sang gadis. Qi itu tidak merusak; ia bertindak layaknya mata bor yang sangat halus, merobek batas-batas meridian sempit Bu Yue dan memperluas kapasitas Dantian-nya secara paksa namun aman.

Di mata Wu Jiang, Wu Yuena, dan para hunter kelas atas di ruangan itu, fenomena ini tidak bisa disembunyikan.

Mereka bisa merasakan fluktuasi energi di sekitar Bu Yue meroket tajam!

Kepadatan mana di dalam tubuh gadis kecil yang bahkan belum resmi menjalani ritual kebangkitan (Awakening) itu meledak secara konstan. Dari kepadatan manusia normal, naik ke level 1... lalu dengan cepat menyentuh kepadatan setara Hunter Level 2!

Napas Xu Xin tersendat. Juhao membelalakkan matanya yang keriput. Butong harus berpegangan pada dinding agar tidak jatuh pingsan.

Level 2 mungkin terdengar rendah bagi pilar-pilar dunia di sana, tetapi untuk seorang anak berusia tujuh tahun yang beberapa jam lalu divonis mati oleh sirkulasinya sendiri? Ini adalah sebuah kejanggalan!

"Cukup," ucap Wu Xuan tiba-tiba.

Ia memutus kontak telapak tangannya dengan sangat mulus. Arus energi terputus tanpa ada efek kejut balikan (backlash).

Bu Yue membuka matanya. Ia menarik napas panjang, wajahnya berseri-seri, dipenuhi oleh vitalitas yang meluap-luap.

"Bagaimana tubuhmu, gadis kecil?" tanya Wu Xuan santai.

"Terasa sangat ringan, Kakak!" jawab Bu Yue riang, mengayun-ayunkan tangannya yang kini dialiri energi dengan sangat lancar. "Mangkuk di perutku terasa lebih besar dari sebelumnya!"

Wu Xuan tersenyum puas. Ia berdiri, lalu menoleh ke arah asisten ayahnya.

"Xu Xin," panggil Wu Xuan datar. "Bawa sepotong batu bata ringan kemari. Yang biasa digunakan untuk lapisan dinding."

Xu Xin tersentak dari lamunannya. "S-Segera, Tuan Muda!"

Ia tidak berani bertanya. Dengan kecepatan hunter tingkat tinggi, Xu Xin melesat keluar dan kembali dalam beberapa menit, membawa sebuah balok batu padat berwarna abu-abu yang cukup keras untuk mematahkan tulang manusia normal jika dipukul dengan tangan kosong. Ia meletakkannya di atas meja kaca rendah di depan Bu Yue.

"Gadis kecil, kemari," Wu Xuan memberi isyarat.

Bu Yue berdiri dan berjalan mendekati meja tersebut. Ayahnya, Butong, menatap dengan jantung berdebar kencang, takut tangan kecil putrinya akan hancur, namun ia tidak berani mengeluarkan suara.

Wu Xuan berjongkok di samping Bu Yue. Ia menunjuk batu bata tersebut.

"Pelajaran kedua," ucap Wu Xuan, nadanya kembali menjadi guru yang sangat metodis. "Tarik sedikit air dari mangkuk di perutmu. Jangan banyak-banyak, cukup segenggam saja. Alirkan ke tangan kananmu. Bayangkan air itu jadi keras, melapisi kulitmu menjadi sebuah sarung tangan yang sangat tebal dan keras."

Ini adalah analogi paling sederhana untuk teknik Qi Reinforcement atau Penguatan Tubuh—sebuah teknik dasar tempur yang biasanya baru bisa dikuasai oleh hunter setelah berbulan-bulan bertarung di dalam Dungeon.

Bu Yue mengerutkan keningnya, berkonsentrasi penuh. Dalam sedetik, sebuah pendar biru tipis menyelimuti kepalan tangan kecilnya. Gadis itu menatap Wu Xuan dengan sedikit keraguan dan ketakutan.

"Tidak apa-apa," bisik Wu Xuan, menatap mata anak itu dengan keyakinan absolut yang menyingkirkan segala bentuk ketakutan. "Percaya pada Kakak. Pukul batu itu sekuat tenaga."

Bu Yue menarik napas. Ia memejamkan matanya, mengangkat tangan kecilnya yang bersinar biru, lalu menghantamkannya ke atas balok batu padat itu.

BRAAAAK!

Suara retakan keras menggema di dalam suite mewah tersebut.

Bukan tangan Bu Yue yang hancur. Batu bata ringan itu meledak menjadi bongkahan kecil yang terlempar ke atas karpet.

Retakan batu beterbangan.

Aula itu seketika dikuasai oleh keheningan yang sangat, sangat mencekam.

Butong jatuh berlutut, menangis tanpa suara, nyaris kehilangan kewarasannya melihat kekuatan fisik yang baru saja dilontarkan oleh putri kecilnya yang rapuh. Wu Yuena menutup mulutnya dengan syok yang dalam. Sementara Wu Jiang... mata sang tiran Country Tier itu memancarkan kilatan kengerian. Ia akhirnya menyadari bahwa apa yang diajarkan putranya bukanlah sekadar cara menyembuhkan penyakit.

Putranya sedang menciptakan metode evolusi genetik baru yang tidak bergantung pada Sistem Tower.

Bu Yue membuka matanya, menatap batu yang hancur dan tangannya yang tidak lecet sedikit pun dengan raut wajah tidak percaya.

Wu Xuan tersenyum. Ia mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Bu Yue dengan lembut, layaknya seorang kakak yang bangga.

"Pintar sekali," puji Wu Xuan dengan tulus. Namun, sedetik kemudian, nada suaranya sedikit merendah, menyisipkan sebuah peringatan yang tajam dan tak terbantahkan. "Tapi ingat, kekuatan ini bukan mainan. Kau tidak boleh melukai teman-temanmu atau menggunakan energi ini jika kau tidak dalam bahaya. Kau mengerti, gadis kecil?"

Bu Yue mengangguk dengan cepat, menatap Wu Xuan dengan kekaguman. "Mengerti, Kakak!"

Wu Xuan berdiri kembali, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan postur rileks.

Tidak ada yang tahu—bahkan Wu Jiang sekalipun—bahwa di balik senyum tenang dan sandiwara manis pemuda itu, sebuah monster yang sesungguhnya baru saja terbangun sepenuhnya.

Di dalam kesunyian meridian tubuh Wu Xuan, secercah Qi hasil konversi itu mengalir deras, membasuh jaringan selulernya. Energi ini mungkin masih sangat kecil, sangat lemah dibandingkan kekuatan dari kesadaran tertingginya.

Namun bagi seorang jenius sepertinya, sebuah percikan api sudah cukup untuk membakar seluruh hutan.

Mata hitam kecoklatan Wu Xuan melirik ke arah luar jendela raksasa, menembus cakrawala malam kota Shanghai, seolah ia sedang menatap langsung ke arah Tower atau pusaran Gate yang mengancam umat manusia.

"Waktunya untuk berhenti bermain," batin sang penakluk alam surgawi. "Langkah selanjutnya... perburuan."

Bersambung...

1
Novi Prihartono
lanjuuuuuuuuut
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡🫡🫡🫡🫡
total 1 replies
Novi Prihartono
up lagiiiiiiiiiiiiiii
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡👍👍👍👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Bantu like dan komentar untuk mendukung cerita ini agar terus berlanjut 🫡🫡
Fajar Fathur rizky
thor ini wuxuan jika nunjukin ranah kultivasi apakah dunia bakal hancur thor
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor novel satunya bab 393 dan bab 394 thor
Zzzz
jejak dulu 👣👣
Zzzz
semoga dapat retensi ya/Determined//Determined/semangattt 🔥🔥🔥
Zzzz
/Slight/
Zzzz
/Hunger/
Zzzz
/Proud/
Zzzz
semangat 🔛🔥
Zzzz
/CoolGuy/
Zzzz
🤧bisa dong
Fajar Fathur rizky
cepat naikin level wuxuan
ABSOLUTE [2]
aaaaaaaaahhhhhhhh, lagi seru-seru nya baca malah abis
EGGY ARIYA WINANDA: Teknik marketing 🤭🤭
total 1 replies
Zzzz
👣
Zzzz
/Grimace/
Zzzz
/Slight//Proud/
Zzzz
/Frown/
Zzzz
/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!