NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

"Kurasa aku tidak membutuhkannya,"

"Perlu," sela Rayan tanpa meninggikan suara. Tatapannya tetap lurus ke arah Alya. "Aku hanya ingin memastikan semua kebutuhanmu terpenuhi. Selama ini kamu sudah terlalu lama bertahan dalam keadaan yang serba kekurangan."

Seorang perawat di klinik menyambut kedatangan mereka dengan senyum hangat, lalu mempersilakan Alya memasuki ruang konsultasi. Langkah wanita itu tampak ragu, kegugupan jelas tergambar dari wajahnya. Sementara itu, Rayan memilih tetap berada di dekat ambang pintu. Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, pria tersebut mengamati setiap situasi dari kejauhan, membiarkan Alya menjalani pemeriksaan tanpa mengganggunya.

Ketika dokter kecantikan mulai memaparkan beberapa jenis perawatan dasar yang sesuai untuknya, Alya hanya bisa menatap lantai. Rasa canggung membuat wajahnya memerah. Di benaknya, ia merasa begitu asing dengan semua penjelasan itu, seakan-akan latar belakangnya sebagai perempuan yang selama ini hidup dalam keterbatasan terlihat jelas di mata semua orang.

Usai meninggalkan klinik, mereka kembali menuju mobil yang terparkir di depan gedung. Begitu pintu mobil terbuka, Fariz langsung menghampiri Rayan dengan wajah berbinar.

"Papa, kita beli mainan, ya?" pinta bocah itu penuh semangat, matanya memancarkan harapan.

Rayan menganggukkan kepala pelan. "Kita mampir belanja dulu," ujarnya singkat. Tatapannya kemudian beralih kepada Alya. "Sekalian cari beberapa keperluan untuk Mama."

Alya kembali menggeleng pelan. "Tidak usah," katanya lirih. "Barang-barang di kamarku sudah lebih dari cukup. Aku benar-benar tidak membutuhkan apa pun lagi."

Namun, Rayan menoleh dan menatap Alya lekat-lekat hingga wanita itu tak lagi melanjutkan penolakannya. "Aku ini suamimu," ucap Rayan tenang, tetapi tegas. "Izinkan aku menjalankan tanggung jawabku. Jangan terus menolak setiap kali aku ingin melakukan sesuatu untukmu."

Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi meluncur menuju sebuah pusat perbelanjaan megah di jantung kota. Di belakangnya, sebuah kendaraan lain mengikuti, membawa para pengawal beserta dua orang pelayan yang telah diperintahkan untuk mendampingi mereka selama berbelanja.

Begitu memasuki pusat perbelanjaan, Alya disambut hiruk-pikuk pengunjung yang memenuhi setiap sudut. Cahaya lampu yang gemerlap berpadu dengan alunan musik lembut yang mengalun dari pengeras suara, menciptakan suasana yang begitu hidup. Di tengah keramaian itu, Alya tampak kikuk. Jemarinya menggenggam tangan mungil Fariz semakin erat, khawatir bocah itu terlepas atau mereka terpisah di antara lautan manusia.

Rayan mengajak Alya dan Fariz memasuki sebuah butik ternama yang menjual berbagai koleksi busana premium. Baru beberapa langkah masuk, seorang pramuniaga segera menghampiri mereka dengan senyum profesional. Satu per satu koleksi terbaik mulai diperlihatkan, mulai dari gaun elegan, pakaian kasual yang anggun, hingga beragam aksesori berkelas yang dipajang di etalase.

Alya kembali menggeleng pelan. "Aku belum terbiasa memakai pakaian seperti ini," ujarnya lirih sambil menatap deretan busana yang dipajang. "Rasanya terlalu mewah untukku."

Rayan tetap tenang. "Coba saja dulu," ucapnya singkat. "Aku ingin kamu merasa nyaman saat bersamaku."

Dengan bantuan seorang pramuniaga, Alya bergantian mencoba berbagai pilihan pakaian yang telah disiapkan. Setiap kali keluar dari ruang ganti, gerak-geriknya tampak canggung dan sedikit kaku, seolah belum terbiasa menjadi pusat perhatian. Sementara itu, Fariz tak mampu menahan tawanya melihat sang ibu berkali-kali muncul dengan busana yang berbeda, wajah polosnya dipenuhi rasa geli.

"Wah, Mama cantik sekali!" seru Fariz dengan suara cadelnya, matanya berbinar penuh kekaguman. Pujian polos itu membuat Alya seketika tersipu. Semburat merah menghiasi kedua pipinya, sementara ia hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapan tulus dari putra kecilnya.

Usai memilih pakaian, mereka melanjutkan langkah ke gerai perawatan kulit dan kosmetik. Deretan produk yang memenuhi etalase membuat Alya sedikit kebingungan. Berbagai jenis losion, serum, pelembap, foundation, hingga produk rias lainnya tersusun rapi, tetapi hampir semuanya terasa begitu asing baginya. Ia hanya memandang satu per satu dengan raut bingung, tak tahu harus memilih yang mana.

"Aku rasa semua ini tidak perlu," gumam Alya pelan, matanya masih tertuju pada deretan produk di hadapannya.

Rayan melangkah mendekat hingga berdiri di samping Alya. Suaranya rendah, tenang, tetapi tak meninggalkan ruang untuk dibantah "Semua ini memang untukmu," ujarnya. "Sudah saatnya kamu mulai memberi perhatian pada dirimu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu terus hidup dalam kekurangan seperti dulu."

Sorot mata Alya tampak bergetar, seolah masih ingin mengucapkan penolakan. Namun, begitu beradu pandang dengan Rayan, kata-kata itu tertahan di ujung lidah. Wajah pria itu tetap tenang, tetapi kesungguhannya begitu nyata hingga membuat Alya memilih diam. Jauh di dalam hatinya, perlahan tumbuh perasaan hangat yang sulit ia jelaskan perpaduan antara kepedulian yang tulus dan ketegasan Rayan yang tanpa sadar membuatnya merasa aman.

Restoran mewah yang mereka datangi berada di lantai atas pusat perbelanjaan. Desain interiornya didominasi dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menyuguhkan panorama Kota Semarang dari ketinggian. Dari tempat mereka duduk, deretan kendaraan tampak bergerak perlahan seperti barisan semut, sementara langit malam menjadi latar indah bagi gemerlap lampu-lampu kota yang berkelip di berbagai sudut.

Rayan melangkah lebih dulu, lalu menggeser sebuah kursi untuk Alya dengan gerakan yang tenang dan penuh kesopanan, mempersilahkannya duduk sebelum ia menempati kursinya sendiri.

"Duduklah," ujar Rayan singkat dengan nada tenang. Sesaat setelah itu, pandangannya singgah pada wajah Alya. Tatapannya lembut namun penuh perhatian, seolah memastikan wanita itu merasa nyaman berada di sisinya.

Alya masih tampak canggung. Jemarinya meremas pelan kain rok yang dikenakannya, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang memenuhi hati. Setelah menarik napas singkat, ia mengangkat wajahnya sedikit dan berbisik pelan, "Terima kasih."

Sementara itu, Fariz duduk manis di sisi Alya sambil memeluk erat boneka kecil yang baru dibelikan Rayan di toko perlengkapan anak di lantai bawah. Wajahnya memancarkan keceriaan yang sulit disembunyikan. Bola matanya berbinar-binar saat membuka buku menu yang dipenuhi foto-foto hidangan menggugah selera, seolah ingin mencoba semuanya.

"Mama, lihat ini!" seru Fariz antusias sambil menunjuk salah satu gambar berukuran besar di buku menu. "Fariz mau yang ini, ya."

Rayan mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Fariz, lalu menoleh kepada pelayan yang sudah bersiap mencatat pesanan. "Untuk dia, satu porsi spaghetti anak," ucapnya tenang. "Sedangkan saya, satu steak medium."

Alya tampak bimbang. Jemarinya saling memainkan ujung taplak meja sebelum akhirnya ia bersuara pelan, "Saya... nasi goreng saja."

Rayan mengembuskan napas pelan, seolah sedang menahan sesuatu yang ingin diucapkannya. Namun, pada akhirnya ia memilih tetap diam dan tidak mengomentari pilihan Alya.

Keheningan sempat menyelimuti meja mereka. Hanya suara ceria Fariz yang mengisi suasana, tanpa henti bercerita tentang boneka barunya, film kartun yang ingin ia tonton, serta kekagumannya pada luas dan megahnya pusat perbelanjaan yang baru pertama kali ia kunjungi. Ocehan polos bocah itu membuat suasana yang semula canggung terasa sedikit lebih hangat.

Alya berusaha membalas setiap celoteh Fariz dengan senyum lembut, meski sesekali rasa canggung masih terlihat di wajahnya. Sementara itu, Rayan hanya menimpali seperlunya dengan anggukan atau jawaban singkat. Sebagian besar perhatiannya justru tertuju ke balik dinding kaca, menikmati kerlap-kerlip lampu kota yang membentang di luar.

Tak lama kemudian, hidangan yang mereka pesan mulai diantarkan satu per satu ke atas meja. Alya memandang setiap sajian dengan mata yang membulat. Penataan makanannya tampak begitu elegan, jauh berbeda dengan hidangan sederhana yang selama ini ia santap di rumahnya dahulu. "Indah sekali penyajiannya," bisiknya lirih sambil menatap piring di hadapannya. "Aku sampai merasa sayang untuk mulai menyantapnya."

Rayan melirik Alya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke meja. "Kalau tempat ini membuatmu nyaman, lain kali kita datang lagi," ucapnya tenang.

Ucapan Rayan membuat Alya membisu. Bibirnya sempat terbuka, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar. Ia hanya menundukkan pandangan, berusaha meredam gejolak perasaan yang sulit diungkapkan.

Usai menikmati makan malam, mereka berjalan menuju area parkir. Di belakang mereka, dua orang pelayan bersama dua pengawal tetap mengiringi langkah dengan sikap profesional. Sesekali mereka menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan, memastikan Rayan beserta keluarga dapat berjalan dengan nyaman hingga mencapai kendaraan.

Begitu kembali ke dalam mobil, suasana hening kembali menyelimuti perjalanan mereka. Fariz duduk manis di kursi khusus anak sambil memeluk boneka barunya. Sesekali ia bersenandung pelan, larut dalam dunianya sendiri. Di sampingnya, Alya memandang putranya dengan senyum penuh kelembutan. Sementara itu, Rayan tetap duduk tenang di kursinya. Tatapannya bergantian mengarah ke pemandangan di balik jendela dan layar ponselnya, sesekali memeriksa beberapa pesan tanpa banyak bicara.

Mobil mereka kemudian melaju menuju sebuah pusat mainan terbesar yang lokasinya tidak jauh dari pusat perbelanjaan. Begitu tiba, Fariz turun dengan langkah-langkah kecil yang penuh semangat. Wajahnya berseri-seri saat memasuki toko, matanya bergerak ke segala arah, dipenuhi rasa penasaran. Deretan rak yang dipenuhi mobil-mobilan, robot, puzzle, hingga boneka berwarna-warni membuat bocah itu terpaku. Begitu banyak pilihan di hadapannya hingga ia kebingungan menentukan mainan mana yang paling ingin dibawa pulang.

Alya melangkah tenang di belakang Fariz, menjaga jarak agar putranya tetap berada dalam pengawasannya. Sesekali ia mengulurkan tangan dan menyentuh lembut bahu bocah itu, mengingatkannya untuk tidak berlari terlalu jauh di tengah ramainya pengunjung.

"Pelan-pelan, Fariz," ujar Alya sambil tersenyum. "Kamu pilih satu yang paling kamu suka, ya. Tidak perlu semuanya."

Fariz langsung mengerucutkan bibirnya. Dengan wajah memelas, ia bergantian menunjuk dua rak mainan yang berbeda "Ma... yang ini keren," ucapnya dengan suara cadel. Jemarinya lalu berpindah ke mainan lain. "Yang itu juga Fariz suka."

Rayan melangkah mendekat, lalu mengusap lembut puncak kepala Fariz. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat berkata "Kalau memang kamu suka dua-duanya, ambil saja. Biar Papa yang membayarnya."

Alya segera menoleh ke arah Rayan dengan raut terkejut. Ia menggeleng pelan sebelum berkata, "Tidak perlu sebanyak itu. Satu mainan saja sudah lebih dari cukup untuk Fariz."

Rayan menatap Alya beberapa saat, seolah hendak menyampaikan sanggahan. Namun, setelah mengembuskan napas pelan, ia mengurungkan niatnya. "Baiklah," ujarnya tenang. "Satu saja."

Setelah mempertimbangkan cukup lama, Fariz akhirnya menjatuhkan pilihannya pada satu set balok susun berwarna-warni. Begitu mereka melangkah keluar dari toko mainan, senyum lebar tak pernah lepas dari wajah bocah itu. Seolah baru saja mendapatkan harta paling berharga. Di sampingnya, Alya membawa kantong belanja berisi mainan tersebut sambil mengulum senyum tipis, melihat kebahagiaan putranya yang begitu sederhana namun tulus.

Sesampainya di area parkir, salah seorang pengawal sigap membukakan pintu mobil. Alya lebih dahulu masuk sambil menggandeng Fariz, kemudian Rayan menyusul dan mengambil tempat di kursinya. Tak lama kemudian, mesin kendaraan kembali hidup, membawa mereka meninggalkan pusat perbelanjaan menuju rumah.

Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil masih dipenuhi keheningan. Hanya suara ceria Fariz yang terus mengalun, bercerita tentang mainan barunya, makanan yang baru saja ia coba, dan berbagai hal yang menarik perhatiannya sepanjang hari. Sementara itu, Alya dan Rayan lebih banyak larut dalam pikiran masing-masing. Keduanya masih menyisakan kecanggungan yang belum sirna, seolah ada jarak tak kasatmata yang belum mampu mereka lewati meski kini berada dalam satu perjalanan yang sama.

*****

Begitu mobil berhenti di halaman rumah, para pelayan dan pengawal segera bergerak mengambil seluruh kantong belanja dari bagasi. Alya menggenggam tangan Fariz dan mengajaknya menaiki tangga menuju lantai atas. Di belakang mereka, seorang pelayan wanita berjalan mengikuti dengan sopan, siap membantu membawa barang-barang sekaligus memenuhi kebutuhan mereka selama di rumah.

"Ayo, Sayang. Kita mandi dulu, ya," ujar Alya lembut sambil menggenggam tangan kecil Fariz.

"Iya, Mama," jawab Fariz patuh sambil memeluk erat mainan barunya, seolah takut benda itu terlepas dari pelukannya.

Alya dan Fariz memasuki kamar yang kini menjadi milik bocah itu. Ruangan bernuansa biru langit dengan hiasan awan dan bulan tersebut telah ditempati Fariz sejak sehari sebelumnya. Sementara itu, pelayan wanita yang mendampingi mereka dengan sigap menata mainan-mainan yang baru dibeli ke rak penyimpanan. Kehadiran mainan baru itu melengkapi koleksi yang sudah tersusun rapi, membuat kamar Fariz tampak semakin hidup dan penuh warna.

Alya mengajak Fariz memasuki kamar mandi yang terhubung langsung dengan kamar tidur. Langkahnya masih dipenuhi rasa canggung karena belum terbiasa dengan berbagai fasilitas modern yang tersedia di sana. Melihat kebingungannya, pelayan wanita yang sejak tadi mendampingi segera membantu menyiapkan air hangat, handuk bersih, serta perlengkapan mandi, sehingga Alya bisa memandikan Fariz dengan lebih tenang.

Dengan penuh kelembutan, Alya membantu Fariz melepaskan pakaian yang dikenakannya sebelum mulai memandikannya. Tangannya bergerak hati-hati menyiramkan air hangat dan membersihkan tubuh mungil putranya. Gelak tawa Fariz sesekali memenuhi kamar mandi ketika Alya mengusap rambutnya dengan sampo beraroma lembut. Di sisi lain, pelayan wanita sigap menyiapkan handuk yang hangat serta pakaian tidur bersih, sehingga semua keperluan mereka telah tersedia saat dibutuhkan.

Sementara itu, Rayan yang baru saja kembali ke kamar utama mulai bersiap untuk membersihkan diri. Setelah aktivitas panjang seharian, suasana rumah perlahan kembali sunyi dan damai. Tidak ada lagi keramaian seperti saat mereka berbelanja tadi, hanya ketenangan yang menyelimuti setiap sudut rumah.

1
Nurgusnawati Nunung
Babnya panjang yaa.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
kasihan Alya.
Nurgusnawati Nunung
bagus thor ceritanya.
May Satibi Satibi
suka
elief
suka karya nya thor. ceritanya 👍👍
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!