NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: VeLynme

Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.

Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.

Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.

Melainkan kesepakatan.

Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.

Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.

Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.

Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?

Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Keempat

"Jika Aruna membaca ini, berarti semuanya telah gagal. Percayalah hanya pada orang keempat."

Kalimat yang ditulis Alya itu membuat seluruh ruangan tenggelam dalam keheningan.

Aruna terus menatap tulisan tangan ibunya.

Goresan tinta yang mulai memudar itu terasa jauh lebih berharga daripada semua dokumen rahasia yang diperebutkan selama bertahun-tahun.

Untuk pertama kalinya...

Ia merasa ibunya benar-benar sedang berbicara kepadanya.

Bukan melalui cerita.

Bukan melalui kenangan orang lain.

Melainkan langsung.

"Bu..."

bisiknya pelan.

Air mata kembali mengalir tanpa bisa ia tahan.

Elias membiarkannya menangis.

Ia tahu.

Ada luka yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata.

Hanya waktu yang mampu mengobatinya.

Jonathan tiba-tiba tertawa pelan.

"Orang keempat."

Ia menggeleng sambil memandang foto lama itu.

"Hebat sekali."

"Bahkan saat sudah meninggal, Alya masih meninggalkan teka-teki."

Surya menatap mantan sahabatnya dengan dingin.

"Itu bukan teka-teki."

"Lalu apa?"

"Itu peringatan."

Jonathan mengangkat sebelah alisnya.

"Peringatan untuk siapa?"

Surya tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru beralih kepada Elias.

Seolah hanya mereka berdua yang memahami arti sebenarnya dari kalimat itu.

Mahendra menyadari pertukaran pandangan tersebut.

"Kalian tahu siapa orang keempat itu?"

Elias tersenyum tipis.

"Tidak."

"Tapi aku punya dugaan."

Jonathan menyipitkan matanya.

"Dugaan?"

Elias mengangguk.

"Lima belas tahun yang lalu, sebelum Alya meninggal..."

"...ia mengatakan sesuatu kepadaku."

Aruna langsung mengangkat kepala.

"Apa yang Ibu katakan?"

Elias memandang Aruna dengan lembut.

"Ibumu berkata..."

"'Jika suatu hari aku gagal melindungi Aruna, masih ada satu orang yang akan menyelesaikan tugasku.'"

Jantung Aruna berdegup semakin cepat.

"Satu orang?"

Elias mengangguk.

"Tapi Alya tidak pernah menyebut namanya."

"Tidak pernah?"

"Tidak."

Jonathan perlahan melangkah mendekat.

"Berarti..."

"...bahkan kau pun tidak tahu."

Elias tersenyum.

"Benar."

"Tapi ada satu hal yang aku tahu."

"Apa?"

"Elias."

Surya memanggil pelan.

Pria tua itu mengangguk.

Kemudian kembali menatap semua orang.

"Orang keempat itu..."

"...sudah bersama kita sejak awal."

Kalimat itu membuat semua orang membeku.

"Apa maksudmu?"

tanya Ratih.

Elias tidak menjawab.

Ia justru berjalan perlahan mengelilingi ruangan.

Tatapannya memperhatikan setiap wajah.

Jonathan.

Mahendra.

Ratih.

Dimas.

Reza.

Adrian.

Lalu berhenti pada Aruna.

"Bukan."

gumamnya.

Kemudian ia kembali berjalan.

Suasana menjadi semakin tegang.

Semua orang merasa sedang diperiksa.

Seolah Elias sedang mencari sesuatu.

Atau...

Seseorang.

Tiba-tiba langkahnya berhenti.

Ia tersenyum kecil.

"Akhirnya."

bisiknya.

Semua orang mengikuti arah pandangannya.

Namun yang mereka lihat hanya seorang pria muda berseragam pasukan gagak yang berdiri menjaga pintu.

Tidak ada yang istimewa.

Pria itu tampak sama seperti anggota pasukan lainnya.

Wajahnya tenang.

Tubuhnya tegap.

Helm hitam masih menutupi sebagian rambutnya.

"Elias..."

Surya mulai memahami.

"Jangan bilang..."

Elias mengangguk pelan.

"Ya."

Jonathan ikut menoleh.

Lalu mengernyit.

"Itu hanya anak buahmu."

Surya menggeleng.

"Tidak."

Pria muda itu akhirnya melangkah maju.

Pelan.

Tenang.

Kemudian melepas topi taktis yang dikenakannya.

Wajahnya masih sangat muda.

Mungkin baru sekitar dua puluh delapan tahun.

Tatapan matanya teduh.

Namun penuh keyakinan.

Aruna merasa pernah melihat wajah itu.

Entah di mana.

Pria itu berhenti tepat di depan Aruna.

Lalu membungkukkan badan dengan hormat.

"Nona Aruna."

katanya pelan.

"Maaf karena selama ini saya tidak pernah memperkenalkan diri."

Aruna mengerutkan kening.

"Kita pernah bertemu?"

Pria itu tersenyum.

"Sering."

Jawaban itu membuat Aruna semakin bingung.

"Aku tidak ingat."

"Itu memang tugas saya."

katanya.

"Tugas?"

Pria itu mengangguk.

"Saya diperintahkan untuk memastikan Nona tidak pernah menyadari keberadaan saya."

Dimas langsung membelalak.

"Jadi..."

"...kaulah yang selama ini mengikuti Aruna?"

Pria itu menoleh kepada Dimas.

"Ya."

"Saya mulai menjalankan tugas ini ketika Nona Aruna berusia lima tahun."

Seluruh ruangan kembali sunyi.

Dua puluh tahun.

Selama dua puluh tahun...

Ia hidup dalam bayang-bayang Aruna.

Tanpa pernah diketahui.

Tanpa pernah meminta pengakuan.

Aruna menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.

"Namamu siapa?"

Pria itu tersenyum hangat.

"Nama saya Arga."

"Arga Pratama."

Nama itu terasa asing.

Namun entah mengapa, ada rasa tenang yang muncul dalam hati Aruna.

Elias mengambil foto lama dari tangan Aruna.

Lalu menunjuk tulisan di baliknya.

"Percayalah hanya pada orang keempat."

Kemudian ia menatap Arga.

"Karena kamulah orang keempat itu."

Jonathan langsung tertawa keras.

"Mustahil!"

"Itu hanya seorang pengawal!"

Arga tetap tenang.

Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit tua dari saku dalam jaketnya.

Kemudian menyerahkannya kepada Aruna.

"Ini dititipkan ibu Anda."

Aruna membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat sebuah surat kecil yang telah menguning dimakan usia.

Di sudut kanan bawah terdapat tanda tangan Alya.

Dengan tangan gemetar, Aruna mulai membacanya.

"Aruna, jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti Arga berhasil menjalankan janjinya. Jangan pernah menilai seseorang dari siapa dia terlihat. Orang yang paling sering berada di dekatmu belum tentu orang yang paling kau kenal. Jika waktunya tiba, ikutilah Arga. Dia tahu jalan menuju jawaban terakhir."

Air mata Aruna kembali jatuh.

Surat itu tidak mungkin dipalsukan.

Tulisan tangannya sama.

Bahasanya sama.

Kehangatan seorang ibu terasa jelas dalam setiap kalimat.

Namun sebelum sempat ia berkata apa pun...

Tiba-tiba terdengar suara ledakan dahsyat dari bagian belakang pabrik.

BOOM!

Lantai bergetar keras.

Debu berjatuhan dari langit-langit.

Lampu-lampu bergoyang hebat.

Semua orang refleks bersiap.

Seorang anggota pasukan gagak berlari masuk dengan wajah pucat.

"Tuan Surya!"

teriaknya.

"Terowongan bawah tanah... diserang!"

Wajah Surya langsung berubah.

"Itu tidak mungkin."

"Hanya empat orang yang mengetahui lokasi terowongan itu."

Kalimat itu membuat Elias perlahan menoleh.

Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

Kemudian berhenti pada satu orang.

Jonathan.

Namun Jonathan juga terlihat sama terkejutnya.

Artinya...

Ada kemungkinan yang jauh lebih mengerikan.

Seseorang yang selama ini mereka percaya...

Telah mengkhianati mereka dari dalam.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!