Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.
Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.
Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISTERI ALAM BAWAH SADAR.
Akhir pekan yang dinantikan akhirnya tiba. Sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya, sebuah mobil sedan hitam berhenti di halaman rumah Damar dan Kirana tepat pukul sepuluh pagi. Dicky, sahabat lama Damar, akhirnya datang berkunjung. Namun, dahi Damar sempat mengernyit heran saat melihat Dicky tidak datang seorang diri, melainkan membawa serta istrinya, Amara.
Saat Kirana sedang sibuk di dapur menyiapkan camilan, Damar langsung menarik Dicky sedikit menjauh ke sudut teras rumah untuk berbicara.
"Dicky, kenapa kamu malah membawa istramu ke sini?" bisik Damar dengan nada suara cemas, matanya sesekali melirik ke arah dalam rumah.
Dicky tersenyum menenangkan, lalu menepuk pundak sahabatnya itu dengan pelan. "Tenang dulu, Damar. Aku sengaja membawa Amara justru agar Kirana tidak curiga. Lagian, kamu harus tahu kalau istriku ini juga seorang dokter spesialis kesehatan mental. Dia pasti bisa menangani istrimu dengan lebih halus."
Mendengar penjelasan dari sahabatnya, ketegangan di pundak Damar seketika mengendur. Ia mengembuskan napas panjang, merasa jauh lebih lega. "Baiklah kalau begitu. Tolong cari tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya."
Awalnya, pertemuan itu berjalan dengan sangat normal layaknya kunjungan teman lama pada umumnya. Mereka berempat terlibat dalam obrolan ringan, bahkan sempat menikmati makan siang bersama di meja makan. Kirana tampak mulai bisa membaur dan tersenyum tipis. Setelah selesai makan, mereka semua berpindah untuk saling mengobrol santai di sofa ruang tengah.
Di tengah-tengah perbincangan, Amara mulai melancarkan strateginya dengan sangat halus. Ia menatap Kirana dengan senyuman hangat.
"Kirana, udara di luar sepertinya sejuk sekali. Mau menemani aku mengobrol di taman samping? Kebetulan suasana di sana sangat sejuk dan indah," ajak Amara dengan nada suara bersahabat.
Kirana yang tidak menaruh prasangka apa pun langsung mengangguk. "Boleh, Mbak. Mari saya antar ke sana."
Kedua wanita itu pun berjalan menuju taman samping rumah yang asri. Sementara itu, Damar dan Dicky tetap bertahan di ruang tengah. Damar sesekali memperhatikan mereka dari ruang tengah lewat kaca besar yang membatasi antara area taman dan ruang tengah tersebut.
Di taman samping, Amara mengajak Kirana untuk duduk di sebuah bangku kayu. Amara mengeluarkan ponselnya dan mulai menghidupkan sebuah musik instrumen yang begitu tenang. Alunan nada yang sangat lembut itu seketika merayap masuk ke dalam telinga Kirana, memberikan efek relaksasi yang luar biasa hingga membuat kelopak matanya terasa sangat berat.
Amara yang melihat respons tersebut mulai berbisik dengan suara yang sangat lembut. "Rilekskan dirimu, Kirana. Mungkin kamu merasa lelah. Pejamkan matamu."
Mendengar arahan itu, Kirana akhirnya memejamkan matanya sepenuhnya dan menyandarkan kepalanya dengan lemas. Melihat umpan pertamanya berhasil, Amara langsung menoleh ke arah kaca besar dan memberikan kode kepada suaminya serta Damar yang sejak tadi memantau dari dalam. Sesi tanya jawab bawah sadar pun dimulai.
"Kirana, dengarkan saya. Apa yang membuat hatimu selalu dirundung oleh kekhawatiran?" tanya Amara dengan suara tenang.
"Aku khawatir kecelakaan Kak Damar akan terulang lagi," jawab Kirana lirih dengan mata yang tetap terpejam.
"Kapan itu akan terjadi?" tanya Amara lagi.
"Tanggal 15 April."
Amara mencatat poin tersebut. "Dari mana kamu tahu kalau Damar akan kecelakaan di tanggal tersebut?"
"Karena aku berasal dari masa depan."
Amara tetap mempertahankan ketenangannya. "Kirana, bukankah itu semua hanya sebuah mimpi?"
"Tidak, itu bukan mimpi! Karena yang kulewati hari itu begitu nyata," sahut Kirana dengan suara yang mulai bergetar menahan luapan emosi.
"Apa buktinya kalau kau memang pernah melewatinya?" tanya Amara memancing lebih dalam.
"Foto di rumah Kak Damar, lalu foto di dalam dompet Kak Damar," ucap Kirana, air mata mulai menetes dari sudut matanya yang tertutup. "And satu lagi, nanti di tanggal 8 April perusahaan Kak Damar akan mendapatkan keuntungan besar, tapi hal itu justru membuat banyak orang menjadi iri. Jadi di hari itu, ada orang yang ingin berbuat jahat pada Kak Damar. Nanti tangan kanannya akan terluka di sebelah kanan demi melindunginya."
Damar yang kini sudah berada di taman, dan ikut mendengar seluruh penuturan istrinya, langsung tersentak kaku dengan wajah memucat. Sementara itu, Amara yang duduk disamping Kirana mulai mencari penyebab utama dari trauma mendalam yang dialami Kirana.
"Ada apa sebenarnya di tanggal 15 April itu?" tanya Amara dengan sangat lembut.
"Di tanggal 15 itu... Kak Damar meninggal," kata Kirana yang kini mulai menangis secara perlahan.
"Apa penyebabnya dan di mana ia akan ditabrak?" desak Amara lagi.
Kirana mencoba menjawab pertanyaan tersebut, namun di sanalah seluruh tubuhnya mendadak mulai bergetar hebat. Nampak sekali ia sedang dilingkupi rasa ketakutan yang teramat sangat ekstrem. Jiwanya seakan-akan sedang ditarik paksa untuk berada langsung di tempat kejadian perkara.
Melihat kondisi istrinya yang tampak sangat tersiksa, Damar yang berada sedikit agak jauh, kini langsung dekat karena panik. Ia tidak sampai hati melihat istrinya menderita seperti itu, Ia pun akhirnya buka suara.
"Dicky, Amara, hentikan sekarang juga! Aku mohon hentikan sesinya, karena aku tidak sampai hati melihat istriku seperti ini!" seru Damar dengan nada suara panik.
Namun, Dicky dengan cepat menahan lengan Damar dengan kuat agar tidak mengacaukan proses penyembuhan. "Tenang dulu, Damar! Tolong biarkan dia menumpahkan segalanya agar semua beban di hatinya bisa keluar."
Damar terpaksa mengikuti instruksi dari sahabatnya, meskipun hatinya terasa sangat hancur. Namun lama-kelamaan, Kirana justru semakin menangis dengan tubuh yang bergetar jauh lebih hebat dari sebelumnya. Melihat tingkat ketegangan psikologis Kirana yang sudah mencapai batas maksimal, Amara akhirnya memutuskan untuk segera menghentikannya.
Amara mematikan musik di ponselnya, lalu mengusap dahi Kirana dengan lembut sembari memberikan sugesti agar wanita itu beralih ke dalam kondisi tidur yang normal. Agar tidak dicurigai saat terbangun nanti, Amara tetap membiarkan Kirana tetap tertidur pulas di atas bangku taman.
Amara kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Damar dengan raut wajah yang sangat serius.
"Damar, kondisi mental istrimu saat ini benar-benar sedang rapuh. Mulai sekarang, kamu harus selalu memperhatikan istrimu dengan baik. Berikan dia rasa aman yang nyata, agar apa yang dia takutkan bisa perlahan-lahan sirna dari pikirannya," saran Amara dengan tegas. "Dan satu lagi, berhenti bersikap dingin kepadanya, karena sikap acuh tak acuhmu itu hanya akan membuat ia merasa tersisihkan."
Damar menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu mengangguk pelan dengan penuh penyesalan. "Baik, Amara. Aku mengerti. Terima kasih banyak atas bantuan kalian."
Setelah dirasa tugas mereka selesai, Dicky dan Amara pun akhirnya berpamitan untuk pulang. Setelah mobil sahabatnya melaju pergi, Damar kembali melangkah menuju ke arah taman samping. Ia membungkukkan tubuhnya, lalu dengan sangat lembut ia menggendong tubuh istrinya yang masih terlelap.
Sembari berjalan menuruni selasar rumah, Damar menatap lekat wajah polos Kirana yang masih menyisakan jejak air mata di sudut pelupuknya. Di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah tekad baru telah tertanam dengan sangat kuat. Mulai detik ini, ia bersumpah akan meruntuhkan seluruh dinding es di hatinya, memberikan rasa aman yang paling mutlak bagi Kirana, dan memastikan bahwa tidak akan ada satu pun petaka maut yang boleh menyentuh kehidupan rumah tangga mereka.
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪