NovelToon NovelToon
Second Chance

Second Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.

Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.

Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?

Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima

Aruna terbangun tepat pukul 5 sore ketika ketukan di pintu kamarnya terdengar, ia bangkit duduk sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya. Anak itu tertidur dari pulang sekolah tadi dan membuat tubuhnya pegal.

Tok..tok..

Suara ketukkan terdengar lagi karena Aruna tidak merespon ketukan pertama tadi.

"Nona, ini saya Mia."

"Masuk," jawabnya malas.

Cklek.

Pintu kamar terbuka dan menampakkan Mia yang berjalan masuk sembari membungkukkan badannya sopan.

"Nona, Tuan besar menyuruh anda menghadiri makan malam bersama," kata Mia.

Aruna yang sibuk menguap dan melamun langsung melotot kaget, kedua mata bulatnya menatap Mia tak percaya.

Kenapa tiba-tiba?

"Ayah?"

"Iya, Nona."

"Hanya ada Ayah saja?" tanya Mia sekedar ingin tahu. Tapi sepertinya tak mungkin para saudaranya itu akan ikut juga. Mereka bahkan tidak menganggap kehadirannya sama sekali. Bagi mereka Aruna adalah orang yang merebut posisi adik kesayangan mereka yang sudah meninggal.

"Kepala Pelayan bilang ada Tuan Muda Alvaro," jawab Mia.

He?!

Bahkan Alvaro juga?

Di antara mereka bertiga, Alvaro lah yang paling menunjukkan perasaan benci dan tidak sukanya terhadap Aruna secara terang-terangan. Dulu Alvaro yang paling di takuti Aruna selain Kepala Keluarga. Selain karena Alvaro yang akan menjadi penerus sang Ayah, aura mereka berdua itu sama. Sama-sama berhati dingin dan tak tersentuh, dan sekarang mereka menunggu untuk makan malam bersamanya.

Apakah mereka berniat membunuhnya lagi pelan-pelan dengan cara di torture begini?

Anak itu masih menampakkan raut tak percaya dan mencoba memikirkan alasan kenapa sang Kepala Keluarga memanggilnya makan bersama. Seingatnya dulu meski Aruna menunggu mereka berjam-jam di meja makan, tak ada satu pun yang datang. Lalu kenapa sekarang ingin makan malam dengannya?

Apa ia membuat kesalahan?

Tunggu, jangan bilang karena masalah Paula. Tidak mungkin sang Kepala Keluarga mengatakan hal itu pada Alvaro dan memintanya untuk memarahi dirinya, kan?

Bah! Semakin di pikirkan, Aruna semakin tidak paham. Tidak ada gunanya menerka-nerka seperti ini. Satu-satunya cara untuk mengetahui tujuan mereka adalah dengan menghadiri makan malamnya.

Memikirkannya saja sudah sangat melelahkan.

"Nona, saya sudah menyiapkan air mandi untuk anda," kata Mia yang baru saja keluar dari kamar mandi di kamar itu. Sementara Aruna berdecak dengan helaan nafas berat lalu berjalan memasuki kamar mandi diikuti Mia dari belakang. Ia melepas seluruh pakaiannya dan membiarkan Mia yang mengambil dan mengurusnya.

"Saya akan menunggu di luar sembari menyiapkan pakaian anda," kata Mia lagi lalu keluar setelah mendapat anggukan dari Aruna yang sudah berendam di air hangat. Tubuhnya mungkin anak-anak tapi jiwanya terasa sudah tua dan ia kelelahan. Aruna menyamankan dirinya dan menikmati aroma terapi lavender kesukaannya.

"Aku berharap tubuh ini cepat tumbuh agar aku bisa segera pergi dari tempat ini," gumamnya sembari menutup kedua matanya.

Setelah satu jam, Aruna sedang bersiap-siap di meja rias. Saat ini Mia tengah menyisir rambut panjangnya dengan lembut. Dulu Aruna begitu menyukai rambut panjangnya karena berfikir mereka juga menyukainya. Mendiang si bungsu memiliki rambut yang panjang juga tapi berwarna kecoklatan, sedangkan rambut Aruna berwarna hitam legam seperti langit malam. Sempat berfikir jika alasan mereka mengadopsinya adalah karena rambut panjangnya, makanya tak pernah sekali pun ia potong. Namun, saat ini rambut panjangnya terlihat mengganggu dan ia tak nyaman sama sekali.

"Mia, kau bisa potong rambut?" tanya Aruna tiba-tiba.

"Saya tidak pandai memotong dengan berbagai gaya, tapi kalau hanya sekedar di potong dan di rapikan saya bisa, Nona. Kenapa anda bertanya?"

Aruma tersenyum dan mengambil gunting dari laci meja riasnya, "Kalau begitu potong rambutku sepundak dan rapikan," ucapnya sembari memberikan gunting itu pada Mia.

Mia yang tadinya tengah sibuk merapikan rambut Aruna langsung melotot syok, "A-apa? Ta-tapi Nona, bu-bukankah Tuan Besar menyukai rambut anda?"

"Lalu kenapa? Ini rambutku, aku berhak untuk memotongnya atau tidak. Nah, Kenapa diam saja? Cepat potong, jangan membuat mereka menunggu."

Pelayan itu mengambil gunting dari tangan Aruna dengan ragu, menatap wajah cantik anak itu dari cermin.

"Anda yakin, Nona? Sayang sekali rambut seindah ini harus di potong," ucap Mia dengan raut wajah sedih.

"Seujujurnya aku benci rambut panjang karena mengingatkanku pada sesuatu yang buruk. Jangan khawatir, aku yang menyuruh jadi ini bukan salahmu," kata Aruna.

Meski masih ragu tapi Mia menurut, ia memotong pendek rambut anak itu hingga sebahu lalu sedikit di rapikan sana-sini. Tak butuh waktu lama, rambut Aruna sudah terpotong pendek dengan rapi.

"Kepalaku terasa lebih ringan sekarang," kekeh Aruna lalu berdiri setelah selesai.

"Nona, bagaimana dengan sisa rambut anda?" tanya Mia.

Aruna melihat ke lantai di mana potongan rambutnya berserakan cukup banyak, "Buang atau bakar saja. Kau mau jual juga terserah. Lakukan sesukamu," jawab Aruna cuek.

Setelahnya Aruna berjalan keluar kamar diikuti Mia, sementara pelayan lain yang membersihkan sisa-sisa rambut anak itu.

"Hai, Sammy," sapa Aruna dengan senyuman tipis saat bertemu dengan pria berusia tak muda lagi itu di koridor rumah. Sejenak Sammy melotot syok melihat penampilan Aruna yang berubah. Pria itu bahkan lupa untuk balik menyapa Aruna seperti biasanya.

Tawa Aruna pecah dan membuat Sammy sadar kemudian berdehem pelan, "Maaf kan saya Nona dan selamat malam," ucapnya.

"Bagaimana penampilanku? Apa cocok untukku?" tanya Aruna tanpa basa-basi.

Sammy mengangguk dengan senyuman tipis, "Sangat cocok sekali dengan anda, Nona."

"Begitukah? Aku senang mendapat pujian tulus darimu Sammy. Nah, kutebak pasti kau disuruh untuk menjemputku, iya, kan?"

"Ya, Nona,"

"Kalau begitu ayo," katanya lalu kembali berjalan diikuti Sammy juga dari belakang.

Tak lama mereka tiba di ruang makan, Sammy mengetuk pintunya dulu sebagai ijin sebelum membuka pintu besar itu dan mempersilahkan Aruna masuk. Saat masuk, ia mendapati presensi sang Ayah juga Alvaro yang sudah terduduk di tempat mereka masing-masing.

"Maaf membuat kalian menunggu," ucap Aruna sopan.

Kedua pria berbeda generasi itu tidak merespon karena terkejut dengan penampilan baru Aruma. Reaksi mereka seperti ingin bertanya, tapi sepertinya mereka terlalu gengsi hingga hanya bisa diam dan menatap anak itu saja. Namun, Aruna tidak perduli, ia langsung duduk ketika Sammy menarik salah satu kursi untuknya.

Selama beberapa menit tak ada respon berarti dan membuat Aruna jengah juga. Ia menatap sekeliling ruangan yang terbilang cukup luas, bahkan meja makannya saja terlampau besar dan mampu memuat hingga 10 orang sebenarnya.

"Jadi, apa aku sudah boleh makan? Aku tidak memakan apapun dari siang dan cukup merasa lapar," ucap Aruna.

Mendengar hal itu membuat kedua pria itu tersentak kaget, mereka berdehem masing-masing.

"Silahkan Aruna," kata sang ayah— Elvio.

Aruna langsung memotong daging di piringnya kecil-kecil dan melahapnya satu-satu tanpa mengatakan apapun. Ia memang tak berminat membuka pembicaraan sama sekali, mereka memanggilnya berarti mereka ingin menyampaikan sesuatu. Kenapa ia harus repot bertanya?

"Aruna, soal seragam sekolahmu. Tadi Sammy mengatakan kau menyuruh membuangnya dan membeli yang baru," Elvio membuka suara lebih dulu.

"Hah! Kau membuang uang untuk sesuatu yang sepele," dengus Alvaro tiba-tiba. Tapi reaksi Aruna di luar dugaan, anak itu tidak menunjukkan raut wajah apapun dan masih terlihat tenang.

"Seseorang menumpahkan makanannya di seragamku dan itu meninggalkan bekas noda yang susah hilang, jadi aku meminta Sammy membelikan yang baru. Jika secemas itu uang keluarga Adijaya habis, tenang saja aku akan mulai bekerja dan membayarnya pelan-pelan. Mungkin takkan cukup mengembalikan semua uang yang di habiskan untuk anak yatim piatu sepertiku, tapi aku akan tetap mengembalikannya," jawab Aruna begitu lugas. Bahkan ucapannya membuat Alvaro beserta Ayahnya terkejut. Bagaimana mungkin anak berusia 10 tahun sudah berfikir untuk bekerja?

BRAK!

Alvaro memukul meja dengan raut marah, "Aruna! Apa kau meremehkan keluarga Adijaya?!"

Aruna yang baru saja akan menyuap sepotong daging langsung meletakkan lagi garpunya dan menatap Alvaro tanpa rasa takut. Jujur hal itu membuat Alvaro bingung, biasanya Aruna takkan berani menatap dirinya dan terus menundukkan kepalanya. Tapi kini Aruna terasa berbeda, tak ada rasa takut di mata anak itu.

"Apakah ucapanku terdengar merendahkan keluarga ini? Aku hanya mencoba tetap berada di tempatku dan menyadari posisiku. Jika Tuan muda merasa tersinggung, maafkan aku."

Alvaro terkejut, "Tuan muda?"

Anak itu tidak merespon dan menatap sang kepala keluarga yang sedari tadi diam saja menatapnya, Aruna tak memahami arti tatapan itu dan ia tak mau untuk paham.

"Karena kalian sudah mendapatkan jawaban yang kalian inginkan, jadi aku akan mengundurkan diri. Aku tak ingin kehadiranku membuat Tuan Besar dan Tuan Muda kehilangan selera makannya. Aku permisi," kata Aruna yang langsung berdiri dari kursinya hendak pergi tapi suara Alvaro terdengar lagi.

"Ayah bahkan belum mengatakan apapun dan kau sudah pergi. Tidak sopan, Aruna!"

"Kenapa?"

"Ha?"

Aruna menghela nafas dan berbalik menatap mereka berdua, "Bukankah kalian yang tidak suka satu ruangan denganku? Makanya tidak ada satu pun yang datang ketika aku menunggu berjam-jam hanya sekedar makan bersama saja. Sekarang aku sudah menyadari posisiku. Lalu apalagi? Apa aku juga perlu membayar makanan yang aku makan barusan? Akan aku ingat, tenang saja. Seperti kataku, aku akan mulai bekerja nanti. Silahkan lanjutkan makannya, Tuan Besar dan Tuan Muda," ucapnya lalu pergi begitu saja.

Ruang makan begitu hening, bahkan tidak ada yang bergerak untuk makan dan hanya terdiam.

"Apa anak itu sudah gila?" decak Alvaro yang merasa kesal. Apalagi mendengar Aruna memanggilnya dengan sebutan 'Tuan Muda' barusan membuatnya semakin kesal saja. Tapi kenapa ia harus merasa kesal? Sejak awal kedatangan Aruna, ia tidak menyukai anak itu karena berani mengambil posisi si bungsu. Bukankah seharunya ia merasa senang karena Aruna menyadari tempatnya di rumah ini?

Lalu kenapa perasaannya malah tidak tenang dan gelisah?

Elvio— sang Kepala Keluarga, menatap piring Aruna yang masih terdapat banyak potongan daging. Bahkan tidak ada setengahnya makanan anak itu habis.

"Sammy, kau sudah dapat yang aku suruh cari?"

Sammy yang hanya diam sedari tadi langsung maju dan mengangguk sopan, "Ya, Tuan."

"Katakan,"

"Menurut info yang saya dapat, puteri keluarga Rasyid yang lebih dulu mencari masalah dengan sengaja menumpahkan makanan di seragam Nona Aruna. Tak di sangka Nona Aruna membalas dengan menyiramkan minuman dingin pada anak itu, Tuan."

Sebelah alis Alvaro naik, "Tunggu! Jadi anak itu tidak bohong?"

"Ya, noda makanan di seragam Nona sulit di bersihkan dan sebagai anggota keluarga Adijaya, Nona tak ingin mempermalukan nama Adijaya dengan menggunakan seragam bernoda itu," jelas Sammy.

Nah, sekarang Alvaro merasa bersalah dengan ucapan yang ia lontarkan tadi.

Elvio menghela nafas, padahal bukan begini maksudnya. Ia hanya ingin mendengar penjelasan Aruna saja, bukannya menekan anak itu dan membuatnya berfikir demikian. Di tambah Aruna merubah panggilan mereka tadi membuat perasaannya terasa begitu sesak. Kenapa ia tak suka mendengar Aruna memanggilnya seperti itu? Rasanya seperti anak itu semakin jauh untuk di jangkau.

"Lakukan permintaan Aruna dan katakan padanya ia tak perlu bekerja untuk membayar semua yang kuberikan. Itu bukan alasanku mengadopsinya," kata Elvio.

"Baik, Tuan."

"Dan bawakan makanan baru kekamarnya, anak itu makan terlalu sedikit."

"Saya mengerti, Tuan," jawab Sammy.

1
Heni Setiyaningsih
semoga di kehidupan kedua aruna jd strong woman
Heni Setiyaningsih
cerita ttg reinkarnasi, semoga bagus cerita nya Thor 👍💪💪
QueenBwi
Ayo baca! 💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!