NovelToon NovelToon
THE DEADLY BODYGUARD

THE DEADLY BODYGUARD

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Raja Tentara/Dewa Perang / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.

Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.

Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.

Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.

Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?

"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bidak Catur Terakhir

Agen pertama di balkon lantai dua tiba-tiba merasakan pandangan matanya kabur secara mendadak.

Ia mencoba mengedipkan matanya di balik kacamata malamnya, namun otot-otot kelopak matanya terasa sangat berat dan kaku. Senapan serbu di genggamannya terasa seperti balok timah seberat $50$ kilogram yang mustahil untuk ia angkat kembali.

"K-Komandan..." bisik agen tersebut melalui radio komunikatornya dengan suara yang sangat lambat dan parau. "Ada yang... salah dengan... udar—"

Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, kepalanya terkulai lemas menghantam lantai balkon kayu dengan bunyi ketukan yang sangat halus.

Di sampingnya, agen kedua mengalami nasib yang sama, tubuhnya mengejang halus selama satu detik sebelum akhirnya lemas sepenuhnya, tidak sadarkan diri dengan mata terbuka lebar yang tidak lagi memiliki fokus visual.

"Unit balkon! Laporkan posisimu!" suara Hendra berteriak cemas dari saluran radio bawah begitu mendengar bisikan aneh tersebut. "Unit balkon, jawab!"

Tidak ada jawaban. Hanya ada suara statis yang dingin yang mengudara di frekuensi mereka.

Nathan tersenyum dingin di balik kegelapan atap. Dua jatuh. Sisa dua di dalam.

Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, Nathan mengeluarkan alat pemotong kaca taktisnya dari tas pinggang. Ia memotong sebagian kecil sudut kaca patri kubah dengan diameter 20 sentimeter tanpa menimbulkan suara getaran yang berarti.

Setelah kaca bundar itu terlepas, Nathan memasukkan tali taktis berbahan kevlar karbon miliknya melalui celah tersebut, mengikat ujungnya pada rangka baja kubah yang kokoh.

Nathan melepaskan senapan submesin MP5-Silent dari punggungnya, memegangnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mencengkeram erat tali kevlar tersebut.

Ia menarik napas perlahan, mengembuskannya dengan stabil, lalu meluncur turun secara vertikal menembus celah kubah atap kaca seperti sesosok malaikat maut hitam yang melayang jatuh dari langit malam.

00.32 dini hari.

Tubuh tegap Nathan mendarat tanpa suara di atas koridor lantai dua yang dilapisi karpet beludru merah tebal, tepat di antara dua jasad pengawal Hendra yang telah lumpuh akibat gas saraf.

Nathan bergerak cepat, merunduk di balik pagar pembatas balkon yang berukir klasik, mengarahkan laras senapan MP5-Silent miliknya ke arah lantai dasar.

Melalui kacamata hibridanya, ia melihat dua agen sisa pasukan Hendra yang berjaga di balik pintu utama halaman belakang mulai bergerak panik karena hilangnya komunikasi dengan unit balkon lantai dua.

"Ada yang tidak beres di atas!" bisik salah satu agen bawah kepada rekannya. "Aku akan memeriksa tangga barat. Tetap jaga pintu ini!"

Agen tersebut memutar tubuhnya, melangkah perlahan menuju tangga darurat barat yang sempit. Langkah kakinya sangat hati-hati, laras senapan serbunya terarah ke depan menembus kegelapan malam.

Namun, ia tidak pernah menyadari bahwa Nathan sedang mengawasinya dari atas balkon yang berjarak hanya 5 meter di atas kepalanya.

Nathan menggeser tuas pemilih tembakan senapan MP5-Silent ke mode tembakan tunggal. Ia membidik bagian atas helm taktis agen yang sedang berjalan menuju tangga tersebut, tepat di titik sambungan pelat baja pelindung leher yang tidak terlindungi secara maksimal.

Pfft.

Satu tembakan sangat diredam menyalak dalam keheningan ruangan. Peluru sub-sonik kaliber 9 mm meluncur mulus, menembus tepat di titik mati leher agen tersebut.

Bup.

Agen itu ambruk ke depan tanpa sempat mengeluarkan suara erangan sedikit pun. Senapan serbunya tertahan oleh tali taktis yang melingkar di pundaknya, menjaga agar senjata tersebut tidak menghantam lantai marmer dengan bising yang keras.

Agen terakhir yang berjaga di dekat pintu utama tersentak kaku mendengar gesekan halus jatuhnya tubuh rekannya di dekat tangga barat. Di bawah kacamata malamnya, ia melihat bayangan hitam rekannya tergeletak diam di lantai.

"Yusuf! Yusuf! Ada apa?!" bisik agen tersebut dengan nada suara yang bergetar hebat karena panik. Ia melepaskan posisinya dari balik pintu, berjalan mundur perlahan dengan senapan yang mengarah liar ke sekeliling ruangan yang gelap gulita.

"Yusuf, laporkan situasi!" teriak Hendra dari arah ruang tengah dengan suara yang mulai histeris. Ia bisa merasakan bahwa seluruh jaring pertahanan yang ia banggakan sedang dihancurkan satu per satu oleh kekuatan yang tidak kasat mata.

Agen terakhir itu terus berjalan mundur, hingga punggungnya membentur pilar marmer tengah ruang tamu dasar.

Tepat saat ia hendak berputar untuk mencari perlindungan yang lebih aman—

Sesosok bayangan hitam meluncur turun dari atas langit-langit balkon lantai dua menggunakan tali kevlar yang berayun dengan kecepatan luar biasa.

Itu adalah Nathan.

Sebelum agen terakhir sempat mengarahkan laras senjatanya ke atas, kaki tegap Nathan yang mengenakan bot militer tebal telah menghantam dada agen tersebut dengan energi kinetik yang luar biasa besar.

BUM!

Hantaman keras itu mengirim tubuh agen tersebut melayang ke belakang, menabrak dinding kaca tebal resor hingga retak membentuk pola jaring laba-laba, sebelum akhirnya jatuh tersungkur di atas lantai marmer dengan tulang rusuk yang patah di lima titik yang berbeda.

Senapan serbunya terlempar jauh di atas lantai yang basah oleh rembesan air hujan.

Pria itu terengah-engah, mencoba merangkak untuk mengambil pistol cadangannya di paha kanan.

Namun, Nathan mendarat dengan mulus di depannya. Tanpa menunjukkan belas kasihan sedikit pun, Nathan mengarahkan laras MP5-Silent miliknya tepat di depan pelindung wajah agen tersebut.

Pfft.

Satu tembakan jarak dekat meredam pelatuk kematiannya seketika. Tubuh agen terakhir itu mengejang kaku selama setengah detik sebelum akhirnya lemas tak bernyawa di atas genangan air yang merembes dari jendela kaca yang retak.

Nathan berdiri tegak di tengah kegelapan ruang tamu dasar resor. Ia melepaskan kacamata hibridanya, membiarkannya menggantung di lehernya, saat lampu kristal mewah di tengah ruang tengah resor tiba-tiba dinyalakan kembali oleh Hendra dari panel kontrol dinding darurat.

Cahaya lampu kekuningan yang benderang seketika membanjiri seluruh ruangan, menerangi empat jasad pengawal elit Konsorsium Mahkota yang kini telah tewas bergelimpangan di sekitar ruangan.

Di tengah siraman cahaya lampu tersebut, Nathan melangkah perlahan menuju area ruang tengah tempat Elena dan Hendra berada. Langkah kakinya terdengar begitu ritmis di atas lantai marmer yang dingin, ketukan sepatu bot taktisnya terdengar seperti hitungan mundur detak jam kematian di telinga Hendra.

Hendra berdiri di samping Elena, tangan kirinya mencengkeram erat bahu Elena sementara tangan kanannya yang memegang pistol bergetar hebat, menodongkan laras senjata tepat ke arah pelipis kanan Elena yang terikat erat di kursi.

"Jangan melangkah maju satu langkah pun, Nathan!" teriak Hendra dengan suara melengking yang dipenuhi oleh keputusasaan ekstrem. "Satu gerakan kecil darimu, dan aku akan memastikan kepala Elena hancur berkeping-keping di depan matamu! Buang senjatamu sekarang juga!"

Nathan menghentikan langkahnya tepat 5 meter di hadapan Hendra. Wajahnya yang tegap tetap kaku seperti pahatan batu marmer tanpa emosi, dan laras senapan MP5-Silent di tangan kanannya tetap terarah santai ke arah lantai.

"Senjata di tanganmu tidak akan bisa menyelamatkan nyawamu, Hendra," ucap Nathan, suaranya terdengar sangat tenang, datar, namun membawa tekanan psikologis yang begitu berat hingga membuat Hendra merasa kesulitan untuk sekadar menarik napas.

"Papan caturmu sudah kosong. Dan malam ini... kamu adalah bidak terakhir yang akan kuhancurkan."

Di bawah kilatan lampu kristal yang hangat dan deru badai yang mengguncang dinding kaca resor, konfrontasi akhir antara Nathan Wiratama dan pengkhianat Hendra kini telah berada di titik paling krusial.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!