NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amira sakit

Tepat azan Magrib berkumandang, Amira sampai ke rumah. Hujan mulai reda. Suasana rumah pun sangat sepi karena ternyata kedua adiknya belum pulang dari sekolah karena ada kegiatan tambahan di sana. Amira masuk dengan badan yang mulai menggigil, mata bengkak, dan hati yang penuh kekecewaan. Ia langsung menuju kamar, membersihkan diri dengan air hangat. Setelah itu, ia turun ke dapur untuk membuat teh hangat dan menyeduh mi instan.

"Mbak Amira dari mana? Saya lihat tadi Mbak kehujanan," tanya Bi Sumi. Amira berusaha menghindari tatapan pembantunya itu.

"Tadi saya pulang ke rumah lama saya, Bi. Biasanya bersih-bersih sedikit. Meskipun tidak dihuni, rumah itu harus tetap terawat. Siapa tahu nanti saya tinggal di sana lagi, jadi kondisinya harus tetap terjaga," jawab Amira asal. Bi Sumi tampak bingung mendengar jawaban itu.

"Kenapa harus tinggal di sana? Kan Mbak sudah menikah sama Mas Farhan, pasti kan tinggalnya sama mas Farhan?"

Mendengar ucapan itu, Amira hanya tersenyum tipis dan pahit. "Ya, tinggal di rumah lama saya bukan berarti harus pindah ke sana sepenuhnya, Bi. Kalau saya kangen dan ingin tidur di sana, ya saya pulang ke rumah saya sendiri."

"Hee… iya juga sih, Mbak. Padahal suruh saya saja yang bersih-bersih, jadi Mbak nggak perlu capek-capek," kata Bi Sumi.

"Saya masih bisa mengerjakan sendiri, Bi. Sudah gih, istirahat saja. Saya lagi pengen banget makan mi instan ini," usir Ammar halus.

"Baik, Mbak."

Amira makan dengan tenang, meski pikirannya melayang entah ke mana. Setelah salat Isya, Amira memutuskan untuk tidur badannya mulai terasa tidak enak, demam, dan sesekali bersin. Saat kedua adiknya pulang, Amira sudah berpesan pada Bi Sumi agar mereka langsung makan dan istirahat. Untuk Farhan? Amira sama sekali tidak berpesan apa-apa.

Jam sembilan malam, demam Amira makin parah. Ia bersin-bersin terus dan kepalanya terasa berat. Efek kehujanan cukup lama apalagi saat itu hujan turun sangat deras membuatnya jatuh sakit malam itu. Farhan belum juga pulang. Padahal biasanya jam segini ia sudah sampai, dan Amira akan menyambutnya di depan pintu dengan senyum paling tulus.

Pukul sepuluh malam baru Farhan tiba di rumah. Setelah memarkir mobil, tidak ada siapa pun yang keluar menyambutnya. Selama ini, ia tahu, sepagi atau selarut apa pun ia pulang, Amira pasti selalu menunggunya.

Ia masuk ke dalam rumah. Suasana tetap hening. Baru saat ia melangkah ke dalam, terdengar suara bersin berturut-turut dari arah kamar tidur.

"Amira, kamu sakit?" tanya Farhan saat berdiri di ambang pintu kamar.

"Sepertinya flu. Tadi kehujanan," jawab Amira dengan suara serak, tubuhnya terasa sangat tidak nyaman.

"Memangnya kamu habis ngapain sampai kehujanan?" tanya Farhan. Di balik wajah lelahnya, terselip nada ketidaksukaan. Entah apa yang membuatnya kesal, tapi seolah Amira adalah penyebab segala kekesalannya hari itu.

Amira tak menjawab pertanyaan itu. Ia langsung bangkit dari tidurnya dan berpamitan pada suaminya.

"Mas, aku tidur sama Amara saja ya. Takut nanti kamu ketularan flu dari aku," ucap Amira sambil menggendong bantal dan selimutnya. Namun, Farhan menahan langkahnya.

"Kenapa harus ganggu orang lain? Dia juga butuh istirahat. Sebaiknya kamu tidur saja di sini. Nanti aku aja yang tidur di ruang kerja."

"Amara adikku, Mas, bukan orang lain. Justru aku takut mengganggu tidurmu. Sudah seharian kamu bekerja sampai lembur, masa nanti malah harus tidur di ruang kerja? Biar aku aja yang pindah. Kamu nggak perlu mengalah untuk orang lain," nada bicara Amira terdengar sarkas, cukup menusuk hati Farhan. Ia mulai merasakan ada yang berubah dari sikap istrinya. Di mana pertanyaan biasa sudah makan belum?, mau mandi dulu?, atau sekadar tanya apa kegiatannya di kantor?

Amira benar-benar tidak habis pikir dengan perlakuan suaminya. Tidak ada tanda perhatian sedikit pun. Seharusnya seorang suami bertanya apa yang dibutuhkan istrinya, atau mengingatkan minum obat. Alih-alih itu, Farhan malah mengajak berdebat soal tempat tidur.

"Bukan itu maksudku," ucap Farhan, nada bicaranya sedikit melunak.

"Nggak apa-apa, Mas. Aku janji tidak akan merepotkan kamu. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat. Mana tahu besok kamu masih harus lembur lagi," sindir Amira. Kalimat itu sangat jelas , namun Farhan masih saja beranggapan bahwa Amira belum tahu apa yang sebenarnya ia lakukan selama ini.

Amira keluar dari kamar, lalu mengambil obat flu dan meminumnya. Karena benar-benar tidak ingin mengganggu adiknya, ia memutuskan tidur di ruang keluarga yang cukup luas. Setelah minum obat, ia mencoba memejamkan mata. Tak ada satu pun yang tahu ia tidur di sana, termasuk suaminya sendiri.

Namun, tengah malam menjelang subuh, Ammar yang memang terbiasa bangun untuk salat malam dan belajar mendengar suara seseorang bersin-bersin di ruang tengah. Ia pun mendekat untuk memastikan, dan benar saja, itu kakaknya.

"Kakak sakit? Sudah minum obat? Kenapa tidur di sini?" tanya Ammar bertubi-tubi.

"Kakak tidak apa-apa, Dek. Cuma sedikit flu, sudah minum obat kok. Kakak tidur di sini takut nular ke Masmu. Dia kan kerja, kasihan kalau di kantor malah sakit gara-gara Kakak," jawab Amira lemah.

Ammar mengerti alasannya, tapi hatinya bertanya haruskah kakaknya tidur di ruangan ini yang pasti dingin, sedangkan suaminya tidur nyenyak di dalam kamar?

"Kakak pindah ke kamar Ammar aja. Jangan di sini, nanti malah makin parah sakitnya," bujuk Ammar cemas.

"Nggak usah, Mar. Nanti kamu malah ketularan sama Kakak," tolak Amira. Tapi Ammar tidak mau mendengar penolakan.

"Kak, aku mohon jangan menolak. Kalau tidurnya nyaman, pasti cepat sembuh," pinta Ammar dengan wajah memelas. Akhirnya, Amira pun menurut dan mengikuti adiknya.

Di kamar Ammar, adiknya itu membuatkan teh jahe hangat, lalu memijat lembut kaki dan tangan kakaknya sampai Amira terlelap pulas. Ammar menatap wajah kakaknya dengan perasaan sedih. Ia bertanya dalam hati, apakah perlakuan suami itu seperti ini? Membiarkan istrinya sakit dan tidur di luar, sementara dia tidur tenang. Bukankah laki-laki yang mencintai istrinya akan melindungi dan merawatnya?

"Kak, aku janji akan belajar lebih giat lagi. Nanti aku akan sukses, biar bisa membahagiakan Kakak dan Amara. Tunggu aku ya, Kak," batin Ammar, matanya berkaca-kaca melihat wajah kakaknya yang pucat.

Setelah memastikan Amira tidur nyenyak, Ammar melaksanakan salat malam. Ia berdoa panjang lebar, memohon kebahagiaan dan kemudahan hidup untuk saudaranya di dunia maupun akhirat.

Setelah selesai berdoa, Ammar kembali duduk untuk mempelajari materi pelajaran hari ini. Saat azan Subuh berkumandang, ia segera ke masjid di lingkungan perumahan itu. Warga sekitar memang lebih mengenal sosok rajin dan sopan Ammar, daripada Farhan pemilik rumah besar itu yang jarang terlihat berbaur.

1
Lilis Yuanita
bgus
rasahaz
bnr2 nyesek kmu jdi amira,, jdi mnding go ja lh,,, 😤😤😤💪
Salsa Bilah
aku bolak-balik buat liat bab selanjutnya blom ada ihhh
Lilis Yuanita
sedih critay
rasahaz
nah kaan baru tau skrng gmn kelakuan laki mu amira,, mkany jgn polos2 bgt ahk, masa ngga bsa pke insting seorng istri sh,,, jdi udh mnding minggat ja minta pisah ngapain msh dpertahankn,, 😤😤😤😤
rasahaz
jgn trllu lemot amira,, masa ngga bsa pke insting sma skli sh,, 😄😄😄
rasahaz
mng dasar laki pengecut pecundang kau farhan,, 😡😡😡
rasahaz
ayo amira kmu hrus jdi wanita tanggung,, jgn menye2 yg dikit2 nangis,, 💪💪💪🔥
rasahaz
pergi amira pergi bwa adik2 mu,, mnding berdiri dkaki sndri dri pda brgntung sma laki modeln c farhan,,,
rasahaz
waaaahh bnr2 suami dzolim kau farhan,,, 😡😡
rasahaz
kau sprti menabur madu pdhal kau memberi racun,,, 😡😡
rasahaz
sikap mu bgtu manis tpi bnyak bgt mengandung racun ny,,,
rasahaz
dpt notif da cerita baru karya kak pipit,, langsung mlncur,🔥🔥🔥💪😄
Penikmat Sunyi: terima kasih, dukung terus ya kak biar semangat nulisnya😄😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!