Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Creamy Shrimp Pasta dan Panggilan Telepon yang Mengganggu
Ren cukup terkejut mendapati ayahnya sudah duduk di sofa ruang kerjanya saat Ren tiba di kantor. Tak biasanya, ayahnya tersenyum selebar itu pada Ren.
"Ada perlu apa, Yah?" tanya Ren datar sambil berjalan menuju kursi kerjanya. Ayahnya terus tersenyum.
"Ayah rasa, pilihanmu boleh juga," kata Tuan Damaris sambil berjalan ke arah Ren dan menyodorkan ponselnya. Ren menerima ponsel ayahnya sambil mengerutkan kedua alisnya.
Mata Ren membulat melihat fotonya tengah mencium Lia di depan lift beberapa menit yang lalu sudah menghiasi halaman media sosial. Tuan Damaris tersenyum.
"Ayah kira, kamu asal pilih wanita. Ternyata, diam-diam kamu tertarik padanya sampai rela pergi ke Hotel Lavendra sebelum berangkat ke kantor hanya demi sebuah ciuman," kata Tuan Damaris. Ada sedikit nada meledek dalam suaranya.
"Jadi, ayah kesini karena berita ini?" tanya Ren datar sambil mengembalikan ponselnya pada ayahnya.
"Datanglah ke rumah nanti malam. Ajak isterimu. Dia belum memberi salam pada Ayah dan Mama," kata Tuan Damaris sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya.
"Baik,"
Tuan Damaris berlalu setelah menerima jawaban dari Ren. Ren duduk di kursi kerjanya sambil menghela napas panjang. Kehadiran ayahnya selalu menyesakkan bagi Ren. Terlebih selama satu tahun terakhir ini. Ren merasa selalu diawasi dan tak bebas bergerak seperti keinginannya.
"Aku harus memberitahu Nona Edelia," gumam Ren sambil merogoh ponselnya.
Tak perlu memasak. Ayah mengundang kita makan malam di rumah.
Ren meletakkan ponselnya di atas meja. Sedetik kemudian balasan datang.
Siap, Tuan Muda.
"Apa dia nggak punya kerjaan? Cepet banget balesnya,"
Padahal udah mau masak creamy shrimp pasta nanti malam.
Satu pesan singkat lagi dari Lia menyusul masuk membuat kedua alis Ren terangkat saat membaca. Seketika Ren membayangkan pasta dengan saus krim berwarna gading dengan udang-udang besar berada di atasnya.
Ren mulai mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Ren berhenti sesaat lalu menghapusnya lagi.
"Kenapa membaca nama menunya saja sudah membuatku ingin memakannya sekarang juga?"
Satu pesan kembali masuk ke ponsel Ren. Ren segera membacanya. Mata Ren membulat tak percaya.
Apa Tuan Muda bisa pulang lebih cepat hari ini? Saya rasa saya benar-benar ingin memasaknya hari ini. Mungkin kita bisa makan sebelum berangkat ke kediaman Tuan Besar?
Sebuah senyum tipis terkembang di wajah Ren. Ren segera membalas pesan singkat itu.
Saya usahakan.
***
Jam 16.02 Lia sudah tiba di apartemen. Tanpa berlama-lama lagi, Lia segera menyiapkan diri untuk memasak creamy shrimp pasta yang dijanjikan pada Ren pagi ini. Dia bahkan meletakkan tas kerja dan blazernya sembarangan di atas sofa ruang tengah.
Tak lupa Lia memutar lagu slow-rock ballad untuk menemani acara memasaknya. Alunan gitar akustik yang membuka lagu melengking-lengking, memberi semangat pada Lia untuk segera mengeksekusi udangnya.
"This Romeo is bleedin', but you can't see his blood... It's nothin' but some feelin's that this old dog kicked up..." suara vokal khas Bon Jovi yang emosional membuka lagu dengan tenang.
Lia mulai merebus pasta hingga al dente. Dengan cekatan, Lia membumbui udang dengan garam dan lada lalu menumisnya dengan sedikit mentega hingga berubah warna. Setelah mengangkat udang, Lia kemudian melelehkan mentega di wajan yang sama lalu menumis bawang putih hingga harum dan menuangkan cooking cream. Tak lupa Nia mengaduknya perlahan dengan api kecil, memasukkan keju parmesan, oregano, pala, garam, dan lada. Setelah mengental Lia memasukkan udang dan pasta ke dalam saus hingga seluruh pasta terbalut saus krim. Lia tersenyum menatap hasil masakannya sendiri.
Aroma harum keju parmesan memenuhi ruangan saat Ren membuka pintu unit apartemennya. Samar-samar, Ren dapat mendengar alunan lagu berbahasa Inggris dengan petikan khas musik slow-rock yang biasa Lia dengar. Tanpa Ren sadari, senyum tipis terkembang di wajahnya, mengetahui Lia sudah memasak untuknya.
"Ah! Pas sekali! Pas mateng, pas Tuan Muda dateng," kata Lia sambil menata meja makan saat melihat Ren berjalan masuk.
Ren meletakkan tas kerja dan jasnya di samping tas kerja dan blazer milik Lia di atas sofa ruang tengah. Dia kemudian berjalan menuju meja makan sambil menggulung lengan kemejanya. Ren sudah menarik kursi ketika Lia mengingatkannya.
"Saya tahu, Tuan Muda sudah tak sabar ingin makan. Tapi, jangan sampai lupa cuci tangan Tuan Muda dulu," kata Lia sambil meletakkan segelas air putih dan tersenyum. Ren segera menuju wastafel untuk mencuci tangannya dan kembali menarik kursi.
"Selamat makan," kata Lia sambil tersenyum dan menggulung pasta udangnya.
Ren menatap hidangan di hadapannya. Sesuai apa yang dibayangkan Ren. Hidangan buatan Lia selalu terlihat berkelas dan enak.
"Mmm... Mmm..." Lia mulai mengunyah pasta udangnya dengan mata terpejam, terlihat begitu menikmatinya.
Ren mulai menyuapkan pasta udang ke mulutnya. Letupan rasa yang dihasilkan oleh kombinasi pasta, udang, keju, dan rempah begitu menggoda lidah Ren untuk terus memasukkan lagi dan lagi pasta udang ke mulutnya. Lia menatap Ren dengan senyum puas.
Kurang dari sepuluh menit, dua piring yang tadinya penuh pasta udang sudah kosong tak bersisa. Ren dan Lia duduk diam sambil meminum air putih sesekali.
"Terimakasih," ucap Ren. Lia tersenyum.
"Sama-sama,"
Ponsel Lia tiba-tiba berdering, menampilkan nomor tanpa nama dengan foto profil seorang pria yang wajahnya Ren lihat tadi pagi di dalam lift. Lia hanya melirik ponselnya, lalu membalik layarnya menghadap meja. Ren menatap Lia.
"Anda tidak menjawabnya?" tanya Ren.
"Bukan hal yang penting," jawab Lia sambil tersenyum kikuk.
Ponsel Lia sudah berhenti berdering. Lia melirik ke arah ponselnya.
"Anda tahu, Anda tak harus sungkan untuk menja..."
"Saya tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan apapun selain hubungan profesional," potong Lia cepat. Ren terdiam.
Ponsel Lia kembali berdering. Lia kembali melirik ke arah ponselnya. Ren melakukan hal yang sama.
"Sepertinya dia punya pendirian yang teguh," komentar Ren lalu meminum air putihnya.
"Kalau begitu, saya lebih teguh dari dia," kata Lia tanpa mengacuhkan ponselnya.
Ren menatap Lia. Ren dapat melihat kebencian di mata Lia. Ren melirik ke arah ponsel Lia yang masih berdering. Dengan cepat Ren meraih ponsel Lia dan menjawab panggilan telepon itu. Mata Lia membulat seketika.
"Ya?"
Tak ada jawaban disana. Ren melirik ke arah Lia yang menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Siapapun disana, kalau Anda mempunyai keberanian menghubungi isteri saya itu artinya Anda mempunyai cukup banyak keberanian untuk menghadapi saya," kata Ren. Lia masih menatap Ren dengan jantung yang berdetak tak berirama.
Masih tak ada jawaban.
"Saya dan isteri saya sedang sibuk saat ini. Jadi, saya mohon, jangan ganggu kami," kata Ren lalu menutup sambungan telepon dari nomor tanpa nama itu.
Ren mengembalikan ponsel Lia. Lia menerimanya dengan tatapan bingung.
"Maaf, Tuan. Tapi, bukankah Tuan sedang mencampuri urusan pribadi saya?" tanya Lia sambil menatap layar ponselnya.
Mata Ren sedikit membulat tak percaya dengan pertanyaan Lia dan juga tindakannya sendiri.
'Urusan pribadi? Tunggu. Apa yang aku lakukan?'
***