NovelToon NovelToon
Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.

Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: BOM KEDUA DARI KLAN PERI

Ternyata, melakoni peran sebagai asisten pribadi khusus bagi seorang pahlawan nasional jauh lebih menguras tenaga ketimbang membereskan seluruh koridor Sektor Barat. Sudah tiga hari berlalu sejak Axel dipindahkan ke paviliun mewah milik Reynarda di kawasan privat akademi. Tugasnya tergolong sederhana namun berisiko tinggi: duduk menemani Reynarda saat wanita itu memeriksa dokumen, mendampinginya berlatih, dan memastikan bar merah di atas kepalanya tidak merosot ke zona berbahaya.

Kehadiran Axel terbukti mujarab; tingkat kewarasan Reynarda perlahan merangkak naik dan stabil di angka 45%. Persentase itu sudah cukup untuk mengembalikan citranya sebagai ksatria suci yang dingin sekaligus berwibawa di mata publik. Akan tetapi, begitu pintu paviliun terkunci rapat dan hanya tersisa mereka berdua, Reynarda akan melepaskan topengnya. Ia bakal duduk tepat di samping Axel, meremas ujung baju pemuda itu, atau sekadar menyandarkan kepala di bahunya tanpa sepatah kata pun.

"Kau dilarang pergi ke kafetaria sendirian siang ini, Axel," cetus Reynarda datar seraya merapikan jubah peraknya di hadapan cermin. Sepasang netra birunya melirik Axel dengan sorot protektif lewat pantulan kaca. "Banyak taruna tingkat atas yang mengincarmu karena rumor bahwa kau menggunakan cara kotor untuk mendekatiku. Tetaplah di belakangku."

Axel yang tengah menyusun berkas latihan hanya mampu mengangguk pasrah. "Baik, Lady Reynarda."

"Panggil Rey saja jika sedang berdua," koreksi Reynarda cepat, terselip nada tidak puas dalam suaranya yang dingin.

Sebelum Axel sempat menanggapi, ketukan keras di pintu paviliun seketika membuyarkan atmosfer canggung di antara mereka. Seorang taruna utusan dari gedung utama berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi.

"Lady Reynarda! Ada perintah mendesak dari Kepala Sekolah. Anda diminta segera menuju Aula Agung Gedung Utama. Tamu agung dari klan Elf kuno... mengalami anomali sihir saat upacara penyambutan!"

Begitu mendengar kata anomali, insting Axel langsung bergejolak. Ia melirik panel sistemnya yang tiba-tiba berkedip kuning, memberikan sinyal peringatan pasif. Reynarda mengernyitkan dahi, wajahnya kembali mengeras. "Elysia Whisperwind? Apakah penyihir agung itu sudah tiba?"

Tanpa membuang waktu, Reynarda melangkah pergi dengan gerak tubuh anggun namun tetap mengintimidasi. Axel bergegas membuntuti di belakangnya, membawa tas dokumen sebagai penyamaran atas statusnya.

Sesampainya di selasar Aula Agung, suasana mendadak mencekam. Udara terasa berat, dingin, dan sarat akan tekanan mana hijau yang berputar bak tornado kasatmata. Beberapa penyihir pelindung akademi tampak terkapar di lantai, pingsan karena tak kuasa menahan gempuran energi yang begitu masif.

Di pusat aula, di tengah pilar-pilar marmer yang mulai retak, berdiri seorang perempuan berambut perak seputih salju dengan telinga runcing khas ras peri. Ia adalah Elysia Whisperwind, sang archmage jenius yang dijuluki The Natural Disaster.

Netra hijau zamrud milik Elysia kini tampak berkabut dan kehilangan fokus. Rambutnya melayang-layang diterpa badai sihir yang ia ciptakan sendiri. Dari tubuhnya, akar-akar tanaman berduri tumbuh secara agresif merusak lantai marmer dan menghancurkan apa pun yang berada di sekitarnya.

"Bising... tolong hentikan suara-suara ini..." ratap Elysia. Suaranya terdengar layaknya melodi kuno yang indah, namun sarat akan keputusasaan. Sebagai peri dengan sensitivitas sihir tertinggi di dunia, otaknya terus-menerus dipaksa mendengar "suara alam" dan jeritan elemen yang memekakkan telinga. Hari ini, di tengah keramaian akademi, otaknya mengalami overload total. Jiwanya berada di ambang kehancuran.

Axel yang berdiri di belakang Reynarda langsung memfokuskan pandangannya pada Elysia. Seketika itu pula, panel sistem melayang muncul di depan matanya dengan warna merah darah yang berkedip brutal.

[ STATUS HEROINE: ELYSIA WHISPERWIND ]

> Kadar Kewarasan (Sanity): 3%

[KRITIS - AMBANG BATAS LEPAS KENDALI]

> Status Mental: Mana Overload, Psikosis Akut, Halusinasi Sensorik.

> Peringatan: Jika Sanity menyentuh 0%, badai elemen murni akan tercipta. Radius kehancuran: Seluruh area Akademi Pentagon akan terhapus dari peta.

> Waktu Tersisa: 45 Detik.

"Satu lagi bom waktu berskala nasional!" maki Axel dalam batinnya. Keringat dingin langsung mengucur deras di pelipisnya. Sisa waktu 45 detik adalah hitung mundur menuju kematian massal.

Reynarda bersiap menghunus pedang besarnya, berniat menahan Elysia dengan kekuatan fisik. "Axel, mundur! Penyihir itu sudah hilang akal. Aku akan mencoba melumpuhkannya sebelum dia meratakan tempat ini!"

"Jangan, Rey!" teriak Axel spontan memanggil nama kecil wanita itu. "Jika kau menyerangnya dengan energi suci, itu justru akan memicu reaksi berantai dengan sihir elemennya! Biarkan aku yang mendekat!"

Reynarda terperanjat. Ia menatap Axel dengan pandangan tidak percaya bercampur rasa cemburu yang tiba-tiba meluap. "Kau gila? Dia bisa membunuhmu hanya dalam satu kedipan mata!"

[Waktu tersisa: 30 detik.]

Axel tak punya waktu lagi untuk beradu argumen. Mengabaikan teriakan Reynarda, ia menerobos barisan pelindung. Tubuhnya yang tampak rapuh merangkak dan menghindar di sela-sela akar berduri yang mencambuk udara dengan beringas. Satu cambukan sempat mengenai bahunya, merobek kain seragam dan meninggalkan luka gores yang berdarah, namun Axel terus merangsek maju.

Di mata Elysia, seluruh dunia saat ini hanyalah musuh berwujud kegelapan yang bising. Namun, di tengah amuk badai itu, ia mendadak melihat sesosok manusia lemah yang berjalan mendekat. Manusia itu tidak memancarkan energi sihir sama sekali—kosong, sunyi, dan sangat tenang.

[Waktu tersisa: 10 detik.]

Axel berhasil mendekat hingga jarak satu meter di depan Elysia. Sebuah akar berduri besar sudah bersiap menembus dada Axel dari arah belakang. Di detik-detik terakhir, Axel tidak ragu. Ia menjangkau maju dan menangkup kedua pipi dingin sang peri dengan kedua telapak tangannya.

"Tenanglah, Elysia. Di sini sudah aman. Suara-suara itu sudah hilang," ucap Axel lirih dengan nada yang begitu menenangkan, mengerahkan seluruh empati dan kemampuannya untuk menyalurkan rasa aman.

Zuuuup!

Mekanisme sistem langsung bekerja secara instan.

[Ding! Kontak fisik intim terdeteksi. Aura Penenang Jiwa tingkat menengah aktif.]

[Meredam bising elemen... Menstabilkan gelombang mana target... Sanity Elysia Whisperwind: +10%... +20%... +35%...]

Seketika itu juga, pusaran angin di dalam aula mereda. Akar berduri yang semula beringas langsung layu dan hancur menjadi serpihan debu hijau yang elok. Keheningan mutlak kembali menguasai ruangan.

Elysia terpaku. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun masa hidupnya, kegaduhan elemen di dalam kepalanya mendadak senyap. Sunyi. Sangat sunyi dan damai, seolah-olah ia sedang berada di dalam ruang hampa udara yang paling tenang di alam semesta. Dan semua ketenangan yang ia dambakan seumur hidup ini bersumber dari kehangatan dua tangan manusia yang sedang mendekap wajahnya.

Aroma tubuh Axel, kehangatan kulitnya, serta kekosongan energi sihirnya bertindak sebagai perisai mutlak yang melindungi jiwa tersiksa sang peri.

"Ah... sunyi sekali..." sepasang air mata jernih perlahan bergulir dari netra hijau zamrud Elysia. Sorot matanya yang tadinya liar berubah menjadi sayu, penuh dengan rasa syukur dan ketergantungan yang instan.

Elysia perlahan menjatuhkan tubuhnya, berlutut di hadapan Axel, lalu melingkarkan kedua lengan indahnya di pinggang pemuda itu. Ia menyandarkan wajahnya di perut Axel, persis seperti anak kecil yang baru saja menemukan ibunya.

[ STATUS HEROINE: ELYSIA WHISPERWIND ]

> Kadar Kewarasan (Sanity): 38% [Stabil - Pemulihan Jiwa]

> Catatan: Target telah menandai Host sebagai "Satu-satunya Sumber Keheningan di Dunia". Ketergantungan psikologis tingkat mutlak telah terbentuk.

Axel menghela napas lega sembari membiarkan sang penyihir agung mendekapnya. Namun, rasa lega itu hanya bertahan sekejap.

Sreeek.

Suara langkah kaki yang berat dan dingin terdengar dari arah belakangnya. Axel menoleh perlahan, dan seketika itu juga ia merinding ketakutan.

Reynarda berdiri di sana, mencengkeram hulu pedang besarnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Mata biru sang ksatria suci memancarkan kilatan cemburu yang begitu pekat, sampai-sampai bar kewarasannya yang semula stabil mendadak berkedip turun kembali.

[Peringatan! Sanity Reynarda Vance menurun: 45% -> 40% akibat lonjakan emosi cemburu ekstrim.]

[Catatan Sistem: Jika dua Heroine dengan Sanity di bawah 50% memperebutkan Host, potensi konflik bencana tingkat tinggi dapat terpicu.]

"Axel..." suara Reynarda terdengar begitu rendah dan dingin, sanggup membuat siapa pun yang mendengar bergidik ngeri. "Lepaskan tanganmu dari penyihir peri itu sekarang juga. Atau aku sendiri yang akan memotong lengannya."

Sementara itu, Elysia yang mendengar ancaman tersebut justru mempererat pelukannya di pinggang Axel. Ia menatap Reynarda dengan tatapan dingin yang tak kalah tajam. "Manusia ini... milikku. Dia adalah keheninganku. Sentuh dia sedikit saja, maka aku akan membakar seluruh kekaisaranmu menjadi abu."

Axel terjebak di tengah pusaran dua wanita terkuat di dunia yang siap mengobarkan perang hanya demi dirinya. Pemuda itu menelan ludah dengan susah payah, menyadari bahwa hidupnya sebagai sang "pawang" baru saja naik ke tingkat kesulitan yang mustahil.

1
Pria Misterius
Harem😋 aku suka ini
Orimura Ichika
up yg banyak thor👍
Orimura Ichika: di tungguin 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!