NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 : SATU JAM SUDAH LEWAT

Mantra itu keluar dari mulut puluhan orang sekaligus, satu suara yang lahir dari banyak tenggorokan, bergelombang naik turun mengikuti melodi seruling yang semakin lama semakin tidak bisa disebut musik karena terlalu cepat, liar, seperti air yang sudah menemukan celah dan tidak bisa lagi dikendalikan arahnya.

Di tengah lingkaran itulah, pria paruh baya pemegang seruling memejamkan matanya dan jari-jarinya bergerak di atas lubang-lubang seruling dengan kecepatan yang tidak wajar untuk usia yang tergambar di wajahnya.

Menjawab itu, seorang pengikut bertopeng membawa karung yang bergerak-gerak itu semakin dekat ke Bai Mei.

Wanita itu jelas menggeleng sekeras yang bisa dilakukan seseorang yang mulutnya tersumpal dan tangannya terikat, air matanya sudah tidak tertahan lagi, matanya bergerak dari karung ke wajah topeng di depannya dan kembali ke karung dengan kepanikan yang tidak menemukan jalan keluarnya.

Sementara moncong ular itu muncul dari mulut karung, lidah bercabangnya bergerak mencium udara. Kepalanya terangkat perlahan, mendekat ke wajah Bai Mei yang sudah tidak bisa bergerak mundur karena tiang batu di belakangnya tidak memberi ruang. Sampai Bai Mei menutup matanya.

Sebuah batu sebesar kepalan tangan jatuh dari atas dan memantul keras di lantai aula.

Suara benturannya bergema ke seluruh ruangan hingga semua mantra berhenti, dan semua kepala terangkat.

Dalam posisi merangkak dengan kedua tangan dan lutut menempel di batu di langit-langit aula, Tianbao meringis dengan ekspresi orang yang baru menyadari bahwa rencananya tidak sepenuhnya matang.

"Ups," katanya, sangat jelas di tengah keheningan itu. "Anu—Maaf mengganggu. Lanjutkan saja, pura-pura aku kita tidak ada di sini, hehe."

Tetua itu pun mengangkat wajahnya sebelum mengangkat tongkatnya, mengarahkannya ke atas ke arah Tianbao, wajahnya berubah menjadi warna yang tidak sehat untuk seseorang seusianya. "Siapa yang berani masuk ke tempat suci ini! Tangkap tikus itu!"

Namun Chen Mo sudah turun sebelum kalimat itu selesai.

Pria itu melesat dari celah di lantai atas dengan cara yang membuat jaraknya dari lantai aula terasa tidak relevan, mendarat di antara dua pengikut bertombak, dan dalam tiga gerakan yang sangat tidak boros, keduanya sudah tewas di lantai. Tombak yang ketiga datang dari kanan, Chen Mo miringkan tubuhnya dan tombak itu lewat di samping bahunya, kemudian tangannya mengunci pergelangan pemilik tombak itu dan memutarnya ke belakang sampai terdengar suara ‘krek’ yang tidak menyenangkan.

Empat pengikut ritual pun tumbang dalam waktu yang lebih singkat dari yang dibutuhkan untuk menyebutkan nama mereka.

Alhasil kekacauan meledak di aula itu seperti tong mesiu yang sudah lama menunggu percikan api.

Sementara itu, ular yang tadi terganggu oleh batu tidak punya pemandu lagi karena pengikut yang memegangnya sudah berlari ke arah Chen Mo. Makhluk itu melata bebas di lantai, kepalanya bergerak mengikuti gerakan terbesar di sekitarnya, dan Bai Mei yang terikat di tiang masih merupakan objek paling lemah di ruangan itu.

Beruntung Haifeng mendarat di lantai beberapa hitungan setelah Chen Mo.

Tendangannya menghantam sisi tubuh ular itu cukup keras untuk melemparnya melintasi separuh lebar aula, dan ular itu membentur dinding batu dengan suara yang cukup keras untuk didengar bahkan di tengah kekacauan yang sedang berlangsung.

Haifeng lantas berjongkok di depan Bai Mei dan mencabut kain penyumpal dari mulutnya.

"Tuan Muda Haifeng!" Bai Mei menarik napas panjang yang terdengar seperti orang yang baru pertama kali menghirup udara dalam hidupnya. "Saya hampir mati! Kenapa baru sekarang!"

"Karena kami baru bisa sampai sekarang." Haifeng sudah berdiri dan memotong tali di pergelangan tangannya dengan ujung Pedang Samudera. "Bantu bebaskan yang tiga itu."

Bai Mei menatap tiga pria yang terikat di tiang-tiang lain dengan ekspresi yang masih setengah dalam kepanikan, tapi tangannya bergerak mengikuti perintah.

Zhao Feng adalah yang pertama bebas, dan dia langsung mengambil tombak milik pengikut yang sudah dirobohkan Chen Mo tanpa membuang waktu untuk berterima kasih dulu. Sun Li menyusul, meraih senjata yang sama dari tangan yang berbeda. Begitu juga Ma Chao berdiri dengan kaki yang masih sedikit pincang meski setidaknya sudah tegak.

Pertarungan di aula itu tidak bisa disebut teratur dari sisi mana pun. Chen Mo bergerak seperti seseorang yang sudah memetakan seluruh ruangan dalam detik pertama dan sekarang hanya mengeksekusi rencana itu satu per satu. Tianbao sudah turun dari langit-langit dan bertarung dengan cara yang lebih mengandalkan energi dan momentum daripada teknik yang bersih, tapi hasilnya cukup efektif.

Lalu Haifeng bertarung di sisi tengah, dipandu oleh peringatan-peringatan yang datang dari Pedang Samudera di tangannya. Setiap kali ada serangan dari arah yang tidak terlihat, suara dari dalam bilah itu sudah lebih dulu memberi tahu. Tapi pengikut ritual yang datang tidak berhenti.

Tetua itu mengangkat tongkatnya dan menghentakkannya ke lantai. Lantai pun berguncang, dan dari benturan itu memancar gelombang qi yang mendorong semua orang yang tidak siap setengah langkah ke belakang.

"Aku adalah Garan, Pemimpin Sekte Penguasa Dalam Tingkat ke 7!" Suaranya mengisi seluruh ruangan. "Tempat ini adalah warisan ribuan tahun! Kalian yang berani mengotori ritual suci ini akan menjadi persembahan berikutnya!"

Gelombang qi kedua menyusul yang pertama, lebih keras, dan kali ini Haifeng tidak sempat sepenuhnya menghindarinya. Tubuhnya terdorong ke belakang sampai punggungnya membentur tiang batu, dan untuk beberapa detik pandangannya tidak sepenuhnya jelas.

Pengikut ritual atau lebih tepatnya Sekte Penguasa Dalam terus datang dari lorong-lorong samping yang tadi tidak terlihat, puluhan orang dengan tombak dan senjata lain, mengisi celah-celah yang ditinggalkan oleh yang sudah tumbang. Alhasil mereka mulai terpojok ke sisi kanan aula dengan punggung ke dinding.

"Haifeng." Suara Samudera dari bilah pedang, lebih mendesak dari sebelumnya. "Ada seseorang datang dari belakang. Dari lorong yang kita lewati tadi."

Haifeng menegakkan tubuhnya, matanya bergerak ke arah lorong gelap di sisi belakang aula. Sesuatu bergerak di sana, terlalu cepat dan terlalu terarah untuk menjadi pengikut ritual tambahan.

Kepanikan itu ada selama satu detik. Kemudian Haifeng menghela napas.

"Samudera," bisiknya, "aku baru ingat. Ini sudah satu jam, kan? Atau mungkin lebih."

Jeda singkat dari dalam bilah pedang. "Oh."

"Ya."

Suhu pun turun seketika itu.

Tidak seperti malam yang mendingin karena angin. Ini seperti sesuatu yang sangat dingin memutuskan untuk ada di ruangan itu dan menggantikan semua udara yang sebelumnya lebih hangat.

Napas Haifeng keluar menjadi uap putih. Sedangkan lantai di bawahnya, es mulai terbentuk, merambat ke luar dari lorong gelap itu layaknya akar pohon yang tumbuh dalam kecepatan yang tidak seharusnya mungkin. Dalam hitungan jari, seluruh sisi lantai di depan lorong itu sudah tertutup lapisan putih berkilau.

Pengikut Sekte Penguasa Dalam pun berhenti bergerak maju, bahkan beberapa mundur.

"Apa itu?" Satu suara dari antara topeng-topeng di kerumunan.

"Dari mana asalnya?" timpal yang lain, lebih panik.

Sementara Tetua Garan menghadapkan tongkatnya ke arah lorong itu, qi-nya memancar keluar sebagai persiapan. "Siapa yang berani masuk ke tempat ini! Tunjukkan dirimu!"

Jawabannya bukan kata-kata, melainkan dari lorong sempit itu, sesuatu meluncur keluar dengan kecepatan yang membuat udara di sekitarnya bergerak seperti tergantikan oleh sesuatu yang lebih padat. Bentuknya panjang, bergulung, terbuat dari es yang terlalu padat dan terlalu hidup untuk disebut hanya es. Kepala yang terangkat di depannya memiliki bentuk yang tidak bisa disalahpahami oleh siapa pun yang pernah melihat gambarnya, bahkan sekali pun.

Naga.

Naga es itu bergerak lurus ke arah tetua Garan dengan kecepatan yang tidak memberi waktu untuk melakukan apa pun selain menatapnya.

Garan mengayunkan tongkatnya. Qi-nya meledak keluar dalam gelombang, dan Naga itu menghantam gelombang itu tanpa melambat, menerobosnya seperti kapal yang membelah ombak, dan rahangnya menutup.

Suara yang muncul sesudahnya membuat beberapa pengikut menutup telinga mereka.

Darah Garan menyembur ke dinding sebelah kiri dengan cara yang tidak menyisakan keraguan tentang apa yang baru saja terjadi. Bagian-bagian dari tubuhnya yang tadi mengisi ruangan itu kini tidak lagi dalam susunan yang sama. Berceceran mengerikan.

Adapun Naga es itu terus bergerak maju, kemudian meledak ke segala arah dalam radius yang mencakup dua pertiga aula itu, serpihan es melesat dengan kecepatan yang cukup untuk menembus baju, cukup dingin untuk membekukan siapa pun yang terkena lebih dari satu serpihan. Pengikut-pengikut sekte yang masih berdiri di radius itu jatuh satu per satu, tubuh-tubuh mereka dilapisi es tipis yang naik dari kaki ke atas dalam hitungan detik.

Hingga aula yang tadinya penuh dengan mantra dan teriakan, kini menjadi sangat hening.

Kemudian dari lorong belakang yang masih mengepulkan dingin, langkah kaki terdengar tanpa terburu-buru. Baju besi perak yang berkilat dalam cahaya obor yang masih menyala muncul dari kegelapan, diikuti oleh rambut hitam panjang yang tidak tertiup apa pun karena tidak ada angin di sini.

Panglima Qinghan berjalan masuk ke aula itu, melangkahi es dan mayat dengan santainya. Pandangannya bergerak sebentar ke seluruh ruangan, mengonfirmasi apa yang perlu dikonfirmasi, sebelum berhenti pada Haifeng yang berdiri di sisi kanan aula dengan Pedang Samudera di tangan dan luka lebam di sisi kirinya.

"Satu jam, Haifeng," katanya. "Sudah lewat."

Haifeng sendiri tidak terlihat takjub pula apalagi takut. Hanya menatap lantai yang setengahnya beku. Menatap apa yang tersisa dari tetua Garan di dinding sebelah kiri.

"Aku tahu."

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!