Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 18 Pulang yang tidak Profesional
Hujan turun tepat pukul enam lewat dua belas menit.
Deras.
Terlalu deras untuk ukuran sore.
Lobby kantor PT Jaya Media mulai kosong sedikit demi sedikit. Satu per satu pegawai pulang. Lampu beberapa lantai mulai mati.
Namun lantai marketing masih menyala.
Karena Rania Azarina masih duduk di depan laptop.
Spreadsheet terbuka.
Tiga tab revisi.
Dua proposal.
Satu mental breakdown kecil.
Matanya mulai lelah.
Dan sejak tadi— entah kenapa— otaknya justru lebih sibuk memikirkan satu manusia menyebalkan.
Saya jemput.
Kurang ajar.
Seolah itu keputusan bersama.
Mereka memang tinggal serumah.
Secara logika— dijemput itu normal.
Sangat normal.
Masalahnya—
mereka bukan pasangan normal.
Mereka pasangan kontrak.
Ponselnya bergetar lagi.
GAVIN
Turun.
…
Bahkan bukan pertanyaan.
Rania langsung mengetik.
Rania
Lima menit.
Typing…
Gavin
Saya di lobby basement.
Pause.
Lalu pesan baru masuk.
Jangan kabur.
…
Kurang ajar.
Apa dia direktur atau debt collector?
Menyebalkan.
Benar-benar menyebalkan.
Tiga menit kemudian—
lift lobby terbuka.
Dan tentu saja—
Gavin Mahendra sudah berdiri di sana.
Masih mengenakan kemeja putih. Lengan sedikit digulung. Jas kini tersampir di satu tangan.
Tatapan datar.
Namun entah kenapa— terlihat seperti orang yang memang sedang menunggu.
Bukan kebetulan.
Benar-benar menunggu.
“Lama,” komentarnya.
Rania mendecak.
“Kerjaan.”
Begitu pintu lobby terbuka—
udara dingin langsung menyambut.
Hujan deras.
Angin lumayan kencang.
Dan tanpa banyak bicara—
Gavin membuka payung.
Lalu berdiri sedikit lebih dekat.
Terlalu dekat.
Bahunya hampir bersentuhan.
Rania langsung terlalu sadar diri.
Karena ini pertama kalinya sejak— ciuman itu.
Mereka sedekat ini lagi.
Diam.
Canggung.
Parah.
Langkah mereka pelan.
Suara hujan terlalu keras.
Dan entah kenapa— situasi ini terasa terlalu…
domestik.
Seperti pasangan menikah sungguhan.
Bukan kontrak.
Bukan pura-pura.
Hanya— dua orang pulang kantor.
Aneh.
Sangat aneh.
“Kamu lapar?”
Rania mengerjap.
“…Sedikit.”
“Kamu bohong kalau jawabnya pakai ‘sedikit’.”
Rania langsung menoleh.
“Kamu mulai banyak observasi ya.”
“Kamu gampang dibaca.”
Kurang ajar.
Lagi.
Mereka sampai di basement.
Gavin membuka pintu mobil lebih dulu.
Refleks.
Natural.
Seolah sudah sering dilakukan.
Padahal tidak pernah.
Dan anehnya— hal kecil itu terasa terlalu mengganggu.
Begitu masuk mobil—
suasana jadi lebih aneh.
Lima menit perjalanan.
Radio menyala pelan.
Gavin mengganti channel dua kali.
Berhenti di lagu jazz lama.
Rania melirik sekilas.
“Kamu dengerin beginian?”
“Biar nggak dengar kamu overthinking.”
Sunyi.
Lampu jalan mulai hidup.
Kota sore terasa terlalu sibuk.
Dan anehnya—
kesunyian di antara mereka tidak semenakutkan dulu.
Canggung?
Iya.
Tapi…
nyaman.
Sedikit terlalu nyaman.
Beberapa menit berlalu.
Hujan semakin deras.
Lalu—
perut Rania berbunyi.
…
Sunyi.
Sangat sunyi.
Rania memejam mata.
Bagus.
Semesta juga menyebalkan.
Tidak.
Tuhan.
Tidak sekarang.
Sudut bibir Gavin bergerak kecil.
Nyaris tidak terlihat.
Nyaris.
“Kamu lapar.”
“Mati aja.”
Dan—
untuk pertama kalinya—
Gavin tertawa kecil.
Pelan.
Sangat pelan.
Tapi cukup jelas.
Rania langsung menoleh.
Membeku.
…
Dia barusan ketawa?
Gavin berdeham kecil.
Ekspresi langsung kembali datar.
“Dinner dulu.”
“Itu perintah?”
“Iya.”
Kurang ajar.
Tapi—
anehnya—
Rania tidak benar-benar keberatan.
Dua puluh menit kemudian—
satu restoran terlewat.
Lalu satu lagi.
Sampai tanpa sadar— mobil berhenti di depan warung mie ayam kecil di pinggir jalan.
Gavin baru menyadarinya setelah mesin dimatikan.
Jemarinya masih diam di atas setir beberapa detik.
…Sejak kapan ia hafal makanan yang biasa dicari Rania kalau sedang lelah?
Bukan restoran fancy.
Bukan rooftop hotel.
Bukan tempat mahal.
Melainkan—
warung mie ayam kecil.
Di pinggir jalan.
Pria itu akhirnya membuka seatbelt begitu saja.
Seolah itu keputusan paling normal di dunia.
Rania berkedip.
“…Kamu serius?”
“Kamu lebih suka makan beginian kalau capek.”
Sunyi.
Rania menoleh pelan.
“…Sejak kapan kamu tahu?”
Gavin membuka seatbelt.
“Dari tiga kali lembur.”
Oh.
Lagi-lagi.
Dia memperhatikan.
Sedetail itu.
Dan entah kenapa—
fakta itu terasa jauh lebih berbahaya daripada semua perhatian romantis tadi siang.
Karena ini—
diam-diam.
Natural.
Tidak dipamerkan.
Tidak dibuat besar.
Hanya—
Gavin memperhatikan.
Dan itu…
masalah.
Karena jantung Rania mulai terlalu sering salah tingkah.
Dan itu sangat—
tidak profesional.
Pelayan datang.
“Mbak mau pakai sambal?”
Rania refleks: “Iya—”
“Jangan terlalu banyak,” potong Gavin tenang.
“Nanti sakit perut.”
Pelayan melirik mereka.
“Suaminya perhatian banget ya, Mbak.”
Rania langsung diam.
Dan anehnya— Gavin tidak membantah.
Rania pura-pura fokus ke mie ayam.
Padahal sejak lima menit lalu— kepalanya terlalu ramai.
Karena Gavin tidak membantah.
Sama sekali.
Dan entah kenapa— itu jauh lebih mengganggu.
___
Hujan masih turun.
Namun untuk pertama kalinya— suasana mobil terasa berbeda.
Karena sejak warung tadi— satu pikiran terus mengganggu.
Gavin tidak membantah.
“Besok jangan makan mie pedas lagi.”
“Saya nggak separah itu.”
“Kamu tadi hampir nangis.”
___
Pintu lift terbuka.
Mereka masuk apartemen.
Dan untuk pertama kalinya—
rasanya…
seperti pulang.
Bukan tempat sementara.
Bukan kontrak.
Bukan kewajiban.
Hanya—
aneh.
Hangat.
Membingungkan.
Rania baru mau masuk kamar—
saat suara Gavin menghentikannya.
“Rania.”
Ia menoleh.
“Hm?”
Pria itu berdiri di dekat meja dapur.
Lengan masih digulung.
Tatapan tenang.
Lalu berkata sederhana—
“Besok jangan lupa sarapan.”
…
Apa?
“Kenapa?”
“Kamu gampang sakit kalau telat makan.”
Tidak ada yang bicara beberapa detik. Dan anehnya— justru keheningan itu terasa terlalu penuh.
Karena tidak ada orang—
selama ini—
yang mengingat hal kecil seperti itu.
Dan anehnya—
hal paling mengganggu malam itu bukan perhatian Gavin.
Tapi fakta bahwa—
Rania mulai menantikannya.
Ini mulai berbahaya.
Karena masalahnya—
untuk pertama kalinya sejak menikah kontrak ini dimulai—
Rania tidak takut pada Gavin.
Ia takut pada dirinya sendiri.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.