Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : Deklarasi Perang san Ultimatum Abang
Sentuhan tangan Jayden di pinggangnya membuat Elleanor tersentak. Rasa hangat yang menjalar dari telapak tangan cowok itu terasa seperti setruman listrik yang membuat tubuhnya menegang. Refleks, Elle menyikut perut Jayden dengan cukup keras, mencoba melepaskan diri dari kukungan posesif itu.
Bugh!
Sikutan Elle tepat sasaran, namun Jayden bahkan tidak bergeming. Cowok itu hanya menurunkan pandangannya sekilas, menatap Elle dengan sepasang netra hitam yang berkilat memperingatkan, lalu justru mempererat rengkuhannya di pinggang gadis itu.
"Lepasin gua, Muka Tembok! Lo nyari kesempatan dalam kesempitan, ya?!" amuk Elle dengan suara berbisik namun penuh penekanan, wajahnya memerah padam antara kesal dan malu karena ditonton oleh puluhan murid di koridor.
Alka yang melihat pemandangan itu tidak bisa lagi menahan emosinya. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang. Langkahnya maju satu blok, siap melayangkan pukulan mentah tepat ke wajah dingin Jayden. "Brengsek lo, Jayden! Lepasin Elle!"
"Al, tahan," Nalendra langsung pasang badan, menahan dada Alka dengan tangan kanannya. Sebagai wakil ketua WOLFANGS sekaligus sepupu Elle, Nalen mencoba tetap menggunakan akal sehatnya. "Ini wilayah LHS. Kalau lo mukul Jayden di sini, situasinya bakal makin rumit buat Elle."
Nalen kemudian mengalihkan tatapan tenangnya kepada Jayden. "Jayden, gua tahu reputasi lo. Tapi Elle itu sepupu gua. Keluarga Smith bukan orang sembarangan yang bisa lo intimidasi kayak gini. Lepasin dia."
Jayden menaikkan sebelah alisnya, tatapannya beralih dari Alka ke Nalen dengan pandangan meremehkan. "Gua gak peduli siapa keluarga dia, Scott. Di bawah langit Jakarta, apa yang udah masuk ke dalam radar Vultures... bakal tetep jadi milik Vultures. Termasuk sepupu lo ini."
"Gua bukan barang, bajingan!" teriak Elle frustrasi. Ia menginjak kaki Jayden dengan sekuat tenaga menggunakan sepatu roda-nya—eh, sepatu sekolahnya yang ber-sol tebal.
Injakan itu rupanya cukup membuat Jayden sedikit melonggarkan cengkeramannya karena terkejut. Elle memanfaatkan celah satu detik itu untuk menyentak tubuhnya mundur, lepas dari dekapan Jayden dan langsung berdiri di samping Alka dan Nalen.
Melihat Elle menjauh darinya dan memilih berdiri di kubu Wolfangs, atmosfer di sekitar Jayden langsung berubah drastis. Senyum sinisnya lenyap. Matanya menggelap, memancarkan aura kegelapan yang begitu pekat dan berbahaya hingga Shaka yang berdiri di belakangnya otomatis memasang posisi siaga. Sisi obsesif Jayden yang tak terbantahkan merasa tercoreng melihat mangsanya berontak.
"Elleanor. Sini," perintah Jayden, suaranya beralih menjadi begitu rendah, dingin, dan sarat akan ancaman mutlak.
"Gak mau! Lo kira gua anjing penurut apa?!" tantang Elle balik, matanya berkilat berani, menolak untuk tunduk pada intimidasi cowok itu.
Tepat saat ketegangan di koridor itu berada di ambang ledakan tawuran, sebuah kehebohan lain terjadi di ujung koridor dekat tangga utama. Suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar menggema, memecah kesunyian mencekam di antara Vultures dan Wolfangs.
"Di mana bajingan yang namanya Jayden?!"
Suara bariton yang menggelegar itu membuat semua orang menoleh. Dua orang pemuda bertubuh tegap dengan wajah tampan yang mirip melangkah lebar membelah kerumunan murid. Mereka mengenakan pakaian kasual bermerek namun memancarkan aura intimidasi yang tidak kalah mengerikan dari Jayden.
Kenzie Billy Smith dan Kenzo Willy Smith. Abang kembar Elleanor telah tiba di LHS.
"Abang?!" Elle memekik kaget, matanya membelalak melihat kehadiran kedua kakaknya yang mendadak berada di sekolahnya.
Kenzie langsung menarik tubuh Elle ke belakang punggungnya, melindunginya dengan insting seorang kakak sulung. Sementara Kenzo maju satu langkah, berdiri berhadapan langsung dengan Jayden. Mata kembar mereka menatap tajam ke arah ketua Vultures itu dengan pandangan membunuh.
"Jadi lo yang namanya Jayden Xeno Frederick?" desis Kenzie, suaranya berat dan penuh dengan amarah yang tertahan. "Anak tunggal keluarga Frederick yang ngerasa punya kuasa buat ngurung adik perempuan gua semalaman?"
Jayden menatap kedua abang Elle dengan ekspresi datar tanpa riak ketakutan sedikit pun. Dilipatnya kedua tangan di depan dada, mengukur kekuatan lawan di depannya. "Gua cuma mastiin adik lo aman dari serigala jalanan," jawab Jayden santai, melirik ke arah Alka yang kini berdiri di sebelah Nalen.
"Aman kepala lo peyang!" semprot Kenzo emosi, tangannya sudah mencengkeram kerah seragam Jayden dengan kasar, menarik tubuh ketua Vultures itu mendekat. "Gak ada yang boleh nyentuh Elle tanpa izin dari gua dan Kenzie. Mau lo anak penguasa Jakarta sekalipun, kalau lo berani kurang ajar sama adik gua, gua pastiin keluarga Frederick bakal bayar mahal!"
Shaka dan Erlan yang baru tiba di koridor langsung maju hendak melepaskan tangan Kenzo dari kerah Jayden, namun Jayden mengangkat tangan kirinya, memberi kode agar anak-anak buahnya tidak ikut campur.
Jayden menepis tangan Kenzo dari kerahnya dengan gerakan perlahan namun memiliki tenaga yang sangat kuat hingga cengkeraman Kenzo terlepas. Ia merapikan kerah seragamnya yang sedikit kusut, lalu menatap Kenzie dan Kenzo bergantian dengan kilat mata yang tajam dan posesif.
"Gua menghormati lo berdua sebagai abang dari Elleanor," ucap Jayden, suaranya terdengar begitu tenang namun mengerikan di saat yang bersamaan. "Tapi gua gak pernah main-main sama ucapan gua. Elleanor udah jadi urusan gua. Dan gua gak bakal lepasin dia, bahkan kalau harus berhadapan sama keluarga Smith sekalipun."
"Bajingan gila!" Kenzie hampir saja melayangkan tinjunya, namun Elle langsung menahan lengan abangnya itu dari belakang.
"Bang Kenzie, Bang Kenzo, udah! Jangan bikin keributan di sini, ini sekolah baru Elle!" lerai Elle panik. Ia tidak ingin di hari keduanya bersekolah, abang-abangnya justru membuat LHS berubah menjadi ring tinju.
Kenzie menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan amarahnya demi sang adik. Ia menatap Jayden dengan pandangan penuh permusuhan yang final. "Mulai hari ini, gua sendiri yang bakal antar-jemput Elle. Kalau gua liat lo atau anak buah lo ada di sekitar adik gua lagi... anggap ini sebagai deklarasi perang antara keluarga Smith dan Vultures."
Kenzie kemudian menarik tangan Elle untuk ikut bersamanya. "Ayo balik, El. Papih sama Mamih nungguin lo di rumah."
Kenzo memberikan tatapan peringatan terakhir pada Jayden sebelum menyusul langkah Kenzie dan Elle. Alka dan Nalen yang melihat situasi sudah terkendali akhirnya memilih untuk ikut mundur, kembali ke kendaraan mereka masing-masing.
Jayden berdiri diam di tengah koridor, memperhatikan punggung Elleanor yang perlahan menjauh dari jangkauan pandangannya diapit oleh kedua abangnya. Seringai tipis yang dingin dan penuh obsesi perlahan terukir di wajah tampan sang ketua Vultures.
"Pikir lo mereka bisa jauhin lo dari gua, Elle?" gumam Jayden sangat lirih, jarinya bergerak mengusap bibirnya sendiri yang sempat mencium aroma wangi rambut Elle tadi. "Gua bakal hancurin pembatas apa pun yang berani ngalangin gua buat milikin lo seutuhnya."