Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Our First Kiss
Malam itu, kamar Brielle masih terang meski jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Gadis itu duduk selonjoran di atas kasur sambil mengerjakan PR matematika dengan wajah frustasi. Sedangkan tablet di depannya memperlihatkan Keisha dan Celine yang juga sedang video call belajar bersama—atau lebih tepatnya, tidak belajar sama sekali.
Keisha tiba-tiba berteriak sambil mengacak rambut. “ANJIR GUE GAK NGERTI RUMUS INI!”
Celine langsung memijat pelipisnya dengan sabar. “Itu tinggal dipindah ruas…”
“Ruas hidup gue aja belum bener.”
Brielle langsung ngakak brutal. “Anjir dramatis.”
“Lo jangan ketawa!” Keisha menunjuk layar tablet dengan jari menuduh. “Dari tadi lo malah gambar bunga di buku!”
Brielle refleks menutup bukunya dengan cepat. “Eh itu refleks.”
“Refleks apaan gambar inisial N?”
Deg. Brielle langsung melotot. “HAH?!”
Celine langsung menyipitkan mata curiga dari layarnya. “Tunggu…”
“ITU BUKAN N!”
“Terus?”
“…Z.”
“BOHONG!”
“Demi Allah itu Z!”
Namun sebelum mereka lanjut ribut—tok tok. Pintu kamar Brielle diketuk pelan.
“Masukkk.”
Freya muncul sambil membawa paper bag makanan. “Princess.”
“Hm?”
“Mommy mau minta tolong.”
Brielle langsung waspada. “Kalau disuruh nikah sekarang aku gamau.”
Freya langsung menjitak pelan kepala anaknya. “Ngawur.” Keisha dan Celine langsung ngakak dari tablet.
“Kenapa mom?”
“Mommy Nevran lagi keluar kota sama daddynya.”
“Oh.”
“Nevran dari tadi belum makan.”
Brielle langsung diam. Lalu menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tidak percaya. “…Terus?”
Freya tersenyum manis—terlalu manis untuk sebuah permintaan biasa. “Tolong anterin makanan ini ke rumah Garendra ya.”
Deg. “HAH?!”
“Princess…”
“Mom! Kenapa harus aku?!”
“Karena mommy-nya Nevran titip sama mommy.”
“Masih ada ART mereka!”
“Katanya Nevran gak bakal makan kalau bukan orang yang dikenal.”
“Yaudah suruh dia mati kelaparan.”
“BRIELLE.”
“Oke maaf.”
Keisha langsung cekikikan tak terkendali. “Waduh calon istri tugas malam.”
“DIEM WOI!”
Celine malah tersenyum tipis dengan mata menyipit penuh arti. “Cocok banget sih.”
“Aku blok kalian berdua.”
Namun pada akhirnya—dengan muka terpaksa, hoodie kebesaran warna putih yang membuatnya terlihat lebih kecil dari biasanya, dan hati yang berdebar tanpa alasan jelas—Brielle tetap pergi membawa paper bag makanan itu.
---
Rumah keluarga Garendra malam itu terlihat sangat megah. Lampu taman menyala indah. Air mancur besar di depan mansion memantulkan cahaya keemasan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Dan entah kenapa, suasananya jauh lebih sunyi dibanding rumah Brielle yang selalu ramai oleh tawa dan teriakan.
“Serem amat…” Brielle berjalan sambil menggerutu kecil. Sepatu ketsnya menekan lembut tanah basah karena hujan sore tadi.
Tak lama, pintu besar mansion terbuka. Seorang pelayan langsung membungkuk hormat. “Nona Brielle.”
“Hehe malam…”
“Tuan muda ada di lantai dua.”
Brielle mengangguk. Lalu mulai naik tangga besar mansion itu perlahan. Dan makin naik, ia makin sadar—rumah ini terlalu sunyi. Tak ada suara berisik. Tak ada tawa. Tak ada keributan seperti di rumahnya. Hanya keheningan yang dingin dan membosankan.
“Pantes aja tuh bocah dingin…” gumamnya dalam hati.
Sesampainya di depan kamar Nevran, Brielle mengetuk pintu malas.
Tok tok.
Tak ada jawaban.
Tok tok tok.
“WOI CADEL!”
Masih sunyi.
“Gue dobrak nih!”
Dan saat Brielle memutar knop pintu—ceklek. Pintu terbuka begitu saja. “Loh gak dikunci?”
Brielle masuk perlahan. Dan langsung membeku di ambang pintu. Kamarnya gelap. Hanya diterangi lampu meja belajar yang redup. Sedangkan Nevran… duduk di lantai dekat sofa. Botol minuman berserakan di bawah meja. Kemeja hitam cowok itu sedikit berantakan, tidak rapi seperti biasanya. Rambutnya acak-acakan. Dan wajahnya… merah.
“Anjir…” Brielle langsung melotot begitu mencium aroma alkohol yang menyengat. “LO MINUM?!”
Nevran perlahan mengangkat wajah. Matanya sayu, fokusnya buyar. Tapi begitu melihat Brielle, sudut bibirnya naik kecil—senyum mabuk yang belum pernah Brielle lihat sebelumnya. “…Blielle.”
“Jangan Blielle-Blielle!” Brielle buru-buru mendekat lalu merebut botol dari tangan Nevran dengan gerakan gesit. “Gila ya lo?!”
Nevran malah terkekeh kecil. Suara tawanya rendah dan serak. “Bawel.”
“Lo mabuk?!”
“Hm.”
“Ya Allah…” Brielle memijat pelipis frustasi. Padahal tadi ia berniat cuma naruh makanan lalu pulang. Tapi sekarang? Malah harus ngurus bocah cadel mabuk yang botolnya berserakan seperti habis pesta sendirian.
Namun saat Brielle ingin berdiri untuk mengambil air atau sesuatu—tiba-tiba—
Brak.
Nevran menarik pergelangan tangannya.
Deg. Dan sebelum Brielle sempat ngomel atau mendorong, cowok itu langsung mendekap pinggangnya. Erat. Sangat erat. Wajahnya menempel di perut Brielle.
“WOI!” Brielle langsung panik, tangannya mencoba mendorong bahu Nevran. “Nevran lepas!”
Namun cowok itu malah menyandangkan wajahnya lebih dalam. Diam. Hening. Lalu… suara rendah itu terdengar samar, nyaris seperti bisikan yang keluar dari sela-sela kerapuhan.
“…capek.”
Deg. Entah kenapa dada Brielle terasa aneh mendengarnya. Karena untuk pertama kalinya, Nevran terdengar rapuh. Bukan dingin. Bukan menyebalkan. Bukan pula sinis. Tapi… lelah. Lelah yang ditahan terlalu lama.
Brielle menggigit bibir. Tangannya yang tadi mendorong perlahan berhenti. “Lo mabuk berat ya?” gumamnya pelan.
Nevran tak menjawab. Tangannya justru makin erat melingkar di pinggang Brielle. Seolah takut ia akan menghilang.
Dan beberapa detik kemudian—cowok itu mendongak pelan.
Tatapan matanya kabur karena alkohol. Namun sangat dalam. Sangat tulus.
“Gua cinta sama lo…”
Deg. Brielle membeku.
Nevran tersenyum kecil. Tipis. “…udah lama.”
Jantung Brielle langsung kacau. Berdebar tidak karuan. “Nev—”
“Sangat lama.”
Hening. Suasana kamar mendadak terasa sempit. Lampu meja yang redup seolah membuat bayangan mereka berdua menari di dinding. Napas Brielle mulai tidak teratur. Karena cara Nevran menatapnya sekarang bukan seperti biasa. Bukan tatapan jahil. Bukan dingin. Melainkan tatapan seseorang yang benar-benar menyimpan perasaan terlalu lama. Bertahun-tahun.
Dan sebelum Brielle sempat berpikir—Nevran perlahan menarik tubuh Brielle mendekat.
Lalu—
Cup.
Kecupan singkat mendarat di bibir Brielle.
Lembut. Hangat.
Dan itu cukup membuat otak Brielle meledak.
Deg. Deg. Deg.
Untuk satu detik, Brielle membeku. Matanya terbeliak. Dadanya bergetar. Tapi hanya sepersekian detik—
BRAK!
Tangan Brielle langsung melayang.
Dengan tenaga penuh—tanpa berpikir—ia menampar pipi Nevran.
Suara tamparan itu keras dan jelas di tengah keheningan malam.
Nevran tersentak. Wajahnya menoleh ke samping. Bekas telapak tangan merah mulai muncul di pipi kirinya.
Brielle mundur tiga langkah, dadanya naik turun hebat. Matanya berkaca-kaca karena marah—bukan karena sedih. “LO LANJANG BANGET, CADEL!”
Nevran terdiam beberapa detik. Lalu perlahan—sungguh perlahan—ia mengangkat wajah.
Dan terkekeh.
Kekehan kecil. Sinis. Dingin. Suara yang sangat berbeda dari tadi saat dia mabuk.
“Hah…”
Nevran menyeka sudut bibirnya dengan jempol. Matanya yang sayu kini berubah tajam. Meskipun alkohol masih terasa, tatapannya kembali seperti biasanya—atau bahkan lebih dingin.
“Bajingan itu yang pegang lo…” suaranya rendah, datar, namun menusuk. “…lo gak pernah nolak, hmm?”
Deg. Brielle membeku.
Nevran menyandarkan kepala ke sofa. Sudut bibirnya naik sinis. “Gua cuma kecup doang, lo dah histeris.” Ia menatap Brielle dari ujung kaki hingga ubun-ubun. “Padahal gua tunangan lo.”
Hening.
Udaranya terasa berubah.
“Jangan-jangan…” Nevran melanjutkan dengan suara yang makin dingin, makin datar, seperti pisau yang digosok perlahan. “…dia udah sentuh lo, hmm?”
Seketika, wajah Brielle berubah merah—bukan karena malu, tapi karena amarah yang meledak.
“TUTUP MULUT LO, BRENGSEK!”
Nevran malah tersenyum kecil. Masih sinis.
“Lo kira gw cewek apaan?!” Brielle menggertakkan gigi. Tangannya mengepal kuat di samping badan. Air matanya benar-benar ingin jatuh, tapi ia tahan. “Gue bukan barang lo! Lo gak punya hak!”
Nevran hanya diam. Menatapnya dengan mata kosong yang sulit ditebak.
Brielle meraih tasnya yang jatuh di lantai. Napasnya masih memburu. “Gue benci lo, Nevran.” Suaranya bergetar. “Benci.”
Lalu ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu.
Tidak ada yang mengejar.
Tidak ada suara.
Hanya kekehan kecil dari belakang—kekehan yang terdengar pahit.
Brielle melangkah keluar dari mansion Garendra dengan mata panas. Di dalam mobil yang disupiri Freya, ia tidak bicara sepatah kata pun. Hanya menggigit bibir bawahnya keras-keras.
Bibirnya masih terasa hangat.
Dan itu paling dibencinya malam ini.
---
Bersambung
bantu support juga yaa😇