Song Jiao, di kehidupan pertamanya dia adalah Jenderal Wanita terkuat yang berhasil menguasai Dunia, tapi hidupnya berakhir begitu cepat karena sebuah penyakit bawaan yang belum ada obatnya.
Tetapi jiwa berdarah-darah Song Jiao tidak diterima di Surga maupun Neraka, hingga pada akhirnya dia harus menjalani kehidupan kedua sebagai Song Jiao yang lain, yaitu putri Raja yang kehilangan statusnya setelah gagal mengkudeta Kekuasaan Kaisar yang tidak lain adalah Kakaknya sendiri.
Terbangun di tubuh gadis muda kurus yang lemah di akhir musim dingin, ingatan asing diterima Song Jiao begitu membuka mata, dan dari dalam ingatan itu dia tau hidupnya tinggal sebatang kara, dimana orangtuanya meninggal sebelum datangnya musim dingin, lalu para pelayan yang tersisa pergi setelah mengambil seluruh harta milik keluarga Song Jiao.
Tanpa harta, tanpa kekuatan, juga tanpa orang yang bisa diandalkan. Sanggupkah Song Jiao menjalani kehidupan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Perjalanan
Memakai pakaian pria, Song Jiao tidak berusaha menutupi identitasnya sebagai seorang wanita.
Hanya saja dia memilih memakai pakaian pria karena praktis dan terasa jauh lebih ringan.
Yang paling penting, dengan memakai pakaian pria dia bisa leluasa bergerak, dimana di masa sekarang ini banyak pendekar wanita yang memilih menggunakan pria, dan identitas itulah yang saat ini ditunjukkan oleh Song Jiao.
***
Pagi hari ini setelah menghabiskan malam terakhir di rumah keluarga yang kini telah dikosongkan dan tidak tau kapan dia akan kembali ke rumah itu.
Dengan menunggangi kuda putihnya, seekor kuda liar yang belum lama ini berhasil dia jinakkan, Song Jiao memulai perjalanan pertamanya yang akan membawanya ke tempat-tempat baru.
Mengikuti jalan setapak di tengah hutan, sebelum siang hari akhirnya Song Jiao melihat jalanan besar, jalan tanah bergelombang yang sudah bisa dilalui kereta kuda.
"Sangat sepi seolah tidak ada kehidupan di tempat ini, tapi wajar karena tempat ini memang jauh dari kehidupan."
Membuka sebuah peta yang tidak sembarangan orang memilikinya, Song Jiao memutuskan untuk pergi ke Kota Beixuan, Kota lainnya di wilayah utara sama halnya seperti Kota Hanyue.
Sama-sama berdiri di wilayah utara, keadaan Kota Beixuan tidak ada bedanya dengan Kota Hanyue, dimana hampir setiap hari terjadi perang di tempat itu, dan ada Keluarga Qin yang bertanggungjawab atas pertahanan Kota Beixuan.
Keluarga Qin adalah salah satu pilar Kekaisaran Huangtian, tapi dalam sepuluh tahun terakhir kekuatan Keluarga Qin terus mengalami penurunan, apalagi banyak pria di keluarga itu yang gugur di medan perang, menyisakan sosok Jenderal Tua, putranya dan dua orang cucu yang semuanya berasa di Kota Beixuan.
"Kota Beixuan ke tempatku saat ini berjarak lebih dari dua ratus li. Aku tidak buru-buru, jadi kemungkinan baru besok aku tiba di kota itu."
Menyimpan kembali peta ke dalam ruang ajaibnya, Song Jiao bersiap memulai perjalanan panjang menuju Kota Beixuan.
Derap langkah kuda terdengar begitu Song Jiao meningkatkan kecepatan lari kuda tunggangannya.
Dalam diam gadis itu berharap perjalanannya lancar, sama sekali tidak ada halangan yang mengganggu perjalanannya.
***
Matahari mulai condong ke arah barat saat Song Jia berpapasan dengan rombongan prajurit, tapi dia tidak tau itu prajurit yang berasal dari pasukan mana.
'Selama mereka tidak mengganggu, aku akan terus melanjutkan perjalanan!'
Sama sekali tidak ada gangguan, rombongan prajurit begitu saja melaju menjauh, meski mereka sempat terlihat melirik Song Jiao yang melakukan perjalanan dari arah berlawanan.
Terus saja memacu kudanya, sebelum gelap Song Jiao menemukan tempat bermalam, tapi dia tidak bermalam di pinggir jalan besar, melainkan memilih masuk ke dalam hutan di sisi jalan.
Kebetulan di dekat tempatnya istirahat terdapat sumber mata air, membuatnya tidak perlu susah payah mencari air untuk memenuhi segala kebutuhannya.
Baru juga ingin menyalakan api, pendengaran Song Jiao yang sangat sensitif menangkap adanya suara pergerakan tidak jauh dari tempatnya berada.
"Satu, dua, tiga, empat, lima... Mereka ini ada lebih dari sepuluh orang, dan dari gerak-geriknya, seharusnya mereka bukan manusia biasa."
Tidak jadi menyalakan api, Song Jiao memilih duduk tenang di tempatnya, begitu juga dengan kuda putihnya yang ajaibnya jika di siang hari tampak terang, begitu tiba waktu malam, bulu kuda terlihat sangat gelap, jauh lebih gelap dari kuda berwarna hitam, membuat kuda itu mudah berkamuflase di tengah kegelapan.
Duduk tenang dalam kediaman, Song Jiao berhasil mendengar pembicaraan orang-orang yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berada.
"Tugas kita hanyalah membuka jalan bagi pasukan yang bertujuan mengisolasi Kota Beixuan, untuk selanjutnya membiarkan orang-orang di Kota itu satu demi satu mati karena kelaparan, dan pada akhirnya Kota Beixuan akan jatuh ke tangan Pangeran Kedua!"
"Ini adalah rencana luar biasa Pangeran Kedua, dan rencana ini pasti berhasil, tapi semua itu tergantung pada usaha kita malam ini!"
Suara-suara itu terdengar jelas oleh Song Jiao, membuat gadis itu menyimpulkan jika yang ada si dekatnya kemungkinan besar adalah orang-orang Xue Long, sebuah Kekaisaran di utara yang sudah puluhan tahun lamanya mencoba merebut Kota Beixuan dan Kota Hanyue.
'Kenapa aku tiba-tiba merasa marah? Mungkinkah ini perasaan asli tubuh yang kini aku tempati?'
"Sepertinya aku harus mencegah orang-orang ini melakukan apa yang ingin mereka lakukan."
Di tangan kanan Song Jiao tiba-tiba muncul sebuah belati, dan setelah mengunci lokasi musuh, dia siap melakukan serangan.
'Aku harus melakukannya dengan cepat!'
Melompat cepat ke atas dahan pohon, matanya yang begitu tajam melihat di malam hari berhasil menemukan keberadaan orang-orang yang tampak ingin kembali bergerak.
"Hemm, aku sudah bisa mencium aroma darah mereka!"
Suara Song Jiao terdengar lirih, dan dengan kecepatan yang benar-benar tidak bisa dilihat, dia mengunci pergerakan dua prajurit paling belakang.
"Slash... Slash..."
Kejadiannya sangat cepat, dua kepala begitu saja terpisah dari tubuhnya.
"Bruk... Bruk..."
Dua jatuh, prajurit di dekatnya baru saja menoleh, tapi detik berikutnya pandangan mereka berubah menjadi gelap, dan...
"Bruk... Bruk..."
Dua lagi prajurit jatuh dengan kepala jatuh lebih dulu.
Aroma darah yang terbawa oleh hembusan angin tercium oleh dua prajurit terdepan, tapi saat mereka menoleh untuk memastikan keadaan di belakang, mereka tidak mendapati siapa-siapa di belakang, membuat mereka akhirnya sadar jika tengah terjadi penyergapan.
"Hati-hati, ada serangan musuh!"
"Bruk..."
Baru juga pria itu selesai bicara, tepat di depan matanya dia melihat bagaimana satu-satunya teman yang tersisa jatuh dengan kepala menggelinding ke arah kakinya.
Mata pria itu melotot lebar, tapi sesaat kemudian dia merasa pandangannya berputar, hingga akhirnya dia melihat tubuhnya sendiri yang tanpa kepala, sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
Dia mati, dan menjadi orang terakhir yang mati di tangan Song Jiao, wanita yang membunuh tanpa berkedip, bahkan gadis itu tidak membiarkan tubuh dan pakaiannya terkena darah musuh.
"Sudah selesai..."
Song Jiao bergumam pelan, dan setelah memastikan tidak ada sisa musuh yang bersembunyi, cepat dia pergi dari tempat yang dipenuhi oleh aroma amis darah.
Kembali ke tempat kudanya berada, Song Jiao terpaksa melanjutkan perjalanan di tengah kegelapan malam, dan tepat di tengah malam dia memutuskan istirahat di pinggir aliran sungai, memberi waktu istirahat yang cukup pada kudanya.
Di kehidupan pertamanya tidak terhitung sebanyak apa orang yang mati di tangannya.
Jadi, meski yang baru saja terjadi adalah kali pertama dia membunuh, rasanya itu adalah sesuatu yang biasa bagi Song Jiao, tidak membuat dia terus teringat tentang kejadian yang baru saja terjadi.