"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Keesokan paginya, semburat cahaya matahari fajar menembus tirai tipis menyinari kamar yang masih sarat akan jejak-jejak keintiman semalam.
Luna perlahan membuka sepasang mata beningnya.
Hal pertama yang tertangkap oleh indra pendengarannya adalah suara dengkuran yang cukup nyaring dan berirama konstan membelah keheningan kamar.
Ia menoleh ke samping dan mendapati Mahendra—sang Titan Bisnis yang ditakuti ratusan taipan di luar sana—kini tengah tertidur pulas dengan posisi telentang dan mengorok keras.
Efek "aktivitas fisik" ekstrem yang mereka lakukan hingga menjelang subuh tampaknya benar-benar menguras energi prima sang pria paruh baya.
Luna mengulas senyum tipis, namun sedetik kemudian ia meringis pelan saat mencoba menggerakkan kakinya.
Seluruh persendian dan otot tubuhnya terasa kebas dan luar biasa pegal.
"Dasar sang Don Juan. Sekarang badanku capek semua karena kelakuannya," gumam Luna pelan dengan suara serak khas bangun tidur.
Wajahnya merona merah mengingat bagaimana suaminya itu terus-menerus menggunakan alasan "sisa efek obat" demi bisa memangsanya berkali-kali semalam.
Melihat wajah matang Mahendra yang tampak begitu damai dalam tidurnya yang pulas, rasa gemas mendadak membuncah di dada Luna.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Luna menyibak selimut sutra merah marunnya.
Ia merangkak pelan, lalu dengan sengaja menjatuhkan dan menindih tubuh tegap suaminya yang kokoh laksana karang.
Woosh!
Hantaman mendadak dari tubuh ranum Luna seketika menghentikan suara ngorok keras Mahendra.
Pasokan udara di paru-parunya seperti terpompa paksa keluar.
Sang Titan Bisnis langsung tersentak bangun, kedua kelopak matanya terbuka lebar dengan kesadaran yang langsung terkumpul seratus persen.
Mahendra berkedip beberapa kali, menyesuaikan pandangannya yang langsung disambut oleh wajah cantik istri kecilnya yang tengah menatapnya dengan binar mata gemas dan bibir yang sedikit dikerucutkan.
Menyadari dirinya tengah dikunci mutlak di bawah tubuh sintal Luna, sisa-sisa aura intimidasi Mahendra seketika menguap entah ke mana.
Pria berusia setengah abad itu mengulas senyum pasrah yang teramat seksi, sementara kedua tangan kekarnya langsung bergerak protektif mendekap pinggang ramping Luna agar istrinya tidak terjatuh.
"S-sayang... selamat p-pagi..." cicit Mahendra dengan suara bariton yang terbata-bata dan serak, mencoba menata kembali napasnya yang sempat terputus akibat serangan fajar yang tak terduga dari Nyonya Mahendra Dirgantara.
Luna terkekeh geli melihat ekspresi kewalahan di wajah matang suaminya. Namun, sedetik kemudian ia teringat sesuatu dan langsung menepuk pelan dada bidang Mahendra.
"Ayo pulang, Mas. Nanti jam sembilan aku ada meeting penting dengan Pak Dika," ucap Luna yang mengingatkan suaminya kalau ia ada meeting dengan Pak Dika.
"I-ya, Sayang, tapi tolong minggir dulu. Aku tidak bisa bernapas," cicit Mahendra pasrah.
Mendengar keluhan itu, Luna langsung mengangkat tubuhnya dengan gerakan cepat.
"Hehehe... aku lupa..." sahut Luna polos tanpa dosa, sambil memamerkan deretan gigi rapinya yang menggemaskan.
Mahendra menghela napas panjang, menghirup pasokan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru sembari mendudukkan tubuh tegapnya di tepi ranjang.
Ia menoleh ke arah Luna, lalu mencubit gemas hidung bangir istrinya.
"Kecil-kecil ternyata berat juga kamu ya, Nyonya Mahendra," goda Mahendra dengan seringai miring yang begitu seksi di sudut bibir tegasnya.
Mendengar ejekan itu, Luna langsung menghentikan gerakannya yang hendak turun dari ranjang.
Ia berbalik, melemparkan lirik tajam yang sarat akan protes ke arah suaminya.
Dengan berani, ia melipat kedua tangannya di depan dada, membuat potongan gaun tidur sutra hitamnya semakin mempertegas lekuk tubuh indahnya.
"Aku berat? Tapi, semalam sampai sepuluh ronde!" ucap Luna lantang sambil mengerucutkan bibirnya yang ranum.
Ia tidak terima dibilang berat oleh pria yang justru memperlakukannya tanpa ampun sepanjang malam suntuk.
Mahendra yang mendengar protes blak-blakan dari istri kecilnya itu seketika tertegun, sebelum akhirnya tawa baritonnya yang renyah dan menggelar pecah memenuhi seluruh sudut kamar penthouse.
Kilat lapar seorang serigala jantan kembali berbinar di sepasang netra tajamnya, seolah lupa bahwa jam sembilan nanti mereka harus sudah berada di Jakarta untuk memulai peperangan yang sesungguhnya melawan Emma dan Mila.
Mahendra menghentikan tawa baritonnya, lalu menatap Luna dengan binar mata yang semakin intens.
Ia bangkit dari tepi ranjang, memperlihatkan tubuh tegapnya yang menjulang tinggi sebelum mengulurkan tangan kekarnya ke arah sang istri.
"Maaf, sayang dan ayo kita mandi bersama, dan setelah itu kita langsung pulang ke Jakarta," ajak Mahendra, suaranya mendadak berubah menjadi dingin dan serius saat teringat agenda mereka hari ini.
"Aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan dengan ular-ular di rumah kita, dan kamu harus bersiap untuk meeting dengan Dika."
Luna menerima uluran tangan suaminya, bangkit berdiri walau kakinya masih terasa sedikit lemas. Namun, melihat kilat familier yang kembali muncul di sepasang netra tajam sang Titan Bisnis, alarm kewaspadaan di kepala Luna langsung berbunyi.
Ia menahan langkah Mahendra tepat di depan pintu kamar mandi yang berdinding kaca buram.
"Mandi saja ya, Mas. Jangan yang lain-lain!" tegas Luna sembari menatap suaminya dengan pandangan penuh selidik, mencoba memasang benteng pertahanan terakhirnya.
"Ingat waktu, Mas. Jam sembilan aku sudah harus sampai di kantor!"
Mahendra tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, pria berusia setengah abad itu justru memajukan langkahnya, mengikis jarak hingga tubuh tegapnya mengurung Luna di dekat daun pintu.
Ia merundukkan wajah matangnya, menyunggingkan seulas seringai serigala yang teramat seksi dan menggoda tepat di depan wajah merona istri kecilnya.
"Sedikit saja, Sayang... ya?" bisik Mahendra.
Tangan kekar Mahendra bergerak nakal, mengusap pinggang ramping Luna di balik gaun sutra hitam yang tipis, mengabaikan total protes lemah istrinya yang sedetik kemudian kembali tenggelam di bawah pesona mutlak sang Don Juan Dirgantara.
Uap air hangat masih menyelimuti kamar mandi mewah penthouse Bandung saat Luna dan Mahendra akhirnya keluar.
Setelah sesi mandi yang berakhir dengan "olahraga pagi" singkat namun berhasil membuat napas Luna kembali terengah-engah, keduanya bergegas bersiap.
Tepat pukul tujuh pagi, Rolls-Royce Phantom hitam itu sudah membelah jalanan tol Cipularang dengan kecepatan tinggi menuju Jakarta.
Di balik kemudi, Mahendra tampak begitu gagah dan segar dalam balutan setelan jas formalnya, sementara Luna duduk di kursi penumpang di sampingnya dengan blazer kerja yang rapi, meski sesekali ia harus memijat pinggangnya yang masih terasa pegal.
Mendekati perbatasan ibu kota, ketegangan perlahan mulai merayap di dalam kabin mobil. Luna menoleh, menatap profil samping wajah suaminya yang tegas laksana pahatan batu granit.
"Mas, yakin aku tidak perlu ikut pulang ke rumah utama dulu?" tanya Luna, memecah keheningan. Nada suaranya sarat akan kecemasan.
"Aku takut Emma dan Mila nekat melakukan hal lain kalau Mas menghadapi mereka sendirian."
Mahendra tetap fokus menatap jalanan di depannya, namun tangan kirinya bergerak turun, menggenggam erat jemari lentik Luna di atas tuas transmisi.
"Tidak perlu, Sayang. Kamu langsung aku antar ke kantor untuk meeting dengan Dika," sahut Mahendra
"Lebih baik aku sendiri yang menghukum mereka. Apa yang mereka lakukan kemarin di tol sudah bukan sekadar kenakalan keluarga lagi, Luna... ini sudah termasuk percobaan pembunuhan berencana."
Luna bergidik ngeri mendengar penuturan suaminya.
Mengingat kembali bagaimana Mahendra hampir merenggut nyawa di pelukannya kemarin membuat dada Luna sesak.
"Kalau begitu, Mas harus sangat hati-hati. Aku mohon, jangan emosi sampai membuat jantungmu tertekan lagi," pinta Luna dengan mata yang berkaca-kaca karena khawatir.
Mahendra menoleh sekilas, memberikan senyuman hangat yang menenangkan.
"Aku berjanji, Nyonya Mahendra. Suamimu ini tidak akan kalah oleh ular-ular seperti mereka."
Keheningan kembali melingkupi mereka selama beberapa menit, sebelum akhirnya Luna menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang sebuah pertanyaan besar yang sudah sejak lama bersarang di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Mas, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Luna pelan, menatap suaminya dengan pandangan serius.
"Iya, Sayang, silakan. Tanya apa saja," jawab Mahendra lembut.
"Kenapa, dulu Mas Mahendra mau langsung maju dan menikahiku? Maksudku, saat Fauzan dengan teganya meninggalkan aku sendirian di altar pernikahan dan mempermalukan keluargaku, kenapa Mas yang menjadi penggantinya?"
Ciiiiiitttt!
Suara derit ban yang bergesekan tajam dengan aspal terdengar saat Mahendra dengan cekatan memutar kemudi, meminggirkan mobil mewah itu ke bahu jalan jalan tol yang agak lengang.
Genggaman tangannya di jemari Luna terlepas sejenak saat ia memutar seluruh tubuh tegapnya menghadap ke arah istri kecilnya.
Mahendra menatap lekat-lekat sepasang netra bening Luna.
Sebuah seringai misterius yang teramat seksi terukir di sudut bibirnya.
"Kamu mau jawaban yang jujur atau bohong, Sayang?" godanya dengan nada suara yang sengaja diberatkan.
Luna merengut gemas, memukul pelan lengan kekar suaminya.
"Mas, aku serius...! Jangan bercanda di saat seperti ini," protes Luna sambil mengerucutkan bibirnya.
Melihat reaksi menggemaskan itu, Mahendra terkekeh rendah.
Ia meraih kembali kedua tangan Luna, membawanya ke depan dada bidangnya yang berdetak dengan ritme yang kokoh.
Topeng dingin sang Titan Bisnis runtuh seketika, digantikan oleh tatapan mata yang sarat akan cinta dan pemujaan yang teramat dalam.
"Ok, ok, jujur saja..." Mahendra menarik napas panjang, menatap langsung ke dalam jiwa Luna.
"Sebenarnya, jauh sebelum hari pernikahan terkutuk itu. Sejak pertama kali Fauzan membawa dan memperkenalkan kamu sebagai calon tunangannya ke rumah, aku sudah jatuh cinta kepadamu, Luna. Detik itu juga, ego jantanku berontak karena melihat mutiara seindah kamu harus bersanding dengan anak bodoh seperti dia."
Luna tercekat, sepasang matanya membelalak tidak percaya.
"Setiap malam, di dalam kesendirianku, aku egois. Aku meminta dan berdoa kepada Tuhan untuk memberikanmu kepadaku, entah bagaimana caranya," lanjut Mahendra dengan suara yang mendadak berubah serak oleh emosi yang tulus. "Dan ketika Fauzan bertingkah bodoh dengan melarikan diri di hari pernikahan kalian... aku tahu itu adalah jawaban dari Tuhan yang akhirnya merestui kita. Aku tidak berniat menjadi pahlawan bagi keluargamu, Luna. Aku hanya sedang mengambil apa yang memang seharusnya menjadi milikku sejak awal."
Mendengar pengakuan jujur dan tak terduga yang begitu mendalam dari pria paruh baya di depannya, jantung Luna berdegup seribu kali lebih cepat.
Rasa hangat dan haru seketika menyeruak, memenuhi seluruh rongga dadanya hingga air mata kebahagiaan hampir menetes di sudut matanya.
Luna tersenyum sangat manis, memajukan tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Mahendra.
"So sweet sekali suamiku ini. Aku tidak pernah menyangka kalau dalang di balik semua takdir ini adalah doa rahasia dari seorang Don Juan," bisik Luna manja.
Mahendra menepuk pucuk kepala Luna dengan sayang, sebelum akhirnya kembali menyalakan mesin mobil.
"Sekarang, mari kita selesaikan hari ini dengan cepat. Kamu urus bisnismu dengan Dika, dan biar aku yang mengirim Emma dan Mila ke neraka yang sesungguhnya."
Luna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi