Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 3
Di sudut lain Kota S, hujan juga masih terus turun sejak beberapa hari, tanpa ada tanda-tanda akan mereda. Langit kelabu terus menggantung suram di atas jalanan yang basah dan dingin.
Di tengah cuaca buruk itu, seorang gadis muda tampak berjalan tergesa di pinggir jalan. Ia mengenakan plastik bening seadanya untuk melindungi tubuhnya dari rintik hujan karena tidak mampu membeli payung baru.
Gadis itu adalah Aurora Eleanor Lynn.
Usianya baru 20th, namun kehidupan telah memaksanya menjadi dewasa jauh lebih cepat dibanding orang lain seusianya.
Aurora memiliki wajah yang begitu cantik dan bersih. Rambut hitam panjangnya tampak lebat dan lembut meski tidak pernah mendapatkan perawatan salon mahal. Kulitnya putih mulus, hidungnya mancung sempurna, sementara deretan giginya rapi alami, membuatnya terlihat seperti gadis yang lahir dari keluarga kaya dan penuh kasih sayang.
Dengan tinggi sekitar 160cm, Aurora memiliki penampilan yang mampu menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.
Namun kenyataannya berbanding terbalik. Ia hanyalah seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di panti asuhan.
Dan kini. Aurora menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya di Moon Haven House, bekerja tanpa lelah demi memastikan mereka tetap bisa makan, bersekolah, dan hidup dengan layak meski dunia tidak pernah berpihak kepada mereka.
Jalanan sempit dipenuhi genangan air, sementara bangunan-bangunan tua berdiri rapuh dimakan usia, adalah jalanan yang tiap hari Aurora lalui.
Gadis itu memilih kehujanan setiap berangkat dan pulang bekerja, karena mengalah agar adik-adiknya bisa memakai payung yang tidak seberapa yang ada di panti.
Hari itu Aurora pulang lebih cepat dari tempat kerjanya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia meminta izin pulang sebelum jam kerja selesai setelah menerima telepon dari salah satu suster di panti asuhan.
Seseorang datang, dan orang itu mengaku sebagai pemilik sah rumah yang selama ini mereka tinggali.
Sepanjang perjalanan pulang, dada Aurora terasa semakin sesak.
Hujan turun semakin deras, membasahi tubuhnya hingga kuyup. Plastik tipis yang tadi ia gunakan sama sekali tidak mampu menahan dinginnya cuaca. Rambut panjangnya menempel di wajah dan leher, sementara jemarinya mulai gemetar karena udara yang menusuk.
“Setelah lebih dari 20tahun? Dan baru sekarang? Tidak masuk akal!” Kata Aurora berjalan lebih cepat, ia tak peduli dengan cipratan dari genangan air yang membasahi kaki dan celananya, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah adik-adiknya dan para suster.
Di salah satu sudut Kota S, berdiri sebuah panti asuhan sederhana bernama Moon Haven House. Bangunannya tidak terlalu besar dan mulai dimakan usia, namun tempat itu tetap terasa hangat bagi puluhan anak yang tinggal di dalamnya.
Panti asuhan itu berdiri berdampingan dengan sebuah gereja tua bergaya klasik yang masih berada dalam satu kawasan dan satu tanah yang sama. Halaman luas di antara keduanya dipenuhi pepohonan rindang serta taman kecil yang dirawat sederhana oleh para suster dan anak-anak panti.
Meski jauh dari kata mewah, tempat itu menjadi satu-satunya rumah bagi mereka yang tidak memiliki siapa pun di dunia ini.
Cat dindingnya mulai memudar. Atapnya beberapa kali bocor saat hujan deras turun. Namun di tempat sederhana itulah Aurora tumbuh sejak kecil.
Aurora tidak pernah tahu siapa orang tuanya.
Ia ditemukan di depan gerbang panti saat masih bayi, dibungkus selimut tipis dengan tubuh yang hampir membeku karena hujan malam. Tidak ada surat. Tidak ada nama keluarga. Tidak ada petunjuk siapa yang membuangnya.
Satu-satunya yang tersisa hanyalah sebuah kalung bulan kecil berwarna perak yang selalu ia simpan hingga sekarang.
Gadis itu segera berlari, sambil menyingsingkan lengan sweater abu-abunya mengenggam erat tas selempang miliknya. Plastik yang tadi sebagai payung sudah hilang entah dimana. Rambut hitam panjangnya diikat sederhana bergerak mengikuti tubuhnya yang berlari, sementara wajah cantiknya terlihat polos tanpa riasan sedikit pun terkena air hujan.
Aurora memang cantik, bahkan terlalu cantik untuk hidup di lingkungan sederhana seperti itu.
Namun hidup tidak pernah memberinya kesempatan untuk menikmati kecantikan tersebut.
Sejak kecil, Aurora sudah terbiasa hidup serba kekurangan. Ia belajar menahan lapar, belajar tersenyum meski sedih, dan belajar menjadi dewasa lebih cepat dibanding anak-anak seusianya.
Kini panti asuhan semakin terpuruk. Donatur semakin sedikit. Tagihan listrik mulai menunggak. Tak bisa membuat Aurora berdiam diri. Dia menjadi tulang punggung untuk para adik-adiknya.
Beberapa anak bahkan harus berbagi buku sekolah karena mereka tidak mampu membeli yang baru.
Karena itulah Aurora bekerja tanpa mengenal lelah.
Pagi hari ia bekerja di toko bunga kecil. Sore harinya ia membantu di sebuah kafe hingga larut malam. Kadang jika uang benar-benar tidak cukup, ia mengambil pekerjaan tambahan sebagai buruh cuci atau buruh setrika, dari rumah ke rumah demi membeli susu dan kebutuhan anak-anak panti.
Tubuhnya lelah. Namun Aurora tidak pernah mengeluh. Baginya, panti itu bukan sekadar tempat tinggal. Itu adalah rumah.
Tempat satu-satunya yang menerimanya ketika dunia membuangnya tanpa belas kasihan.
Saat tiba di Moon Haven House, tubuh Aurora sudah basah sepenuhnya.
Wajahnya pucat hampir membiru, begitu pula bibirnya yang bergetar menahan dingin.
Namun rasa takut di dadanya jauh lebih menyakitkan dibanding cuaca buruk itu.
“Aku pulang…” ucap Aurora pelan sambil membuka pintu.
Beberapa anak kecil langsung berlari menghampirinya. Wajah-wajah polos itu terlihat panik dan ketakutan.
“Ellynn!”
Aurora langsung menyadari suasana aneh di dalam rumah itu.
Ruang utama yang biasanya hangat kini terasa mencekam.
Ia melihat Suster Magdalena duduk di hadapan seorang pria paruh baya dengan ekspresi tegang. Di belakang pria itu berdiri beberapa lelaki bertubuh besar dengan penampilan kasar dan wajah penuh intimidasi.
Dari tatto dan cara berpakaian mereka, Aurora sudah paham. Mereka jelas bukan orang baik-baik.
Aura para pria itu lebih menyerupai preman jalanan daripada tamu biasa.
Di sisi lain ruangan, Suster Paulin dan Suster Teresa berdiri dengan wajah pucat. Mata mereka tampak berkaca-kaca seolah berusaha menahan tangis.
Sementara itu, Suster Magdalena hanya diam.
Tatapan wanita tua itu dipenuhi kecemasan dan keputusasaan yang begitu jelas terlihat.
“Ellynn…” panggil salah satu anak laki-laki paling besar, di antara para anak-anak panti, dengan suara bergetar menahan tangis, anak laki-laki itu berusaha untuk tegar tak ingin memperkeruh suasana.
Ellynn. Nama itu adalah panggilan sayang yang diberikan anak-anak panti untuk Aurora, diambil dari gabungan nama tengah dan nama belakangnya—Eleanor Lynn.
Aurora segera menoleh.
Seorang anak laki-laki yang paling besar di antara mereka menggenggam ujung bajunya dengan mata memerah hampir menangis.
“Ellynn… kita harus bagaimana?” suaranya lirih penuh bayangan mengerikan.
Hati Aurora terasa diremas.
Namun di depan anak-anak itu, ia tidak boleh terlihat lemah.
Aurora memaksakan senyum kecil meski bibirnya masih gemetar karena dingin dan cemas.
“Jason,” ucapnya lembut, “ajak adik-adikmu masuk ke dalam dulu.”
“Tapi—”
“Tidak apa-apa.”
Nada suara Aurora tetap lembut, meski tangannya diam-diam mengepal menahan gugup.
Jason menunduk pelan sebelum akhirnya mengangguk. Anak laki-laki itu lalu menggiring adik-adiknya masuk ke kamar, walau mereka terus menoleh dengan wajah takut ke arah belakang.
Setelah anak-anak pergi, suasana mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Aurora menarik napas perlahan sebelum akhirnya melangkah maju menghadapi pria asing yang duduk di hadapan para suster.
Perasaannya mengatakan bahwa kedatangan pria itu akan mengubah hidup mereka selamanya.
Bersambung