NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08

“Ini yakin, Ra?” tanya Devan melirik Tara yang duduk di sebelahnya.

Tara mengangguk. “Udah dibeli masa nggak diminum? Lagipula nglakuinnya juga sama istri sendiri.”

Devan menghela napas pelan. “Bukan masalah itunya, Ra. Tapi aku mikir ke depannya. Gimana kalau setelah ini, aku nggak bisa ngasih kamu nafkah batin lagi? Aku takut kamu makin berharap sama aku dan aku nggak bisa ngasih apa yang kamu mau.”

“Apa aku salah kalau berharap sama suamiku sendiri?” tanya Tara menatap Devan lekat.

“Tapi kalau harus minum obat perangsang dulu, ya percuma, Ra. Kamu mau nglakuin itu tanpa ada perasaan apapun?”

Tara terdiam. Devan menggenggam tangan Tara dan menatapnya lekat. “Aku tanya sama kamu sekali lagi, Tara. Kamu yakin dengan ini?”

Tara mengangkat wajahnya dan balas menatap Devan. “Kamu yang bakal minum itu. Kenapa kamu malah tanya ke aku? Harusnya aku yang tanya apa kamu yakin mau minum obat itu? Kamu bilang itu punya efek samping yang nggak baik.”

“Aku akan mencobanya jika kamu yang memintanya. Tapi aku nggak bisa janjiin apa-apa setelah itu. Aku nggak mau kamu nyesel kehilangan keperawanan kamu.”

Tara melepas genggaman tangan Devan. Mengambil obat perangsang itu lalu berdiri dan melangkah ke tempat sampah. Tara membuang obat itu dan kembali mendekati Devan.

“Maaf. Aku hanya terbawa suasana aja waktu itu. Kamu benar. Aku nggak mau nglakuin itu tanpa melibatkan perasaan. Aku nggak mau kita nglakuin dibawah pengaruh obat itu.”

Setelah mengatakan itu, Tara melangkah pergi. Devan mengembuskan napas berat. Lagi dan lagi dia membuat Tara kecewa.

Tara melangkah menuju kamar dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah masuk ke dalam kamar, Tara melangkah ke kamar mandi dan mengunci pintu. Menyalakan air di wastafel, air mata Tara tak terbendung lagi. Dia memandangi wajahnya di depan cermin besar di depannya. Tara menangis sesenggukan. Hatinya sakit. Sangat sakit. Kesekian kalinya dia ditolak.

Tara kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa menahan hasratnya walau dari awal pernikahan mereka, Devan sudah menegaskan bahwa dia tak bisa memberinya nafkah batin. Lalu kenapa sekarang Tara terobsesi ingin melakukannya dengan Devan di bawah pengaruh obat perangsang?

“Arghhh!!!”

“Kenapa kamu semenyedihkan ini, hah?!”

“Kenapa, Tara?!”

Tara memukuli kaca di depannya. Memukuli pantulan wajahnya hingga tangannya perih sambil terus berteriak tertahan. Melampiaskan segala kekecewaannya di balik suara air mengalir.

Puas mengumpati dirinya sendiri, Tara memandangi wajahnya dan tersenyum sinis. Menghela napas berkali-kali agar sesak di dadanya hilang.

Setelah menenangkan diri selama satu jam di dalam kamar mandi, Tara keluar dari sana dengan wajah yang merah dan bengkak. Tara tersentak saat melihat Devan berdiri di depan pintu bersandar tembok sambil menatap Tara.

“Udah puas nangisnya?” tanya Devan menatap wajah Tara lekat. Hatinya tak tega melihat wajah sedih Tara. Namun keputusan Tara membuang obat itu dirasa telah benar. Devan pun tak ingin melakukannya tanpa ada perasaan yang terlibat. Tentu rasanya akan sangat hambar dan tak nyaman.

Tara tersenyum lirih. “Udah.”

Tara melangkah, namun tiba-tiba tangannya ditarik hingga tubuhnya berada dalam pelukan Devan. Tara terdiam.

Devan memeluk Tara erat. “Maafkan aku, Sayang.”

Tara masih terdiam. Tubuhnya terasa kaku. Bahkan dia tak membalas pelukan Devan. Hatinya sakit dan kecewa. Bukan pada Devan tapi pada dirinya sendiri. Dia yang berharap lebih pada Devan yang dari awal sudah memperingatinya untuk tak berharap apapun.

Devan melepas pelukannya dan mencium dahi Tara. “Aku nggak bisa jadi suami seutuhnya buat kamu, Tara. Aku minta maaf.”

“Lepasin aku.”

Devan mengernyit. “Aku minta maaf. Aku juga nggak bisa melepas kamu.”

“Egois kamu, Dev,” ucap Tara menatap Devan dengan sorot mata terluka.

Devan mengangguk. “Iya. Itu aku.”

Tara tersenyum sinis dan melangkah ke ranjang. Devan hanya bisa terdiam dan mengepalkan tangan. Siapa yang salah disini? Dia atau Tara? Atau malah keduanya? Mau sampai kapan mereka terus seperti ini?

***

David menyipitkan mata saat melihat seorang wanita tengah meletakkan aneka snack banyak sekali di troli belanjaannya.

“Tara,” gumam David pelan.

Tara sedang bersedih. Dan untuk mengalihkan rasa sedihnya, dia sengaja ke supermarket sendirian dan membeli banyak snack untuk menemaninya galau sepanjang hari ini. Tara bahkan pergi sepagi mungkin dari rumah untuk menghindar dari Devan. Tara tak ingin melihat Devan sampai hatinya membaik. Devan berkali-kali menghubunginya dan mengirim pesan, tapi Tara enggan menjawab atau membalas pesan itu.

“Jajanan sebanyak itu, kamu makan sendirian?”

Tara menoleh saat mendengar suara tak asing di telinganya. Matanya terbelalak saat melihat sang mantan ada di sebelahnya dan melihat troli belanjanya.

“Ngapain kamu disini, Vid?” tanya Tara.

“Ini supermarket, kan? Aku rasa kamu tahu apa tujuanku kesini. Sama kayak tujuanmu dan orang-orang tentunya,” jawab David.

“Iya tahu. Tapi kenapa kamu nyamperin aku?”

“Ya emang kenapa? Aku kenal sama kamu dan nggak sengaja ketemu kamu, jadi apa salahnya aku nyapa. Biar nggak dibilang sombong,” David pura-pura memilih snack di rak.

Tara mendengus. “Udah kan nyapanya? Sekarang kamu pergi gih.”

David mengernyit. “Kok ngusir?”

“Ya jangan dekat-dekat aku lah.”

“Aku pinginnya dekat-dekat mumpung ketemu,” ucap David tersenyum tipis.

Tara melengos. David menahan senyumnya. Ia selalu gemas saat melihat Tara merajuk, kesal, ataupun marah. Ekspresinya begitu lucu di mata David.

“Kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Kamu beli snack segini banyak, buat kamu atau siapa?” tanya David.

“Buat aku sendiri,” jawab Tara singkat.

“Buset dah. Ini satu troli isinya snack sama cokelat semua loh. Yakin habis?” David menatap tak percaya.

“Habis lah. Orang yang lagi sakit hati itu makannya harus banyak biar kuat ngadepin kenyataan,” jawab Tara tak sadar membuat David mengernyitkan dahi.

‘Sakit hati?’

Tara menoleh saat David tak menanggapi perkataannya. Sesaat Tara langsung tersadar dengan apa yang dia ucapkan tadi. “Eh.. maksudnya aku lagi.. lagi nonton film tentang orang yang lagi sakit hati.. jadi.. jadi… kebawa suasana aja.”

David tersenyum dan memegang bahu Tara dengan lembut. “Aku udah bilang kan, kalau kamu butuh teman cerita, kamu bisa hubungi aku. Jangan makan snack sebanyak ini, Ra. Ini semua tuh kalau berlebihan nggak baik buat badan kamu.”

Tara terdiam dan menatap David. Sedetik dua detik hingga lima detik mereka terus berpandangan. Tara yang tersadar langsung menjaga jarak dan berdehem.

“Ehm… itu… aku…” Tara bingung hendak berkata apa. Dia meremas jemarinya, salah tingkah. David memang selalu peka dengan segala tindak tanduknya.

David tersenyum. “Nggak papa kok. Nggak semuanya bisa dipendam sendiri. Ada baiknya dibagi biar sesak di dada itu hilang dan beban pikiran berkurang.”

Tara menunduk. Ucapan David menyentuh hatinya. Dia juga sudah tak kuat menahan rasa sesak di dadanya. Pikirannya ruwet membuat Tara hanya bisa memendamnya sendiri karena tak percaya dengan siapapun di dunia ini.

David menghela napas pelan. Dia tak suka melihat Tara bersedih seperti itu. David yakin Tara menyembunyikan sesuatu. David paham seperti apa Tara. Jika Tara sakit hati, dia tak kan cerita. Dia hanya diam. Dan itulah yang membuat David tahu jika Tara tiba-tiba jadi pendiam, itu artinya Tara sedang memendam rasa sakit hatinya karena pada dasarnya Tara adalah wanita ceria dan cerewet.

“Ya udah. Aku pergi dulu ya. Aku siap jadi teman yang bisa kamu percaya, Ra. Hubungi aku kapanpun kamu butuh aku.” David tersenyum dan melangkah menjauhi Tara.

Sejujurnya David ingin sekali memeluk, mengusap punggung, dan memberikan kekuatan untuk wanita yang masih dicintainya itu, namun dia sadar bahwa jaraknya dengan Tara sudah terbentang jauh. David mencoba mati-matian menahan dirinya walau hati tak tega melihat Tara seperti itu.

Setelah David menjauh, Tara mengangkat wajahnya dan menghela napas berat. Menatap punggung David yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.

‘Maaf. Tapi aku nggak mau kamu terjebak lagi diantara aku dan Devan, Vid. Kamu udah punya Miska. Aku juga milik Devan. Aku nggak mau memberi celah apapun untuk kita. Aku tahu dan kamu pun tahu, di sudut hati kita yang terdalam, masih ada nama kita masing-masing. Itulah sebabnya kita tetap harus di batasan masing-masing jika ingin cinta itu tetap terkubur di dalam sana.’

***

David mencengkram erat kemudinya. Mobilnya masih diam di parkiran supermarket. Pikirannya tak tenang sekarang setelah melihat raut wajah Tara di dalam supermarket tadi. David pernah berjanji sesaat sebelum ia keluar dari toko ponsel Devan akan menjauh dari kehidupan Tara jika Tara bahagia.

Tapi apa itu tadi? Tara sedang sakit hati. Raut wajah Tara menunjukkan ada sesuatu yang menyakiti hatinya, tapi dia hanya diam. David juga sempat melihat sembab di area mata Tara.

Mata David menyipit saat melihat wanita yang ada dalam pikirannya keluar dari supermarket dengan membawa kantong belanjaan. Tak ada senyuman di wajah cantik itu. David hanya melihat raut wajah kesedihan.

Tara menuju mobilnya. Setelah itu mobil Tara melaju. Tanpa pikir panjang, David mengikuti mobil Tara. David pikir Tara akan pulang ke rumahnya. Namun, mobil Tara mengarah ke sebaliknya. David mengernyit. Dia seperti hafal jalanan yang akan dilaluinya.

Danau Greencamp.

David terdiam setelah memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Tara. Tempat ini…

Tara turun dari mobil dan melangkah dengan membawa kantong belanjanya tadi masuk ke dalam kawasan Danau Greencamp.

Setelah Tara melangkah cukup jauh, David pun keluar dari mobilnya dan mengikuti Tara. Tara sama sekali tak tahu kalau sedang diikuti.

Tara tersenyum getir saat melihat bangku di pinggir danau di bawah pohon besar. Dia melangkah ke sana lalu duduk disana. Sendiri.

David mematung saat melihat Tara melangkah menuju bangku kosong dimana bangku itu adalah bangku kenangan mereka berdua dulu.

David dan Tara sering berpacaran di tempat ini. Mereka selalu duduk di bangku bawah pohon itu karena tempatnya yang sedikit pojok. Bukannya kalau pacaran itu enaknya emang mojok kan?

Tara duduk. Menatap danau di depannya dan berkali-kali menghirup aroma danau yang tenang. Sudah lama sekali dia tak kesana. Terakhir dia kesana adalah saat sehari setelah ulang tahun pernikahannya yang pertama. Saat itu, Devan juga menolak berhubungan dengannya padahal Tara sudah merayu dan menggodanya. Tara menganggap tempat ini adalah tempat pelariannya dan juga tempat untuk menenangkan hatinya sebelum kembali menghadapi Devan lagi.

Tara mengambil satu bungkus snack dan membukanya. Tara memakannya sambil melihat danau. Satu tetes air mata turun saat dia mulai memakan camilan itu. Bukan karena kepedasan atau apa. Tapi karena dia teringat dengan nasib pernikahannya. Pernikahan sandiwara yang ia sepakati dengan Devan. Pernikahan yang tak punya masa depan. Pernikahan yang memenjarakan dan menyiksanya. Pernikahan yang akan terus membelenggunya entah sampai kapan karena Devan tak mau melepasnya.

Dari satu tetes, lalu muncul tetesan berikutnya hingga akhirnya Tara menggenggam erat bungkus makanannya dan terisak. Tara tak peduli jika ada yang melihatnya menangis sendirian. Hatinya sakit. Dia perlu mengeluarkan air mata untuk menghilangkan sesak di dadanya. Tak apa terlihat lemah, sebelum akhirnya bangkit kembali untuk menghadapi kenyataan pahit dan pernikahan yang menyakitkannya ini.

Biarlah dia menangis sekarang. Biarlah semua orang yang tak sengaja melihatnya tahu bahwa hatinya sedang terluka. Biarlah semua perasaan menyakitkan itu terlihat. Biarlah kali ini Tara menjadi sosok yang lemah untuk berpura-pura kuat di depan suaminya nanti.

Bersambung ….

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!