Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
POV: Devandra
Setelah napasku mulai kembali teratur, aku perlahan bangkit dari ranjang. Nara masih tertidur di sana dengan wajah lelah dan rambut yang berantakan di atas bantal. Untuk beberapa detik aku hanya diam memperhatikannya. Perlahan kuangkat tubuhnya sedikit, membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman. Setelah itu, aku menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih tidak memakai apapun.
Perempuan itu mengerjap pelan dalam tidurnya, lalu kembali terlelap tanpa menyadari apa pun. Aku mengusap singkat kepalanya sebelum berjalan menuju kamar mandi.
Air dari shower mengalir deras membasahi seluruh tubuhku. Argh... nikmat sekali rasanya mandi setelah di kotori. Nara masih tertidur di atas ranjang. Rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah, sementara napasnya terdengar pelan dan teratur.Aku terdiam sesaat menatapnya. Wajah lelah itu justru membuat dadaku terasa sedikit sesak. Rasa bersalah perlahan muncul, meski aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya sebagai penyesalan atau bukan.
Tanpa berniat membangunkannya, aku mematikan lampu kamar lalu berjalan menuju lantai bawah, membiarkan Nara tetap beristirahat dengan tenang.
Kuturuni anak tangga perlahan sambil mengibas rambutku yang masih basah. Namun saat hendak berbelok ke arah dapur, sebuah suara tiba-tiba memanggilku.
“Devandra.”
Suara itu diiringi langkah kaki pelan. Suara itu terlalu familiar sampai membuat tubuhku langsung menegang. Aku menoleh cepat. Dan di sanalah dia berdiri.
Leon.
Aku menatap tak percaya, apakah aku hanya sedang berhalusinasi akibat terlalu banyak mengeluarkan darah putih.
“Hei, Bro. Apa kabar?” tanyanya lagi sambil tersenyum kecil.
Aku masih diam mematung di tempat. Dadaku mendadak terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menghantam terlalu keras dari dalam. Beberapa detik kemudian, Keanu muncul dari belakang Leon sambil melambaikan tangan ke arahku.
“Surprise,” ucapnya santai.
Aku menatap lelaki di depanku tidak percaya.
“Leon...?” tanyaku ragu, nyaris seperti memastikan bahwa sosok itu benar-benar nyata.
Leon tersenyum tipis. “Lama nggak ketemu, Devandra.”
“Kita datang mau kasih surprise,” ucap Keanu dengan wajah sumringah. “CS kita akhirnya balik lagi.”
Ia langsung merangkul pundak Leon dengan antusias, seolah kepulangan pria itu adalah kabar paling membahagiakan tahun ini. Aku berusaha membalas dengan senyum tipis, meski sebenarnya ada dorongan kuat untuk menghantam wajah Leon saat itu juga.
Kenapa dia harus kembali lagi? Setelah semua yang terjadi, bukankah lebih baik dia tetap menghilang? Namun semua pertanyaan itu hanya kusimpan di dalam kepala.
“Welcome back, Bro,” ucapku akhirnya sambil menepuk pundaknya pelan.
Leon tersenyum kecil, sementara aku mati-matian menahan emosi yang mulai terasa mengganggu dadaku sendiri.
“Ngomong-ngomong... selamat ya atas pernikahan lo.” Leon mengucapkannya lirih sambil tersenyum tipis. Namun senyum itu terlihat aneh di mataku, terlalu kaku, seolah dipaksakan.
“Thanks,” balasku singkat.
Setelah itu kami duduk di sofa ruang santai. Suasana terasa canggung meski Keanu beberapa kali mencoba mencairkannya dengan obrolan random yang tidak benar-benar kudengarkan. Hingga tiba-tiba Leon kembali membuka suara.
“Nara mana?” tanyanya sambil menyapu pandangan ke seluruh ruangan, seolah berharap perempuan itu tiba-tiba muncul dari suatu sudut. Rahangku langsung menegang samar.
“Lagi tidur,” jawabku singkat.
Kami menghabiskan waktu dengan membicarakan banyak hal. Pekerjaan, kesibukan masing-masing, kabar orang tua, hingga nostalgia masa sekolah yang perlahan membuat suasana terasa lebih hangat.
Entah kenapa, berkumpul seperti ini selalu memberi rasa nyaman yang sulit dijelaskan. Untuk sesaat, aku kembali merasakan bagaimana hangatnya persahabatan yang dulu kami bangun bersama. Memang, beberapa waktu terakhir hubungan kami sempat kacau karena satu perempuan yang sama-sama kami pertahankan dengan cara masing-masing. Namun sejauh apa pun masalah itu berjalan, aku tidak pernah benar-benar melupakan bahwa mereka pernah menjadi bagian penting dalam hidupku.
Di tengah obrolan kami, tiba-tiba terdengar langkah kaki dari arah lantai atas. Aku menoleh bersamaan dengan yang lain.
Dan di sana, Nara berdiri mematung di ujung anak tangga.
Crop top yang ia kenakan memperlihatkan bagian perut dan lekuk pinggangnya dengan jelas, sementara hot pants pendek itu membuat kaki jenjangnya tampak semakin mencolok. Namun dengan rambut yang masih awut-awutan dan wajah setengah sadar karena baru bangun tidur, penampilannya justru terlihat kacau dengan cara yang anehnya tetap menarik.
Nara mengerjap pelan sambil menatap kami satu per satu, tampak bingung kenapa ruang santai tiba-tiba dipenuhi orang. Sementara itu, suasana di bawah mendadak berubah hening. Dan aku bisa merasakan tatapan Leon yang perlahan jatuh ke arah istriku.
...***...
POV: Nara
Tubuhku terasa remuk seperti habis tertabrak truk melon. Dengan susah payah aku memaksa diri bangun dari tidur, lalu meregangkan leher ke kanan dan kiri hingga terdengar bunyi kecil dari tulangku. Namun beberapa detik kemudian aku sadar, sepertinya tadi aku bukan tertabrak truk melon. Aku lebih merasa seperti habis ditindih beruang kelaparan.
Mataku menyapu seluruh kamar, mencari sosok pria menyebalkan itu. Ke mana Devandra?
Aku sempat terdiam sesaat ketika kepalaku tanpa sengaja memutar kembali kejadian beberapa waktu lalu. Seketika bulu kudukku berdiri, tubuhku ikut menggeliat geli mengingat semuanya.
“Astaga...” gumamku pelan sambil menutupi wajah dengan kedua tangan karena malu sendiri.
Tiba-tiba suara perutku berbunyi keras. Aku langsung menghela napas panjang—aku sangat lapar.
Dengan tubuh yang masih terasa lemas, aku memaksakan diri berjalan keluar kamar menuju lantai bawah. Saat menuruni anak tangga, samar-samar terdengar suara beberapa orang sedang berbincang dari arah ruang santai. Aku mengernyit bingung. Dan tepat saat mencapai pijakan anak tangga terakhir, aku menoleh ke arah sofa yang tidak jauh dari sana.
Di sana, aku melihat Leon. Seketika jantungku berdegup lebih cepat. Untuk beberapa saat aku bahkan mengira mataku salah melihat. Namun pria itu benar-benar ada di sana. Duduk santai di sofa bersama Devandra dan Keanu.
Tatapanku perlahan beralih pada Devandra.
Anehnya, wajah pria itu tidak menunjukkan ketegangan sedikit pun. Tidak ada sorot penuh kebencian seperti yang biasanya muncul saat nama Leon disebut. Justru ada ekspresi ringan dan santai yang sudah lama tidak kulihat darinya.
Kenapa? Apa mereka sudah berbaikan? Apa Devandra akhirnya tidak membenci Leon lagi?
Entah kenapa, melihat mereka duduk bersama seperti itu membuat dadaku terasa hangat. Setelah sekian lama dipenuhi ketegangan dan pertengkaran, akhirnya aku bisa melihat ketiga pria itu kembali akur seperti dulu. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian purnama, suasana itu terasa begitu damai di mataku.
“Hai, Nara.”
Leon menjadi orang pertama yang menyapaku. Senyum manis itu masih sama seperti dulu, membuatku sedikit gugup tanpa alasan jelas.
Seketika mereka semua menoleh ke arahku bersamaan. Keanu langsung menyeringai jahil. “Dih... ini perempuan habis kabur dari rumah sakit jiwa, ya? Berantakan banget.”
Leon dan Keanu tertawa hampir bersamaan, sementara Devandra terlihat berusaha menahan tawanya di balik tangan.
“Kalian apaan sih...” gumamku malu sambil buru-buru merapikan rambut yang sejak tadi pasti sudah seperti sarang burung.
Jujur saja, aku ingin menyambut kedatangan Leon dengan jauh lebih antusias. Ingin tersenyum lebar, mungkin bahkan memeluknya karena terlalu terkejut dan senang melihatnya datang ke rumah ini.
Tapi aku menahan semuanya. Aku hanya memasang ekspresi biasa sambil berdiri canggung di sana. Aku tidak ingin membuat Devandra salah paham lagi.
“Kalian udah lama di sini?” tanyaku sambil berjalan mendekati sofa.
“Ada kali satu jam lalu,” jawab Keanu santai.
Aku mengangguk pelan sebelum duduk di sofa yang sedikit terpisah dari mereka. Namun belum sempat aku merasa nyaman, Leon tiba-tiba bergeser dan duduk tepat di sebelahku.
“Kamu baru bangun tidur?” tanyanya sambil menatap wajahku yang mungkin masih terlihat kusut.
Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Suasana sempat hening beberapa detik sampai tiba-tiba suara Devandra terdengar dari seberang sofa.
“Nggak ada adegan saling kaget, nih?” ucapnya tiba-tiba.
Aku dan Leon langsung menoleh bersamaan ke arahnya. Devandra bersandar santai di sofa sambil menatap kami bergantian, tetapi entah kenapa senyum tipis di wajahnya terasa sulit ditebak.
“Sebenarnya Nara udah tahu kalau gue balik,” ucap Leon tiba-tiba dengan cepat, membuatku langsung menoleh kaget ke arahnya. “Tadi pagi gue yang minta dia datang ke studio.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi. Devandra tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap Leon dengan sorot mata yang sulit kutebak, terlalu tenang hingga justru membuat suasana semakin menegangkan.
“Ngomong-ngomong,” ucap Devandra akhirnya sambil menyandarkan tubuh ke sofa, “lo balik lagi kenapa?”
Leon mengangkat alis tipis. “Kenapa? Lo nggak suka?”
Dadaku langsung menegang. Keanu yang duduk di tengah segera berdehem kecil, berusaha mencairkan atmosfer yang mulai terasa tidak nyaman.
Namun Devandra malah tertawa pelan. “Gue cuma nanya.” Tatapannya belum lepas dari Leon.
“Kemarin lo tiba-tiba pergi. Sekarang tiba-tiba datang lagi.”
Leon mengangguk santai. “Kemarin orang tua gue yang minta gue pulang. Urusannya udah selesai, jadi ya gue balik.”
Devandra hanya diam mendengarkan. “Lagian...” Leon tersenyum kecil sebelum melanjutkan kalimatnya. “Gue balik karena mau ketemu seseorang.”
Hening langsung memenuhi ruangan. Untuk sesaat tidak ada yang berbicara.
“Siapa?” tanya Devandra datar.
Sudut bibir Leon perlahan terangkat. “Nanti juga lo tahu.”
Dan entah kenapa, jawaban itu langsung membuat firasat buruk muncul begitu saja di dalam kepalaku.
Tiba-tiba suara perutku berbunyi lagi, kali ini lebih keras sampai membuatku refleks memegangi perut sendiri.
“Kayaknya aku mending makan dulu deh,” gumamku malu sebelum buru-buru meninggalkan mereka menuju dapur.
“Ikut makan dong.” Suara Leon terdengar dari belakang, diikuti langkah kakinya yang langsung menyusulku.
Aku menoleh padanya sambil tertawa kecil.
“Kamu nggak capek habis perjalanan tadi?” tanyaku ringan.
Leon hanya mengangkat bahu santai. “Lebih capek kalau disuruh duduk tegang di situ sama suami kamu.”
Aku spontan menahan tawa sambil berjalan masuk ke dapur, tanpa sadar sepasang mata lain memperhatikan kami dari ruang santai dengan diam.