NovelToon NovelToon
Jejak Darah Yang Menghilang

Jejak Darah Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi / Anime
Popularitas:127
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 3: RAHASIA DI BAWAH TANAH

Kisah: Jejak Darah yang Menghilang

Malam itu Reyhan tidak tidur sedikit pun. Ia duduk bersandar di dinding kayu yang dingin, matanya terus menatap tetesan darah yang keluar dari celah-celah papan di sekeliling ruangan. Darah itu bergerak pelan di lantai, membentuk garis-garis halus yang selalu mengarah ke kakinya, seolah memiliki akal sendiri dan ingin menyentuhnya, ingin mengenalnya, ingin menariknya masuk ke dalam aliran mereka. Bau besi yang menyengat bercampur dengan aroma kayu terbakar semakin pekat memenuhi ruangan, membuat napasnya terasa berat dan sesak, seolah udara di sini bukan lagi udara biasa, melainkan uap darah yang dihirup masuk ke paru-paru.

Ia mencoba menyentuh salah satu tetesan itu dengan ujung jarinya, dan seketika darah itu meloncat naik, menempel erat di kulitnya, berdenyut cepat persis seperti memiliki jantung sendiri. Saat ia mencoba menghapusnya, cairan merah itu tidak mau lepas, malah meresap perlahan masuk ke dalam pori-pori kulitnya, meninggalkan rasa hangat yang aneh—bukan hangat yang nyaman, melainkan hangat yang tajam, menyengat, dan membawa gambar-gambar asing langsung masuk ke dalam pikirannya. Ia melihat bayangan ribuan orang yang berbaris turun ke dalam lubang gelap, melihat darah mereka mengalir menyatu menjadi sungai besar di bawah tanah, melihat sosok raksasa yang terbuat dari ribuan tubuh dan ribuan aliran darah yang terus bergerak, hidup, dan menunggu.

Reyhan menarik tangannya dengan paksa, napasnya memburu, keringat dingin mengalir deras di dahinya. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: darah ini bukan sekadar cairan tubuh. Darah ini HIDUP. Darah ini adalah bagian dari makhluk yang bersembunyi di bawah tanah, dan setiap tetesnya memiliki ingatan, perasaan, serta keinginan yang sama dengan induknya. Selama sepuluh tahun ini, darah yang ditemukannya di kota bukan sekadar jejak pembunuhan—itu adalah jembatan. Jembatan yang dibangun sedikit demi sedikit, menghubungkan kota dengan desa ini, menghubungkan dunia manusia dengan dunia yang tersembunyi di bawah kaki mereka. Dan sekarang jembatan itu sudah selesai. Mereka memanggilnya datang bukan karena mereka butuh dia—tapi karena DIA ADALAH BAGIAN YANG TERAKHIR UNTUK MENYELESAIKAN BANGUNAN ITU.

Pagi hari akhirnya tiba, tapi tidak ada cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan. Langit di luar sana tertutup kabut tebal berwarna kelabu, membuat suasana tetap gelap seperti senja sepanjang waktu. Pintu ruangan terbuka perlahan, dan Kala berdiri di ambang pintu, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, matanya tetap kosong gelap yang sama. Di belakangnya terlihat beberapa penduduk desa yang berdiri diam, tangan mereka terlipat di depan perut, tidak bergerak sedikit pun seolah mereka bukan manusia melainkan patung hidup yang menunggu perintah.

“Mari ikut saya, Nak,” kata Kala pelan, suaranya bergema aneh di udara yang lembap. “Tempat yang kamu cari ada di bawah tanah. Di sanalah semua jawabanmu berada. Di sanalah ayahmu menyembunyikan kebenaran, dan di sanalah kamu akhirnya akan tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Reyhan bangkit berdiri perlahan, tangannya mencengkeram gagang senjata yang tersembunyi di balik jaketnya. Ia tahu senjata itu mungkin tidak akan berguna melawan hal yang tidak bisa dilihat dan tidak bisa dibunuh seperti manusia biasa, tapi memegangnya membuatnya merasa sedikit lebih aman—setidaknya ia punya sesuatu yang bisa ia kendalikan di tengah dunia yang semakin lama semakin asing dan gila ini. Ia mengikuti Kala keluar rumah, melewati penduduk yang terus menatapnya dengan mata kosong, dan berjalan menuju bagian paling belakang desa, di mana tanah mulai menurun curam ke bawah, tertutup semak belukar lebat dan bunga-bunga merah gelap yang kelopaknya sekarang terbuka lebar—menampakkan bagian dalam yang basah, berdenyut, dan penuh benang-benang halus seperti pembuluh darah kecil.

Di dasar lembah itu, ada sebuah lubang besar yang mulutnya melingkar sempurna seperti sumur raksasa. Dinding lubang itu tidak terbuat dari batu atau tanah—melainkan terbuat dari akar-akar pohon tebal yang saling melilit satu sama lain, berwarna merah cokelat dan terus bergerak pelan seolah bernapas. Dari dalam lubang itu keluar hawa panas yang lembap, bau darah segar yang sangat pekat sampai membuat Reyhan mau muntah, dan suara gemuruh berat yang terdengar seperti detak jantung raksasa yang jauh di dalam sana.

“Ini adalah mulutnya,” kata Kala sambil menunjuk ke dalam lubang itu. “Ini adalah tempat di mana semua darah yang hilang itu berkumpul. Selama ratusan tahun, kami mengumpulkannya sedikit demi sedikit, membawa ke sini, memasukkannya ke dalam aliran utama. Semua orang yang hilang tanpa jejak, semua kasus yang tidak terpecahkan, semua genangan darah yang tidak ada mayatnya—mereka semua ada di bawah sini. Mereka tidak mati, Reyhan. Mereka menjadi bagian dari tubuh yang lebih besar. Mereka hidup di dalam sana, mengalir terus-menerus, membawa pesan dan kekuatan ke seluruh bagian tubuh induknya.”

“Induknya?” tanya Reyhan dengan suara serak, matanya tidak lepas dari kegelapan yang terlihat hidup di dalam lubang itu. “Apa sebenarnya yang ada di bawah sini? Apa yang kalian bangun selama ratusan tahun ini?”

“Kami tidak membangunnya,” jawab Kala pelan, dan untuk pertama kalinya ada getaran rasa takut yang samar terdengar dalam suaranya. “Kami hanya menjaganya. Makhluk ini sudah ada di sini jauh sebelum desa ini berdiri, jauh sebelum manusia pertama datang ke tanah ini. Ia tidur di bawah tanah, menunggu sampai darah yang cukup berkumpul untuk membangkitkannya sepenuhnya. Ia tidak punya bentuk fisik seperti makhluk biasa—tubuhnya adalah seluruh tanah di daerah ini, akarnya adalah semua sungai dan aliran air di sekitar sini, dan darahnya adalah seluruh darah manusia yang pernah tumpah atau hilang di wilayah ini. Ia adalah MAKHLUK PEMAKAN JEJAK—makhluk yang memakan bukan hanya daging dan darah, tapi juga ingatan, nama, identitas, dan segala bukti keberadaan seseorang. Itulah kenapa tidak ada jejak yang pernah tersisa. Karena ia memakannya semua sampai habis.”

Reyhan merasa kakinya lemas mendengar penjelasan itu. Selama sepuluh tahun ini ia mencari pelaku pembunuhan, mencari orang yang bertanggung jawab atas hilangnya rekannya Damar dan korban lainnya. Tapi ternyata tidak ada pelaku manusia. Pelakunya adalah sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih besar, dan jauh lebih mengerikan—sesuatu yang hidup di dalam tanah itu sendiri, yang menggunakan manusia hanya sebagai saluran untuk mengumpulkan makanannya.

“Terus kenapa kalian memanggil ayahku ke sini tiga puluh tahun lalu? Kenapa kalian memanggil aku sekarang?” tanya Reyhan lagi, matanya tajam menatap lelaki tua itu. “Kalau kalian hanya butuh darah, kenapa tidak ambil saja seperti yang kalian lakukan pada korban lain? Kenapa harus menunggu kami?”

“Karena darah biasa tidak cukup,” jawab Kala perlahan, matanya sekarang menatap lurus ke dalam mata Reyhan, dan di dalam sana Reyhan melihat kilatan kesedihan yang dalam. “Makhluk ini bisa bangkit dengan darah biasa, tapi bentuknya akan tidak sempurna, kekuatannya akan terbatas. Tapi darah keturunan kamu… darah dari garis leluhur yang kami jaga selama ratusan tahun… darah itu memiliki sesuatu yang lain. Ia memiliki KESADARAN. Ia memiliki kemampuan untuk menjadi otak dari tubuh besar ini. Ayahmu adalah yang pertama kali datang, tapi ia menolak. Ia memilih untuk lari, menyembunyikan rahasia ini, memutuskan bahwa lebih baik makhluk ini tidur selamanya daripada bangkit dan memakan seluruh dunia. Tapi ia tidak bisa menghilang begitu saja. Darahnya sudah terhubung dengan aliran ini, jadi ia tahu bahwa suatu hari anaknya akan datang menyelesaikan apa yang ia tolak.”

Kala melangkah mendekat, tangannya yang keriput dan kasar menyentuh bahu Reyhan. Saat kulit mereka bersentuhan, Reyhan merasakan aliran informasi yang deras masuk ke dalam kepalanya—ingatan ayahnya, ingatan leluhurnya, ingatan desa ini selama ratusan tahun lamanya. Ia melihat pemandangan mengerikan: tiga puluh tahun lalu, ayahnya berdiri tepat di tempat yang sama, menolak untuk masuk ke dalam lubang itu, berkelahi dengan penduduk desa, dan akhirnya melarikan diri dengan membawa satu rahasia besar—bahwa jika makhluk ini bangkit, satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan darah keturunan yang sama. Darah yang bisa menjadi makanannya, tapi juga darah yang bisa menjadi racun yang paling mematikan baginya.

“Ayahku… dia tahu cara membunuhnya?” bisik Reyhan, matanya terasa panas karena air mata yang tertahan. “Dia tahu tapi tidak melakukannya?”

“Dia tidak sanggup,” jawab Kala pelan. “Karena cara satu-satunya adalah dengan mengorbankan dirinya sendiri. Ia harus masuk ke dalam sana, membiarkan seluruh darahnya mengalir menyatu dengan makhluk itu, dan saat darahnya menyebar ke seluruh tubuh makhluk itu, ia harus memecahkan segel yang ada di dalamnya—segel yang menjaga agar makhluk itu tetap hidup. Tapi melakukannya berarti ayahmu akan mati perlahan, hancur bersama dengan makhluk itu, dan tidak akan ada jejak sedikit pun yang tersisa dari dirinya. Ia takut dilupakan, takut tidak ada yang tahu bahwa ia pernah ada dan pernah menyelamatkan dunia. Jadi ia memilih untuk lari, berharap makhluk ini tidak akan pernah cukup kuat untuk bangkit tanpanya.”

“Tapi sekarang ia sudah cukup kuat ya?” kata Reyhan sambil menatap ke dalam kegelapan lubang itu. Ia bisa merasakan kekuatan besar yang sedang bergerak di bawah sana, semakin kuat, semakin dekat, semakin haus menunggu bagian terakhir yang akan menyempurnakannya. “Itu sebabnya kalian mulai mengambil korban di kota, membangun jembatan darah sampai ke tempatku tinggal. Kalian tahu aku akhirnya akan datang.”

“Kami tidak punya pilihan,” jawab Kala, dan air mata bening perlahan mengalir turun di pipi keriputnya—air mata pertama yang Reyhan lihat di tempat ini. “Penduduk desa ini juga bukan manusia biasa, Reyhan. Kami adalah keturunan orang yang dikutuk untuk menjaga tempat ini selamanya. Kami tidak bisa mati, tidak bisa pergi, tidak bisa berubah. Kami harus terus memberi makan makhluk ini agar ia tidak bangkit dan langsung menghancurkan segalanya. Tapi sekarang makhluk ini sudah terlalu kuat. Ia mulai mengambil sendiri, mulai keluar dari batas tanah ini, mulai mencari makanannya sendiri ke tempat yang lebih jauh. Kalau kamu tidak datang sekarang, dalam waktu singkat seluruh kota, seluruh provinsi, bahkan seluruh negeri ini akan menjadi lautan darah yang lenyap tanpa jejak. Dan akhirnya makhluk itu akan bangkit sepenuhnya dan memakan seluruh kehidupan di permukaan bumi.”

Tiba-tiba tanah di bawah kaki mereka berguncang hebat. Dari dalam lubang itu terdengar raungan dahsyat yang membuat seluruh tubuh Reyhan mau hancur. Akar-akar dinding lubang itu mulai bergerak liar, darah merah menyembur keluar tinggi ke udara, dan dari kegelapan yang paling dalam mulai muncul ribuan tangan kecil yang semuanya terbuat dari darah dan daging yang menyatu. Tangan-tangan itu meraih ke luar, mencoba menangkap apa saja yang ada di dekatnya, dan suara ribuan bisikan serempak kembali memenuhi kepala Reyhan:

“KEMBALILAH… KEMBALILAH PADA KAMI… KAMU ADALAH MILIK KAMI… TANPA KAMU KAMI TIDAK LENGKAP… MASUKLAH… MASUKLAH DAN JADILAH RAJA KAMI…”

“Mereka sudah tahu kamu ada di sini,” kata Kala dengan suara tergesa-gesa, wajahnya sekarang penuh rasa cemas yang nyata. “Sekarang kamu punya dua pilihan, Reyhan. Satu: kamu masuk ke dalam sana seperti yang mereka mau, menjadi otak dari makhluk ini, dan bersama-sama kami akan memakan seluruh dunia. Kamu akan hidup selamanya, memiliki kekuatan yang tidak terbatas, dan tidak ada yang bisa mengalahkanmu. Dua: kamu mengambil jalan yang ayahmu tolak. Kamu masuk ke dalam sana, membawa racun yang kami simpan selama ratusan tahun—racun yang dibuat dari tulang-tulang korban pertama yang selamat. Kamu biarkan darahmu menyebar ke seluruh tubuh makhluk ini, lalu kamu hancurkan segelnya dari dalam. Tapi ingat… harganya adalah nyawamu sendiri. Kamu akan lenyap tanpa jejak sama seperti semua korban lainnya. Tidak ada yang akan tahu apa yang kamu lakukan, tidak ada yang akan mengingat namamu, dan tidak ada jejak sedikit pun yang akan tersisa dari dirimu. Kamu akan menjadi JEJAK DARAH YANG MENGHILANG selamanya.”

Reyhan berdiri diam di tepi lubang itu, angin panas berhembus kencang menerpa wajahnya, membawa bau darah dan bisikan-bisikan yang terus memanggil namanya. Ia ingat wajah rekannya Damar, ingat keluarga korban yang selalu bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada orang yang mereka cintai, ingat sepuluh tahun lamanya mencari jawaban, dan ingat ayahnya yang menghilang tanpa penjelasan. Selama ini ia hanya ingin menemukan kebenaran, ingin menangkap pelaku, ingin menyelesaikan kasus yang menghantuinya seumur hidupnya. Tapi sekarang ternyata jawabannya jauh lebih berat dari apa yang pernah ia bayangkan.

Ia tidak hanya harus memilih antara hidup dan mati. Ia harus memilih antara menjadi raja kehancuran atau menjadi pahlawan yang tidak akan pernah diakui dan tidak akan pernah diingat.

Ia mengeluarkan benda kecil yang diberikan Kala—sebuah tabung kecil yang terbuat dari tulang keras, berisi cairan hitam pekat yang bergerak sendiri di dalamnya. Ini adalah racun terakhir, satu-satunya hal yang bisa melukai makhluk yang tidak bisa dibunuh ini. Ia memegangnya erat di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang benang kain hitam yang ia temukan di lokasi kejadian pertama—benang yang selama ini menjadi satu-satunya bukti bahwa semua ini nyata dan bukan mimpi buruk belaka.

“Pilihannya sudah jelas,” kata Reyhan pelan, matanya sekarang tajam dan penuh tekad yang tidak bisa digoyahkan lagi. “Selama sepuluh tahun ini aku mengejar jejak darah yang menghilang. Aku selalu bertanya-tanya kenapa mereka tidak pernah meninggalkan apa pun, kenapa tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi. Sekarang aku tahu. Karena mereka semua mengorbankan diri mereka agar dunia tetap aman. Kalau memang aku harus menjadi salah satu dari mereka… aku terima.”

Ia melangkah maju perlahan, semakin dekat ke tepi lubang yang menganga lebar itu. Ribuan tangan darah meraihnya semakin dekat, suara bisikan semakin keras dan memohon, hawa panas semakin membakar kulitnya.

“Tapi aku tidak akan masuk begitu saja,” tambahnya lagi sambil menatap lurus ke dalam kegelapan yang paling dalam. “Aku akan masuk membawa sesuatu yang tidak pernah kalian harapkan. Aku akan menjadi darah yang tidak hanya memberi makan… tapi darah yang akan membakarmu habis dari dalam.”

1
Awan
mantap
Awan
wow
Awan
bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!