NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Florence, gadis panti yang polos, tak sengaja melihat pembunuhan oleh Lucifer Azrael—miliarder dingin yang diam-diam menguasai dunia hitam. Ia diculik ke pulau pribadi Lucifer dan dijadikan tahanan.

Di sana, Lucifer menerapkan aturan kejam dan menyebut dirinya Tuhan. Tapi di balik sikap beku itu, Florence menemukan luka masa kecilnya: ayahnya melatihnya membunuh dan membunuh ibunya di depan matanya.

Kebaikan Florence mulai meruntuhkan tembok Lucifer. Ia merawat, memasak, bahkan melukis Lucifer sebagai manusia biasa, bukan monster. Namun ketika kedekatan itu tumbuh, Lucifer membohongi dan mengurungnya lagi, takut kelemahan akan membunuhnya.

Kisahnya adalah benturan antara iman dan trauma, belas kasih dan kekuasaan. Mampukah mawar putih yang tumbuh di neraka bertahan, atau justru ikut layu bersama rajanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malaikat yang Kehilangan Sayapnya

 

Hari ke-34

Nampan datang jam 7 pagi. Masih sama: roti tawar, air putih.

Bedanya kali ini, Florence nggak banting nampan.

Dia duduk. Nafasnya pelan. Matanya sayu, bibirnya kering, pecah-pecah, ada bekas darah kemarin. Rambutnya kusut nempel di pipi. Berat badannya mungkin turun 5 kilo lebih.

Tapi dia ambil roti itu. Gigitan pertama. Keras. Hambar. Kayak makan kardus.

Kunyah. Telan. Sakit di tenggorokan.

Kunyah lagi. Telan lagi.

Air matanya netes ke roti. Asin. Setidaknya sekarang ada rasanya.

“Makan. Jangan bikin aku rugi dua kali.”

Kalimat Lucifer semalam jadi mantra. Tapi Florence plintir artinya.

Makan. Biar ada tenaga. Biar bisa manjat. Biar bisa lari. Biar bisa mukul kepala pengawal pake kursi besi itu.

Jadi ya, aku bakal makan. Bukan buat kamu. Buat aku. Buat kabur dari neraka kamu.

Dia habisin roti itu. Habis juga airnya. Perutnya nolak, mual, tapi dia paksa. Ini bukan makan. Ini isi bensin. Strategi perang.

Habis itu, dia berdiri. Pelan. Kaki gemeter. Dia jalan ke cermin di kamar mandi. Pertama kalinya dalam 33 hari.

Yang dia lihat... bukan Florence Beatrix anak panti.

Yang dia lihat itu mayat hidup. Tulang pipi nonjol. Mata coklatnya gede tapi kosong. Kulit pucat kayak mayat. Bibir luka.

Tapi...

Di balik semua itu, di balik kurus, di balik kotor, di balik sayu... tulang wajahnya masih sama. Hidungnya masih kecil. Bulu matanya masih lentik. Rambut coklatnya, walau kusut, tetap jatuh kayak sutra.

Cantiknya nggak mati. Cuma... disiksa. Dikurung. Kehilangan sayapnya.

Florence ngusap cermin. “Bertahan. Dikit lagi.”

 

Di lantai atas, ruang CCTV.

Lucifer Tidak tidur semalaman. Gelas whisky semalam Tidak kesenggol. Dia cuma duduk, nonton layar 7x24.

Dan pagi ini, dia lihat sesuatu yang bikin rahangnya mengeras.

Florence makan.

Tidak dibanting. Tidak dimuntahin. Dihabisin.

Akhirnya nurut,_ pikirnya. _Bagus. Aset pinter.

Tapi matanya nggak lepas dari layar pas Florence jalan ke cermin.

Dia lihat gadis itu berdiri di depan kaca. Kurus. Hancur. Gaun kotor. Luka di bibir.

Tapi Lucifer bukan lihat itu.

Dia lihat lengkungan leher Florence pas nunduk.

Lihat tulang selangka yang sekarang nonjol, tapi entah kenapa malah keliatan... rapuh yang indah.

Lihat mata coklat itu, sayu, tapi sorotnya... masih ada. Api kecil yang dia kira udah dia injak mati semalam.

Frustasi. Bibir kering. Mata sayu. Rambut kusut.

Kenapa... kenapa cantiknya Tidak pernah pudar?

Kata-kata terkutuk itu muncul di otaknya. Kata-kata yang dia kubur sejak di kapel: Malaikat.

Malaikat yang kehilangan sayapnya. Disiksa di neraka. Tapi sayap patah pun tetap sayap malaikat. Cantiknya beda. Cantik yang bikin dada sakit. Cantik yang bikin iblis inget surga itu ada, tapi bukan buat dia.

Lucifer matiin monitor kasar. Nggak mau lihat lagi.

Goblok. Dia tahanan. Dia mengungkit kuburan Mama. Dia cuma aset.

Tapi tangannya ngerogoh saku. Kelopak mawar kering dari kemarin masih ada. Sekarang udah jadi bubuk. Dia remes lagi. Sampai perih.

 

Hari ke-36

Florence udah bikin jadwal di otaknya.

Jam 7: Makan. Wajib.

Jam 8-10: Olahraga. Push-up di lantai. Sit-up. Walau cuma kuat 3 kali, dia lakuin. Kakinya harus kuat buat lari.

Jam 11-1: Tidur. Simpen tenaga.

Jam 2-4: Merhatiin. Dengerin langkah pengawal di luar. Kapan ganti shift. Berapa orang. Di mana kunci biasanya digantung.

Malam: Ngomong ke salib. “Tuhan, saya nggak minta mukjizat. Minta kesempatan aja. Sedetik. Cukup.”

Dia udah Tidak Menangis. Air matanya buat energi saja. Dia simpan.

Kursi besi sudah dia geser, pelan-pelan, tiap hari 1 cm. Deketin pintu. Seprai sobek sudah dia pelintir jadi tali. Disembunyiin di bawah kasur.

Dia Tidak peduli Lucifer bilang dia aset. Dia Tidak peduli Lucifer lihat dia hancur.

Yang dia peduli: Gue harus keluar. Gue harus cari tau orang tuaku beneran mati atau nggak. Gue harus hidup.

 

Hari ke-40

Nampan datang. Kali ini ada tambahan.

Sup ayam. Masih hangat.

Tidak ada catatan. Tidak ada sapu tangan. Cuma sup.

Florence diem. Ngeras. Perangkap?

Tapi perutnya bunyi. Otaknya teriak: Kalori. Protein. Tenaga buat kabur.

Dia makan. Pelan. Nikmatin. Sambil mikir.

Dia tau aku makan. Dia naikin porsi. Kenapa? Takut asetnya mati beneran? Atau...

Dia kubur pikiran itu. Jangan. Jangan mikir dia peduli. Itu racun. Itu yang bikin kamu lemah kemarin.

Di ruang CCTV, Lucifer lihat Florence ngabisin sup itu.

Bibirnya — yang udah nggak sekering kemarin — gerak pas ngunyah. Mata sayunya merem dikit pas ngerasain hangat.

Sialan.

Dia bisik ke layar, suaranya cuma buat dirinya sendiri. “Makan saja. Gemuk dikit. Biar pas kabur nanti... gue nggak gampang nangkepnya.”

Bohong. Dia tau dia bohong.

Yang bener: dia nggak sanggup lihat malaikat itu kelaparan lagi. Walau malaikat itu adanya di neraka dia. Walau malaikat itu benci dia.

Malaikat patah sayap pun... tetap lebih terang dari seluruh neraka ini.

Dan itu yang bikin Lucifer paling takut.

 

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
Arista_2
lanjuttttt kakk🥹
Elsa Sefia: siapp 🥰
total 1 replies
Elnata
aaa lanjutttt Thor 😭
jangan tamattt disinii🥺
ditunggu season berikut nya😭👍
Elsa Sefia: santai kakk, Masi lanjut kok🥰
total 1 replies
Nia Nara
Ini kok ceritanya sini sakit situ sakit ya.. Buat lucifer kuat dong thor 🤣
Elsa Sefia: sabar ya kak, raja neraka sedang tidak baik baik saja😭
total 1 replies
Arista_2
anjirrr😭
Arista_2
😭😭
Arista_2
duhh kasian Florence 🥺
Arista_2
jujur sedih, Lucifer ternyata didik dengan kejam 🥺
Arista_2
keren kak😭
Arista_2
luar biasa, cerita nya berbeda dengan yang lain. semangat terus kak🥳👍
Elnata
wahhh ahirnya, setalah banyak bab yang aku tabung, tidak sia sia😭. lanjuttt kakk udah enggak sabarr😍👍
Elsa Sefia: Siap kak🥰
Terimakasih atas dukungannya😍
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor
Elsa Sefia: siap kakk
total 1 replies
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!