Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Pagi hari di SMA Global Bangsa, biasanya diawali dengan suara knalpot motor sport yang memekakkan telinga atau jejak aroma parfum mahal yang tertinggal di sepanjang lorong sekolah. Namun hari ini, suasana terasa berbeda sekali. Udara terasa lebih berat, seolah ada aliran listrik statis yang menegangkan dan siap menyambar siapa saja yang lewat. Tidak ada satu pun yang tahu soal kejadian di kafe kemarin sore, tentang bagaimana Kiyo Anderson yang dikenal sebagai penguasa sekolah itu menyatakan perasaannya pada Bianca dengan cara yang begitu mendalam dan serius. Rahasia itu menggantung tipis di antara mereka, menciptakan jarak yang aneh sekaligus tarikan batin yang menyesakkan dada.
Kiyo berjalan melewati gerbang sekolah dengan langkah panjang dan pasti, tangannya menggenggam tali tas milik Bianca dengan cara yang menunjukkan rasa memiliki yang kuat. Ia sama sekali tidak peduli pada tatapan bingung atau bisikan siswa lain yang melihat kelakuan aneh itu. Matanya hanya fokus ke depan, namun rahangnya terus mengeras setiap kali ia melihat Bianca berusaha menarik napas panjang seolah terbebani.
"Kak, pelan-pelan... aku capek," bisik Bianca sambil berusaha mengimbangi langkah kaki Kiyo yang begitu lebar dan cepat.
Kiyo tidak menghentikan langkahnya, ia justru mempererat sedikit genggamannya pada tali tas itu. "Ikutin aja, Bi. Gue nggak mau lo jauh-jauh dari gue hari ini."
Di depan deretan loker kelas dua belas, langkah mereka terhenti karena ada sosok yang berdiri menghalangi jalan. Gwen sudah ada di sana, bersandar santai di dinding dengan gaya angkuh yang sudah menjadi ciri khasnya. Di sampingnya ada Wayne yang tampak sibuk mengunyah permen karet sambil memainkan gantungan kunci motor di tangannya. Wayne yang juga merupakan pacar Isabella, melirik ke arah Bianca dengan dahi berkerut. Sebagai sahabat dekat Gwen, ia paham betul kalau gadis itu sedang dalam kondisi siap bertempur.
"Pagi, Yo. Ketat banget penjagaannya, takut barang berharga hilang atau takut ketahuan kalau lo itu sebenernya tukang maksa?" sindir Gwen dengan nada rendah yang penuh tantangan.
Kiyo berhenti tepat di hadapan kakaknya, menatap tajam dengan sorot mata yang terasa bisa membunuh. "Bukan urusan lo, Gwen. Minggir, jangan bikin gue emosi pagi-pagi."
"Gue nggak nanya sama lo, bocah," balas Gwen dengan nada sinis. Ia lalu beralih menatap Bianca, matanya menyipit meneliti setiap ekspresi yang terlihat. "Bi, muka lo pucat banget. Kiyo bikin lo nggak tidur semalam gara-gara obsesinya?"
Dari arah belakang, Sunny berlari kecil menghampiri dengan wajah penuh kekhawatiran. Sebagai satu-satunya sahabat sejati yang dimiliki Bianca, ia langsung merasakan suasana yang tidak enak dan penuh tekanan di sekitar loker itu. Namun, begitu ia sampai cukup dekat, langkahnya perlahan melambat dan keberaniannya seolah menguap begitu saja saat melihat tatapan tajam Kiyo serta aura dominan yang dipancarkan Gwen.
Sunny bukan tipe gadis pemberani yang berani melabrak siapa pun. Ia sangat paham siapa keluarga Anderson itu dan betapa kuatnya pengaruh mereka di sekolah ini, juga paham betul posisinya yang hanya siswa biasa.
"Bi..." panggil Sunny dengan suara yang hampir tak terdengar. Ia berdiri sekitar dua meter dari mereka, tangannya meremas tali tas punggungnya sendiri karena gugup. "Lo... lo nggak apa-apa, kan?"
Bianca melirik sekilas ke arah Sunny, lalu kembali menundukkan wajahnya. Ia meremas ujung seragamnya dengan kedua tangan, bahunya sedikit bergetar seolah sedang ketakutan, sebuah gerakan kecil yang sengaja ia rancang sedemikian rupa agar terlihat sangat wajar.
"Aku nggak apa-apa, Sun... Kak Kiyo cuma mau nganter aku ke kelas," jawab Bianca lirih, suaranya terdengar lemah persis seperti orang yang sedang menahan tangis agar tidak tumpah.
Sunny menggigit bibir bawahnya. Ia ingin sekali menarik tangan Bianca lalu membawanya pergi dari sana, tapi kakinya terasa berat seolah terpaku di lantai. Ia merasa sangat tidak berdaya, sekaligus membenci dirinya sendiri yang terlalu penakut untuk bisa menolong sahabatnya.
'Maafin aku ya, Sunny. Rasa takut dan ketidakberdayaan kamu itu justru bahan utama yang paling pas buat rencana ini. Tetaplah jadi saksi betapa "tertekan" dan "tertindas"nya aku di depan mereka,' batin Bianca dengan perhitungan yang matang.
Gwen tertawa keras dan kering melihat Sunny yang hanya diam mematung. Ia kembali menatap Kiyo dengan senyum yang penuh penghinaan. "Liat tuh, Yo. Bahkan sahabatnya aja takut mau deketin dia gara-gara lo. Lo ngerasa hebat bikin semua orang di sekitar Bianca ketakutan?"
"Gue nggak butuh bacotan lo, Gwen! Lo nggak tahu apa-apa soal kita berdua!" raung Kiyo. Egonya yang sedang dalam keadaan sensitif karena pernyataan cintanya kemarin belum dijawab, kini meledak begitu saja karena dipancing oleh kakaknya sendiri.
"Gue tahu lebih banyak dari yang lo kira," balas Gwen tegas. Ia melangkah maju sampai dada mereka hampir bersentuhan, lalu membisikkan sesuatu di telinga Kiyo dengan nada yang sangat tajam dan menusuk. "Cewek yang nyaman nggak bakal kirim pesan ke gue tengah malem, bilang kalau dia merasa tercekik setiap kali deket sama lo."
Itu adalah umpan yang sengaja dibuat Bianca lewat pesan singkat yang dikirim ke Gwen semalam, sebuah kebohongan cerdik yang dirancang khusus untuk memecah belah hubungan kakak beradik itu. Dan Kiyo dengan wataknya yang mudah meledak, langsung memakan umpan itu mentah-mentah.
Bugh!
Satu pukulan keras mendarat tepat di rahang Gwen. Suasana lorong yang tadinya hanya berisi bisikan-bisikan, seketika berubah menjadi suara teriakan kaget dari siswa-siswa yang ada di sana. Kiyo sudah hilang kendali atas emosinya. Wayne yang terkejut luar biasa melihat sahabatnya dipukul, langsung berlari maju dan menahan tubuh Kiyo dari belakang sekuat tenaga.
"Yo! Sadar, anjir! Ini sekolah, gila!" teriak Wayne sambil memiting kedua lengan Kiyo agar tidak bergerak. "Lo berdua kenapa sih?! Masalah sepele doang sampe main fisik!"
"Bukan masalah sepele, Wayne! Dia selalu mau ambil apa yang punya gue!" raung Kiyo dengan pandangan liar, ia terus meronta dalam cengkeraman Wayne.
Gwen tersungkur dan punggungnya menabrak lemari besi loker hingga terdengar bunyi dentuman yang nyaring. Ia mengusap darah yang mulai keluar dari sudut bibirnya, lalu tertawa lebar dan kering sembari berdiri perlahan. "Pukul lagi, Yo! Ayo! Biar Bianca liat siapa monster sebenernya di sini!"
"STOP! CUKUP!" Bianca berteriak histeris, ia menutup kedua telinganya dengan tangan. "Tolong berhenti! Aku benci kalian berdua!"
Bianca langsung berlari menjauh dari keributan itu, air mata yang sudah ia siapkan sebelumnya mengalir deras membasahi pipinya. Sunny yang melihat pemandangan itu akhirnya mendapatkan keberanian untuk bergerak. "Bi! Bianca, tunggu!" teriak Sunny sambil berlari mengejar sahabatnya, meninggalkan kekacauan besar dan dua anak keluarga Anderson yang kini penuh rasa benci satu sama lain.
****
Sore harinya di apartemen Bianca.
Suasana di sini sangat kontras dengan keributan berdarah yang terjadi di sekolah tadi pagi. Bianca duduk tenang di sofa sambil menyesap minuman cokelat hangat, sementara Rebecca sedang asyik mengoleskan masker wajah, dan Isabella sibuk memeriksa serta merapikan kuku-kukunya.
"Gila, Bi! Wayne cerita ke gue tadi di telepon, dia sampe pegel banget misahin dua macan itu. Kiyo sama Gwen beneran kayak orang yang mau saling bunuh," ujar Isabella sambil terkekeh puas. "Wayne beneran bingung, dia ngira lo itu semacam magnet yang bawa bencana ke mana pun lo pergi."
"Magnet bencana? Gue lebih suka disebut sutradara," sahut Bianca dengan nada datar, matanya menatap kosong ke arah layar televisi yang mati.
Rebecca melepas maskernya perlahan, lalu menatap Bianca dengan tatapan bangga. "Pilihan lo buat nggak jawab penembakan Kiyo itu emang langkah paling cerdas. Sekarang dia ngerasa terancam, dia ngerasa posisinya nggak aman gara-gara Gwen terus ada di dekat lo."
"Dan Gwen," sela Bianca sambil tersenyum penuh rencana, "dia ngerasa jadi pahlawan yang terlambat datang, yang harus 'nyelamatin' gue dari adiknya yang terlalu posesif dan kasar. Dua-duanya udah masuk ke dalam jebakan ego mereka masing-masing dengan sempurna."
"Terus gimana soal Sunny? Dia tadi nanya-nanya gue terus, dia beneran khawatir banget sama lo," tanya Isabella dengan nada yang sedikit lebih serius.
Bianca terdiam sejenak. Bayangan wajah Sunny yang ketakutan dan tidak berdaya tadi pagi sempat melintas di benaknya. "Sunny itu orang paling tulus yang pernah gue kenal. Justru karena ketulusan dan rasa takutnya itu, dia jadi saksi mata paling sah dan bisa dipercaya buat ngebuktiin kalau gue itu korban di mata semua orang. Gue butuh dia tetep kayak gitu."
"Lo nggak merasa jahat sama dia?" tanya Rebecca dengan rasa ingin tahu.
Bianca menatap Rebecca dengan sorot mata yang terasa dingin dan jauh, sorot mata yang menunjukkan betapa rasa dendam itu sudah merasuk dalam dan menggerogoti hati nuraninya. "Dunia ini jauh lebih jahat sama Ayah, Bec. Perasaan Sunny itu harga kecil yang harus dibayar buat ngeruntuhin kekuasaan Maxwell Anderson. Gue nggak bakal berhenti sampe dua anak kesayangannya itu hancur berkeping-keping."
"Habis ini apa? Lo bakal bikin mereka berantem lagi pas pulang ke rumah?" tanya Isabella dengan antusias.
"Bukan cuma sekadar berantem. Gue mau mereka saling benci sampe nggak mau nyebut nama satu sama lain lagi," desis Bianca penuh tekad. "Gue bakal bikin Kiyo makin gila karena gue bakal 'menghilang' sementara waktu dan menjauh, dan di saat yang sama, gue bakal kasih harapan kosong ke Gwen. Biar mereka berdua ngerasain gimana rasanya dipermainkan oleh sesuatu yang mereka sebut cinta."