Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Disembunyikan
Malam itu terasa sunyi, angin berhembus pelan di luar Mansion Virello. Cahaya bulan masuk begitu samar, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer yang dingin.
Alya duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Tatapannya kosong, pikirannya penuh. Sejak kejadian beberapa hal lalu, ketika Arkan mulai menunjukkan sisi yang berbeda, hatinya justru semakin kacau.
Bukan karena takut lagi, tapi karena ia mulai tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Kenapa aku mulai terbiasa?" gumamnya pelan.
Padahal seharusnya dia membenci Arkan, pria itu dingin, manipulatif, dan memaksanya masuk ke dalam dunia yang tak pernah Alya inginkan.
Alya menggigit bibirnya pelan, ada sesuatu dalam cara Arkan melindunginya, sesuatu yang membuat hatinya goyah. Dan itu sangat berbahaya.
Di sisi lain mansion, Arkan berdiri di balkon ruang kerjanya. Segelas minuman di tangannya yang tak tersentuh. Tatapannya tajam menembus gelap malam.
"Apa sudah dipastikan, siapa orang itu?" suaranya dingin.
Seorang pria berdiri di belakangnya.
"Ya, Tuan. Damar mulai bergerak, dan dia mengumpulkan orang-orang lama yang dulu setia pada mendiang ayah anda."
Arkan tersenyum tipis, "Tepat seperti apa yang sudah kuduga."
"Tapi ada satu hal lagi, Tuan."
"Katakanlah," ucapnya tanpa menoleh.
"Nama Alya mulai di sebut oleh mereka."
Raut wajah Arkan langsung berubah, tatapan yang berbahaya. "Apa maksudmu?"
"Mereka curiga, dan mereka pikir wanita itu punya hubungan dengan masa lalu keluarga Virello."
Arkan menggenggam gelas itu erat, hingga gelas itu mulai retak. "Cari tahu siapa yang mulai menyebarkan itu, dan hentikan dengan cara apa pun."
"Baik, Tuan."
Langkah kaki pria itu menjauh, dan meninggalkan Arkan sendiri. Arkan menutup mata sejenak, nama Alya terus muncul di dalam pikirannya. Dan itu adalah kelemahan yang tidak boleh ada.
Pintu kamar Alya terbuka tanpa suara, dan Arkan sudah berdiri di sana.
"Ini sudah malam, kenapa kamu belum tidur?" tanyanya dingin.
Alya mengalihkan pandangannya, "Aku tidak bisa tidur."
Arkan masuk tanpa menunggu izin, ia menutup pintu lalu berjalan mendekat.
"Apa ada sesuatu yang sudah mengganggu pikiranmu?"
Alya diam, ia tidak berkata apa-apa. Tapi matanya berkata jujur.
Arkan berhenti tepat di depannya, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh wajah Alya. Untuk sesaat, hanya ada jarak tipis di antara mereka.
"Jawab aku, Alya."
Alya menghela napas, "Aku cuma sedikit lelah."
"Bukan itu jawaban yang aku inginkan."
Alya mengepalkan tangannya, "Sudah aku bilang, bahwa aku cuma lelah."
"Dan aku bilang, itu bukan jawaban yang tepat," ucap Arkan.
Alya menatap Arkan, untuk pertama kalinya, tanpa menghindar. "Aku tidak mengerti tentang hidupku lagi, dan aku tidak tahu harus membencimu atau berhenti melawan."
Arkan terdiam, kalimat itu lebih berbahaya daripada sebuah ancaman apa pun.
"Kalau kamu berhenti melawan," katanya pelan. "Maka itu menjadi pilihanmu."
"Pilihan? Sejak kapan aku punya pilihan di hidup ini?"
Tatapan Arkan tiba-tiba melembut, "Aku tidak pernah melarangmu pergi."
"Itu bohong," bisik Alya. "Nyatanya, kalo aku pergi, aku akan mati."
Arkan tidak menyangkal apa yang Alya katakan, dan itu adalah jawaban paling jujur yang ia berikan.
Alya menunduk dengan suara yang bergetar, "Lihat, sekarang aku sudah terjebak di sini bersamamu."
Langkah Arkan maju satu langkah, kini jarak mereka benar-benar hilang. "Lalu, apa itu membuatmu takut?"
Alya menggeleng pelan, "Tidak. Karena yang membuatku takut, sekarang sudah tidak aku takuti lagi."
Arkan menatapnya lama, ada sesuatu di dalam dadanya. Perasaan yang tak ia kenali, yang tidak ia inginkan. Tangannya menyentuh dagu Alya, mengangkatnya perlahan.
"Kalau begitu, jangan biarkan hal itu terjadi."
Alya menatapnya bingung, "Hal apa?"
"Jangan terbiasa denganku," ucap Arkan dingin.
Alya menelan ludah, "Kenapa begitu?"
Tatapan Arkan berubah menjadi lebih gelap, "Karena dunia yang aku miliki, kapan saja akan menghancurkanmu."
"Dan kalau aku sudah hancur, apa yang akan kamu lakukan?"
Sebelum Arkan menjawab pertanyaan Alya, tiba-tiba suara keras terdengar dari luar.
BRAK!
Pintu utama mansion terbuka dengan paksa, langkah kaki terdengar berlari, dan suara teriakan menggema di dalam mansion itu.
Arkan langsung berubah dalam sekejap, ekspresi lembut itu seketika hilang. Digantikan oleh sosok mafia yang dingin dan mematikan.
"Tetap di sini," perintahnya tegas.
"Tapi..."
"Jangan keluar, Alya. Ini perintah," potong Arkan cepat.
Arkan langsung pergi, meninggalkan Alya sendirian. Jantungnya berdegup dengan cepat, ia berdiri dengan rasa takut dan juga penasaran.
Beberapa detik berlalu, Alya melangkah keluar kamar dengan hati-hati. Suara keributan semakin jelas, ia mengintip dari balik dinding, dan matanya langsung melebar.
Beberapa pria bersenjata berdiri di ruang tengah, dan di antara mereka ada Damar Virello, ia tersenyum licik.
"Lama tidak bertemu, adikku."
Arkan berdiri tenang di hadapannya, tapi aura membunuhnya terasa jelas.
"Apa yang akan kamu lakukan di rumahku?" tanya Arkan dingin.
Damar tertawa pelan, "Rumahmu? Kita lihat saja nanti."
Tatapan mereka saling mengunci, dua saudara, atau dua musuh yang saling berhadapan.
"Pergi sebelum aku kehilangan kesabaran," kata Arkan.
"Ah... tapi aku datang bukan untuk bertarung."
"Lalu, untuk apa kamu datang ke rumahku?"
Tatapan Damar bergeser pelan ke arah tangga, lebih tepatnya ke arah Alya. Sadar dirinya sedang di tatap, napas Alya langsung tercekat.
Ia ingin mundur, tapi sudah terlambat. Karena Damar sudah melihatnya, dan tersenyum lebar.
"Jadi... ini istri kecilmu itu."
Arkan langsung bergerak, dalam sekejap ia berdiri di depan Alya. Berusaha melindungi Alya dari ancaman Damar.
"Jangan lihat dia," desisnya.
Damar hanya tertawa pelan, "Cukup menarik, tapi aku penasaran, apakah dia tahu siapa dirinya sebenarnya?"
Alya membeku, kalimat itu begitu menusuk baginya.
"Apa maksudmu?" suara Arkan berubah tajam.
Damar menatapnya penuh arti, "Ah, jadi kamu belum mengatakan yang sebenarnya?"
Ketegangan mencapai puncaknya, Alya menatap punggung Arkan. Ada sesuatu yang disembunyikan tentang dirinya, tentang masa lalunya, dan tentang semuanya.
"Arkan," bisik Alya pelan.
"Keluar dari rumahku, sekarang," ucapnya dingin pada Damar.
Damar kembali tersenyum, "Baiklah, tapi ingat, rahasia yang disembunyikan akan selalu berdarah saat semuanya terungkap."
Setelah berkata seperti itu, Damar akhirnya pergi dan meninggalkan keheningan yang mencekam.
Alya berdiri kaku, pikirannya kacau, jantungnya berdetak tak teratur.
"Arkan," panggilnya dengan suara yang gemetar.
Pria itu akhirnya berbalik, tatapannya kembali dingin. Seolah tidak pernah terjadi apa pun.
"Apa yang dia maksud?" tanya Alya. "Hal apa yang kamu sembunyikan dariku?"
Arkan menatapnya lama, "Hal yang akan membuatmu membenciku, lebih dari kamu membenciku sekarang."
Alya membeku, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa luka yang selama ini Alya sembunyikan, belum seberapa dibandingkan dengan kebenaran yang akan datang.