Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6-Sosok wanita berdarah di Kaca, ternyata Nyata
Napas Elara masih sedikit memburu saat ia sampai di toilet wanita yang terletak di ujung koridor sayap utama gedung sekolah. Suasana di sini sangat sepi, dingin, dan hening. Hanya terdengar suara tetesan air yang jatuh perlahan dari keran yang agak bocor.
Tuk... tuk... tuk...
Elara segera berjalan menuju wastafel utama yang tepat berhadapan dengan sebuah cermin besar yang sangat jernih. Cermin ini sama persis modelnya dengan yang ada di kantin tadi.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia memutar keran air. Air dingin langsung mengalir deras.
Wusss...
Dengan kedua telapak tangannya, Elara menyiramkan air tersebut ke wajahnya berkali-kali. Air dingin itu menyentuh kulitnya, memberikan sensasi segar yang ia harapkan bisa menghilangkan rasa pusing dan bayangan menakutkan tadi.
"Sadar Elara... sadar..." bisiknya pelan pada pantulan dirinya sendiri di cermin. "Mungkin Keisha benar... mungkin aku cuma salah liat. Kebanyakan capek dan tegang habis berantem sama Valerie. Itu pasti cuma imajinasi doang."
Elara menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia pun mengucek matanya, lalu mulai merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan basah terkena air.
Namun...
Saat wajahnya kembali terlihat jelas di pantulan cermin...
Darah Elara seketika membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
Di balik pantulan kaca itu, tepat di belakang bahunya, sosok wanita itu muncul lagi! Kali ini tidak samar-samar, tapi sangat jelas, sangat nyata, dan posisinya jauh lebih dekat daripada tadi!
Wanita itu berdiri kaku tak bergerak. Ia mengenakan gaun panjang kuno yang sudah lusuh dan compang-camping. Baju putih itu kini berubah warna menjadi merah gelap pekat, penuh dengan noda darah segar yang masih menetes-netes ke lantai toilet. Tetes... tetes...
Rambut hitam pekatnya sangat panjang dan lebat, menutupi seluruh wajahnya hingga tidak terlihat bentuk mukanya sama sekali. Tapi Elara bisa merasakannya... wanita itu sedang menatapnya tajam, sangat tajam, penuh dengan keinginan yang kuat.
Dan yang paling mengerikan... sosok itu perlahan mulai bergerak maju. Kakinya tidak melangkah, tapi tubuhnya melayang mendekati pantulan Elara di kaca!
Perlahan... sangat perlahan... wajahnya mulai terangkat ke atas. Rambut-rambut itu tersibak sedikit, memperlihatkan mulut yang terbelah lebar hingga ke telinga! Menggambarkan sebuah senyuman yang sangat jahat, sangat lebar, dan sangat menyeramkan.
Mata Elara terbelalak luas, kakinya terasa kaku tak bisa bergerak. Rasa ngeri menjalar ke seluruh tulang.
"AAAAAAARRGGHH!!! JANGAN DEKAT!! KAMU MAU APA DARIKU!!!"
Teriakan histeris Elara menggema keras memecah keheningan toilet itu.
Tiba-tiba, suara berat dan serak terdengar langsung di telinga Elara, seolah-olah sosok itu berbisik tepat di lehernya.
"Aku mau kamu..."
Suara itu dingin, menusuk, dan penuh permintaan.
"JANGANN!!! PERGI KAMU!!! JANGAN GANGGU AKUUU!!!"
Elara memejamkan matanya erat-erat, menutup telinganya dengan kedua tangan, dan berjongkok ketakutan. Ia menunggu sesuatu yang buruk terjadi, menunggu rasa sakit, atau apa pun.
Namun...
Hening.
Tidak ada apa-apa. Tidak ada sentuhan dingin, tidak ada suara lagi.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, Elara perlahan membuka matanya dengan gemetar.
Ia menatap cermin lagi.
Kosong.
Sosok wanita menyeramkan itu sudah hilang. Menghilang begitu saja seolah tidak pernah ada. Hanya terlihat pantulan wajahnya sendiri yang pucat, ketakutan, dan penuh air mata.
Tanpa berpikir dua kali, Elara dengan kasar memutar dan mematikan keran air. KREK!
Ia tidak peduli lagi wajahnya masih basah, rambutnya berantakan, atau bajunya sedikit lepek. Kakinya bergerak sendiri secepat kilat.
Elara berlari meninggalkan toilet itu seolah ada setan yang mengejarnya. Pintu toilet terbanting keras saat ia menerobos keluar, meninggalkan rasa ngeri dan dingin yang masih menempel kuat di sekujur tubuhnya.
Berikut adalah kelanjutan ceritanya yang penuh aksi, momen manis, dan sedikit pertengkaran seru.
Napas Elara memburu. Kakinya bergerak secepat kilat menyusuri koridor panjang sekolah yang terasa tak berujung. Pikiran dan matanya masih penuh dengan bayangan sosok menyeramkan tadi, membuatnya tidak berani menoleh ke belakang atau berhenti sedikit pun.
Brak!
"Aduh!"
Karena terlalu fokus berlari dan tidak melihat jalan, Elara menabrak sesuatu yang sangat keras dan kokoh layaknya tembok beton. Tubuhnya terpental sedikit, dan ia hampir jatuh terduduk jika saja sepasang tangan kuat tidak segera menangkap pinggangnya dengan cepat.
Deg..!
Elara membuka matanya lebar. Ternyata yang ditabraknya bukan tembok, melainkan seorang manusia. Dan saat ia mendongak, wajah tampan namun dingin itu tepat berada di hadapannya.
Itu Arkan Mahendra.
Jarak wajah mereka sangat dekat, hanya berpisah beberapa senti saja. Hembusan napas Elara terasa menyentuh dada Arkan, sementara tatapan mata tajam Arkan terkunci tepat ke dalam manik mata Elara. Waktu seakan berhenti berputar. Angin sepoi-sepoi dari jendela koridor menerbangkan helai rambut Elara yang basah, menyapu pipi Arkan.
Di belakang mereka, Celio dan Rafael yang baru saja keluar dari kelas berhenti melihat pemandangan itu.
"Wihhh..." Celio menyengir lebar sambil menyikut lengan Rafael. "Lihat tuh Raf, dramatis banget bro. Gaya falling in love beneran."
Rafael hanya tersenyum simpul sambil menggelengkan kepala, menikmati momen canggung namun romantis itu. "Sstt... diam dulu Cel, liat dulu kelanjutannya."
Namun, suasana manis itu tidak bertahan lama.
Arkan seketika tersadar dan dengan kasar melepaskan tangan yang memegang pinggang Elara, lalu mendorong bahu gadis itu agar menjauh. Wajahnya kembali datar dan dingin, bahkan lebih dingin dari biasanya.
"HEH! Jalan itu pakai mata apa pakai keledai?!" bentak Arkan ketus. "Lari-larian gak jelas, bahaya tahu gak?!"
Elara yang tadi sempat deg-degan karena momen itu, kini langsung naik pitam mendengar omelan kasar itu. Ia membetulkan bajunya yang sedikit berantakan.
"Kamu juga dong! Jalan juga jangan ngehalangin jalan! Siapa suruh berdiri di tengah koridor kayak tiang listrik!" balas Elara tidak mau kalah.
Arkan memicingkan matanya, tidak percaya ada cewek yang berani membentak balik dia. "Berani banget ya lo ngomong gitu sama gue? Lo yang nabrak, lo yang salah, eh malah marah-marah. Dasar cewek ceroboh dan suka cari masalah."
"Aku ceroboh karena aku lagi buru-buru! Lagian kamu juga dong, jalan aja kaku banget sih kayak patung!" seru Elara memprotes. "Kamu tuh ya, cakep dikit sombong! Paling gak suka aku sama cowok sok keren kayak kamu!"
Jleb!
Mendengar kata 'sok keren', telinga Arkan terasa panas. Ia hendak membalas dengan kata-kata yang lebih tajam lagi, tapi Celio dan Rafael buru-buru maju melerai mereka.
"Udah udah bro! Sikat!" seru Celio sambil berdiri di tengah-tengah. "Gak usah diperpanjang, kan gak sengaja juga. Santai bro, santai."
"Iya Elara, maaf ya Arkan emang bawel kalau lagi badmood," tambah Rafael mencoba menenangkan.
"Hmph!" Arkan mendengus kasar, lalu menatap Elara tajam. "Gue gak peduli lo siapa. Hati-hati lain kali kalau jalan. Jangan sampai gue tabrak lo beneran."
"Siapa juga yang mau ditabrak sama kamu! Mimpi aja!" jawab Elara ketus.
Dengan perasaan dongkol dan kesal yang bercampur aduk, Elara pun berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi. Rasanya kesal sekali, baru saja ketakutan sama hantu, eh ketemu cowok menyebalkan.
Melihat Elara pergi, Celio menepuk punggung Arkan. "Wih galak banget sih lo, Bro. Padahal tadi momennya bagus banget lho. Sayang banget dibuang."
"Udah ah, gak penting," jawab Arkan singkat, meski dadanya terasa aneh, ada rasa hangat yang tadi singgah sesaat. "Yuk, kita ke lapangan basket. Mau latihan sebelum bel masuk."
"Iya ayo!" jawab Rafael dan Celio serempak.
Mereka bertiga pun berjalan menuju arah sebaliknya, menuju gedung olahraga untuk latihan basket, meninggalkan koridor yang kembali sepi.
Dengan napas masih memburu dan wajah yang terlihat sangat kesal, Elara kembali berjalan menuju meja tempat Keisha menunggu. Langkahnya kencang dan ia mendengus kasar saat duduk kembali di kursinya.
Melihat ekspresi wajah Elara yang masam mencuka, mata Keisha langsung membelalak penasaran.
"Eh kok baliknya gak lama? Terus kenapa sih muka kamu kayak habis makan cabe rawit segenggam gitu?" tanya Keisha sambil terkikik. "Kenapa El? Di toilet ada apa? Kok wajah kamu pucat terus sekarang malah marah-marah gitu?"
Elara meneguk air minumnya dengan agak kasar, lalu mendelik kesal. "Aku gak apa-apa Kei... cuma tadi pas balik, aku nggak sengaja nabrak cowok menyebalkan!"
"Siapa? Siapa?" tanya Keisha makin penasaran, matanya berbinar.
"Si Arkan itu lho!" gerutu Elara sambil menumpukkan dagu di atas meja. "Jalan aja gak liat-liat, berdiri di tengah koridor kayak tiang listrik! Pas aku nabrak, eh dia malah marah-marah nyalahin aku! Padahal kan dia juga yang salah! Sombong banget sih cowok itu! Ganteng dikit merasa paling hebat!"
Elara mengaduk-aduk makanannya dengan kesal, meluapkan emosinya pada nasi di piring.
Mendengar nama Arkan disebut dan melihat tingkah manja Elara, Keisha malah tersenyum jahil dan mulai terkikik-kikik.
"Halah... Halahhh..." Keisha menyenggol lengan Elara pelan. "Jujur deh El, dalem hati kamu seneng kan bisa kontak fisik sama Arkan? Itu kan cowok paling idaman se-sekolah!"
"Seneng apanya! Aku kesel banget tau!" tolak Elara keras.
"Ealah pura-pura marah," goda Keisha makin menjadi-jadi. "Inget ya El pepatah lama bilang: Dari benci jadi cinta, dari cinta jadi melarat eh maksudnya jadi sayang! Kalau kalian saling benci gitu, pertanda besar lho nanti bakalan jodoh!"
Keisha tertawa renyah melihat wajah Elara yang makin merah padam.
"Apasih Kei! Ngawur aja kamu! Mana mungkin aku sama cowok dingin, sombong, dan galak kayak dia! Gak bakal pernah!" seru Elara sambil memukul pelan lengan Keisha.
"Hahaha ampun ampun! Iya deh iya gak bakal!" Keisha masih tertawa lepas.
"Udah ah jangan bahas cowok menyebalkan itu!" Elara memalingkan wajah, tapi diam-diam sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis. Entah kenapa, rasa kesal itu bercampur dengan perasaan aneh yang membuat jantungnya berdebar lagi.
"Yaudah yaudah gak dibahas lagi deh," jawab Keisha menyerah sambil masih tersenyum jahil. "Sekarang makan lagi yang banyak ya sayang, biar tenaga balik lagi. Nanti kan masih ada pelajaran susah."
"Iya deh..."
Suasana di meja mereka pun kembali menjadi hangat dan ceria. Kengerian di toilet dan pertengkaran dengan Arkan seakan terlupakan sejenak, digantikan oleh tawa renyah dua sahabat yang sedang menikmati waktu istirahat mereka.