Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: HARI PERTAMA JADI BU NYAI BENERAN
Hari ke-41 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Yang Menang Sidang, Sudah semakin deket sama Ustadz Rayan Tapi Kamar Masih misah.
Jam 06.00, aku bangun. Sendirian. Di kamar sebelah Ustadz. Sesuai kontrak: Nggak ada kontak fisik kalau aku belum siap.
Dan jujur, aku belum siap. Abis perang sama Kyai Zaid, otakku masih mode bertahan hidup. Bukan mode bucin.
Tapi tiba-tiba... pintu kamarku diketok?
"Zahra," suara Rayan dari luar. "Udah bangun?"
Aku noleh. Kaget. "Udah, Tadz. Kenapa?"
"Ada proposal," jawabnya. "Penting.."
"Tadz, ini apaan? Baru juga menang sidang belum sehari sudah bikin skripsi lagi."
"Ini bukan skripsi, Zahra, ini blueprint, Ndalem kita sepi, kas menipis, karena kasus kemarin banyak santri yang keluar, kalo nggak gerak cepat, kita menang sidang tapi kalah ekonomi."
Aku ambil proposal, tebelnya 10 lembar.
"Tadz aku tu mantan barista yang dadakan jadi Bu Nyai, biar belom pinter ngaji. Bukan Manager BUMN. Yang aku ngerti cuma cara bikin latte art bukan bikin laporan arus kas."
"Nah itu," kata Tadz Rayan. Duduk di sebelahku.
"Justru itu kelebihan kamu, Kamu ngerti apa yang Ndalem nggak ngerti. Branding"
Aku melongo, "Branding? Mau pasang neon box 'Ndalem Al Hikmah: Rasa pesantren harga kaki lima, gitu?"
Rayan ngakak, "Tapi lebih syar'i dengan rencanaku,"
Di map, judulnya: "Rencana Pemulihan Citra Ndalem Al-Hikmah Pasca Fitnah". Tebelnya 10 lembar.
---
Jam 09.00, rapat darurat di ruang tamu. Peserta: Aku, Rayan, Bunda, Mbak Yuni, Kang Jono, Humairah. Humairah bawa buku gambar. Katanya notulen.
"Agenda pertama," kata Rayan. Suaranya nyampe ke aku tanpa harus teriak. Akustik Ndalem bagus. "Kembalikan kepercayaan wali santri. Caranya: Open House Ndalem. Kita undang semua warga, kita makan-makan, Gratis, Kita buktikan Ndalem kita bersih, bukan sarang fitnah."
Mbak yuni angkat tangan, "Anggaran menipis, Tadz,"
Aku tepok jidat, "Oke, plan B, gak pake makan gratis, "Tadz, gimana kalau... demo masak? 'Kajian Rasa'. Abis ngaji, emak-emak praktek bikin Kopi Ndalem. Bahan murah. Aku yang ngajar. Biar mereka seneng."
Kang Jono nyentil sarung. "Masuk, Bu Nyai. Emak-emak itu netizen versi offline. Sekali mereka bilang Ndalem bagus, satu kampung nyebar."
Rayan natap aku. Dari jauh. Matanya... apresiatif. Kayak guru liat muridnya pinter.
"Bagus, Zahra," katanya. Pelan. "Kamu... pinter."
Aku langsung nunduk. Kuping panas. Pujian doang padahal. Tapi kok efeknya kayak ditembak?
"Eh... ya... ya kan aku barista, Tadz," jawabku. Grogi. "Jualan ide... udah biasa."
Bunda Aisyah senyum-senyum liat kita. "Wes to, Nak. Terusno. Agenda kedua apa?"
"Agenda kedua: Santri baru," jawab Rayan. Batuk dikit. Kayak sadar juga tadi kelepasan muji. "Kita harus jemput bola. Zahra, ada ide?"
Aku mikir. Terus keceplosan. "TikTok."
Satu ruangan hening.
"TikTok, Tadz," ulangku. "Humairah yang jadi talent. 'Sehari Jadi Santri Ndalem'. Bangun subuh, ngaji, terus... ngopi. Santri zaman now kan suka yang estetik, Biar mereka tau mondok itu nggak kaku, masih tetep bisa gaul,"
Humairah langsung berdiri. "Aku mau! Nanti followerse aku sejuta, nanti aku bisa endore sarung!"
Rayan nahan senyum. "Zahra... kamu yakin? Nanti dikira Ndalem main-main."
Aku nantang. Dikit. "Tadz, Ndalem kita hampir mati gara-gara mainnya terlalu serius. Sekali-sekali main TikTok nggak dosa. Yang dosa itu mainin hati orang."
Plak. Bunda Aisyah nepuk paha. "Nah! Itu! Nak, turutin kersane bojomu. Kemarin pas sidang aja kyai-kyai pada kalah debat. Masak urusan TikTok kamu takut."
Rayan diem. Terus ngangguk. "Iya, Bun. Iya, Zahra. Kita coba."
Pas ngomong namaku, suaranya... lembut. Beda. Aku pura-pura nulis di buku biar nggak keliatan salting.
---
Jam 13.00, Bu Nyai Fatimah dateng. Bawa karung singkong sama amplop.
"Bu Nyai," kataku. Salim dari jarak 1 meter. Sopan. "Ini buat apa?"
"Buat 'Kajian Rasa'-mu, Nduk," jawabnya. "Terus ini sumbangan dari jamaahku. Katanya buat beli gas. Biar kamu nggak demo masak pake kayu bakar."
Bu Nyai Fatimah nengok Tadz Rayan, "Besok akan ada utusan dari Kemenag, kabupaten, Mau tabayyun langsung. Denger-denger mau nawarin program pesantren ramah anak. Kalau lolos Ndalem dapat bantuan dana, Siap-siap jangan sampai Bu Nyaimu ini presentasi pake daster".
Aku langsung ngaca ke sendok, "Astaghfirullah, mukaku kayak begadang tiga hari,"
"Emang, makanya istirahat,"
"Nggak bisa Tadz," balasku "Aku harus bikin konten Tik Tok, harus bikin menu kopi Ndalem. Harus ngapain lagi ya ... ?
Humairah angkat papan, Gambarnya: Bu Nyai Zahra pegang toya, tulisannya: "BU NYAI AVENGERS"
---
Malam, jam 21.00. Aku di kamar. Nulis konten TikTok. Pintu diketok lagi.
"Zahra," suara Rayan. "Besok Kemenag datang. Kamu... gugup?"
Aku buka pintu dikit. Cuma kepalaku yang nongol. "Dikit, Tadz. Tapi Bismillah aja."
Rayan ngangguk. Dari luar. Jarak 1 meter. "Kamu pasti bisa. Kamu... kemarin bikin 50 kyai diem. Masak satu utusan Kemenag kamu takut."
Aku ketawa kecil. "Iya juga ya."
Hening. Dua detik.
"Zahra," panggilnya lagi.
"Hm?"
"Selamat tidur."
"Selamat tidur juga, Tadz."
Pintu tutup. Pelan.
Aku senderan lagi di pintu. Senyum. Terus jedotin jidat pelan ke pintu. "Ya Allah, Zahra. Gitu doang kok jantung mau copot."
Di kamar sebelah, Rayan juga kayaknya susah tidur. Soalnya kedengeran suara kitab dibuka-tutup. Dibuka-tutup. Nggak dibaca.