Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.
Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.
"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. 9 tahun lalu : Awal Neraka Elleta
"Maksudnya Theo?" tanya Steve dengan nada tinggi. Dia lagi mencerna informasi baru yang masuk ke kepalanya.
"Iya Pak Steve, Papa Nyonya Elleta pembangun gedung atas nama Nyonya Elleta, saya masih menyelidikinya. Apa Nyonya Elleta terlibat dalam pembangunan gedung itu."
"Tetap keep, Theo. Pastikan itu benar apa tidak? Kalau sudah ketemu kabari aku, Elleta benar-benar harus di kasih paham."
Tut
Steve mematikan panggilan itu sepihak. Menggebrak meja dengan kencang lalu melangkah tergesa-gesa ke kamar Elleta.
Brak Brak
Engsel pintu itu terbuka, karena pintunya terkunci dari dalam. Steve memlilih menjebol pintu itu. Mata Steve yang sudah berkabut hitam, atmosfer di kamar itu mendadak memanas. Hingga membuat gadis itu tersentak menolehkan kepalanya ke asal suara.
"Bangun, El!" Steve menarik Elleta untuk bangun dengan kasar. Deru napas berat terdengar sampai ke telinga gadis itu.
"Ini ulahmu, kan? Mau coba menentang kontrak ya, El?! Jawab El? Ini benar, kan?" Elleta menatap foto dokumen yang benar dalam dokumen ia telah menandatangi gedung baru itu. Tunggu? Kenapa bisa. Seinget Elleta ia di kurung di dalam mansion laki-laki di depannya.
"Tunggu, Steve.. aku..." Steve mendorong Elleta terlentang dengan Steve mengungkung gadis itu.
"Kamu harus bayar, El. Dengan menjadi istriku yang seutuhnya."
Mata Elleta memerah belum sampai menitikkan air mata. Laki-laki di depannya ini lancang menuduhnya tanpa bukti yang konkret.
"Bukannya aku udah dibeli sejak awal? Kenapa sekarang aku harus bayar?! Aku..."
Steve mendekatkan leher gadis itu, aroma vanilla dan mawar segar menguar hingga ke indra penciumannya. Sangat memabukkan, Elleta merasakan jijik dan geli di sekitar lehernya, gadis itu tak segan menjambak rambut laki-laki itu hingga mata mereka bertemu.
"Aku enggak tahu tentang masalah apapun yang bersangkutan dengan kontrak itu. Bahkan aku aja yang enggak tahu isinya, Steve. Coba kamu pikir, apa aku bisa tanda tangan gedung itu, aku dimana? Bukannya kamu pantau lokasi aku?"
Steve terkekeh renyah, bagi Elleta itu tawa yang mengejeknya. "Kamu mikir aku bodoh, kamu lebih pinter dari aku, El! Sampai ponsel yang aku sita ada di tanganmu sekarang?"
Elleta mencoba mendorong Steve menjauh, hingga ia teringat gunting yang ia simpan kemarin buat jaga-jaga. Lalu menancapkan ke punggung Steve tanpa aba-aba.
"Akhh! Kamu gila ya, El." Ringisan dari mulut Steve yang menahan rasa sakit tancapan itu.
Elleta akhirnya bisa keluar dari kungkungan laki-laki itu. Bukan merasa bersalah gadis itu malah tersenyum menatap darah itu. Tatapannya beralih tajam ke arah Steve.
Elleta lemas tersadarkan apa yang barusan ia lakukan, kakinya terduduk di lantai marmer dingin itu. Tawa yang menyesakkan dada menggema ke seluruh kamar itu. Steve menghampiri Elleta yang terduduk itu. Mencengkram dagu gadis itu kuat.
"Tapi inget, El. Aku bakal cari bukti keterlibatanmu mencoba menjatuhkan aku dan perusahaanku. Harusnya kamu senang, aku membebaskanmu dari jeratan yang enggak kamu sadari." Steve melepas tangannya dari dagu Elleta.
"Aku enggak perlu berterima kasih, kenapa? Kamu sama-sama iblis lebih dari papaku!"
Steve tersenyum miring, seakan perkataan gadis itu salah. "Jangan samakan aku dengan papamu, El. Kamu belum tahu papamu seperti apa? Kamu belum cukup kenal aku." Steve meninggalkan Elleta yang terdiam.
California, 9 tahun yang lalu.
Elleta yang masih berusia 17 tahun itu. Tersenyum lebar melihat pemandangan cerah di tangannya pegang kopernya, menggeretnya sampai ke taksinya.
Tiba di depan sebuah apartemen minimalis yang di pilih abangnya, Michael. Elleta menelusuri lorong apartemen hingga sampai di lantai unit apartemennya. Sepanjang lorong Elleta merasakan ketenangan yang ia impikan.
Brak!
Elleta yang asik melihat-lihat barang perabotan yang tertata di setiap lorong gedung itu. Malah menabrak seorang laki-laki muda mungkin umurnya di atasnya satu tahun. Barang-barang laki-laki itu, jatuh berserakan ke lantai dari kuas, cat minyak, kanvas yang terjatuh berserakan.
"I am sorry, so sorry," ujar Elleta merasakan tidak enak hati, berlutut memungut barang-barang itu.
"It's okay, i was wrong." Mata coklat laki-laki itu menatap Elleta sejenak melupakan barangnya yang berserakan di lantai.
"Kelihatannya kamu bukan orang sini?" tanya Daniel pakai bahasa Indonesia, karena paspor Elleta yang berwarna hijau tua.
Elleta mendongakkan kepalanya dengan mata yang berbinar menatap laki-laki itu. "Bisa bahasa Indonesia?" tanya Elleta dengan suara yang antusias.
"Yeah, of course. Aku blasteran Indonesia."
"Bisa melukis?" Daniel mengangguk, lalu tersenyum simpul.
"Mau jadi muridku?" tawar Daniel. Elleta menggangguk semangat. Akhirnya masa-masa ia di California tak sejenuh itu.
6 tahun Elleta di California, banyak hal yang ia lakukan. Dari karaoke, ke mall, museum, nonton konser hingga ia tahu banyak hal sekarang tanpa ada pengawasan papanya, tanpa kekangan. It's Elleta Freedom.
"Mau tahu gimana dunia tanpa kekangan, El." Daniel menarik Elleta ke Santa Barbara dengan kaki tanpa alas.
"Hahaha aku mau, ini seru banget." Elleta yang memakai dress kuning cerah berterbangan kesana kemari mengikuti arah gadis itu. Berlarian mengejar ombak. 30 menit berlalu Elleta tertawa senang dan bermain dengan Daniel.
"El, kamu belum ngerasain melukis di pantai kayak gini, kan?" Daniel mengeluarkan standing lipat dan kapas mini, cat minyak di tas besarnya.
"Kamu niat banget, ya?" Elleta tidak tahu dia kira tas berat dan besar itu peralatan camping di pantai. Ternyata alat-alat lukis.
"Pemandangannya cantik, jadi cocok gambar yang cantik," ujar Daniel mencoba menggoda Elleta.
Laki-laki berseragam hitam dengan kacamata hitam menghampirinya menganggu aktivitasnya.
"Tuan Yuda, sudah menunggu di apartemen Nona. Tolong kerjasamanya, Nona."
"Siapa, El?" Daniel mengerutkan dahinya, baru kali ini Daniel merasakan perbedaan selama 6 tahun berpacaran dengan gadis itu.
"Bukan siapa-siapa, aku pamit pulang kak. Ada urusan sebentar, kita tetep kok ke museum itu." Elleta meninggalkan laki-laki itu dengan kesunyian ombak yang bergelombang.
Sampainya Elleta di apartemennya, papanya sudah menunggunya. Hawa di sekitarnya mendadak panas, seperti sebuah kebakarannya yang akan menimpanya.
Yuda menghampiri Elleta menjambak rambut panjang gadis itu. "Apa bayaran yang kamu kasih ke abangmu, Michael? Sampai kamu berani kabur dari London kesini?"
Elleta menatap mata legam yuda dengan mata yang memerah, jantung berdebar. "Kamu kabur ke tempat kumuh ini. Hanya untuk ini, El?"
"Aku tetap enggak akan pulang, Pa. Aku enggak mau di bawah kuasa, Papa. Aku udah besar! Jangan ganggu abang, dia enggak ada kaitannya sama pelarian Elleta," ujar Elleta sambil memegang rambutnya. Ia berbohong untuk menutupi abangnya yang tak bersalah tentang ini.
"Sadar tempatmu, papa akan datang lagi kesini. Kamu masih menolak lagi, lihat saja, studiomu sebelum matahari terbit bakal terbakar."
Elleta merasakan sakit di kulit kepalanya karena sisa jambakan itu. Air matanya tak sanggup untuk menetes, dadanya lebih sakit tertusuk oleh perlakuan Papanya.
Elleta tersadarkan realita suara benda jatuh di kamar sebelah yang tak lain kamar milik Steve. Gadis itu memilih berdiam diri menatap langit malam.
*
*
*
Di sisi lain, Steve yang pergi dari kamar Elleta dengan napas yang memburu, matanya yang berkabut hitam perlahan menghilang mengantikan rintihan di punggungnya.
"My, apa aku salah ya, mencintai Elleta kayak gini," gumam Steve menanyakan pada sang ibu, seakan ibunya ada di sisinya. Menatap nanar dirinya di cermin.
Rambutnya yang berantakan jejak darah tangannya dan di kaosnya. Matanya yang sayu tapi tajam. Mereka punya luka masing-masing.