NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: tamat
Genre:Sistem / Harem / Bertani / Tamat
Popularitas:188.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9--Pembeli Pertama Seorang chef

Sore harinya, Wak Darmo datang dengan mobil L300 tua yang mesinnya terdengar sedikit batuk-batuk. Namun, wajah pria tua itu terlihat penuh semangat. Begitu melihat hasil panen Aris dari dekat, ia hampir tidak percaya.

Melalui pengalaman hidupnya bertahun-tahun dia tahu bahwa ini semua bukan kaleng-kaleng, bahkan kakek dia tidak bisa menghasilkan sayuran sehebat ini, padahal tanah ini bekas dijadikan lahan sampah kok malah jadi makin gacor?

Awalnya dia sanksi dan merasa ragu untuk membantu Aris, kalau bukan karena permintaan manis dari putri yang jelas punya ketertarikan ke Aris dia gak bakal bantu. Namun melihat pemandangan ginian Wak Darmo tahu bahwa dia terlalu meremehkan Aris.

"Ris, seumur hidup aku jadi pengangkut sayur, belum pernah aku lihat sawi hijau dan sebersih ini tanpa lubang ulat sedikitpun," 

Wak Darmo geleng-geleng kepala sambil meraba daun sawi yang terasa kenyal dan tebal. "Ini kalau dibawa ke kota, bisa-bisa mereka rebutan!"

"Itu harapanku, Wak," jawab Aris sambil mulai menyusun keranjang ke atas bak mobil. "Wak, nanti kita bagi hasil yang adil. Aku gak mau sewa sistem lepas, aku mau Wak jadi rekan bisnisku."

Wak Darmo terharu, Wak Darmo menepuk bahu Aris dengan telapak tangannya yang kasar, matanya sedikit berkaca-kaca.

 "Kamu persis kakekmu, Ris. Bukan cuma pinter nanem, tapi pinter jaga perasaan orang tua. Ya sudah, ayo kita muat semuanya sebelum matahari benar-benar hilang."

Mereka bekerja dengan cekatan. Aris menggunakan kekuatan fisiknya yang sudah ditingkatkan untuk mengangkat keranjang-keranjang berat seolah-olah itu hanya berisi kapas. Sari pun ikut membantu melapisi dasar keranjang dengan daun pisang segar agar kelembaban sayuran tetap terjaga.

Malam itu, L300 tua milik Wak Darmo melaju membelah jalanan aspal menuju pusat kota. Target mereka adalah Maharta, salah satu hotel bintang lima paling prestisius yang terkenal sangat selektif soal bahan baku makanan mereka.

Wak Darmo sangat yakin percaya diri dengan tanaman hasil selevel milik Aris maka bahkan chef pun bisa terkejut

Sesampainya di area bongkar muat hotel, suasana tampak sibuk. Truk-truk besar dari supplier langganan sedang mengantri. 

Saat mobil butut Wak Darmo masuk ke barisan, beberapa petugas keamanan dan staf dapur yang sedang merokok di area luar mulai melemparkan pandangan meremehkan.

"Woi, Pak Tua! Salah alamat ya?" teriak seorang pemuda berseragam staf gudang sambil tertawa. "Ini hotel bintang lima, bukan pasar kaget di pinggir jalan. Kalau mau nawarin sayur ke warung burjo, sana ke arah selokan Mataram!"

Wak Darmo tampak ciut, ia menggenggam kemudi dengan erat. "Ris, kayaknya kita beneran diremehkan di sini..."

"Tenang, Wak. Biar aku yang bicara," Aris turun dari mobil dengan tenang. Ia berjalan mendekati staf gudang tersebut tanpa rasa takut sedikitpun. 

"Saya ingin bertemu bagian pengadaan bahan makanan  Saya membawa sampel sayuran organik kualitas premium."

Si staf gudang tertawa semakin keras. "Premium? Dari mobil rongsokan begitu? Pergi sana sebelum saya panggil keamanan buat seret kalian!"

Keributan kecil itu menarik perhatian seorang pria dengan pakaian putih bersih dan topi koki tinggi yang baru saja keluar dari pintu dapur untuk menghirup udara segar. Wajahnya tampak lelah dan sedikit kesal, seolah-olah ia baru saja mengalami hari yang buruk di dapur.

Terus dia melihat kegaduhan gini? Sialan kayaknya hidup dia hari ini dipenuhi oleh hal yang gak layak untuk dipertimbangkan ada. Ia butuh pelampiasan untuk di uring-uring dan pemuda yang terlihat membawa sayuran itu cukup pas.

"Ada apa ini berisik-berisik?" tanya pria itu dengan nada tegas.

"Ini, Chef Junaedi. Ada gembel bawa mobil butut mau nawarin sayur 'premium' katanya. Mengganggu antrean saja," lapor si staf gudang dengan nada menjilat.

Chef Junaedi, sang Executive Chef yang terkenal bertangan dingin, menyipitkan mata. Ia sudah akan menyuruh Aris pergi, namun indra penciumannya yang sangat tajam menangkap aroma yang sangat asing namun sangat segar—aroma tanah yang murni dan sayuran yang baru dipetik.

Matanya beralih ke salah satu keranjang yang terbuka di atas bak mobil Wak Darmo. Di bawah lampu neon area loading dock, daun sawi hijau itu tampak berkilau, seolah-olah memancarkan cahaya sehat yang tidak pernah ia lihat pada sayuran manapun dari supplier elitnya.

'Mustahil, darimana pemuda ini memiliki hasil yang begitu indah.’

Menyadari raut wajah chef yang berubah, Aris tersenyum. Bagus tampaknya memang orang pintar lebih mudah diajak komunikasi.

Chef Junaedi berjalan mendekat tanpa mempedulikan staf gudang yang melongo. 

“Permisi sebentar, mas. Saya cek dulu sayurannya.”

“Silahkan kak, ini masih baru dari lahan saya! Semoga sesuai selera.”

Ia mengambil seikat sawi, merasakan tekstur daunnya yang kenyal dan batang yang tebal namun rapuh saat dipatahkan—krak.

Bunyi patahan itu begitu renyah. Sang Chef kemudian mencicipi sedikit ujung batang sawi mentah tersebut. Detik berikutnya, matanya melebar.

"Rasa manis ini... tidak ada rasa getir sama sekali?" gumam Chef Junaedi. "Dari mana kamu mendapatkan barang ini, Nak?"

Aris tersenyum tipis. "Dari lahan saya sendiri di Desa Sukacita, Chef. Tanpa pestisida kimia, hanya nutrisi terbaik dari alam. “

Chef Junaedi menatap Aris dengan intens, mengabaikan fakta bahwa pemuda di depannya hanya memakai kaos murah yang terkena noda tanah. Sebagai ahli kuliner, ia tahu satu hal: sayur di tangannya ini adalah harta karun.

"Masuk," ucap Chef Junaedi pendek. "Bawa semua keranjangmu ke ruang inspeksi. Sekarang! Mari kita berbicara sebentar.”

Di dalam mobil wak Darmo dan Sari terkejut, anak ini benar-benar membuat seorang chef kagum akan sayuran milik dia.

1
Muhammad Ridwan
kurasa gue??
gue rasa gue
Manusia Biasa: wkwkwk
total 1 replies
Cui Lan Seng
ga sinkron....lahan wingit itu dibeli bukan warisan
Manusia Biasa: oh ya salah tulis berarti kak
total 1 replies
Cui Lan Seng
kapan belinya? dimana?
Manusia Biasa: gak diceritakan udah time skip
total 1 replies
Cui Lan Seng
kapan kenalan nya?
Manusia Biasa: kan dia punya koneksi Ama anak komandan polisi
total 1 replies
Cui Lan Seng
kapan beli Jeep? terus tadi khayal ya ....lari kayak Flash 15 menit untuk jarak 32 km?
Cui Lan Seng
hahahaha
Cui Lan Seng
pagar frekuensi ga berfungsi lagi apa, kok bisa istri Husein masuk ke ring 1 lahan
Cui Lan Seng
mana ada kunjungan dinas dan kementerian dimulai jam 5 shubuh?
Cui Lan Seng
iya ga seru mending rokok tingwe
Cui Lan Seng
hmmm pemuda perokok, bukan idaman bangsa
Choky Ritonga
aning cerita sampah 🤣🤣, harus di blokir
Manusia Biasa: dih banyak cakap blokir blokir aja😁 lo juga gue blokir
total 1 replies
Cui Lan Seng
nyiraminnya satu satu tiap tanaman ya ...bocos Ndro👍 pakai otak lah, irigasi tetes lah atau sprinkle dg kolam air penampungan
BaksoEnak
capek, tiap geser satu bab ada iklan
BaksoEnak
hahaha cacingnya dikantongin🤭😄
BaksoEnak
enakan yg punya aplikasi novel toon versi lama, tanpa iklan. sekarang setiap saat selalu iklan, bikin malas dan mau uninstall
BaksoEnak
emang enggak perlu mandi dulu di kamar mandi stasiun atau pasar ya? ga bawa baju ganti pula
Manusia Biasa: mau bikin orang pingsan satu krl
total 2 replies
BaksoEnak
alat penyulingan sampahnya diceritakan setinggi dada manusia, jadi Aris punya cincin penyimpanan spacial dong ? minimal kantong doraemon
Manusia Biasa: kam ada sistem bang, sistem pasti punya inventorynya sendiri
jadi tinggal keluarin kayak di game
total 1 replies
BaksoEnak
lebih lucu mbak KRL wkwk
BaksoEnak
wkwkwk benihnya saja belum direlease dan di Eli tapi konsumennya udah tahu nama benihnya...kocak dan kocluk
Manusia Biasa: sawi ungu giok perasaan semua orang juga tahu🗿
total 1 replies
BaksoEnak
sebelumnya kan juga ikut???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!