"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34.Penyelidikan disekolah Salsa .
Suara bel masuk kelas yang nyaring itu seolah menjadi penyelamat bagi Salsa. Ia menghela napas panjang, rasa lega seketika menyelimuti seluruh tubuhnya. Akhirnya, waktunya di tempat mencekam itu sudah habis. Tanpa membuang waktu lagi, Salsa segera berjalan mendekati meja utama tempat Pak Ardi berdiri. Ia tahu ia tidak bisa pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas, apalagi ia memegang buku sejarah yang tadi dipura-puranya dibaca. Ia harus meminjam satu buku agar semuanya terlihat wajar dan tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut.
"Pak, sepertinya saya harus masuk kelas sekarang. Buku sejarah ini boleh saya pinjam, kan?" tanya Salsa sambil meletakkan buku tebal itu di atas meja, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap tenang dan sopan. Di balik punggungnya, tangan kirinya erat-erat menyembunyikan buku harian bersampul merah tua milik Ria, berharap agar buku itu tidak terlihat sedikit pun dari balik lipatan seragamnya.
Pak Ardi mengangguk ramah, senyumnya yang selalu sopan kembali terukir di bibirnya. "Tentu saja boleh, Salsa. Berikan saja kartu anggota perpustakaanmu, akan saya catat dulu."
Salsa mengeluarkan kartu perpustakaannya dari saku rok, lalu menyerahkannya kepada guru muda itu. Pak Ardi pun mulai sibuk mencatat data peminjaman ke dalam buku besar dan memasukkan data ke dalam mesin sederhana di meja kerjanya. Saat pemuda itu sedang tertunduk fokus mengerjakan tugasnya, Ria yang sejak tadi terus berputar-putar di sekitarnya tiba-tiba berhenti diam. Mata arwah itu membelalak lebar, menatap tajam ke arah sudut meja kerja Pak Ardi yang penuh dengan tumpukan kertas dan alat tulis.
Salsa yang berdiri menunggu dengan gelisah, menyadari perubahan sikap Ria. Ia melirik sekilas ke arah pandangan arwah gadis itu, dan detik berikutnya ia pun ikut tertegun. Di sana, tergantung sebuah gantungan tas berbentuk boneka beruang kecil berwarna merah muda, terikat rapi pada gagang laci meja. Benda itu tampak biasa saja, namun bagi Ria benda itu adalah sesuatu yang sangat berharga.
"Itu... itu gantunganku!" bisik Ria bergetar, suaranya mulai terdengar penuh tangis dan ketakutan. Wajah pucatnya yang tadi bersinar cerah karena mengagumi pemuda itu, kini berubah menjadi wajah ketakutan yang luar biasa. "Itu milikku, Salsa! Itu hadiah pertama yang Kak Dimas berikan padaku saat dia baru saja mendapatkan pekerjaannya dulu... aku sangat menyayanginya, aku selalu bawa ke mana-mana. Tapi... tapi aku tidak pernah memberikannya pada Pak Ardi! Aku bahkan tidak pernah sempat mengobrol dengannya selain saat meminjam buku! Kenapa... kenapa benda itu ada di sini?!"
Darah Salsa seolah berhenti mengalir mendengar bisikan itu. Ada rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepalanya. Ia menatap wajah tampan Pak Ardi yang masih tertunduk tenang, namun bayangan sosok wanita tua penunggu perpustakaan itu kembali melintas cepat di benaknya. Kata-kata peringatan itu bergema keras di telinganya."Pergilah... sebelum DIA datang..." dan "Jangan lama-lama... atau kau juga akan menjadi sasaran DIA..."
Jawabannya ada di sini. 'DIA' yang dimaksud oleh wanita tua itu... kemungkinan besar adalah pria yang sedang berdiri sopan di hadapannya ini. Ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang gelap dan mengerikan tersembunyi di balik senyum manis dan penampilan rapi Pak Ardi.
Tak jauh dari sana, di gerbang utama sekolah, suasana menjadi sedikit lebih ramai dari biasanya. Sebuah mobil dinas polisi berwarna hitam berhenti tepat di pinggir jalan, menarik perhatian beberapa siswa yang baru saja selesai jam istirahat dan berjalan kembali ke kelas. Rian turun dari kemudi, diikuti oleh Bobby yang berjalan di sampingnya. Keduanya masih mengenakan seragam dinas lengkap, membuat banyak siswi menatap kagum sekaligus takut.
Rian menatap sekeliling halaman sekolah yang luas itu dengan pandangan tajam dan waspada. Ia datang ke sini bukan hanya untuk urusan dinas, tetapi juga ada dorongan kuat dalam hatinya untuk memastikan keamanan istrinya. Berdasarkan data yang dikumpulkan Bobby, korban Ria Delia terakhir kali terlihat berada di perpustakaan sekolah ini sebelum hilang tanpa jejak. Maka, penyelidikan harus dimulai dari sini.
"Mari kita masuk, Bob. Mulai wawancara dengan teman sekelasnya, guru wali kelas, dan siapa saja yang terakhir kali berhubungan dengan Ria," perintah Rian pelan sambil melangkah masuk melewati gerbang. Matanya meneliti setiap sudut gedung sekolah itu, berharap sekilas melihat sosok Salsa, namun hingga ia sampai di koridor utama, gadis itu tak terlihat.
Sementara itu, di dalam perpustakaan, Pak Ardi mengangkat wajahnya kembali, membawa kartu perpustakaan Salsa di tangannya. Senyum ramah itu masih terukir, namun bagi Salsa senyum itu kini terasa berbeda, terasa menakutkan dan penuh kepura-puraan.
"Terima kasih banyak sudah berkunjung, Salsa. Jangan lupa kembalikan tepat waktu ya," ucap Pak Ardi lembut, sambil mengulurkan tangan kanannya untuk mengembalikan kartu itu.
Salsa berusaha tersenyum sebaik mungkin, berusaha menutupi rasa takut yang meluap-luap di dadanya. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil kartu itu, berniat menyambarnya cepat dan segera pergi dari tempat terkutuk itu. "Te... terima kasih, Pak."
Namun, saat jari-jari Salsa menyentuh kartu plastik itu, tangan Pak Ardi tidak melepaskannya begitu saja. Jari-jari pria itu perlahan meluncur turun, menyentuh punggung tangan Salsa, lalu mengelus-elus kulit punggung tangan gadis itu dengan gerakan lambat, lembut, namun terasa begitu mengerikan dan tidak wajar.
Mata Pak Ardi yang tadinya teduh dan bersahaja, seketika berubah. Kilatan sinar tajam, penuh nafsu, dan kepemilikan yang kuat muncul sekilas di sana, membuat bulu kuduk Salsa berdiri tegak. Pria itu menatap manik mata Salsa lekat-lekat, seolah sedang menembus pikiran terdalam gadis itu.
Jantung Salsa berdegup sangat kencang hingga rasanya mau meledak. Ia ingin menarik tangannya, ingin berteriak, tapi tubuhnya terasa kaku dan lumpuh seketika karena rasa ngeri. Di sampingnya, Ria bergetar hebat, mulutnya terbuka ingin berteriak namun suaranya tak terdengar, matanya menatap Pak Ardi dengan penuh ketakutan—ia tahu betul wajah mengerikan di balik topeng guru sopan itu.
Keadaan yang mencekam itu berlangsung beberapa detik yang terasa selamanya. Namun tiba-tiba, suara teriakan nyaring dan akrab terdengar dari arah pintu masuk yang terbuka lebar.
"SALSA! HEI, SALSA! TERNYATA KAU ADA DISANA!"
Itu adalah suara Rani. adik iparnya sekaligus teman sekelas Salsa itu berdiri di ambang pintu sambil melambaikan tangan dengan semangat, sama sekali tidak menyadari ketegangan yang sedang terjadi di dalam ruangan. "Ayo cepat masuk kelas! Pak Guru sudah datang, lho! Kamu ngapain saja di dalam sana? Dari tadi aku cariin!"
Keajaiban kecil itu seketika memecah mantra yang seolah mengikat tubuh Salsa. Pak Ardi tersentak kaget, tangannya seketika ditarik kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Kilatan aneh di matanya pun hilang berganti kembali menjadi tatapan tenang dan ramah seperti semula.
Salsa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menyambar kartu dan bukunya, lalu berbalik badan dengan gerakan cepat. "Sa... saya permisi dulu, Pak! Terima kasih!" ucapnya terbata-bata, suaranya bergetar hebat namun berusaha disembunyikan.
Tanpa menunggu respon apa pun, Salsa berlari kecil menuju pintu keluar, menyusul Rani yang sudah berbalik arah berjalan duluan. Di sampingnya, Ria ikut melayang cepat, menjauh dari meja kerja itu seolah dikejar oleh maut. Saat melewati ambang pintu, Salsa sempat melirik ke belakang sekilas. Ia melihat Pak Ardi berdiri diam di sana, menatap kepergiannya dengan senyum yang sangat aneh.
knp sih gak peka banget jadi orang.
dan sekarang kamu merasakan cemburu, sukurin.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍