Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebetulan yang Terlalu Tepat
Hari-hari di Swiss berjalan lebih pelan, seolah waktu sengaja memberi ruang bagi Aurora untuk bernapas. Ia tidak langsung berubah menjadi lebih baik, tapi setidaknya tidak lagi terjebak dalam rasa sesak yang sama seperti sebelumnya. Aurora kini sudah berada di Swiss selama tiga hari. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah bersama orang tuanya, membantu hal-hal kecil, atau sekadar duduk berbincang tanpa arah yang jelas.
Kadang, Aurora memilih keluar sendiri. Ia berjalan santai di sekitar perumahan, menikmati udara dingin yang menusuk tapi menenangkan. Sesekali ia pergi ke taman, duduk di bangku kayu sambil melihat orang-orang berlalu. Tidak ada yang mengenalnya di sini, dan itu membuatnya merasa ringan.
Pagi itu, Aurora duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya. Sarapan tersaji sederhana, tapi hangat. Roti panggang, telur, dan secangkir teh hangat di depannya.
Arman menatap Aurora sejenak sebelum akhirnya berkata, “Nanti malam Papah ada jamuan makan.”
Aurora mengangkat alis sedikit, “Jamuan makan?”
Arman mengangguk, “Semacam pesta kantor. Perayaan kerja sama.”
Aurora hanya mengangguk kecil, belum terlalu tertarik.
“Kamu ikut” lanjut Arman.
Aurora langsung menoleh, “Aku? Buat apa?”
Arman tersenyum santai, “Biar kamu nggak sendirian di rumah. Lagian Mamah juga ikut.”
Rina yang duduk di sampingnya langsung mengangguk setuju, “Iya, sekalian jalan-jalan juga.”
Aurora ragu sejenak. Ia tidak terlalu suka suasana seperti itu, apalagi dengan orang-orang yang tidak ia kenal.
Tapi melihat kedua orang tuanya, ia akhirnya mengangguk pelan, “Yaudah.”
Setelah sarapan selesai, Arman berangkat ke kantor. Sementara Aurora membantu Rina membereskan meja dan mencuci piring.
Rina menatap Aurora sekilas, “Abis ini kita ke mal, yuk.”
Aurora menoleh, “Buat apa?”
“Cari baju buat nanti malam.”
Aurora tersenyum tipis, “Boleh.”
Sudah lama ia tidak pergi berbelanja bersama ibunya. Dan entah kenapa, ia merasa ingin melakukan hal-hal sederhana seperti itu lagi.
Tak lama kemudian, mereka sampai di mal. Tempat itu cukup ramai, tapi tetap terasa nyaman. Aurora dan Rina langsung menuju salah satu toko pakaian yang cukup terkenal.
Deretan gaun pesta tergantung rapi. Aurora mulai melihat-lihat, sementara Rina sesekali menunjuk beberapa pilihan.
“Yang ini bagus” ucap Rina sambil menunjukkan gaun berpotongan cukup terbuka.
Aurora langsung menggeleng halus, “Aku nggak terlalu suka yang kayak gitu, Ma.”
Rina mengangguk paham, lalu kembali mencari.
Beberapa kali mencoba, tapi Aurora masih belum menemukan yang cocok. Hingga akhirnya Rina menemukan satu gaun yang tidak terlalu terbuka.
“Coba ini.”
Aurora mengambilnya, lalu mengangguk kecil, “Ini oke.”
Setelah Aurora menemukan pilihannya, giliran Rina yang mencari. Kali ini Aurora yang membantu.
Ia mengambil beberapa gaun, menunjukkannya satu per satu. Namun Rina menggeleng pelan, “Warnanya terlalu terang, Sayang.”
Aurora memperhatikan lagi sekitar toko. Dari kejauhan, ia melihat deretan gaun dengan warna yang lebih gelap.
“Ma, ke sana yuk.”
Mereka berpindah tempat. Aurora mulai melihat satu per satu, hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah gaun dengan corak unik.
Gaun itu berwarna biru tua yang perlahan berubah menjadi hitam di bagian bawah, dengan aksen kilauan perak halus seperti bintang di langit malam.
Aurora mengambilnya, “Ini bagus, Mah.”
Rina melihatnya beberapa detik, lalu tersenyum, “Mamah suka.”
Aurora ikut tersenyum kecil, sedikit malu saat dipuji, “Bagus kan.”
Setelah selesai berbelanja, mereka keluar dari toko.
Rina menoleh, “Mau keliling dulu?”
Aurora menggeleng pelan, “Capek, Ma.”
“Yaudah, kita pulang.”
Di dalam mobil, percakapan ringan terus mengalir. Rina menanyakan pekerjaan Aurora, dan Aurora menjawab seadanya. Tidak ada kesunyian, hanya obrolan sederhana antara ibu dan anak yang lama tidak bersama.
Sesampainya di rumah, mereka langsung masuk. Aurora menyimpan gaunnya di lemari, begitu juga Rina.
Sementara itu, di Indonesia, suasana kantor terasa berbeda.
Zayn berdiri di depan meja Aurora yang kosong.
Tatapannya diam, tapi ada sesuatu yang terasa hilang. Ia tidak langsung menyadarinya, tapi semakin lama, semakin terasa.
Kantor itu lebih sepi dari biasanya.
Tanpa Aurora, tidak ada suara langkah kecil yang biasa ia dengar. Tidak ada sosok yang selalu siap dengan catatan di tangan.
Zayn menghela napas pelan, lalu berbalik. Hari itu, ia pulang lebih awal dari biasanya.
Sesampainya di rumah, ia langsung menghubungi Evan.
“Siap-siap. Tiga puluh menit lagi berangkat.”
Evan hanya menjawab singkat, “Siap.”
Malam tiba di Swiss.
Arman sudah menunggu di dalam mobil. Beberapa menit kemudian, Rina dan Aurora keluar dari rumah.
Aurora langsung masuk ke mobil, sementara Rina mengunci pintu.
Perjalanan menuju tempat acara berlangsung hangat. Percakapan kecil terus ada, membuat suasana tidak pernah benar-benar sunyi.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gedung besar.
Aurora turun, lalu berjalan mengikuti kedua orang tuanya.
Dan di saat itulah, ia melihat sosok di depan.
Tinggi, tegap, berjalan dengan langkah tenang.
Aurora terdiam, “Itu…” batinnya.
Ia hanya melihat dari belakang, tapi postur itu terlalu familiar. Postur tubuhnya sama seperti Zayn.
Aurora langsung menggeleng pelan, “Nggak mungkin.”
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tidak ada alasan Zayn ada di Swiss. Mungkin hanya kebetulan, atau hanya seseorang yang mirip.
Pesta dimulai.
Arman bergabung dengan rekan-rekannya, sementara Rina duduk berbincang dengan teman-temannya. Aurora duduk di sampingnya, hanya sesekali minum.
Ia tidak terlalu fokus pada percakapan. Pikirannya masih tertinggal pada sosok tadi.
Hingga akhirnya ia berdiri, “Ma, aku ke toilet dulu.”
Rina mengangguk.
Aurora berjalan menjauh.
Dan di tengah langkahnya, seseorang berdiri tepat di depannya.
Aurora sangat mengenal orang itu. Ya dia adalah Zayn.
Aurora langsung berhenti. Matanya melebar sedikit, “Pak?”
Zayn menatapnya datar, meskipun dalam hatinya ada sesuatu yang bergerak.
“Bapak ngapain di sini? Apa Bapak ngikutin saya?” tanya Aurora spontan.
Zayn mengernyit tipis, “Saya ke sini karena urusan bisnis.”
Nada suaranya tetap dingin.
Aurora mengangguk pelan, sedikit lega, “Oh…”
Zayn memperhatikannya sejenak, lalu berkata, “Yang kamu lakukan nggak pantas.”
Aurora mengernyit, “Apa?”
“Kamu izin setelah sampai di sini.”
Aurora menghela napas, “Kalau izin dulu pasti nggak diizinin.”
Zayn menjawab cepat, “Memang tidak.”
Aurora hanya tersenyum kecil, “Saya udah tau.”
Jawaban itu membuat Aurora semakin yakin, “Lihat kan, dia biasa aja. Nggak mungkin dia suka sama aku” batinnya.
Ia menatap Zayn sebentar, lalu berkata, “Permisi, saya mau ke toilet.”
Zayn sedikit menyingkir, tapi sempat berkata, “Tau jalannya?”
Nada suaranya terdengar seperti menyindir.
Aurora langsung membalas, “Tau.”
Ia berjalan masuk ke dalam toilet.
Setelah selesai Aurora berdiri di depan cermin, ia menghela napas panjang.
“Kenapa sih…” gumamnya.
Ia menatap dirinya sendiri.
“Udah jauh-jauh ke sini, masih aja ketemu dia.”
Aurora memejamkan mata sejenak, “Apes banget sih aku…”
Ia terdiam.
“Atau jangan-jangan bukan aku yang apes.”
Aurora membuka mata perlahan, “Dia yang ngikutin aku?”
Ia langsung menggeleng, “Nggak mungkin.”
Beberapa saat kemudian, Aurora keluar dari toilet dan kembali ke meja.
Rina langsung bertanya, “Kok lama?”
Aurora tersenyum tipis, “Ramai, Ma.”
Rina mengangguk, percaya begitu saja.
Aurora kembali duduk. Kali ini ia lebih banyak diam, hanya mendengarkan percakapan yang berjalan.
Pesta akhirnya selesai.
Mereka pulang bersama.
Di dalam mobil, suasana tetap hangat, tapi Aurora lebih banyak diam.
Rina dan Arman tidak terlalu curiga dengan diamnya Aurora. Mereka menganggap Aurora diam hanya karena lelah.
Sesampainya di rumah, Aurora langsung masuk ke kamar.
Gaunnya ia ganti, lalu ia berbaring di tempat tidur.
Matanya menatap langit-langit.
Pertemuan tadi terus terulang di kepalanya, “Harusnya kebetulan…” batinnya.
Tapi entah kenapa, terasa seperti tidak.
Aurora menghela napas pelan. Namun rasa lelah lebih kuat.
Matanya perlahan terpejam.
Dan malam itu, ia kembali tertidur, dengan pikiran yang masih belum sepenuhnya tenang.