NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

POV:
Kamu jatuh cinta pada dosen dingin dan tampan… lalu berusaha keras mengejarnya.
Mulai dari cari perhatian, pura-pura kebetulan ketemu, sampai diam-diam cemburu pada perempuan lain di dekatnya.

Tapi plot twist-nya...

Dosen itu ternyata tunanganmu sendiri. 😭
Tunangan hasil perjodohan yang dulu kamu tolak sebelum sempat bertemu!

Sekarang siapa yang sebenarnya sedang mengejar siapa?

✨ Romance kampus
✨ Professor x mahasiswa
✨ Lucu, manis, bikin gemas
✨ Banyak momen salting & cemburu

Baca gratis di NovelToon:
Mr. Profesor⁠�

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31

Jaiden membawa Zoya ke restoran yang sebelumnya pernah mereka datangi. Restoran itu terkenal sangat menjaga privasi tamunya. Hampir semua ruang makan dibuat dalam bentuk private room, sehingga para pengunjung dari kalangan atas sangat menyukainya.

Begitu pintu ruangan dibuka, langkah Zoya langsung terhenti.

Di dalam, ada dua orang yang sedang duduk menatap ke arah pintu, seolah telah menunggunya sejak lama.

Tatapan Zoya pertama kali jatuh pada seorang wanita tua yang matanya langsung berbinar begitu melihat dirinya.

Wanita itu mengenakan kacamata kawat emas yang elegan. Bulu matanya lentik dengan riasan mata lembut yang membuat wajahnya terlihat sangat anggun. Jika diperhatikan dengan seksama, wajah wanita tua itu bahkan memiliki kemiripan hampir lima puluh persen dengan Zoya.

Meskipun rambutnya kini berwarna abu-abu perak, kecantikannya tetap sulit disembunyikan. Hanya dengan melihat sekilas saja, orang bisa membayangkan betapa menawannya dirinya di masa muda.

Ia mengenakan cardigan rajut ungu cerah dengan blus krem bermotif mawar merah muda dan dedaunan hijau di bagian dalamnya. Di lehernya tergantung kalung mutiara putih yang menambah kesan anggun, dipadukan dengan anting mutiara yang serasi di telinganya.

“Nenek…”

Begitu melihat wanita itu, Zoya langsung berjalan cepat dan langsung memeluk wanita tua itu dengan erat penuh ketergantungan.

Benar..

Wanita tua modis dan elegan ini adalah Nyonya Tua Saksomo… Neneknya.

Mendengar panggilan lembut cucu kesayangannya, mata Nyonya Tua langsung memerah.

Hampir secara naluriah, ia merangkul tubuh Zoya dan memanggil dengan suara tercekat,

“Ohh… Yaya sayangku…”

Tangannya perlahan mengelus kepala Zoya yang bersandar di dadanya.

Zoya memejamkan mata sejenak, menghirup aroma parfum lembut yang sangat ia kenal sejak kecil. Lalu ia mendongak sambil tersenyum manis.

“Nenek harum sekali…”

Mendengar itu, Nyonya Tua langsung tersenyum penuh kasih sayang sambil menyentil pelan hidung cucunya.

Namun semakin lama ia memandangi wajah Zoya, hatinya justru semakin terasa sesak.

Putra bungsunya dan menantunya terlalu sibuk sepanjang tahun. Ayah Zoya sekarang menjabat posisi tinggi di militer, sedangkan ibunya bekerja di pusat penelitian militer. Keduanya hampir tidak pernah berada di rumah.

Karena jarang menyaksikan proses tumbuh kembang putri mereka sendiri, cara mereka mendidik Zoya menjadi sangat disiplin dan kaku. Bukan seperti orang tua yang penuh kasih, melainkan seperti mentor terhadap muridnya.

Terutama menantunya itu, yang merupakan seorang peneliti… ia selalu berharap putrinya kelak akan mengikuti jejaknya.

Dan Zoya memang tidak pernah mengecewakan.

Sejak kecil, Zoya sudah menunjukkan bakatnya yang luar biasa. Ia mempelajari apa pun dengan sangat cepat, seolah tidak ada hal yang benar-benar sulit baginya. Bahkan dulu, nyonya tua sempat berpikir bahwa cucunya ini pada akhirnya benar-benar akan tumbuh menjadi sosok seperti ibunya.

Namun entah sejak kapan… semakin dewasa, cucunya yang padahal sangat lembut dan manis ini justru menjadi semakin keras kepala.

Pada akhirnya ia ingin menjadi seorang artis..

Bayangkan saja bagaimana marahnya putra dan menantunya itu saat mendengar keputusan cucunya, Nyonya Tua hanya bisa menghela napas dalam hati.

Dengan lembut ia menepuk bahu Zoya.

Sebagai seorang ibu, sebenarnya ia tidak terlalu berhak ikut campur dalam cara putra-putranya mendidik anak mereka sendiri. Selama cucu-cucunya hidup bahagia, itu sudah cukup baginya. Ia sudah ingin menitipkan Zoya pada seseorang yang ia kenal di dunia hiburan…

Namun setiap kali memikirkan putra bungsunya, ia selalu teringat pada rasa sakit samar yang tersembunyi jauh di dasar mata pria itu.

Karena itulah… pada akhirnya ia memilih mengalah.

Nyonya Tua menatap Zoya dengan sorot mata penuh kasih sayang dan rasa iba… seolah sedang memandangnya, namun juga seperti melihat bayangan orang lain di dalam diri cucunya.

Tatapan itu hanya muncul sesaat sebelum segera disembunyikannya kembali.

Namun Zoya tetap menangkap kilatan aneh tersebut.

Sama seperti ayahnya…

Setiap kali pembicaraan mengarah ke dunia hiburan, tatapan seperti neneknya ini selalu muncul tanpa sadar di mata ayahnya

Zoya pernah mencoba menyinggungnya sekali dulu.

Dan akibatnya, ayahnya langsung mengurungnya di rumah selama beberapa waktu. Bahkan sejak hari itu, penolakan ayahnya terhadap keinginannya menjadi artis berubah semakin keras dan tidak bisa ditawar lagi.

Nyonya Tua menggenggam tangan Zoya dengan erat sambil berkata lirih,

“Yaya… kamu telah bekerja keras.”

Lalu sambil menepuk pundaknya, ia mengomel dengan kesal,

“Ayahmu yang brengsek itu memang terlalu keras kepala.”

Zoya sebenarnya sudah ingin melepaskan pelukan neneknya, namun melihat sorot mata wanita tua itu yang penuh rasa kesal sekaligus tak berdaya, ia akhirnya hanya diam membiarkan dirinya dipeluk.

Barulah setelah itu Zoya melirik ke arah pria tua yang duduk di samping neneknya.

Pria tua itu memiliki gurat wajah yang tegas dan rapi, memancarkan kharisma kuat, walaupun hanya dengan duduk diam. Tatapan matanya tenang namun tajam.

Rambut abu-abu keperakannya dipotong pendek dengan gaya klasik yang sangat rapi.

Hari ini ia mengenakan jas formal abu-abu gelap lengkap dengan rompi senada di bagian dalam. Kemeja putih bersih dan dasi sutra abu-abu perak membuat penampilannya terlihat sangat berkelas.

Saputangan putih yang dilipat rapi terselip di saku dadanya.

Zoya menatapnya dengan heran..

Mengapa kakeknya berpakaian seformal ini hanya untuk menemuinya?

Sementara itu, lelaki tua itu sebenarnya juga ingin memeluk cucu kesayangannya seperti istrinya. Ia ingin memeluk cucunya dan meluapkan semua kerinduannya setelah dua tahun tidak bertemu.

Namun ia tidak berani merebut cucunya dari pelukan istrinya.

Jadi pria tua itu hanya bisa duduk diam sambil menatap Zoya dengan penuh emosi.

Tatapan matanya jelas menunjukkan bahwa kerinduannya sama sekali tidak kalah dari istrinya.

Dalam hati, ia mengutuk putra bungsunya sendiri.

Bajingan itu... Lihatlah... Cucunya sampai kurus seperti ini.

Setelah nenek dan cucu itu bermesraan cukup lama, Jaiden akhirnya melirik jam di pergelangan tangannya lalu membuka suara,

“Nek… Yaya belum makan..”

Mendengar itu, Nyonya Tua langsung melepaskan Zoya dengan ekspresi panik.

“Astaga, cepat makan dulu. Lihat tubuhmu jadi kurus begini.” Nyonya Tua langsung mulai menceramahi Zoya. Bla… bla… bla… masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Zoya malas membela diri. Ia hanya membiarkan neneknya terus mengomel sambil menatap pelayan yang mulai menata hidangan di atas meja.

Melihat mata Zoya yang langsung berbinar begitu melihat makanan, hati Nyonya Tua itu kembali terasa kasihan.

Sebagai seorang foodie, cucunya jelas tidak mungkin sengaja membiarkan dirinya kelaparan. Berarti hanya ada satu kemungkinan…

Cucunya ini pasti terlalu ¹memforsir dirinya sendiri selama ini.

¹Kata “memforsir” berasal dari kata forsir, yang berarti memaksa bekerja terlalu keras, menggunakan tenaga secara berlebihan, atau melakukan sesuatu melebihi batas kemampuan.

Setelah para pelayan keluar, Nyonya Tua kembali menatap wajah Zoya tanpa sadar.

Tatapannya perlahan menelusuri wajah cucunya inci demi inci.

Mata almond itu sangat mirip dengan suaminya…

Dan juga seseorang yang selama bertahun-tahun selalu ia rindukan diam-diam.

Hidung mancung, bibir merah muda, wajah cantik dan tenang itu membuat hati wanita tua tersebut terasa hangat sekaligus sakit.

Akhirnya, Nyonya Tua bertanya lembut,

“Yaya, nenek dengar dari kakak keduamu kalau sekarang kamu mulai syuting?”

Awalnya, saat mengetahui Zoya terjun ke dunia akting, ia sebenarnya sangat keberatan.

1
Tamirah
Semangat Thor untuk selalu berkarya.Novel mu menarik untuk dibaca bila belummm ada komentar bukan karena gak suka tapi masih mengikuti alur cerita nya komplik belum terlalu panas. masih aman-aman saja Thor.
fhallenopsis amabilis: trmkasii, o iya ini pertama kali nya nulis... sedikit kesulitan 🤭
total 1 replies
Tamirah
Menarik cerita ini,Arlo gak tahu Kalau Jaiden dan Zoya kakak beradik. Apa lagi Arlo tahu Jaiden seorang casanova.bayangan dia jangan sampai Jaiden jatuh cinta sama Zoya menakutkan.Apa reaksi Arlo Kalau tahu Zoya adik nya Jaiden.
Tamirah
Zoya sang artis yg terpikat pada dosen nya tapi ia tidak memperlihatkan ketertarikan biar tidak dianggap murahan.Karena banyak wanita yang mendekati dosen tampan itu dgn menggunakan cara yg sdh bisa ditebak oleh dosen tsb.Beda nya sang artis punya pertanyaan jitu yg bernuansa ilmiah dan juga tdk banyak omong gestur tubuh annggun,gerakan tubuh normal tidak ada unsur menggoda .Justru itu yg membuat dosen tampan penasaran.
fhallenopsis amabilis: Jadi, Gimana.. apakah metode mengejar Zoya ini ampuh? 😄
total 1 replies
Hizbi Hizbi
tentang dunia hiburan?
Ratna Sriistiani
bagus banget 🤗
Nuznul aini
kerennn
Nuznul aini
kerennn👍
EvhaLynn
Semangat Thor😉
fitriana dian85
Thor, tuan muda saksomo kakaknya zoya sangat ketat sama adiknya! kasian arlo
Rahil Ziazun
ih.. seru juga ternyata 😍🤣 semangat Thor 💪
Alia Chans: seru nih, semangat ✍️ nya

dan jangan lupa ya kalo ada waktu mampir juga😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!