NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3 catur berdarah di istana naga langit

Ruang rahasia di bawah Altar Leluhur Klan Cang sangat dingin, udaranya kental oleh aroma obat luka dan kemenyan. Dinding batu giok hitam yang mengelilingi ruangan tersebut dirancang untuk menyerap fluktuasi energi spiritual, memastikan tidak ada satu pun aura yang bocor ke permukaan.

Di atas sebuah ranjang batu es purba, Jenderal Besar Cang Baotian terbaring tak sadarkan diri. Napasnya sangat pelan, nyaris tidak terlihat. Racun dari Bayangan Istana telah dihentikan penyebarannya oleh qi milik cucunya, walau demikian, organ dalamnya masih mengalami kerusakan parah.

Cang Qixuan duduk bersila di lantai, tepat tiga langkah dari ranjang batu tersebut. Wajah pemuda itu pucat pasi, peluh dingin membasahi keningnya. Mengendalikan Formasi Guntur Sembilan Siksaan sekaligus menekan racun kakeknya telah menguras habis cadangan qi murni di dalam tubuhnya. Meridiannya yang sudah lama hancur terasa seperti diremukkan kembali oleh ribuan semut api.

Jari-jemari Qixuan membentuk segel tangan yang rumit. Mulutnya sedikit terbuka, menyedot udara malam yang dingin ke dalam paru-parunya.

*Seni Pernapasan Menelan Langit.*

Teknik ini tidak menuntut kelembutan. Teknik ini menuntut penggunanya menjadi predator yang memangsa energi alam. Dua pusaran energi di area dada dan perut bawah Qixuan berputar dengan kecepatan gila, menyedot partikel spiritual dari udara sekitarnya secara paksa. Rasa sakit yang luar biasa menghantam sarafnya saat energi liar itu masuk tanpa disaring oleh meridian, langsung menabrak dinding organ dalamnya.

Urat-urat halus di pelipis dan lehernya menonjol, berwarna kebiruan. Ia mengatupkan rahangnya erat-erat, menolak mengeluarkan suara rintihan sekecil apa pun. Kegelapan menyelimuti kesadarannya, seolah-olah ia sedang ditarik ke dasar lautan es abadi. Di dalam kegelapan itu, ia mengingat kembali ribuan keping emas yang telah ia hamburkan, wajah-wajah meremehkan dari para bangsawan, dan genangan darah prajuritnya. Hinaan dan kebencian itulah bahan bakar sejatinya.

Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.

Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur ibukota, seberkas cahaya biru kelam memancar dari tubuh Qixuan. Suara letupan pelan terdengar dari dalam tulangnya. Dua pusaran energinya perlahan melambat, memadat, dan memancarkan cahaya yang lebih solid dari sebelumnya. Kekuatannya yang berada di tingkat akhir Pengumpulan Qi kini telah stabil sepenuhnya. Ia bahkan bisa merasakan tanda-tanda embrio untuk pusaran ketiga mulai terbentuk di dekat titik nadinya yang paling vital.

Qixuan membuka matanya. Sepasang pupil hitamnya memancarkan ketajaman setajam pedang pusaka yang baru diasah. Napasnya teratur kembali. Meskipun lelah, tubuhnya kini dipenuhi oleh ledakan tenaga yang meremajakan.

"Tuan Muda," suara Mo Chen terdengar dari balik dinding batu. Pintu rahasia bergeser terbuka, menampilkan sosok pengawal berpakaian hitam tersebut yang memegang sebuah tabung bambu kecil berlapis malam merah—segel pesan tingkat tertinggi Jaring Bayangan.

"Bacakan," perintah Qixuan seraya berdiri, merapikan jubah sutranya yang kusut.

Mo Chen mematahkan segel malam tersebut, membuka gulungan kertas tipis di dalamnya. "Dari mata-mata kita di Aula Emas Istana. Sidang pagi kekaisaran baru saja dimulai. Perdana Menteri Han Mian memimpin serangan terhadap Klan Pei."

Sudut bibir Qixuan melengkung membentuk senyum dingin. "Bagus. Mari kita dengarkan bagaimana anjing-anjing itu saling menggigit."

Istana Naga Langit berdiri megah di pusat ibukota Jinling, pilar-pilarnya dilapisi emas murni dan atapnya berukirkan ribuan naga awan. Di dalam Aula Emas, atmosfernya begitu tegang hingga terasa sulit untuk bernapas. Ratusan pejabat berbaris rapi berdasarkan pangkat, kepala mereka menunduk dalam-dalam menghadap Singgasana Sembilan Naga.

Di balik tirai mutiara yang menggantung di depan singgasana, duduklah Kaisar Yan Wudi. Pria yang dulunya dikenal sebagai Penakluk Benua Timur itu kini tampak rapuh. Wajahnya tertutup bayangan tirai, hanya suara batuk berdahaknya yang sesekali memecah keheningan yang mencekam. Bau herbal menyengat dari tungku dupa di sampingnya gagal menyamarkan aroma pembusukan yang keluar dari tubuh sang penguasa tua.

Di bawah tangga singgasana, dua raksasa politik Dinasti Yan sedang saling berhadapan.

Perdana Menteri Kiri Pei Shiyuan berdiri dengan wajah muram. Di sampingnya berlutut putra sulungnya, Panglima Pei Ji, yang zirah emasnya masih menyisakan noda hangus akibat sambaran petir semalam.

Di seberang mereka, Perdana Menteri Kanan Han Mian berdiri tegak, memegang papan kayu kecil di depan dadanya. Di belakangnya, Menteri Pendapatan Lu Zhen memegang sebuah kotak kayu bertahtakan permata.

"Yang Mulia," suara Han Mian menggelegar, memecah kesunyian dewan. "Tadi malam, tanpa adanya titah resmi, Panglima Pei Ji menggerakkan tiga ribu Pengawal Kekaisaran menuju Kediaman Jenderal Besar Cang Baotian. Tindakan militer ilegal di dalam dinding ibukota adalah ancaman langsung terhadap keselamatan Yang Mulia dan merupakan bentuk makar yang nyata!"

Pei Shiyuan segera melangkah maju, wajahnya merah padam. "Yang Mulia, mohon jangan mendengarkan fitnah ini! Putra saya menerima informasi bahwa Jenderal Cang Baotian telah membelot dan melarikan diri dari Perbatasan Utara. Mengingat urgensi ancaman tersebut, Panglima Pei Ji bergerak cepat untuk mengamankan pemberontak sebelum mereka sempat menyusun kekuatan di dalam kota!"

"Mengamankan pemberontak?" Han Mian mendengus keras, nada suaranya penuh sarkasme. "Sejak kapan seorang Jenderal Besar yang telah membela negara ini selama empat puluh tahun dicap sebagai pemberontak tanpa adanya pengadilan militer? Sebaliknya, alasan sebenarnya Klan Pei bergerak begitu cepat adalah untuk menutupi kejahatan mereka sendiri!"

Han Mian memberi isyarat kepada Lu Zhen. Menteri Pendapatan itu melangkah maju dengan tangan gemetar, mengangkat kotak kayu ke atas.

"Yang Mulia," lapor Lu Zhen, suaranya berusaha keras disamarkan agar terdengar berani. "Bulan lalu, Departemen Pendapatan menemukan ketidaksesuaian besar dalam aliran dana logistik menuju Perbatasan Utara. Kami melakukan penyelidikan rahasia dan menemukan buku besar bayangan dari Kamar Dagang Emas yang terafiliasi dengan Klan Pei. Selama tiga tahun terakhir, mereka telah menyelundupkan sebagian besar jatah gandum militer dan menjualnya ke pasar gelap. Kekurangan pasukan Jenderal Cang di perbatasan bukan disebabkan oleh kekalahan perang, melainkan kelaparan akibat ulah pejabat korup di ibukota!"

Aula Emas seketika gempar. Para menteri saling berbisik dengan wajah pucat. Korupsi dana militer adalah kejahatan besar yang hukumannya adalah pemenggalan sembilan keturunan.

"Fitnah! Ini semua adalah rekayasa Han Mian untuk menjatuhkan klanku!" teriak Pei Shiyuan, menunjuk ke arah Lu Zhen. "Kalian memalsukan bukti itu semalam!"

"Buku besar itu terbuat dari kertas daun perak yang hanya diproduksi oleh percetakan keluarga Pei, lengkap dengan segel darah tetua klan kalian," Lu Zhen membalas dengan tegas, karena ia tahu persis dokumen yang dikirimkan oleh anak buah Cang Qixuan semalam adalah asli seratus persen. "Jika Perdana Menteri Pei tidak percaya, silakan serahkan pada Biro Penyelidik Istana untuk diperiksa keasliannya."

Tirai mutiara di depan singgasana tiba-tiba bergetar pelan. Suara ketukan jari berhias cincin giok pada sandaran kursi menggema, menghentikan seluruh perdebatan seketika.

"Cukup," suara Kaisar Yan Wudi parau, lemah, bercampur dengan aura penekanan tingkat Langit yang membuat lutut para pejabat gemetar.

Mata kaisar yang tajam bagai elang tua mengamati aula tersebut. Di dalam benaknya, roda gigi kelicikan berputar cepat. Ia sendiri yang memberi perintah rahasia pada Klan Pei semalam untuk memusnahkan Kediaman Cang. Ia sudah muak dengan pengaruh militer keluarga jenderal tersebut. Sayangnya, rencana sempurnanya hancur berantakan. Cang Baotian lolos dari Bayangan Istana, dan kini Klan Pei justru terjebak dalam skandal korupsi raksasa di hadapan publik.

Kaisar tahu Klan Pei memang melakukan korupsi, ia bahkan diam-diam membiarkannya agar memiliki kelemahan yang bisa digunakan untuk menekan mereka. Rencana awalnya adalah membersihkan Klan Cang terlebih dahulu, lalu membersihkan Klan Pei di kemudian hari. Kemunculan bukti ini secara tiba-tiba menghancurkan keseimbangan kekuasaan yang ia bangun dengan susah payah.

Jika ia memihak Klan Pei hari ini dan tetap menghukum Klan Cang, seluruh menteri akan melihatnya sebagai tiran yang melindungi koruptor. Pemberontakan massal dari faksi netral bisa terjadi.

"Panglima Pei Ji," Kaisar memanggil.

"Hamba, Yang Mulia," Pei Ji bersujud hingga dahinya menyentuh lantai emas.

"Kau menggerakkan pasukan tanpa dekrit tertulis dari Tanganku. Tindakanmu ceroboh dan melampaui batas wewenangmu. Sebagai hukuman, pangkatmu diturunkan dua tingkat, kau dicopot dari jabatan Panglima Pengawal Kekaisaran, dan gajimu ditahan selama lima tahun."

Wajah Pei Shiyuan memucat, sangat terkejut dengan keputusan tersebut. Kehilangan kendali atas Pengawal Kekaisaran adalah pukulan fatal bagi kekuatan militer Klan Pei di ibukota.

Kaisar belum selesai. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Han Mian. "Bukti korupsi ini akan diselidiki secara mendalam oleh Biro Penyelidik. Sampai hasilnya keluar, Perdana Menteri Pei akan dikenakan tahanan rumah."

"Yang Mulia, sungguh bijaksana!" Han Mian bersujud, menyembunyikan senyum kemenangan di balik lengan bajunya.

"Jangan terburu-buru merasa senang, Han Mian," tegur Kaisar dingin. "Meskipun tindakan Pei Ji salah, laporan tentang menghilangnya Jenderal Besar Cang Baotian dari posnya di perbatasan adalah fakta. Meninggalkan medan perang tanpa perintah adalah desersi tingkat tinggi."

Kaisar terbatuk lagi, mengusap setitik darah dari bibirnya dengan saputangan sutra.

"Keluarkan Dekrit Kekaisaran. Segel Harimau milik Jenderal Cang Baotian dicabut dan dikembalikan ke Istana. Kendali atas Pasukan Naga Hitam di perbatasan diserahkan sementara kepada Wakil Jenderal Mu Chenghai. Kediaman Cang di ibukota akan diawasi secara ketat. Semua tunjangan militer mereka dihentikan. Berhubung Cang Baotian belum terbukti melakukan pemberontakan langsung dan mengingat jasa masa lalunya... hukuman mati tidak akan dijatuhkan. Ahli warisnya, Cang Qixuan, diizinkan mempertahankan gelar kebangsawanannya."

Keputusan itu dijatuhkan. Sidang dibubarkan dengan atmosfer yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.

Di dalam tandunya yang mewah saat menuju kediamannya, Han Mian merenung panjang. Klan Pei telah dilumpuhkan sebagian, ini adalah kemenangan besar. Walaupun demikian, ia merasa ada tangan tak kasat mata yang merancang seluruh peristiwa semalam. Mengingat kembali janji Tuan Muda Cang, Han Mian bergidik ngeri. Mungkinkah pemuda hidung belang yang terkenal bodoh itu adalah dalang di balik semua badai ini?

Kembali ke Kediaman Cang.

Qixuan duduk di paviliun tamannya, menyesap teh daun teratai dengan santai. Mo Chen berdiri di sampingnya seperti bayangan tak bernyawa. Laporan dari pengadilan telah ia dengar sepenuhnya.

"Sempurna," Qixuan meletakkan cangkir tehnya. "Kaisar tua itu bertindak persis seperti yang kuharapkan. Mengorbankan posisi Pei Ji untuk menenangkan publik, menahan Klan Pei untuk sementara waktu, mencabut kekuatan militer kita, lalu membiarkan kita hidup sebagai tahanan di dalam kota."

"Tuan Muda, tanpa Segel Harimau, Pasukan Naga Hitam di perbatasan kini sepenuhnya jatuh ke tangan Mu Chenghai, wakil jenderal yang mengkhianati Tuan Besar. Apakah kita akan membiarkan ini terjadi?" tanya Mo Chen. Suaranya mengandung sedikit keraguan atas keselamatan pasukan yang dulu ia bela tersebut.

Qixuan tertawa pelan. Tawanya terdengar merdu sekaligus mengintimidasi. "Mo Chen, Segel Harimau itu hanyalah bongkahan emas berbentuk binatang. Kekuatan sejati pasukan tidak terletak pada logam mati, melainkan pada perut yang kenyang dan dompet yang tebal. Mu Chenghai mendapat segelnya, itu benar. Pertanyaannya adalah, bisakah dia membayar gaji ratusan ribu prajurit itu saat musim dingin tiba bulan depan?"

Mo Chen mengerutkan kening, mencoba memahami.

"Mulai hari ini, potong aliran dana gelap ke kamp militer utara," perintah Qixuan matanya berkilat licik. "Biarkan Kaisar Yan dan Mu Chenghai merasakan beratnya membiayai pasukan elit tanpa bantuan kekayaan rahasia Klan Cang. Dalam dua bulan, saat tentara mulai kelaparan dan persediaan senjata menipis, mereka akan memohon kepada kita untuk mengambil kembali segel tersebut. Kesetiaan yang dibeli dengan penderitaan adalah kesetiaan yang palsu. Aku akan membuat mereka kelaparan, dan kemudian membelinya kembali dengan harga yang jauh lebih murah."

Seorang pelayan wanita berjubah hijau melangkah masuk ke area paviliun, membungkuk memberi hormat. Ia adalah bawahan langsung Nyonya Su Liyin dari Jaring Bayangan.

"Tuan Muda, Nyonya Su menyampaikan pesan," ucap pelayan tersebut, menyerahkan sebuah undangan berlapis beludru hitam. "Malam ini, Pelelangan Bawah Tanah Gedung Menara Kaca akan mengadakan lelang besar. Salah satu barang yang akan dilelang adalah 'Akar Nadi Naga' berusia tiga ratus tahun."

Mata Qixuan berbinar mendengar nama benda tersebut. Akar Nadi Naga adalah salah satu bahan herbal spiritual tingkat tinggi, sangat berharga bagi kultivator berelemen tanah. Bagi Qixuan, benda itu adalah pemicu yang tepat untuk membuka pusaran ketiga dalam teknik Menelan Langit-nya, sekaligus menyempurnakan obat untuk memperbaiki jantung kakeknya.

"Apakah keluarga lain tahu tentang akar ini?" tanya Qixuan.

"Informasi ini cukup tersebar di kalangan atas, Tuan Muda," lapor pelayan itu. "Banyak tuan muda dari klan bangsawan lain bersiap untuk memperebutkannya. Tuan Muda Ketiga dari Klan Zhao, dan bahkan beberapa utusan dari sekte luar kota."

"Bagus sekali," Qixuan berdiri, merentangkan tangannya perlahan. Tulang-tulangnya berbunyi ringan. "Aku sudah menahan diri selama berjam-jam. Jika Tuan Muda Cang tidak menghamburkan puluhan ribu emas hari ini, penduduk ibukota pasti akan mengira aku sedang sakit parah."

Ia menoleh pada pengawalnya. "Mo Chen, siapkan kereta kuda yang paling mewah. Pasang bendera dengan lambang klan kita sebesar mungkin. Bawa lima peti emas murni dari gudang bawah tanah. Hari ini, kita akan membuat semua orang di pelelangan menangis darah."

Gedung Menara Kaca terletak di Distrik Pusat Jinling. Bangunan setinggi lima lantai itu terbuat dari batu kristal dan kayu ulin yang memancarkan cahaya berkilauan di bawah sinar rembulan. Ini adalah tempat pelelangan kelas atas di mana uang receh tidak berlaku; di sini, kekayaan diukur dalam bentuk permata spiritual dan cek emas berskala kekaisaran.

Kereta kuda milik Kediaman Cang yang berlapis daun emas dan ditarik oleh empat kuda bersurai putih tiba di pelataran menara dengan angkuh. Kedatangannya langsung menarik perhatian puluhan penjaga bersenjata dan tamu undangan lainnya.

Qixuan turun dari kereta dengan langkah gontai khas pemabuk. Pakaiannya kali ini sangat menyilaukan mata: jubah sutra merah terang dengan sulaman benang perak berbentuk burung merak, lengkap dengan kipas lipat bertulang giok di tangannya. Ia mengapit lengan seorang pelayan wanita cantik di sisi kirinya, meraba pinggangnya secara terang-terangan sambil tertawa keras.

Tingkah lakunya persis seperti gambaran tuan muda tak berguna yang tidak peduli bahwa klannya baru saja kehilangan kekuatan militernya siang tadi.

Beberapa bangsawan yang melihatnya mencibir jijik.

"Lihat si sampah itu. Kakeknya kehilangan posisinya, klannya sedang diawasi ketat, dan dia masih berani pamer kekayaan di sini."

"Kudengar perbendaharaan Klan Cang sudah hampir kosong. Dia pasti menjual perabotan ibunya untuk bisa masuk ke tempat ini."

Qixuan mengabaikan bisikan-bisikan itu. Ia melemparkan sebuah kantong kecil berisi seratus keping emas ke dada penjaga pintu hanya sebagai uang tip untuk membukakan jalan. Penjaga itu menangkapnya dengan panik dan segera membungkuk dalam-dalam.

Memasuki ruang lelang bawah tanah, suasananya sangat berbeda. Ruangan berbentuk melingkar itu dihiasi karpet beludru tebal. Ratusan kursi berlapis emas tersusun rapi mengelilingi panggung marmer putih di tengah. Di lantai dua, terdapat ruang-ruang VVIP yang tertutup tirai tipis untuk menjaga identitas para penawar tingkat tinggi.

Qixuan tidak memilih ruang VVIP. Ia justru duduk di kursi baris pertama yang paling mencolok, meletakkan kakinya dengan santai di atas meja kecil di depannya. Mo Chen berdiri diam di belakangnya bersama lima orang kuli panggul berbadan besar yang memikul peti kayu tebal bertuliskan karakter 'Emas'.

Lelang dimulai. Berbagai senjata spiritual, baju pelindung, dan pil obat tingkat rendah hingga menengah laku terjual. Qixuan tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Ia hanya sibuk mengipas dirinya dan menggoda pelayan wanita yang menuangkan anggur untuknya.

Hingga akhirnya, juru lelang tua di atas panggung membuka sebuah kotak batu giok yang memancarkan kabut tipis keperakan. Di dalamnya terdapat akar tanaman berwarna cokelat keemasan yang bentuknya meliuk menyerupai seekor naga kecil. Energi spiritual yang pekat seketika menyebar ke seluruh ruangan, membuat banyak orang tanpa sadar menarik napas dalam-dalam.

"Para tamu yang terhormat, ini adalah puncak acara kita malam ini," juru lelang mengumumkan dengan senyum lebar. "Akar Nadi Naga berusia tiga ratus tahun, dipanen langsung dari kedalaman Lembah Hantu Merah. Sangat berguna untuk memperkuat meridian, memperpanjang umur, dan memecahkan kemacetan kultivasi tingkat Bumi. Harga awal... sepuluh ribu tael emas! Setiap penawaran minimal seribu tael!"

Harga yang fantastis. Bagi sekte kecil, jumlah itu cukup untuk biaya operasional selama satu dekade.

"Sebelas ribu tael!" seru seorang pria buncit dari barisan tengah.

"Tiga belas ribu tael!" sahut Tuan Muda Ketiga Zhao dari ruang lantai dua.

"Lima belas ribu tael!" suara seorang wanita yang jernih namun dingin terdengar dari ruang VVIP nomor satu di lantai atas.

Mendengar suara wanita itu, seisi ruangan terdiam. Semua orang di ibukota tahu siapa pemilik ruangan nomor satu. Itu adalah Putri Yan Ling, putri bungsu kesayangan Kaisar. Beliau terkenal sebagai jenius kultivasi berwajah dingin yang sangat dihormati di sekte-sekte besar. Tidak ada yang berani bersaing dengannya demi menghindari murka Istana.

Juru lelang tersenyum puas. "Lima belas ribu tael dari Ruang Nomor Satu. Apakah ada—"

*Brak!*

Suara kayu yang ditendang bergema keras di ruangan yang sunyi itu.

Semua mata menoleh ke barisan depan. Cang Qixuan baru saja menendang meja kecil di depannya hingga terbalik. Ia bangkit berdiri, merapikan jubah merahnya, lalu melambaikan kipas gioknya dengan gerakan yang luar biasa arogan.

"Lima belas ribu tael? Kalian menyebut ini pelelangan barang berharga atau pasar sayur loak?" Qixuan berbicara dengan suara keras dan mengejek, memastikan seluruh ruangan mendengarnya. "Benda sekecil itu hanya pantas digunakan sebagai mainan kunyah anjing penjaga di rumahku."

Ia menjentikkan jarinya ke arah kuli panggul di belakangnya. "Mo Chen, buka petinya."

Mo Chen menendang kunci kelima peti kayu tebal itu secara berurutan. Kelimanya terbuka secara bersamaan, memantulkan cahaya kuning emas yang sangat menyilaukan mata. Ratusan batangan emas murni tersusun rapi di dalamnya, memancarkan aura kekayaan yang sanggup membutakan mata manusia fana.

"Lima puluh ribu tael emas," ucap Qixuan dengan nada malas, seolah ia baru saja membeli sebuah apel di pinggir jalan. "Bungkus akar rongsokan itu. Aku ingin pulang cepat, arakku sudah dingin."

Keheningan mutlak melanda ruangan tersebut. Lima puluh ribu tael emas?! Untuk satu akar spiritual? Harga itu lima kali lipat lebih mahal dari harga pasar tertingginya! Ini bukan lagi pelelangan, ini adalah pembuangan uang yang gila-gilaan!

Di dalam ruang VVIP nomor satu, Putri Yan Ling yang mengenakan kerudung putih mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memucat. Matanya yang dingin menatap tajam menembus tirai, mengarah tepat pada sosok Qixuan yang sedang menguap bosan.

"Cang Qixuan... si sampah tidak berguna itu," desis Putri Yan Ling. "Berani sekali dia merusak rencanaku. Akar itu adalah bahan utama pil untuk merawat penyakit Ayahanda Kaisar."

"Tuan Putri," bisik pengawal tua di sebelahnya. "Apakah kita harus menambah penawaran? Perbendaharaan rahasia kita hanya membawa tiga puluh ribu tael malam ini."

Putri Yan Ling menarik napas dalam, berusaha menenangkan gejolak emosinya. "Tidak. Biarkan si bodoh itu membelinya. Menghabiskan sisa harta klannya yang sedang dalam pengawasan Istana hanya akan mempercepat kejatuhan mereka. Saat Klan Cang dihancurkan nanti, semua hartanya akan kembali ke Istana pula. Kita akan merampasnya setelah ia keluar dari gedung ini."

Di atas panggung, juru lelang menelan ludah dengan susah payah, tangannya gemetar memegang palu kayu. "L-lima puluh ribu tael dari Tuan Muda Cang! Apakah ada penawaran lain?"

Hening. Tidak ada satupun yang gila atau sekaya itu untuk melawannya.

"Tiga, dua, satu. Terjual kepada Tuan Muda Cang!"

Qixuan menyeringai lebar. Ia memberi isyarat kepada pelayannya untuk mengambil kotak giok tersebut. Saat akar Nadi Naga itu berada di tangannya, denyut energi di dalam tubuhnya merespons dengan liar. Pusaran ketiga di dalam tubuhnya seakan meraung kelaparan, ingin segera melahap energi bumi yang terkandung di dalam akar kuno tersebut.

Dengan akar ini, bukan hanya jantung kakeknya yang akan terselamatkan, langkah kakinya menuju tingkat kultivasi Pembentukan Fondasi kini berada tepat di depan mata.

"Kerja bagus," Qixuan memasukkan kotak giok ke dalam lengan bajunya. Ia memutar tubuhnya untuk berjalan keluar, meninggalkan peti-peti emasnya untuk diurus oleh petugas pelelangan.

Tepat saat ia melangkah menuju lorong keluar, sebuah niat membunuh yang sangat tipis—setipis benang sutra—terasa menyentuh bagian belakang lehernya. Niat membunuh itu sangat ahli disamarkan, berasal dari bayangan pilar di dekat pintu keluar.

Langkah kaki Qixuan sedikit melambat, namun wajah bodoh dan sombongnya tidak berubah sedikit pun. Ia terus berjalan sambil bersiul sumbang, mengayun-ayunkan kipasnya.

Di balik kelopak matanya yang setengah tertutup karena mabuk palsu, Qixuan mengkalkulasi jarak, waktu, dan kekuatan musuh rahasia di depannya. Pembunuh bayaran tingkat Pembentukan Fondasi tahap akhir. Mungkin dikirim oleh saingannya dalam pelelangan tadi, atau mungkin anjing pelacak Istana yang berniat membunuhnya dalam 'insiden perampokan' acak.

Siapapun itu, Qixuan sudah siap. Uang lima puluh ribu emas yang ia hamburkan malam ini tidak hanya memberinya barang ajaib, melainkan juga sebuah panggung yang sempurna. Panggung untuk menunjukkan bahwa meskipun dia seorang tuan muda yang boros dan tanpa meridian, membunuhnya di jalanan ibukota adalah tugas yang jauh lebih sulit daripada membunuh naga di langit.

"Mo Chen," panggil Qixuan dengan suara manja yang keras, tangannya pura-pura tersandung ke arah pilar tempat si pembunuh bersembunyi. "Kakiku gatal. Potong benda apapun yang bersembunyi di balik bayangan itu."

Kilatan pedang hitam menyapu kegelapan, disambut oleh percikan darah segar yang menodai karpet beludru merah, menjadi penutup malam yang sempurna bagi sang penguasa sutra dari bayangan.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!