NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Liam Yang Sebenarnya

Suasana makan malam yang hangat itu hancur seketika saat ponsel Liam bergetar hebat di atas meja. Liam melirik layar, dan ekspresinya langsung berubah drastis saat melihat nama Jino.

​"Ada apa?" suara Liam berubah dingin saat mengangkat telepon.

​"Bos, kita punya masalah besar. Barangnya tertahan di pelabuhan," suara Jino di seberang sana terdengar panik.

"Mereka tidak mau diajak kompromi. Aku sudah mencoba segalanya, tapi mereka menuntut pemiliknya langsung yang datang. Aku tidak bisa menanganinya sendirian, Liam."

​Liam mengumpat pelan. Ia melirik Cassie yang sedang menatapnya dengan wajah cemas. Pikirannya berputar cepat. Jika ia mengantarkan Cassie pulang dulu ke rumah, ia akan kehilangan waktu hampir satu jam karena jarak pelabuhan ke bukit cukup jauh.

Tapi membawa Cassie ke pelabuhan adalah risiko yang sangat besar.

​"Liam? Ada apa?" tanya Cassie pelan.

​Liam menimbang-nimbang sesaat. Antara keamanan Cassie dan kelangsungan bisnisnya yang sedang di ujung tanduk. Akhirnya, ia mengambil keputusan nekat.

​"Pakai mantelmu. Kita pergi sekarang," perintah Liam sambil menyambar kunci mobil dan meletakkan beberapa lembar uang besar di meja tanpa menunggu kembalian.

​"Kita pulang?" tanya Cassie sambil berusaha menyamai langkah lebar Liam.

​"Tidak. Kita ke pelabuhan. Jino dalam masalah," jawab Liam singkat saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.

​"Tapi... apa tidak apa-apa aku ikut?" Cassie merasa ragu. Ia tahu pelabuhan adalah tempat yang berbahaya di malam hari, apalagi untuk urusan ilegal.

​"Aku tidak punya waktu untuk mengantarmu pulang, dan aku tidak akan membiarkanmu naik taksi sendirian di jam segini,"

Liam memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota menuju dermaga timur Verovska.

"Tetaplah di dalam mobil saat kita sampai nanti. Jangan keluar, jangan buka kaca, dan jangan bicara pada siapa pun kecuali aku, Jino, atau Marco. Kau paham?"

​Cassie mengangguk cepat, tangannya menggenggam sabuk pengaman erat-erat. Ia bisa merasakan ketegangan yang memancar dari tubuh Liam.

Pria yang tadi tertawa lebar mendengar fantasinya soal mafia, kini telah kembali menjadi sosok yang dingin dan penuh perhitungan.

​Sesampainya di pelabuhan, suasana terasa sangat mencekam. Lampu-lampu sorot raksasa menerangi kontainer-kontainer yang bertumpuk.

Liam memarkir mobilnya sedikit menjauh dari kerumunan petugas berseragam, namun cukup dekat agar ia bisa memantau mobil tersebut.

​"Ingat kataku, jangan keluar dari mobil," Liam menatap Cassie dalam-dalam sejenak, seolah memastikan gadis itu akan aman, sebelum ia keluar dan menghilang di balik deretan kontainer.

​Cassie duduk sendirian di dalam mobil yang mesinnya masih menyala pelan. Dari balik kaca film yang gelap, ia melihat Liam berjalan dengan langkah mantap menuju Jino yang sedang berdebat dengan beberapa pria berseragam lengkap.

Ini adalah pertama kalinya Cassie melihat Liam benar-benar beraksi di "medan perang" birokrasinya sendiri.

***

Dari dalam mobil yang sunyi, Cassie menempelkan wajahnya ke kaca jendela. Jantungnya berdegup kencang melihat pemandangan di depannya.

Di bawah lampu sorot pelabuhan yang kuning pucat, Liam berdiri tegak menghadapi tiga petugas berseragam yang tampak sangat tidak ramah.

​Seorang petugas yang bertubuh besar menunjuk-nunjuk ke arah salah satu kontainer miliknya, memaksa untuk melakukan pembongkaran total. Cassie tahu, di dalam sana tersembunyi rokok-rokok tanpa cukai yang bisa menjebloskan Liam ke penjara dalam sekejap.

​Namun, alih-alih panik, Liam justru terlihat sangat tenang. Ia memasukkan satu tangan ke saku celananya, sementara tangan lainnya bergerak tenang saat berbicara. Tidak ada lagi teriakan atau emosi meledak-ledak seperti saat dia memarahi Cassie tadi pagi.

​Cassie terpaku. Selama ini, dia hanya melihat Liam sebagai pria menyebalkan yang hobi meledeknya, atau pria yang sedang galau karena mantan kekasihnya. Dia tidak pernah benar-benar sadar bahwa Liam adalah seorang pemimpin.

​"Lihat dia..." bisik Cassie pada dirinya sendiri.

​Liam terlihat sangat hebat. Cara dia menatap mata petugas itu tanpa gentar, cara dia menurunkan intonasi suaranya untuk menenangkan suasana, hingga cara dia menyodorkan beberapa dokumen dengan gestur yang sangat percaya diri.

Liam sedang melakukan negosiasi tingkat tinggi.

​Sesekali Liam menoleh sekilas ke arah mobil, memastikan keberadaan Cassie tetap aman, sebelum kembali fokus pada "musuhnya".

​Jino yang berdiri di belakang Liam tampak gelisah, sesekali menyeka keringat di dahinya, tapi Liam tetap seperti karang. Dia terlihat sangat maskulin dan berwibawa di bawah tekanan.

Cassie baru menyadari bahwa aura yang dimiliki Liam bukan sekadar karena dia kaya, tapi karena dia memiliki keberanian yang tidak dimiliki orang biasa.

Fantasi Cassie soal "mafia tampan" di restoran tadi seolah mendapatkan pembenaran di sini, meski dalam versi yang jauh lebih nyata dan berisiko.

​Tiba-tiba, petugas itu tampak melunak. Mereka saling berbisik, lalu salah satu dari mereka menjabat tangan Liam dan mengangguk. Kontainer itu tidak jadi dibongkar. Liam berhasil memutarbalikkan keadaan.

​Liam berbalik dan berjalan menuju mobil. Saat dia mendekat, dia melepaskan satu kancing kerah kemejanya, tampak sedikit lelah namun tetap penuh kemenangan. Begitu dia masuk ke dalam mobil, aroma maskulinnya memenuhi ruangan.

​"Sudah selesai?" tanya Cassie dengan suara kecil, masih terpana.

​Liam menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya di sandaran jok.

"Hampir saja. Mereka benar-benar sedang mencari mangsa malam ini."

​"Kau... hebat tadi," puji Cassie tulus, tanpa ada nada sarkasme sama sekali.

​Liam menoleh, menatap Cassie dengan senyum miring yang tipis.

"Kenapa? Apa fantasimu soal mafia sekarang berubah menjadi kekaguman pada pengusaha ilegal?"

​Cassie tidak membalas ledekannya dengan kemarahan. Dia hanya tersenyum tipis.

"Aku baru sadar, ternyata kau memang tahu apa yang kau lakukan."

***

Mobil membelah kesunyian jalan raya menuju perbukitan. Cahaya lampu jalan yang melewati atap mobil menciptakan ritme bayangan yang konstan di wajah Liam. Cassie, yang masih terbayang adegan di pelabuhan tadi, menoleh ke arah Liam dengan rasa penasaran yang memuncak.

​"Sepercaya apa kau pada Jino dan Marco?" tanya Cassie pelan.

"Maksudku, di dunia seberbahaya ini, mereka sepertinya sangat loyal padamu."

​Liam tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan kenangan pahit.

"Aku memercayai mereka lebih dari aku memercayai diriku sendiri, Cassie. Kami tumbuh dari lumpur yang sama."

​Liam mulai bercerita dengan nada yang lebih santai. "Kami bertiga dulu adalah mimpi buruk di sekolah. Marco itu teman sebangkuku yang tidak pernah bicara kecuali perlu, sementara Jino adalah adik kelas yang sangat keras kepala. Dia selalu ingin ikut campur dalam setiap urusan kami, tidak mau ditinggal."

​Liam terkekeh rendah mengingat masa lalu itu.

"Guru-guru kami dulu bahkan sampai menyerah. Mereka bilang kami bertiga tidak akan pernah sukses dan hanya akan jadi beban masyarakat. Dan lucunya, awalnya ucapan itu terasa seperti kutukan yang terbukti."

​"Benarkah?" Cassie menyimak dengan serius.

​"Iya. Setelah lulus, kami benar-benar hancur. Susah dapat kerja, diremehkan karena catatan sekolah kami yang buruk, dan hidup sangat kesusahan. Mungkin hanya Jino yang masih punya sedikit harapan saat itu. Seperti yang selalu dia banggakan, dia memanfaatkan wajah tampannya dengan baik. Dia sempat jadi model iklan beberapa kali. Dan kau tahu?" Liam melirik Cassie sekilas.

"Uang hasil Jino jadi model itulah yang kami kumpulkan untuk mulai usaha benar-benar dari nol. Kami makan satu mangkuk mie instan bertiga demi menghemat modal."

​Cassie terdiam, tidak menyangka bahwa kemewahan yang ia lihat sekarang dibangun dari uang hasil Jino menjadi model iklan dan penderitaan mereka bertiga.

​"Masalah di pelabuhan tadi? Itu tidak ada apa-apanya," lanjut Liam dengan suara yang mendadak memberat.

"Sebelum-sebelumnya, aku bahkan pernah hampir mati. Ada pengkhianatan, ada baku tembak yang tidak pernah masuk berita. Itulah sebabnya, bekerja saat malam hari jauh lebih berbahaya daripada siang hari. Di malam hari, aturan seringkali tidak berlaku."

​Liam menghela napas panjang, matanya fokus menatap jalanan yang berkelok.

"Makanya, saat kau bertanya seberapa aku percaya pada mereka... jawabannya adalah, kami sudah melewati neraka bersama-sama. Marco adalah perisai bagi punggungku, dan Jino adalah nyawa bagi keceriaan kami. Tanpa mereka, aku mungkin sudah lama jadi mayat di salah satu selokan Verovska."

​Cassie menatap profil samping wajah Liam. Di balik kesombongan dan kekayaannya, ternyata ada luka dan perjuangan yang sangat dalam. Ia baru menyadari bahwa ikatan mereka bertiga bukan sekadar bisnis, melainkan persaudaraan yang ditempa oleh kemiskinan dan penolakan dunia.

1
Ella Elli
yeeh 😒
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!