Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Era Kertas dan Batas Teritori
Sore merambat turun di kawasan The Bridle Path. Sinar matahari senja menyusup melalui jendela kaca besar, memantulkan bayangan Aisya yang berdiri kaku di tengah koridor lantai dua mansion.
Cassian berjalan di depannya, langkah kaki pria itu terdengar tegas di atas lantai kayu ek yang dipoles mengilap. Ia berhenti di depan sebuah pintu ganda bercat putih gading, lalu mendorongnya terbuka tanpa ekspresi.
"Ini kamarmu selama tinggal di sini," ujar Cassian lembut—terlalu lembut, bahkan terkesan sangat perhatian.
Aisya melangkah masuk dan matanya seketika membelalak. Kamar itu luar biasa luas, lengkap dengan berbagai fasilitas mewah. Di sudut ruangan, sebuah sajadah tebal berwarna hijau zamrud sudah tergelar rapi, lengkap dengan sebuah meja kecil untuk meletakkan Al-Qur'an.
"Masha Allah..." bisik Aisya, menyentuh meja kayu tersebut dengan jemari yang bergetar. Ia menoleh ke arah Cassian, matanya berkaca-kaca. "Kau menyiapkan tempat shalat ini untukku? Terima kasih, Cassian. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa."
Cassian melangkah mendekat, ia meraih tangan Aisya dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah benda porselen yang rapuh. "Jangan pikirkan soal membalas budi, Aisya. Fokusmu sekarang hanyalah beristirahat. Besok akan jadi hari yang sangat melelahkan untukku, dan aku ingin memastikan kau aman di sini tanpa gangguan siapa pun."
"Kau... tidak ingin aku menemanimu ke acara perusahaarmu?" tanya Aisya ragu, sedikit merasa cemas dengan lingkungan baru Cassian yang serba glamor.
Cassian tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang tampak penuh perlindungan namun sarat akan manipulasi. "Tidak perlu, Aisya. Dunia korporat sangat bising dan penuh dengan kepalsuan. Aku tidak ingin ketenanganmu terusik oleh orang-orang di sana. Cukup tinggal di rumah ini dengan nyaman, itu sudah lebih dari cukup untukku."
Aisya tersipu di balik niqabnya, menundukkan pandangannya dengan dada yang berdesir hangat. Ia benar-benar percaya bahwa pria di hadapannya ini sedang berusaha melindunginya dan menghargai pilihannya untuk menjaga jarak dari gemerlap dunia luar.
Setelah Cassian keluar dari kamar dan menutup pintu, senyum di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh garis wajah yang sedingin es. Pria itu menyandarkan punggungnya di dinding koridor, mengeluarkan ponsel, dan mengirim pesan singkat pada Kevin: "Target sudah berada di tempatnya dan merasa aman. Besok dia akan tetap di mansion. Skenario podium murni menggunakan dokumen hukum sipil yang kau pegang."
Pura-pura peduli jauh lebih mudah daripada harus menghadapi kepanikan atau tangisannya sekarang, batin Cassian sinis.
Ia sama sekali tidak berniat membawa Aisya ke Gala Dinner besok malam. Menyeret seorang gadis ber-niqab ke atas podium hanya akan memicu drama sirkus media yang tidak efisien untuk bisnisnya. Yang ia butuhkan hanyalah kekuatan hukum mutlak dari dokumen pernikahan sipil mereka.
Cassian menganggap Aisya sangat mudah disetir dan dibohongi; gadis itu begitu percaya pada ketulusan palsunya hanya karena ia berpura-pura bersujud kemarin dan bersikap manis sore ini. Padahal, ia menjadi mualaf murni demi selembar sertifikat resmi untuk mengunci hak veto warisannya, bukan karena iman.
Cassian melangkah menuju ruang kerjanya, otaknya sudah merancang skenario besar untuk esok malam. Besok, saat Alexander dan Rebecca berada di puncak kepercayaan diri mereka di hadapan para elit Toronto, dia akan meledakkan bom atom hukum itu sendirian dari atas podium. Tanpa perlu membawa fisik Aisya, dokumen sah di tangannya sudah cukup untuk meremukkan aliansi palsu keluarga Winston dalam satu detik.
Di dalam ruang kerjanya yang kedap suara, Cassian menatap layar monitor yang menampilkan grafik saham Noir Enterprises. "Nikmatilah malam tenangmu di kamar ini, Aisya. Karena besok malam, namamu akan mengguncang seluruh dinasti Noir."
...****************...
Malam pertama di mansion The Bridle Path bergulir dalam keheningan yang pekat. Bagi Aisya, malam ini adalah awal dari lembaran hidup yang sakral, sebuah transisi besar dari statusnya sebagai gadis yatim piatu menjadi seorang istri. Namun bagi Cassian, malam ini tak lebih dari sekadar jeda waktu di tengah-tengah persiapan perangnya.
Setelah menyelesaikan koordinasi terakhir dengan Kevin di ruang kerja, Cassian melangkah kembali ke koridor lantai dua. Langkah kakinya tanpa suara saat melewati pintu kamar Aisya yang tertutup rapat. Ada sedikit dorongan di kepalanya untuk memastikan bahwa bidak caturnya tidak melakukan hal bodoh yang bisa merusak rencana esok hari.
Cassian mengetuk pintu dua kali dengan ketukan yang ritmis dan pelan.
"Masuk," terdengar suara bisikan lembut dari dalam.
Saat Cassian mendorong pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar seketika menahan langkahnya di ambang pintu. Untuk pertama kalinya, Cassian melihat Aisya tanpa penghalang kain sama sekali. Pakaian tidurnya sangat sederhana, sebuah sweater polos longgar berwarna abu-abu muda senada dengan celana panjangnya. Gadis itu juga sudah menanggalkan lensa kontaknya, berganti dengan kacamata berbingkai bulat yang selalu ia pakai di rumah. Rambut hitam panjang gadis itu tergerai indah hingga ke pinggang, membingkai wajahnya yang kecil, polos, dan tampak begitu kontras dengan dekorasi kamar yang megah. Kulitnya yang bersih merona samar di bawah temaram lampu tidur.
Aisya mendongak, sepasang mata bulatnya yang jernih di balik lensa kacamata itu langsung beradu dengan tatapan elang Cassian. Menyadari suaminya sedang menatapnya tanpa kedip, Aisya refleks membetulkan letak kacamatanya yang agak turun dengan jari yang gemetar, lalu meremas ujung sweater-nya, menunduk dengan debaran jantung yang bertalu-talu karena canggung dan malu yang luar biasa.
"Kau... belum tidur?" bisik Aisya, memecah kesunyian malam.
Cassian berdeham rendah, dengan cepat menguasai kembali kendali dirinya. Sisi sinis di dalam otaknya segera bekerja, menepis riak asing yang sempat melintas di benaknya saat melihat kecantikan alami gadis itu.
Dia benar-benar seperti domba pasrah yang siap disembelih, batin Cassian dingin.
Cassian melangkah masuk beberapa senti, namun tetap menjaga jarak aman di dekat pintu. Ia sengaja menampilkan senyuman tipis yang hangat—topeng andalannya yang terbukti sangat ampuh untuk menjinakkan kenaifan Aisya.
"Belum. Aku hanya ingin memastikan kamarmu cukup hangat," ujar Cassian, suaranya terdengar begitu berat dan meneduhkan di telinga Aisya. "Apakah kau membutuhkan sesuatu sebelum aku kembali ke kamarku?"
Aisya mendongak lagi, matanya berbinar menyiratkan rasa haru. "Tidak, Cassian. Semuanya sudah lebih dari cukup. Terima kasih karena selalu mengutamakanku."
Aisya mengira, kalimat 'kembali ke kamarku' yang diucapkan Cassian adalah bentuk penghormatan dan kelembutan suaminya yang tidak ingin terburu-buru dan memaksakan keadaan di malam pertama mereka. Gadis itu mengira Cassian sedang memberinya waktu untuk beradaptasi dengan status baru ini.
"Baguslah kalau begitu. Istirahatlah yang cukup, Aisya," kata Cassian datar namun lembut.
"Cassian..." panggil Aisya sebelum pria itu berbalik. Ia bangkit berdiri dari tepi ranjang, menatap Cassian dengan ketulusan yang mendalam melalui kacamata bulatnya. "Aku... aku akan selalu mendoakan kelancaran urusanmu besok malam di atas sajadah ini."
Cassian mematung sesaat. Menatap wajah polos yang penuh dengan kepasrahan dan doa tulus untuknya, Cassian justru merasakan kepuasan yang sinis di dalam dadanya. Begitu mudah disetir. Begitu mudah dibohongi hanya dengan beberapa kalimat manis. Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa doa yang ia rapalkan justru akan menjadi pengantar bagi meledaknya bom hukum yang akan memanfaatkan namanya besok malam.
"Terima kasih, Aisya," sahut Cassian, senyum manipulasinya terkembang sempurna sebelum ia berbalik dan menutup pintu kamar tersebut.
Begitu pintu ganda itu mengunci, Cassian berjalan menuju kamarnya sendiri di ujung koridor dengan raut wajah yang kembali sedingin es. Tidak ada ruang untuk romansa malam pertama di dalam kamarnya. Yang ada hanyalah lembaran berkas, enkripsi data, dan persiapan akhir untuk menghancurkan Alexander Noir dan Rebecca Winston di depan publik Toronto esok malam.
semangat jg buat author nya 😍
di tunggu kelanjutannya Thor 😍
tegas dan bertanggung jawab
lanjut thor😍