NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Retret di Ambang Badai

​Matahari pagi Toronto baru saja terbit, menembus celah gorden kamar Aisya yang sempit. Namun, tidak ada rasa hangat yang menjalar di dada gadis itu. Sepanjang malam, Aisya sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Kamarnya kini dipenuhi lembaran kertas yang dibawa Kevin sejak pukul enam pagi—daftar vendor katering halal, sketsa dekorasi aula Islamic Centre yang sederhana namun elegan, hingga draf pranikah yang dikirim oleh tim pengacara Noir Enterprises.

​Semuanya bergerak terlalu cepat, terlalu sempurna, dan terlalu mekanis.

​Aisya menatap pantulan dirinya di cermin. Keganjilan ini terus menghantam logikanya tanpa ampun. Cassian Noir adalah pria yang menguasai puncak piramida bisnis Kanada. Mengapa pria seangkuh itu bersujud di bawah bimbingan Imam Abdulaziz? Mengapa dia rela mengeluarkan jutaan dolar untuk mahar sosial atas namanya? Dan yang paling mencurigakan, mengapa semuanya harus selesai dalam tiga hari?

​"Ini bukan pernikahan..." bisik Aisya pada keheningan kamarnya, suaranya bergetar. "Ini... ini transaksi. Dan aku diposisikan sebagai bidak catur yang tidak tahu sedang menghadapi perang apa."

​Rasa sangsi itu perlahan bermutasi menjadi ketakutan yang nyata. Menikah dengan pria yang menyembunyikan motif besar di balik jubah iman barunya adalah sebuah perjudian iman yang terlalu berbahaya bagi Aisya.

​Dengan tangan yang dingin, Aisya meraih ponselnya. Ia membuka ruang obrolan dengan nomor sekretaris Cassian, Kevin, yang sejak subuh terus mengirimkan draf konfirmasi.

​Aisya: Assalamu'alaikum, Tuan Kevin. Tolong sampaikan pada Tuan Noir... saya tidak bisa melanjutkan ini. Pernikahan hari Kamis harus dibatalkan. Saya tidak bisa membangun komitmen di atas keganjilan yang begitu besar.

​Setelah menekan tombol kirim, Aisya melempar ponselnya ke atas kasur, lalu menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut yang ditekuk. Dadanya sesak oleh rasa bersalah pada pamannya, namun logikanya menjerit bahwa melangkah maju ke altar bersama Cassian berarti menyerahkan diri pada badai kehancuran.

​Hanya butuh waktu lima belas menit bagi pesan itu untuk memicu kepanikan massal di lantai eksekutif Noir Enterprises.

​Di dalam ruang kerja utamanya yang super mewah, Cassian sedang meneliti laporan audit berkala ketika Kevin masuk tanpa mengetuk pintu, wajah sang sekretaris pucat pasi seolah baru saja melihat hantu korporat.

​"Tuan Noir... kita menghadapi masalah besar," ujar Kevin gagap, menyodorkan tablet digitalnya. "Nona Aisya... dia baru saja mengirim pesan pembatalan. Dia menolak melanjutkan pernikahan hari Kamis karena menganggap proses ini terlalu ganjil."

​Gerakan tangan Cassian yang sedang memegang pena mewah Montblanc seketika terhenti.

​Atmosfer di dalam ruangan luas itu mendadak anjlok hingga ke titik beku. Sepasang mata elang Cassian menyipit tajam, memancarkan kilat kemarahan yang begitu pekat hingga membuat Kevin refleks menahan napas dan mundur satu langkah. Selama hidupnya, tidak ada satu pun rencana Cassian yang boleh meleset, dan tidak ada satu orang pun—termasuk dewan direksi maupun ayahnya—yang berani membatalkan kesepakatan dengannya secara sepihak.

​Aisya baru saja menantang kendali mutlaknya.

​"Dia pikir dia sedang berhadapan dengan siapa?" desis Cassian, suaranya rendah, berat, dan sarat akan ancaman yang berbahaya.

​Cassian bangkit berdiri dari kursi kulit eksklusifnya, merapikan kancing jasnya dengan gerakan yang perlahan namun penuh dengan ketegangan yang pekat. Jika Aisya mundur sekarang, maka seluruh skenario kontra-strateginya untuk menjatuhkan Rebecca Winston dan mempertahankan takhta Noir di hadapan Alexander hari Kamis nanti akan runtuh total. Ia tidak akan membiarkan gadis suburban itu merusak papan catur yang sudah ia susun dengan presisi genius.

​"Batalkan seluruh rapatku siang ini, Kevin," perintah Cassian dingin, suaranya tidak menerima bantahan sekecil apa pun.

​"T-Tapi Tuan, Anda ada pertemuan dengan investor dari Swiss dua jam lagi—"

​"Aku tidak peduli," potong Cassian mutlak, menatap Kevin dengan pandangan yang menusuk. "Siapkan mobil. Aku sendiri yang akan menyeret gadis itu kembali ke dalam rencana ini."

​Aula administrasi Islamic Centre siang itu cukup lengang. Aisya duduk di balik meja kerjanya, mencoba memfokuskan pikiran pada tumpukan berkas data donasi. Namun, setiap kali ia mencoba membaca angka-angka di hadapannya, bayangan waJah tegas Cassian dan raungan mesin Bugatti-nya semalam kembali mengacaukan konsentrasinya.

​Pikirannya berkecamuk. Ia tahu keputusannya mengirim pesan pembatalan pagi tadi adalah langkah yang nekat. Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan? Menikahi pria misterius yang bergerak seperti badai rasanya terlalu menakutkan.

​Kring.

​Lonceng kecil di atas pintu masuk utama berbunyi, menandakan seseorang baru saja melangkah masuk. Aisya mendongak, dan sedetik kemudian, jantungnya seolah berhenti berdetak.

​Cassian Noir berdiri di sana.

​Pria itu tidak datang dengan raungan mobil sportnya yang memekakkan telinga, melainkan dengan langkah kaki yang teramat tenang. Ia juga tidak membawa pengawal atau sekretarisnya. Cassian hanya mengenakan kemeja rajut (knitwear) berwarna abu-abu gelap dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku, memberikan kesan jauh lebih kasual dan manusiawi daripada setelan jas formal zirah korporatnya yang biasa.

​Aisya refleks berdiri, mundur setengah langkah hingga punggungnya membentur sandaran kursi. "Tuan Noir... untuk apa Anda ke sini? Saya rasa pesan saya pagi tadi sudah cukup jelas."

​Cassian tidak membalas dengan kemarahan. Ia tidak menampilkan riak arogansi yang biasanya terpancar dari sosoknya. Pria itu berhenti tepat dua meter di depan meja kerja Aisya, menjaga jarak aman yang disyariatkan, lalu menatap Aisya dengan sepasang mata elang yang kali ini tampak... lelah, namun sarat akan ketulusan yang asing.

​"Aku ke sini bukan untuk berdebat, Aisya," ujar Cassian. Suara baritonnya terdengar lebih rendah dan lembut daripada biasanya, menggema tenang di sudut ruangan yang sepi. "Aku ke sini karena aku berutang sebuah penjelasan yang jujur padamu."

​Aisya tertegun, jemarinya meremas ujung khimarnya. "Penjelasan apa lagi, Tuan Noir? Segalanya terasa terlalu ganjil. Anda mualaf dalam semalam, datang melamar dengan mahar jutaan dolar, dan menuntut pernikahan dalam tiga hari. Logika saya tidak bisa menerima ini sebagai sebuah awal pernikahan yang murni."

​Cassian menghela napas pendek, menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatap langsung ke dalam manik mata Aisya.

​"Kau benar. Semua ini ganjil jika dilihat dari sudut pandang duniamu yang lurus," ucap Cassian mengakuinya tanpa bantahan, membuat Aisya sedikit terenyak karena mengira pria ini akan kembali menggunakan retorika bisnisnya. "Garis waktuku mendesak karena duniaku sedang tidak aman, Aisya. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang mengukur hidupku hanya dari seberapa besar keuntungan yang bisa kuperoleh untuk mereka. Mereka ingin mendikte hidupku, menjodohkanku demi memperluas dinasti bisnis, dan menjadikanku robot tanpa pilihan."

​Cassian maju setengah langkah, tatapannya melembut, memancarkan sisi rentan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun di Toronto.

​"Saat aku bertemu denganmu di perpustakaan hari itu, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kutemukan di duniaku. Sebuah keteguhan. Kau menolakku bukan karena kau ingin harga yang lebih tinggi, tapi karena kau memiliki prinsip yang tidak bisa dinegosiasikan oleh uangku," lanjut Cassian, suaranya terdengar begitu intim dan hangat. "Aku mempercepat semua ini bukan untuk mengintimidasi atau merendahkan sakralnya pernikahanmu. Aku melakukannya karena aku ingin segera menarikmu masuk ke dalam duniaku sebagai satu-satunya sekutu yang bisa kupercaya. Aku ingin melindungimu dengan kuasaku, dan di saat yang sama, aku butuh prinsip hidupmu untuk menjagaku agar tidak tersesat lebih jauh di duniaku yang kotor."

​Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan terbuka dari seorang pria yang biasanya menyembunyikan emosinya di balik topeng baja, pertahanan Aisya perlahan mulai goyah. Dadanya berdesir aneh. Ini bukan kata-kata seorang predator korporat yang sedang melakukan akuisisi; ini adalah seruan dari seorang manusia yang kesepian di puncak kekuasaannya.

​"Mengenai masalah mualaf..." Cassian menjeda, menatap dinding Islamic Centre sejenak sebelum kembali menatap Aisya. "Mungkin kemarin aku memulainya karena syarat yang kau ajukan. Tapi setelah duduk bersujud di atas karpet bersama Imam Abdulaziz semalam, merasakan ketenangan yang belum pernah kudapatkan di dalam jet pribadi atau ruang rapat mana pun... aku menyadari bahwa keputusan ini adalah hal terbaik yang pernah kuambil dalam hidupku. Aku tidak sedang bersandiwara di hadapan Tuhanmu, Aisya."

​Air mata Aisya perlahan menggenang di sudut matanya, tersamarkan oleh niqab yang ia kenakan. Ketulusan dalam suara Cassian malam ini meruntuhkan seluruh tembok kecurigaan yang ia bangun sepanjang malam. Pria ini tidak sedang menggunakan kekuasaannya untuk memaksanya, melainkan sedang menyerahkan egonya di hadapan gadis itu.

​"Aku tidak akan memaksamu jika kau memang ingin mundur," bisik Cassian, memberikan ruang kebebasan penuh yang justru membuat Aisya merasa semakin terikat. "Tapi aku berharap, kau mau percaya bahwa di dalam jangka waktu tiga hari yang gila ini, ada seorang pria yang benar-benar ingin membangun masa depan yang terhormat bersamamu. Pilihan ada di tanganmu, Aisya."

​Suasana aula administrasi itu kembali hening, namun kali ini keheningan itu terasa hangat dan melegakan. Aisya menunduk, menatap jemarinya, merasakan gemuruh di dadanya perlahan berubah menjadi sebuah keyakinan baru yang tak terduga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!