Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 : Karma Niko
Satria mendengarkan informasi yang diberikan oleh Raka dengan saksama. Dia juga beberapa kali mencatat hal penting yang diucapkan lelaki tersebut. Setelah selesai, dia pun segera menemui Naja di sebuah bukit.
"Jadi, benar nih bukan Evan si penjahat itu?" tanya Naja setelah membaca rangkuman informasi yang diberikan Satria.
Satria mengangguk tegas. Dia menatap Naja lembut. "Iya, lihat di bagian tengah yang aku catat. Itu hasil penerawangan ku saat menyelidiki Raka," jelas Satria sambil menunjuk satu paragraf di bagian tengah catatannya.
"Hmm... jadi, ini kasus kejahatan yang disengaja. Kok mereka tidak takut jika skor kenakalan mereka bertambah?" gumam Naja sambil mengerutkan kening.
Satria menaikkan salah satu alisnya dan mengangkat bahu tak acuh. "Mungkin karena sistem sudah mereka sabotase duluan," tebak Satria membuat Naja mengangguk, memahami ucapan lelaki tersebut.
Awalnya raut wajah Naja biasa saja saat membaca catatan Satria. Akan tetapi, matanya seketika mendelik dan tangannya mengepal saat membaca nama Niko di catatan itu. Sontak, Naja menoleh pada Satria dan menautkan kedua alisnya.
"Apa maksudmu berkata Niko pelakunya?" tanya Naja sedikit berteriak dengan pupil mata membesar.
Satria sedikit mundur karena teriakan Naja. Dia menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak bermaksud apa-apa. Itu hasil penerawangan ku dan juga konfirmasi ulang dari Raka...," jawab lelaki itu secara gamblang. Dia bicara apa adanya, tidak ada yang ditutupi sama sekali.
Naja menghela napas panjang, raut wajahnya sebagian mulai memerah dan napasnya memburu. Sebagian sayap kiri yang gelap perlahan muncul di belakang punggungnya. Sosok menyeramkan itu hampir keluar jikalau Satria tidak mencegahnya.
"Naja, kamu kenapa?"
Naja seketika tersadar dan diapun menggelengkan kepala sambil tersenyum. Merasa ada yang janggal, Satria pun mencoba menerawang apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya. Dia diam-diam melihat apa yang dilakukan Naja sampai gadis itu menjadi sangat marah.
Ternyata Naja sempat menolong Niko yang dihajar sampai babak belur oleh Evan. Sosok itu bahkan ikut terperdaya oleh sistem verdict yang disabotase. Untuk pertama kalinya, Naja tidak bisa membedakan mana orang baik dan mana yang benar-benar jahat.
"Aku tidak mungkin melakukan kesalahan," tegas Naja sambil menggelengkan kepala. Suaranya terdengar serak.
"Tapi itu kebenarannya, Niko adalah orang jahat sesungguhnya. Sementara Evan, dia hanya bertindak kasar untuk melindungi adiknya. Orang jahat sebenarnya adalah Niko!" jelas Satria, mencoba menegaskan kebenarannya sekali lagi.
Naja terdiam, merenungi ucapan Satria barusan. Sementara Satria kini giliran merasa penasaran dengan sikap sosok itu. Dia mendekat sambil mengerutkan kening pada Naja.
"Kalau kamu sendiri, kenapa kamu menolong Niko? Tidak biasanya kamu nolong manusia," ujar Satria membuat Naja menoleh.
Naja melipat kedua tangan di depan dada. Dia menghela napas.
"Itu karena kasihan, Sat. Niko seperti sekarat dan aku saat itu melihat bagaimana Evan mencoba menghajar sampai nyawanya melayang. Kebetulan skor kenakalan Evan juga yang paling tinggi jadi aku pilih untuk selamatkan Niko," ujar Naja dengan sikap arogannya. Tatapan matanya masih tajam tapi terasa kosong.
"Apa kau tidak tahu? Niko sama jahatnya dengan Nando? Dia juga telah bayar orang dan berusaha memanipulasi skor sistem!" tegas Satria membuat Naja makin terkejut untuk kedua kalinya.
Wajah gadis perlahan kehilangan ketenangannya. Separuh wajahnya retak dengan mata memerah saat dia mendengar nama Niko disebut oleh Satria. Tatapan mata sosok itu berubah menjadi tajam, seolah tidak bisa lagi dikendalikan. Rahang Naja mengeras dan alisnya mengerut dalam. Di balik punggungnya, sayal hitam retak berapi kembali muncul. Kali ini sayap itu terlihat lebih jelas.
Naja berubah tidak selembut tadi, sosoknya berubah menjadi menyeramkan dengan separuh wajah cantik separuh gelap. Dia menatap Satria dengan tegas.
"Jangan sebut nama itu lagi!" tegas Naja, suaranya dingin.
Satria menurut, dia tidak lagi membicarakan Niko. Lelaki itu berjalan menghampiri Naja yang terbakar amarah. Dia mencoba meraih pundak sosok itu yang ditutupi sayap.
"Sekarang apa yang bisa aku lakukan?" tanya Satria mencoba memberikan bantuan pada Naja.
Naja menggeleng sambil tersenyum tipis menatap Satria. "Tidak perlu, tugasmu cukup di sini untuk investigasi dan konfirmasi. Sisanya biar aku yang memberi dia pelajaran!" jawab sosok itu dengan suara lantang. Tatapannya tajam seperti api menyala.
Di ranjang rumah sakit, Niko berbaring tak sadarkan diri. Tubuhnya masih sedikit terluka akibat hantaman dari Evan yang sangat keras. Saat dia membuka mata, tubuhnya spontan bangkit dari tidur. Lelaki itu mengerutkan kening menatap sosok yang tidak asing di matanya.
"Naja..?" tebak Niko, suaranya pelan dan matanya memicing mencoba memastikan sosok yang ada di depannya.
Naja tidak menjawab, dia mendekati Niko dengan langkah secepat cahaya. Bahkan saking cepatnya, kaki sosok itu sampai tidak terlihat menapak di lantai. Wajah yang sebagian retak dan sayap hitam dengan api membuat bulu kuduk Niko yang merinding.
Niko memundurkan posisi duduknya. Dia mencoba menjaga jarak dari Naja yang tampak menyeramkan. Sesaat Niko menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Senyuman tipis terukur di wajahnya yang masih kelu.
"Kau pasti datang ke sini untuk menjengukku kan?" tebak Niko dengan suara gembira. Sosok Naja itu tidak menjawab, malah menatap makin tajam dengan rahang mengeras.
Naja menggeleng. Dia mengangkat tangan dan mengeluarkan sebagian kekuatannya lalu mengeluarkannya untuk menyerang Niko. Lelaki itu tersungkur hingga terbentur lantai. Kepalanya yang tadi sempat pulih kini kembali terasa sakit. Niko menoleh pada Naja dengan rasa tidak percaya.
"Apa yang kamu lakukan, Naja? Bukankah kamu kemarin menolongku, kenapa sekarang kamu melukaiku?" tanya Niko dengan sedikit serak menahan rasa sakit dari memar di kepala dan juga tubuh.
Naja tidak menjawab. Dia malah tersenyum sinis dengan menunjukkan bukti skor kenakalan Niko yang ternyata tinggi.
"Lihat ulang dong bodoh! Skor kenakalanmu naik jadi 97%. Banyak dosa yang sudah kamu buat dong, pastinya," ujar Naja basa-basi.
Masih pura-pura tidak mengerti, Niko menautkan alisnya dan menatap Naja dengan polos. "Lalu apa hubungannya sekarang? Bukankah kamu sudah lihat bagaimana aku menjadi korban. Kenapa sekarang—"
CRACK
Belum sempat Niko melanjutkan ucapannya, Naja kembali menyerang Niko. Rembesan darah terlihat perlahan keluar membasahi selimut. Jantung Niko berdesir saat darah segar keluar dari mulutnya. Pandangan matanya seketika menjadi buram. Lidah Niko seketika menjadi kelu sehingga tidak bisa berkata-kata.
"Ini hukuman untuk orang manipulatif!" tegas Naja.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Aku tidak menyakiti siapapun. Coba lihat aku, Naja! Aku ini korban," bantah Niko, suaranya terbata-bata karena tertahan oleh darah yang ada di dalam mulut.
Tiba-tiba alarm verdict berbunyi. Niko mencoba meraih ponselnya dan melihat notifikasi itu.
[VERDICT UPDATE]
[Skor kenakalan meningkat 20%]
{Skor akhir 117%]
"Waduh, 117%? Ditahap ini, harusnya kamu sudah mati Niko. Tapi karena aku baik, akan kukasih kompensasi dikit deh." Ujar Naja sambil tersenyum sinis.
Niko membulatkan matanya saat rekaman bukti sikap jahatnya selama ini.
Dia merasa tidak percaya jika Naja sudah mengetahui sifat buruknya. Hal yang membuat dada terasa sesak, padahal Naja yang kemarin menolong dia dari serangan Evan. Namun, tiba-tiba saja sosok itu berbalik menyerang dia.
"Ini hukuman karena kamu sudah berani menyentuh perempuan sembarangan!" ucap Naja sambil mengeluarkan kekuatannya dan melemparkannya ke arah Niko. Seketika tangan lelaki itu patah hingga menimbulkan rasa sakit yang sangat dalam.
Bukan hanya tangan, Naja juga menyerang semua bagian tubuh Niko termasuk area privasinya. Lelaki itu menjadi lumpuh dan tidak berdaya. Bahkan melihat dan berbicara saja juga tidak sanggup. Tubuhnya dibalut oleh kain yang dipenuhi darah.
"Itu akibat dari perbuatanmu. Selama ini kamu berpura-pura menjadi korban, membuatku tersentuh bahkan menghukum orang yang tidak bersalah...," ucap Naja, lalu menghela napas panjang.
Dia menatap Niko dengan tajam. "Jangan nangis. Kamu kemarin ‘kan senang memperlakukan Dara seperti itu, sekarang tengok barangmu yang berubah busuk itu!" tegasnya.
Niko terdiam, bukan karena dia tidak ingin melawan tapi karena tubuhnya sudah kehilangan tenaga. Setelah itu, perawat datang dengan panik dan situasi rumah sakit menjadi kacau.
Waktu berlalu, suasana rumah sakit sudah normal kembali. Dokter terpaksa melakukan operasi dadakan untuk Niko. Dokter keluar setelah 36 Jam dalam ruang operasi. Kepalanya hanya menggeleng begitu menatap kedua orangtua Niko.
"Bapak, Ibu, anak kalian berhasil selamat. Tekanan darah dan detak jantungnya sekarang stabil. Tangan dan anggota tubuh lain juga bisa diperbaiki. Tapi..." Dokter memandang ragu kedua orangtua Niko.
"Tapi kenapa Dok?! Ada apa?" Ibunya Niko mengamuk dengan menggoyangkan badan dokter dengan kencang.
Dokter beberapa kali menghela nafas berat sebelum akhirnya berbicara dengan kepala tertunduk.
"Jaringan area genitalnya sudah busuk dan rusak, mungkin bisa kita lakukan rekonstruksi namun kemungkinan akibatnya pasien akan impoten permanen. Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”
"TIDAKK..." Kedua orangtua Niko histeris dan jatuh terduduk di lantai.
Naja melihat itu dengan senyum kemenangan terukir di wajahnya, sambil duduk santai di bangku ruang tunggu rumah sakit.