kau hadir saat ku benar benar merasa hancur dan nyaris gila dengan alur cerita hidupku. kau seperti malaikat tak bersayap yg di utus tuhan untuk menyadarkan dan menyelamatkan hidupku.
tanpamu aku bukan lah siapa siapa, tanpamu aku hanya orang hina yg kehilangan arah tujuan hidup.
takan cukup aku mengucap kata terimakasih kepadamu, atas segala kebaikan dan ketulusan hatimu.
kaulah jawaban do'a dalam hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
entah harus bagaimana
Sesampainya di rumah aku bertemu dengan ibu ku, aku bersalaman.
" Ai kamu abis dari mana jam segini baru pulang.." tanya ibu ku mengkhawatirkan ku.
" Abis maen tadi sama temen mi, terus tadi motornya mogok, untung aja tadi di jalan ada orang baik nolongin satria.." ucap ku dengan resah.
" Kamu ini, bikin khawatir umi aja.."
" Iya maaf mi, bapak mana mi?.."
" Ituh ada di kamar, lagi gak enak badan katanya.." ucap ibu.
" Gak enak badan..? Udah minum obat bapak..? " Tanyaku heran.
" Udah, tadi udah ibu kasih obat, udah kamu sana mandi salin.." suruh ibu.
" Iya mi.." jawabku, lalu aku berjalan masuk kamar.
Di dalam kamar aku melempar tas ku, aku duduk terdiam di pinggir kasur dengan tatapan kosong, aku teringat kejadian tadi, saat papahnya elina menamparku dan mengancam ku, tak lama kemudian handphond ku berdering menerima pesan dari elina, dia meminta maaf atas perlakuan papahnya itu kepadaku, namun saat itu aku mengabaikan pesan dari elina itu
Tak lama kemudian tiba tiba saja dony datang ke rumah ku, dan menanyakan ku kepada ibu ku.
" Bi satria nya ada..? " Tanya dony.
" Ada don baru aja pulang, tuh ada di kamar, masuk don.." jawab ibu.
Dony merasa heran " Baru pulang bi..? " Ucap dony, Lalu dony pun masuk ke dalam rumah ku, dia memang sudah biasa ke rumah ku, bahkan akrab dengan kedua orang tua ku, ia pun masuk ke dalam kamarku, ia melihat ku yg sedang duduk melamun, ia menghampiri ku.
" Buset jam segini loe masih pake baju sekolah aja, loe habis dari mana..? " Tanya dony, lalu ia duduk di samping ku.
" Loe kenapa? sat kayak yg gelisah banget, cerita lah sama gue.." tanyanya sambil merangkul ku.
" Gak papa don.." ucap ku dengan tatapan kosong.
" Ah bohong loe, keliatan muka loe tuh, udah cerita sama gue loe kenapa..? "Dony.
Aku teridam sejenak, lalu aku mencurahkan isi hatiku kepada sahabatku. " Sebenernya gue udah jadian sama elina.." ucap ku dengan tatapan kosong.
" Ya bagus dong, harusnya loe bahagia dong, kan loe cinta sayang sama dia, kenapa jadi galau begini loe ah..? " Ucap dony.
" Tadi sepulang sekolah........? " Tadinya aku tidak mau bercerita, dan hingga akhirnya aku menceritakan kejadian tadi kepada dony, dony terdiam mendengarkan cerita ku, ia kesal saat mendengar aku di tampar oleh papahnya elina, dan aku juga menceritakan saat papanya elina mengancam ku untuk tidak lagi mendekati elina.
" Loe kenapa gak tampar balik..!! " Ucap dony setelah mendengar cerita ku.
" Dia orang tua don, masa iya gue tampar balik, ngaco aja loe,." aku.
" Iya juga, gue jadi sedih denger cerita loe, sabar ya sat" dony menepuk pundakku.
" Gue bingung harus gimana don.."
" Udah loe gak usah bingung, udah jangan sedih, udah jangan di denger apa kata orang tua nya itu, lanjutin perjuangan cinta loe, masa iya loe mau nyerah gitu aja, dan gue rasa juga si elina bener bener sayang cinta sama loe, kapan lagi loe punya cewek secantik dan sebaik dia, udah jangan sedih ah.." ucap dony sambil merangkul ku.
" Iya juga sih, tapi gaman ya..? " jawabku ku masih bingung haru bagaimana.
" Udah gak usah gimana gimana, jalanan aja dulu, nanti juga baik baik aja, udah jangan galau, jangan sedih, jangan cengeng, gue gampar loe kalau nangis.." ucap dia, aku tersenyum mendengarnya.
" Ngomong ngomong loe tumben maen ke rumah gue..? " Tanya ku.
" Iya males gue di rumah, gue kabur ke sini, risi gue tadi abis di omelin bapak gue.." dony.
" Kenapa emangnya..? " Aku dengan penasaran.
" Tadi sore pas gue mau ngasih makan burung muray mahal kesayangan bapak gue, gue lupa gak tutup lagi pintu kandang nya, eh burung nya lepas kabur tau kemana, mana emak gue ngeliat lagi kejadian itu, tarus tadi pas bapak gue pulang, abis gue di omelin, gue mau ganti burung pipit dia gak mau, malah tambah marah dia, di bilang gue ngeledek, yaudah gue kabur aja ke sini.." ucap dony, dan sementara aku ketawa mendengar cerita dony itu.
" Sat gue nginep di sini gak papa ya..! " ucap dony nyegir malu malu.
" Iyaaaa, loe kayak di rumah siapa aja ini, tapi awas jangan ngompol loe.." ucap ku mencandainya.
" Buset dah masa iya gue ngompol sat, gimana bau nya gue ngompol, tenang aja gue gak ngompol, udah ah gue mau tidur.." ucap dony, lalu ia berbaring di kamar ku, dan memakai selimut ku.
Lalu aku berdiri membuka baju untuk salin, dony memperhatikan ku saat aku melepas baju.
" Sat istigfar sat, loe mau apain gue sat..? gue masih perjaka sat, gue masih sekolah sat..!!" ucap dia dengan konyol sambil menarik selimutnya.
" Berisik loe ah, apaan sih loe gak jelas, orang gue mau salin pea...!! Ucap ku dengan kesal.
" Kirain,, hehe..!! udah gue tidur ah.." ucapnya cengengesan
" Iya udah sonoh tidur loe ah, rese loe ah.." ucap ku.
Lalu Sebelum tidur dony membaca doa tidur, dengan tingkah konyol layaknya anak kecil, dan setelah membaca doa dia pun tidur, aku ketawa melihatnya, meskipun dia terkadang mengesalkan, tapi dia selalu ada saat aku sedang banyak masalah, dia selalu membuat ku tertawa, dia adalah sahabat terbaik ku.
Malam pun semakin larut, aku dan dony pun tidur bersama.
*ke esokan harinya*
saat ku di sekolah, saat aku sedang berjalan se orang diri, tiba tiba elina melihat dan memanggil ku, dia mengejar dan menghampiri ku, ia berhenti di hadapan ku menghentikan langkah kaki ku.
" Kang kenapa kamu gak bales chat aku, udah dong kang jangan marah, maafin aku ya, maafin juga orang tua aku atas kejadian kamarin kang.." ucap elina dengan raut wajah merasa bersalah. lalu aku tersenyum kepadanya.
" Gak kok lin, aku gak marah kok, kamu gak harus minta maaf sama aku, aku yg minta maaf sama kamu, gara gara aku kamu juga jadi di marahin sama orang tua kamu, maafin aku ya.." ucap ku kepadanya, lalu aku tesenyum dan mengusap rambut atas kepalanya.
Dan sementara maya dan dony saat itu mereka melihat ku dengan elina dari kejauhan..
" Itu kenapa si satria sama elina..? " Tanya maya kepada dony sambil memperhatikan ku dengan elina.
" Hem, biasa anak muda, udah biarin aja.." jawab dony.
Dan sementara aku dan elina, aku pamit pergi kepada elina.
" Lin aku masuk kelas duluan ya.." ucap ku kepada elina, lalu elina terdiam menatap ku pergi meninggalkanya, ia merasa aku marah kepadanya, padahal sesungguhnya tidak, aku hanya bingung harus bagaimana, dan selalu teringat dengan perkataan orang tuanya kemarin.