(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEGACY 2 - PENCURI JANTUNG
...Yang satu takut pada kehancuran…...
......yang satu lagi melihatnya sebagai awal....
...⚙⚙⚙...
Suara nyaring alarm membelah keheningan Arcanum Foundry. Cahaya merah menyala di setiap sudut lorong, berkedip di antara pilar-pilar batu obsidian. Di balik dinding-dinding itu, derap sepatu bot logam para penjaga bergema, ritme yang terkoordinasi, cepat, dan mematikan.
“Eldric Valen! Berhenti, atau kau akan berakhir di ujung tombak!”
Namun Eldric tidak menoleh. Ia terus berlari, napasnya tidak stabil. Di tangannya, kotak logam kuno itu bergetar hebat.
DUM... DUM... DUM...
Denyut itu bukan lagi sekadar getaran mekanis. Itu adalah detak jantung yang telah lama terkunci, kini terbangun dan menuntut kehidupan. Setiap denyutannya mengirimkan gelombang panas yang merambat hingga ke tulang Eldric.
Ia menerobos lorong servis yang sempit, bahunya menghantam dinding batu dengan kasar saat ia melakukan belokan tajam. Dunianya kini hanyalah tentang kiri, turun, dan lurus. Ia hafal setiap inci laboratorium ini, namun malam ini, Arcanum Foundry terasa asing.
Dua penjaga muncul tiba-tiba dari tikungan depan, senjata mereka terhunus.
“Berhenti!”
Tanpa ragu, Eldric menghantam panel darurat di sisi dinding.
BRAKK...
Gerbang baja raksasa jatuh menghujam lantai, menciptakan dentuman yang sangat keras. Eldric terpisah dari mereka, namun suara langkah kaki lain justru semakin banyak dari arah belakang. Mereka tidak lagi mengejar, mereka sedang menggiringnya menuju jebakan.
“Dia menuju level bawah!”
“Blokir semua akses keluar! Jangan biarkan pengkhianat itu mencapai permukaan!”
Eldric menuruni tangga spiral tua, langkahnya hampir terpeleset di atas batu yang lembap. Udara berubah drastis, semakin dalam ia turun, udara terasa semakin dingin dan berat.
Dinding batu yang kasar perlahan berganti menjadi halus. Inilah salah satu Reruntuhan Astreya yang terkubur di bawah Kerajaan Astrevan. Cahaya biru mulai merembes dari celah kotak logam di tangannya. Garis-garis energi di dinding reruntuhan menyala seketika, merespon kehadiran artefak tersebut.
“Jangan sekarang kumohon, jangan sekarang,” bisik Eldric parau.
Namun denyut itu semakin menjadi. Jantung di dalam kotak itu seolah sedang berteriak, memanggil sesuatu di kegelapan, atau mungkin menjawab panggilan dari kedalaman tanah.
Tiba-tiba, langkah kaki di belakangnya berhenti total. Sunyi yang tercipta terasa lebih mencekam daripada kebisingan alarm.
Para penjaga mundur dengan patuh, menciptakan lorong di antara barisan mereka tanpa perlu perintah suara. Siluet seorang pria berjalan melewati mereka dengan tenang. Langkahnya tidak terburu-buru, namun setiap ketukan sepatunya di lantai batu terasa mantap. Matanya yang sedingin es menyapu lorong, menghitung setiap variabel, menilai setiap celah.
“Tidak ada yang ikut,” suara pria itu datar, namun berwibawa.
“Tapi Komandan, dia membawa artefak itu.”
“Itu perintah.”
Tidak ada yang berani membantah. Komandan itu melangkah masuk ke dalam kegelapan reruntuhan sendirian, bayangannya memanjang di bawah cahaya biru yang remang.
Sementara itu, Eldric mencapai sebuah aula luas yang setengah hancur. Di tengah ruangan, sebuah lingkaran simbol Astreya raksasa terukir dalam di lantai batu. Eldric terhenti di sana, lututnya goyah. Kotak di tangannya bergetar dengan sangat kuat
DUM...
Langkah kaki pelan dan terukur terdengar dari ambang pintu. Eldric berbalik perlahan. Komandan itu berdiri di sana, diam seperti patung. Tidak ada pedang yang ditarik. Tidak ada ancaman yang diteriakkan. Hanya tatapan yang seolah mampu membaca isi kepala Eldric.
“Jadi ini pilihanmu, Eldric,” katanya. Suaranya bergema di aula yang kosong. “Menjadi pencuri di rumah yang membesarkanmu.”
Eldric menggenggam kotak itu. “Jika aku tidak melakukan ini, kalian akan menghancurkan dunia! Kalian memperlakukan kekuatan ini seperti mainan, padahal ini adalah kiamat yang terbungkus cahaya!”
Siluet pria itu melangkah masuk lebih dalam, matanya tidak pernah lepas dari kotak yang bersinar itu. “Kalian para peneliti selalu takut pada bayangan masa lalu. Kemajuan membutuhkan keberanian, bukan ketakutan.”
“Ini bukan tentang keberanian!” Eldric berteriak, suaranya pecah oleh emosi. “Ini tentang keserakahan! Jika jaringan ini bangun sepenuhnya, tidak akan ada kemenangan bagi siapa pun! Hanya ada abu!”
Komandan itu terdiam sejenak. Matanya tidak lagi sekadar dingin, ada sesuatu yang bergerak di baliknya. Sesuatu yang lebih dalam dan gelap.
“Dunia ini memang butuh dibakar,” gumamnya pelan. Ia melangkah mendekat, “tapi bukan oleh orang-orang bodoh di atas sana.”
Pria itu berhenti tepat di depan Eldric. Ia memandang cahaya biru yang merembes keluar dari kotak, menerangi wajahnya yang kaku.
“Kael Vortan dari Iron Wardens.” sahut Eldric.
“Menarik,” gumamnya pelan. “Sepertinya jantung itu sangat menyukaimu. Ia berdenyut mengikuti irama jantungmu sendiri.”
Eldric membeku. Benar saja, cahaya biru itu berdenyut lebih terang, seolah memahami ketakutan dan tekadnya.
Kael tersenyum tipis. Namun itu bukan senyum persahabatan, itu adalah senyum seorang predator yang baru saja menemukan sesuatu yang mengasyikkan dalam rencananya.
Lalu tanpa peringatan, ia menghujamkan pedangnya ke arah dinding.
CRASH...
Artefak-artefak kuno yang dipajang di dinding hancur berkeping-keping. Kristal pecah. Mesin-mesin relik kuno jatuh dengan suara yang sangat keras.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Eldric terperanjat mundur.
“Memberimu waktu,” jawabnya dingin sambil terus menghancurkan ruangan itu. Satu demi satu pilar reruntuhan ia tebas, menciptakan suara ledakan dan kehancuran yang menggema hingga ke lorong luar.
Di luar, para penjaga langsung bereaksi panik.
“Komandan sedang bertarung dengan pengkhianat itu!”
“Masuk! Cepat!”
Namun Kael kembali ke ambang pintu, berdiri kokoh menghalangi jalan masuk bagi siapa pun.
“Tidak ada yang masuk. Area ini tidak stabil!” bentaknya pada para penjaga yang ragu.
Di dalam ruangan yang hancur, Eldric menatapnya dengan kebingungan yang murni. “Apa yang kau rencanakan, Kael? Kenapa kau membantuku?”
Kael menoleh sedikit, matanya berkilat tajam di balik kegelapan. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kesetiaan pada raja di dalam tatapan itu, sebuah ambisi yang jauh lebih gelap.
“Pergi,” perintah Kael pelan. “Sekarang, sebelum aku berubah pikiran dan memutuskan bahwa jantung itu lebih baik berada di tanganku.”
Hanya butuh beberapa detik bagi Eldric untuk menyadari bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga, melewati lorong reruntuhan yang semakin gelap, menuju takdir yang baru saja ia curi dari tangan kerajaan.
Di belakangnya, suara kehancuran buatan Kael masih bergema, menipu telinga para penjaga dan memberikan Eldric perlindungan yang paling tidak mungkin ia dapatkan.
Tidak ada yang mengejar malam itu. Kael memastikan semua orang percaya bahwa Eldric Valen telah terkubur di bawah reruntuhan, sementara ia sebenarnya tetap berdiri tegak di ambang pintu, tersenyum licik sambil menatap kegelapan yang menelan Eldric.
...⚙⚙⚙...
Jika kalian suka cerita awal dari novel ini, bantu like dan subscribe, jangan lupa komen teori dan tanggapan kalian mengenai novel ini.
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)