NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Malam yang Panjang

Udara di kamar tidur utama terasa begitu dingin, bukan karena suhu AC yang terlalu rendah, melainkan karena suasana yang mencekam. Kirana berdiri mematung di dekat pintu, jari-jarinya gemetar memegang ujung baju tidurnya. Matanya tak berani menatap sekeliling ruangan yang luas dan megah itu.

Ini adalah kamar milik Arga. Ruang pribadi yang selama ini menjadi zona terlarang baginya.

Arga masuk di belakangnya, lalu menutup pintu perlahan dan menguncinya. Suara klik itu terdengar sangat jelas, seolah mengunci mereka berdua di dalam sebuah dunia yang hanya milik mereka berdua.

"Jangan berdiri di situ seperti orang bodoh," bisik Arga pelan namun tegas, matanya melirik waspada ke arah pintu, takut ibunya lewat atau mendengar. "Masuklah. Dan jangan buat suara berisik."

Kirana mengangguk kecil, lalu melangkah masuk dengan hati-hati, seolah lantai yang ia pijak adalah pecahan kaca. Kamar ini sangat besar, didominasi warna cokelat tua dan emas, memberikan kesan maskulin yang sangat kuat. Bau parfum khas Arga—aroma kayu cendana dan citrus yang mahal—langsung menyeruak memenuhi indra penciumannya, membuat kepala Kirana terasa sedikit pusing karena jantung yang berdegup terlalu kencang.

"Tempat tidurnya luas," kata Arga sambil menunjuk ke arah ranjang king size yang berada di tengah ruangan. "Kau tidur di sebelah sana, dekat dinding. Aku akan tidur di sisi sini. Dan ingat... jangan sampai kaki atau tanganmu menyentuh tubuhku. Mengerti?"

Perintah itu terdengar begitu kasar dan menjaga jarak, namun Kirana tahu itu demi kenyamanan mereka berdua.

"Ya, aku mengerti," jawabnya lirih.

"Baik. Aku akan ganti baju dulu. Kau punggungkan wajahmu atau tunggu di luar sebentar?" tanya Arga sambil mulai melepaskan kancing kemejanya satu per satu.

Gerakan itu membuat Kirana panik. Wajahnya langsung memerah padam. Ia buru-buru membalikkan badan, membelakangi pria itu.

"Aku tunggu di sini saja! Aku tidak melihat!" serunya cepat, lalu menutup matanya rapat-rapat.

Arga hanya mendengus pelan melihat reaksi istrinya yang begitu polos dan mudah malu itu. Ia pun segera berganti menjadi pakaian tidur berupa kaos oblong hitam dan celana santai panjang. Tubuhnya yang atletis dan berotot terlihat jelas di balik kaos tipis itu, memberikan aura kejantanan yang kuat namun menakutkan bagi Kirana.

"Sudah," kata Arga singkat.

Barulah Kirana berani menoleh perlahan. Ia melihat Arga sudah berbaring di sisi kanan ranjang, memunggunginya. Pria itu langsung mematikan lampu utama, menyisakan hanya lampu tidur yang redup di sisi meja samping tempat tidur.

"Matikan lampunya kalau sudah siap," ucap Arga dari balik selimut, suaranya terdengar mengantuk namun tetap dingin.

"Iya..."

Kirana berjalan pelan menuju sisi kiri ranjang. Jantungnya berdetak begitu kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Ini pertama kalinya ia sedekat ini dengan seorang pria, apalagi berbagi ranjang yang sama. Dengan tangan gemetar, ia naik ke atas kasur yang empuk itu, lalu berbaring di ujung paling pinggir, hampir jatuh ke lantai rasanya, demi menjaga jarak aman dari Arga.

Ia menarik selimut hingga ke dada, matanya menatap langit-langit kamar yang gelap.

Suasana hening total. Hanya terdengar suara napas mereka berdua. Namun bagi Kirana, keheningan ini jauh lebih berat daripada pertengkaran. Ia bisa merasakan kehadiran tubuh hangat pria itu di sebelahnya, meskipun ada jarak sekitar satu jenggal di antara mereka.

'Astaga, tenangkanlah hatiku...' batin Kirana berdoa berkali-kali. Ia takut sekali, takut kalau-kalau ia bergerak sedikit saja, Arga akan marah.

Berjam-jam berlalu. Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Kirana masih saja terjaga. Matanya pedih dan lelah, tapi otaknya tak bisa diajak kompromi untuk tidur. Adrenalin dan rasa gugup itu masih tinggi.

Tiba-tiba, Arga yang tadinya diam saja, bergerak.

Kirana langsung menahan napas, mematung tak berani bergerak.

Arga berbalik badan, kini menghadap ke arah Kirana. Dalam remang-remang cahaya, Kirana bisa melihat wajah tampan itu lebih jelas dari sebelumnya. Tanpa kacamata, tanpa ekspresi serius, wajah Arga terlihat lebih muda dan lebih tenang. Namun alisnya tampak berkerut sedikit, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat bahkan dalam tidurnya.

Karena posisi berbalik, selimut yang menutupi tubuh Arga sedikit turun, memperlihatkan dada bidangnya yang bidang.

Tanpa sadar, tangan Arga bergerak mencari ke samping, seolah mencari sesuatu untuk dipegang atau dipeluk—kebiasaan tidurnya. Dan karena jarak di antara mereka tidak sejauh yang Arga kira, tangannya yang besar dan hangat itu secara tidak sengaja mendarat tepat di pinggang Kirana.

"Hmm..." Arga menggumam pelan, lalu tanpa sadar ia menarik tangan itu, membuat jarak mereka tiba-tiba menjadi sangat dekat.

Kirana tersentak hebat. Mata nya membelalak. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja. Ia bisa merasakan hangatnya napas Arga yang teratur menyapu wajahnya.

"Arga..." panggilnya pelan, berusaha melepaskan diri. "Lepaskan..."

Tapi Arga sedang dalam tidur pulas. Ia justru mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Kirana semakin dekat hingga punggung wanita itu kini menempel sempurna di dada bidangnya. Kepala Arga bahkan bersandar di leher Kirana, membuat bulu kuduk Kirana berdiri semua.

"Jangan pergi..." gumam Arga lirih, suara itu sangat lembut, sangat berbeda dengan biasanya. Ada nada kesedihan dan kerinduan di sana.

Kirana tertegun. Tubuhnya kaku patung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat, lalu berpacu dua kali lebih cepat.

Pria ini... sedang bermimpi? Atau dia sadar tapi berpura-pura tidur?

Namun saat melihat mata Arga yang tertutup rapat dan napasnya yang teratur, Kirana sadar pria itu benar-benar tidak sadarkan diri. Entah mimpi apa yang dilihat Arga hingga membuatnya memeluk seseorang dan meminta agar tidak pergi.

Perlahan tapi pasti, rasa takut Kirana mulai tergantikan oleh rasa penasaran dan... rasa hangat yang aneh. Di balik sikap dingin dan perkataan kasarnya, ternyata Arga Wijaya juga manusia biasa yang punya sisi lembut, yang mungkin juga kesepian dan butuh sandaran.

Tangan besar Arga terasa begitu hangat di pinggangnya, memberikan rasa aman yang aneh. Aroma tubuhnya yang maskulin justru membuat pikiran Kirana menjadi tenang. Tanpa terasa, mata indah itu mulai terasa berat. Rasa kantuk akhirnya menyerang, perlahan menyelimuti kesadarannya.

'Hanya malam ini... biarlah seperti ini,' batin Kirana menyerah. 'Besok pagi, semuanya akan kembali seperti semula.'

Dengan perasaan campur aduk antara malu, takut, dan hangat, Kirana akhirnya memejamkan mata, terlelap dalam pelukan suaminya yang tidak diinginkan itu, untuk pertama kalinya merasakan kedamaian di samping pria itu.

 

Pagi harinya, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden. Suara burung berkicau terdengar riang.

Arga membuka matanya perlahan. Otaknya masih berusaha mencerna situasi. Ia merasa sangat nyenyak tidur malam ini, lebih nyenyak dari biasanya. Tubuhnya terasa hangat dan rileks.

Namun, saat ia menyadari ada sesuatu yang lembut dan hangat di dalam pelukannya, mata Arga tiba-tiba terbuka lebar penuh kaget.

Pandangannya langsung tertuju pada sosok yang ada di dadanya.

Kirana.

Wanita itu tidur dengan nyenyak, kepalanya bersandar nyaman di dada bidangnya, satu tangannya bahkan terlipat di dekat wajahnya, dan tubuhnya terbungkus sempurna dalam pelukan kuat Arga. Wajah polos itu terlihat begitu damai, bulu mata panjangnya menari-nari terkena sinar matahari pagi.

Arga terpaku. Darah seolah berhenti mengalir di tubuhnya.

'Apa yang kulakukan?!' batinnya berteriak panik.

Dengan gerakan cepat dan kaku, Arga melepaskan pelukannya seolah baru saja menyentuh bara api. Ia mundur menjauh ke ujung ranjang, napasnya tiba-tiba menjadi tidak teratur. Wajahnya memerah, campuran antara rasa malu, kaget, dan panik.

Ia menatap Kirana yang masih tertidur lelap. Pria itu mengacak rambutnya sendiri frustrasi. Bagaimana bisa dia melakukan hal sebodoh itu? Memeluk wanita yang bahkan tidak ia anggap sebagai istri sejati?

"Dasar bodoh..." gerutunya pelan pada diri sendiri.

Arga segera turun dari ranjang dengan gerakan terburu-buru. Ia tidak berani menatap wajah Kirana lagi. Rasanya aneh, ada perasaan bersalah yang besar, tapi ada juga sensasi aneh yang tertinggal di telapak tangannya—rasa lembutnya kulit wanita itu.

Ia berjalan cepat menuju kamar mandi, membanting pintu sedikit keras namun masih berusaha tidak terlalu berisik.

Beberapa saat kemudian, Kirana terbangun. Ia menguap pelan, meregangkan tangan. Namun saat kesadarannya kembali, ia langsung teringat kejadian semalam.

Matanya membulat. Ia menoleh ke samping. Kosong. Arga sudah tidak ada.

Kirana memegang dadanya sendiri, jantungnya kembali berdegup kencang mengingat betapa dekatnya mereka semalam. Wajahnya memanas merah padam.

'Ya Tuhan... aku tidur dipeluk dia. Apa dia marah? Apa dia sadar?' batinnya panik setengah mati.

Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Arga keluar. Ia sudah mandi, wajahnya segar namun terlihat sangat kaku dan datar. Tidak menatap Kirana sama sekali.

"Bangunlah. Mama pasti sudah bangun dan menunggu di bawah," ucap Arga singkat, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya, sambil sibuk merapikan baju di lemari, punggungnya membelakangi Kirana.

Kirana mengangguk kecil, suaranya tercekat di tenggorokan. "I... iya."

"Dan soal semalam..." Arga berhenti sejenak, lalu berbalik menatap Kirana dengan tatapan tajam dan dingin, seolah berusaha menutupi rasa canggungnya dengan sikap galak. "Itu hanya kecelakaan. Jangan pernah berharap apa-apa, dan jangan pernah kau bahas hal ini dengan siapa pun. Mengerti?"

Kirana menunduk, menyembunyikan kekecewaan kecil di hatinya. Tentu saja, bagi Arga itu hanyalah sebuah kesalahan, sebuah kecelakaan yang memalukan baginya.

"Ya, aku mengerti," jawabnya pelan. "Itu hanya mimpi buruk bagimu, kan? Tenang saja, aku juga tidak akan mengingatnya."

Arga terdiam sejenak mendengar jawaban itu. Ada sesuatu yang menyengat sedikit di hatinya mendengar kata 'mimpi buruk'. Tapi ia segera menepisnya.

"Bagus. Cepat siap-siap," perintahnya terakhir, lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Kirana sendirian dengan gejolak hati yang baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!