NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.

Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seharusnya Ia

Pagi datang begitu saja, tanpa permisi. Tidak hangat, juga tidak menenangkan. Cahaya hanya menyelinap tipis dan datar dari celah tirai jendela.

Mei membuka matanya, lebih mudah daripada kemarin, namun kepalanya masih terasa berat menatap langit-langit kamar yang sama—putih dan dingin. Untuk beberapa detik, ia berharap semua ini hanyalah mimpi buruk dan ilusi rasa

Namun, suara itu masih terdengar.

Bip.

Bip.

Bip.

Nyata.

Ia menghela napas panjang, mencoba menggerakkan tangannya perlahan, seolah tubuhnya sendiri masih terasa asing. Matanya terhenti saat melihat sesuatu melingkar di jari manisnya.

Sebuah cincin perak sederhana, tidak mewah, dan tidak mencolok. Tapi entah kenapa, benda itu terasa sangat… personal dan intim

“Ini… apa?” gumamnya.

Ia memaksa otaknya untuk bekerja, mencari jejak ingatan. Namun kosong tidak ada gambaran, tidak ada suara, dan tidak ada cerita apapun yang terlintas. Hanya ada satu perasaan aneh yang menghantuinya—bahwa benda itu sangat berharga, meski ia tidak tahu alasannya.

Pintu terbuka pelan, memecahkan keheningan. Seorang perawat masuk dengan senyum ramah yang profesional, gadis manis memakai cap nurse

“Selamat pagi, Mbak Mei. Bagaimana kabarnya hari ini?”

Gadis itu mencoba untuk tersenyum walau terasa pahit.

" Semoga cepat pulih ya mba."

“Lebih… sadar,” jawabnya membantah kecil

Perawat itu mengangguk, lalu pandangannya jatuh ke jari manisnya “Cincin mba bagus."

Mei hanya diam tidak mengerti.

" Jangan dilepas ya, Mbak. Itu penting.”

Mei menatap cincin itu sekali lagi. “Penting… kenapa?”

Wajahnya tampak ragu sejenak, " Mungkin cincin itu punya arti di dalam hidup mba Mei dan bisa mengembalikan ..."

" Mei tidak sakit," ucapnya dengan tegas, " tidak ada yang perlu di kembalikan."

" Ya...Mba baik baik saja, tapi jangan lupa nanti minum obat." Jawaban yang aman dan Mei memilih diam. Ia sadar, mungkin tidak semua orang akan jujur padanya saat ini.

---.

Siang hari mamanya datang duduk di sisi ranjang, membacakan sesuatu, namun pikirannya melayang jauh entah ke mana. Cincin di jarinya terasa berat, seakan menuntut jawaban yang tidak pasti .

“Ma,” panggilnya pelan.

“Iya, Sayang?”

Meisyah mengangkat tangannya. “Ini… dari siapa?”

Keheningan panjang menjawab. Ibunya tercekat, alis nya naik beberapa senti, dan wajahnya memerah dan itu sudah cukup bagi Mei untuk tahu bahwa ada sesuatu yang ditutupi.

“Ma,” desaknya lagi.

Wanita itu tersenyum, namun terlihat dipaksakan. “Itu… nanti kita bahas ya, Sayang.”

“Kenapa nanti?”

Tidak ada jawaban. Meisyah menarik tangannya kembali. Ada rahasia di sana, dan ia sama sekali tidak menyukainya.

--

Sore harinya, dokter datang untuk pemeriksaan rutin. Sederet pertanyaan terlontar, bagaikan sebuah ujian,

"Mba, pria tua beruban itu tersenyum..."boleh bapak bertanya?"

Mei hanya diam, kalimatnya tidak menarik, kalau tanya ya tanya aja, jangan pura pura sopan.

“Nama lengkapnya Mba?”

" Mba? Saya masih muda."

"Jadi bapak harus manggil siapa ?"

" Gak tahu, terserah asalkan jangan Mba."

" Kenapa ?

" Bukan urusan."

" Oke, " Dokter itu tetap tersenyum, ia sudah terbiasa menangani pasien tantrum. " Kita tanya yang lainnya.“Tempat lahirnya dimana ?

Pendidikan terakhir?”

Syukurnya semua pertanyaan bisa dijawab dengan lancar. Namun ketika sesi private dan pribadi muncul, gadis itu lebih banyak diam.

" Mba sudah menikah ?"

Perempuan itu terkejut badan, pikiran nya tiba tiba blank.

" Maksud saya jika udah menikah bagaimana

Status pernikahannya, mana suaminya ?”

" Suami? " Matanya kembali tertuju pada cincin di jarinya. “…aku tidak tahu, jangan paksa untuk mengingat."

Dokter itu hanya mencatat dengan wajah tenang, namun suasana di ruangan seketika berubah menjadi canggung dan berat. Ia pun pergi seperti tidak ada masalah.

Kesunyian kembali menyelimuti. Mei menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang mulai gelap. Untuk sesaat, ia merasa sedang menatap orang asing bukan dirinya.

Namun tidak lama pintu kembali terbuka lagi. Langkah kaki terdengar berbeda—tidak terburu-buru, tidak ragu, hanya pelan dan pasti.

Mei secara reflek menoleh melihat seorang pria yang ia lihat kemarin.

Ia berdiri di ambang pintu, belum sepenuhnya masuk, seolah menunggu izin yang tak pernah terucap. Hari ini wajahnya lebih jelas terlihat lelah. Dan lagi-lagi, perasaan aneh itu muncul—bukan rasa nyaman, tapi sesuatu yang mengganggu di dasar hatinya, entah mengapa .

“Kenapa kamu di sini?” tanyanya dingin, tanpa basa-basi.

Pria itu diam sejenak, seolah menahan beban yang berat. “…aku cuma mau lihat kamu.” Suaranya rendah dan serak.

“Kenapa?”

Tidak ada jawaban langsung, dan membuat gadis itu semakin tidak nyaman.

“Kalau kamu cuma mau lihat aku, kamu sudah lihat, silakan,” katanya ketus.

 “Maaf.” ucapnya dengan bibir gemetar berbalik badan, perlahan menjauh. Namun entah kekuatan apa yang mendorongnya, dadanya tiba-tiba terasa sesak.

“Sebentar.” Kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya membuat ia tertegun, kaget dengan apa yang baru saja ia ucapkan. “…apa kita pernah kenal?” tanyanya akhir

Sunyi.

Ia memejamkan mata sejenak sebelum menoleh kembali.“Harusnya… iya.”

Jawaban itu tidak menjelaskan apa-apa, namun cukup membuat sesuatu di dalam diri Meisyah bergetar. Matanya tertuju pada tangan di perban di pergelangannya, noda merah yang sudah mengering.

Sekilas, sebuah bayangan melintas cepat di kepalanya, tangan itu menggenggam erat dengan hangat dan kuat seperti tidak mau melepaskannya.

“Ah…” Mei tersentak, secara reflex memegang kepalanya. “Kepalaku tiba tiba sakit.”

Bayangan itu lenyap secepat ia datang, kembali menjadi kehampaan yang menyakitkan

Pria itu refleks melangkah maju, namun berhenti di tengah jalan, menahan diri agar tidak terlalu dekat.

“Panggilkan dokter ya, " katanya panik.

Mei tidak menjawab mata nya beralih pada tangannya sendiri, sebuah cincin perak menghias jari manisnya. Untuk satu detik yang singkat, begitu ia miliki. Dan itu—lebih menakutkan daripada tidak mengingat apa pun sama sekali.

1
Wawan
Hadir
Ddie: terimakasih banyak ya mas
total 1 replies
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!