Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Tempat untuk Bermesraan
Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya.
Namun justru kesunyian itu yang membuat langkahku kembali mengarah ke tempat yang sama—paviliun terlarang itu.
Aku tahu, aku sudah diperingatkan nyonya Alice
Aku tahu, aku sudah dilarang Zayn
Tetapi semakin aku mencoba melupakan, semakin kuat rasa penasaran ini tumbuh.
“Sekali saja…” bisikku pelan. “Aku hanya ingin melihat sekali saja.”
Langkahku menyusuri halaman belakang dengan hati-hati. Angin malam berembus pelan, membuat suasana terasa semakin dingin.
Namun langkahku tiba-tiba terhenti.
Dari kejauhan—dekat kolam renang—aku melihat dua sosok.
Aku menyipitkan mata, berusaha memastikan.
Dan saat itu juga, aku langsung mengenali mereka.
Zayn.
Dan… Selena.
Aku terdiam.
Mereka berdiri sangat dekat. Terlalu dekat.
Bukan sekadar berbicara.
Bukan sekadar berdiskusi.
Gerakan mereka, cara mereka saling mendekat—cukup untuk membuatku mengerti apa yang sedang terjadi tanpa perlu melihat lebih jauh.mereka bercumbu di tempat terbuka
Aku spontan memalingkan wajah.
“Ya ampun…” desisku pelan, menahan rasa jengah. “Apa mereka tidak tahu tempat?”
Aku kembali melirik sekilas, lalu langsung menggeleng.
“Di sini?” gumamku. “Di luar? Dekat kolam renang?”
Aku mendengus pelan.
“Dua orang itu benar-benar tidak punya rasa malu,” lanjutku dalam hati. “Padahal kamar tidur ada puluhan. Kenapa harus disini,Mereka sudah dewasa, tetapi kelakuannya…”
Aku menghela napas panjang, mencoba mengalihkan pandangan.
Seharusnya aku pergi.
Seharusnya aku tidak peduli.
Namun entah kenapa—
Ada rasa kesal yang muncul begitu saja.
Aku melirik sekeliling, lalu menemukan sesuatu di sekitarku, krikil taman
Aku terdiam sejenak.
Lalu tanpa sadar, sudut bibirku terangkat tipis.
“Baiklah…” gumamku pelan. “Sedikit pelajaran mungkin tidak akan menyakiti.namun akan pedih sedikit”
Aku mengambil posisi, memastikan jarak yang cukup.
Lalu—
taaak!
krikil itu melayang dari tanganku, tepat ke arah mereka.
Aku tidak menunggu hasilnya.
Begitu krikil itu terlempar, aku langsung berbalik dan berlari.
Langkahku cepat, hampir tanpa suara, menahan tawa yang nyaris lolos dari bibirku.
“Maaf,” bisikku sambil berlari. “aku tahu kalian suami istri dan itu hak kalian,tapi setidaknya cari tempat yang lebih pantas”
Jantungku berdegup kencang.
Entah karena berlari…
Atau karena rasa puas yang aneh.
Namun langkahku tidak berhenti.
Arah tujuanku tetap sama.
Paviliun itu.
Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di depan bangunan sunyi itu lagi.
Napas masih sedikit tersengal, tetapi mataku langsung tertuju pada pintu di hadapanku.
Sunyi.
Tidak ada nyonya Alice
Tidak ada Zayn.
Dan Tidak ada siapa pun yang akan menghentikanku.
Aku mendekat perlahan.
Tanganku terangkat.
Kali ini…
Tidak ada yang akan menahanku.
“Sekarang,” bisikku pelan.
Jemari tanganku menyentuh gagang pintu.
Dingin.
Dan entah mengapa, jantungku kembali berdegup lebih cepat.
Namun bukan karena takut.
Melainkan karena… perasaan bahwa aku akan menemukan sesuatu.
Sesuatu yang selama ini disembunyikan.
Aku menarik napas dalam.
Lalu perlahan—
Aku mulai mendorong pintu itu.
Apa pun yang ada di dalamnya…
Malam ini, aku akan mengetahuinya.
beruntung pintunya tidak terkunci,
Langkahku yang sudah begitu dekat dengan pintu paviliun itu kembali terhenti.
Belum sempat jemariku menyentuh gagang pintu, suara berat memecah kesunyian malam.
“Maaf, Nona. Anda tidak diperkenankan masuk.”
Aku membeku.
Perlahan, aku menoleh ke samping.
Seorang penjaga berdiri tidak jauh dariku. Sosoknya tegap, wajahnya datar, dan sorot matanya menunjukkan bahwa ia tidak sedang bercanda.
Sejenak, aku hanya menatapnya.
“Sejak kapan ada penjaga di sini?” tanyaku pelan, lebih pada diriku sendiri.
Namun pria itu tetap menjawab dengan sopan,
“Saya ditugaskan di sini, Nona.”
Aku menghela napas pelan, lalu melipat kedua tanganku di depan dada.
“Dan siapa yang menugaskanmu?” tanyaku, meskipun aku sudah bisa menebaknya.
“Perintah dari Nyonya Alice,” jawabnya tanpa ragu.
Tentu saja.
Aku tersenyum tipis, namun tidak ada kehangatan di sana.
“Luar biasa,” gumamku. “Sampai harus dijaga seperti ini.”
Penjaga itu tetap berdiri di tempatnya, tidak bergerak sedikit pun.
“Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan perintah.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Apa di dalam sana ada harta karun?” tanyaku tiba-tiba.
Penjaga itu tampak sedikit bingung, namun tetap menjaga sikapnya.
“Saya tidak mengetahui hal tersebut, Nona.”
“Atau mungkin sesuatu yang lebih berbahaya?” lanjutku, setengah bercanda, setengah serius.
“Saya tidak memiliki wewenang untuk menjelaskan.”
Aku mendengus pelan.
“Jawaban yang sangat aman,” komentarku.
Aku melangkah satu langkah mendekat ke arah pintu.
Penjaga itu langsung bergerak, menghalangi jalanku dengan sopan namun tegas.
“Maaf, Nona. Anda tidak bisa masuk.”
Aku berhenti.
Menatapnya lurus.
“Bagaimana jika saya tetap ingin masuk?” tanyaku.
Penjaga itu menunduk sedikit, namun posisinya tidak berubah.
“Saya harus mencegah Nona.”
“Dengan cara apa?”
“Dengan cara yang masih dalam batas sopan, Nona.”
Aku hampir tertawa.
“Menarik,” kataku. “Jadi saya, yang tinggal di rumah ini, tidak boleh masuk ke bangunan ini, sementara kamu—yang hanya penjaga—berhak menghentikan saya?”
“Saya hanya menjalankan perintah, Nona,maaf”
Lagi-lagi jawaban itu.
Aku menghela napas panjang.
Rasa kesal mulai merayap dalam dadaku.
“Semua orang di rumah ini selalu mengatakan hal yang sama,” kataku pelan. “Perintah. Aturan. Batas.”
Aku menatap pintu itu lagi.
Begitu dekat.
Namun terasa sangat jauh.
“Apakah saya terlihat seperti seseorang yang berbahaya?” tanyaku tiba-tiba.
Penjaga itu tampak terkejut dengan pertanyaan itu.
“Tidak, Nona.”
“Lalu kenapa saya diperlakukan seperti ancaman?”
Ia terdiam.
Tidak menjawab.
Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Aku tertawa kecil, pahit.
“Baiklah,” kataku akhirnya. “Kalau begitu, katakan pada Nyonya Alice—”
Aku berhenti sejenak, menatap penjaga itu dengan serius.
“Bahwa larangan tanpa alasan hanya akan membuat orang semakin penasaran.”
Penjaga itu tetap diam.
Aku tahu, kata-kataku tidak akan mengubah apa pun.
Namun setidaknya… aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan.
Aku menatap pintu itu sekali lagi.
Rasa penasaran itu tidak berkurang.
Justru semakin membesar.
“Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan…?” bisikku dalam hati.
Tanganku mengepal pelan.
Aku mundur satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Penjaga itu tetap berdiri di sana, seperti tembok yang tidak bisa ditembus.
Aku berbalik perlahan.
Langkahku menjauh dari paviliun itu.
Namun pikiranku…
Masih tertinggal di sana.
Beberapa langkah kemudian, aku menghentikan langkahku.
Aku tidak langsung pergi.
Aku menoleh ke belakang.
Penjaga itu masih di sana.
Tidak bergerak.
Tidak lengah.
Aku menyipitkan mata.
“Jadi sekarang dijaga,” gumamku pelan.
Itu berarti—
Apa pun yang ada di dalam sana, benar-benar penting.
Atau…
Benar-benar harus disembunyikan.
Aku tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan tantangan.
“Kalau lewat depan tidak bisa…” bisikku pelan.
Tatapanku menyapu sekeliling paviliun itu.
Gelap.
Sepi.
Namun bukan berarti tidak ada jalan lain.
“Selalu ada cara lain,” lanjutku dalam hati.
Aku menarik napas dalam.
Lalu kembali berjalan menjauh.
Kali ini, bukan karena menyerah.
Melainkan karena…
Aku sedang memikirkan cara lain.
Rasa penasaran ini tidak akan hilang.
Dan aku tidak akan berhenti hanya karena satu penjaga.
Aku mungkin terlihat mundur.
Namun sebenarnya…
Aku sedang menyusun langkah berikutnya.
Dan saat aku kembali—
Aku tidak akan datang tanpa rencana.
Langkahku semakin ringan.
Meski misteri itu belum terungkap, setidaknya aku tahu satu hal pasti sekarang.
Paviliun itu—
Memang menyimpan sesuatu.
Dan aku…
Akan menemukannya
Langkahku terasa lebih berat saat menjauh dari paviliun itu.
Lagi-lagi… nihil.
Tidak ada jawaban. Tidak ada celah. Bahkan kali ini, penjaga sudah berdiri di sana seolah memastikan aku benar-benar tidak bisa mendekat.
Aku menghela napas panjang.
“Seolah aku ini penjahat saja,” gumamku pelan.
Namun langkahku kembali terhenti.
Aku mengenali suasana ini.
Kolam renang.
Dan seperti dugaan yang entah kenapa terasa menjengkelkan—mereka masih di sana,dan posisi yang sama
Zayn.
Dan Selena.
Aku memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali.
“Serius?” desisku pelan.
Posisi mereka… tidak banyak berubah.
Masih terlalu santai, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.
Aku memijat pelipisku pelan.
“Tidak ada perkembangan sama sekali,” gumamku. “Apa mereka memang tidak merasa aneh melakukan hal itu di luar seperti ini?”
Aku seharusnya pergi.
Benar-benar pergi.
Namun entah kenapa, kakiku justru melangkah mendekat.
Perlahan.
Tenang.
Tanpa suara.
Semakin dekat, semakin jelas apa yang kulihat.
Aku menghela napas panjang, lalu berjongkok sedikit di pinggir kolam.
Tanganku menyentuh permukaan air yang dingin.
Dan tanpa banyak berpikir—
Byur!
Aku mencipratkan air itu ke arah mereka.
Sontak—
“Apa—?!”ucap selena
Keduanya langsung menoleh.
Zayn tampak terkejut. Benar-benar terkejut.
Sementara Selena… wajahnya langsung berubah kesal.
“Aluna?” ujar Zayn, jelas tidak menyangka aku ada di sini.
Aku berdiri perlahan, menatap mereka dengan ekspresi datar.
Selena mendengus kesal.
“Bisakah kamu berhenti menjadi pengganggu,kamu malam malam keluyuran?”
Aku mengangkat alis.
“Pengganggu?” ulangku ringan.
“Iya,” balas Selena tajam. “Kamu selalu muncul di saat yang tidak tepat.”
Aku tersenyum tipis.
“aku tidak berniat mengganggu,” kataku santai. “Hanya saja… aku rasa kalian punya tempat yang lebih pantas untuk melakukan hal seperti ini.”
Selena menyilangkan tangan di depan dada.
“Kami bebas melakukan apa pun,” ujarnya tanpa ragu. “Ini sudah menjadi kebiasaan kami. Dan tidak ada yang melarang.”
Aku mengangguk pelan, seolah mengerti.
“Oh ya?” kataku.
Lalu aku menatapnya dari atas ke bawah.
“Dasar tidak tahu malu.”
Wajah Selena langsung berubah.
“Jaga ucapanmu!”
Namun aku hanya mengangkat bahu.
“aku hanya mengatakan fakta,” jawabku ringan.
Aku melirik sekilas ke arah Zayn.
Ia masih diam.
Masih menatapku.
Sorot matanya sulit diartikan—antara terkejut, kesal, atau mungkin… sesuatu yang lain.
Aku memalingkan wajah.
“Apa pun itu,” lanjutku santai, “setidaknya pertimbangkan tempat. Tidak semua orang ingin melihat pemandangan seperti ini.”
Selena mendengus lagi.
“Kalau kamu tidak suka, jangan melihat.”
Aku tersenyum tipis.
“Percayalah, aku juga tidak ingin melihat,” balasku. “Namun sayangnya… kalian cukup mencolok.”
Zayn akhirnya berbicara.
“Cukup, Aluna.”
Nada suaranya rendah.
Aku menoleh padanya.
“Cukup?” ulangku. “aku hanya lewat, Dan kebetulan melihat sesuatu yang… sulit untuk diabaikan.”
“Tidak perlu diperpanjang,” katanya.
Aku mengangguk pelan.
“Baik. aku juga tidak berniat berlama-lama.”
Aku melangkah mundur satu langkah.
Lalu berhenti sejenak.
“Namun saranku tetap sama,” kataku, menatap mereka sekilas. “Gunakan kamar. Lebih… pantas.”
Selena mendengus keras.
"kalian benar-benar tidak tahu tempat,untuk melakukan hal seperti itu.”
Aku tersenyum kecil..
Aku tidak menunggu jawaban.
Aku berbalik.
Langkahku ringan saat meninggalkan mereka.
Namun sebelum benar-benar menjauh, aku sempat berhenti sejenak.
Tanpa menoleh, aku berkata pelan—
“Dan satu lagi… jangan terlalu percaya diri bahwa tidak ada yang melarang.”
Aku melanjutkan langkahku.
Meninggalkan mereka di belakang.
Meninggalkan suasana yang mungkin kini tidak lagi senyaman sebelumnya.
Jantungku masih berdetak sedikit lebih cepat.
Namun kali ini bukan karena berlari.
Melainkan karena… campuran emosi yang sulit dijelaskan.
Kesal.
Jengah.
Dan entah kenapa… sedikit terganggu.
Aku menggeleng pelan.
“Bukan urusanku,” bisikku.
Namun langkahku melambat.
Pikiranku kembali ke paviliun.
Ke penjaga.
Ke larangan.
Dan ke Zayn—
Yang tadi keluar dari tempat itu.
Aku berhenti.
Menatap kosong ke depan.
“Semuanya terasa aneh…” gumamku pelan.
Aku menarik napas dalam.
Lalu menghembuskannya perlahan.
Malam ini tidak memberiku jawaban.
Namun justru menambah pertanyaan.
Dan aku tahu—
Aku tidak akan berhenti mengetahui
Apa pun yang mereka sembunyikan sampai aku tahu kebenaranya