NovelToon NovelToon
CEO Itu Ayahku

CEO Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: T Moel

Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehilangan Jejak

Hari sudah menjelang malam, langit sudah terlihat gelap walau sebelumnya masih terlihat semburat cahaya di balik awan, namun sekarang sudah gelap seluruh nya. Rania yang sejak tadi siang mengurung dirinya di kamar seorang diri, makanan yang sudah di siapkan bu Arini belum di sentuhnya sedikit pun.

Tadi pagi setelah mengambil motor nya yang ternyata masih berada di tempatnya lengkap dengan obat dan juga makanan yang di belinya di pinggir jalan masih utuh.

Rania hanya minum air teh manis saja itu pun hanya beberapa tegukan saja dan masih banyak sisanya.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Rania. Beberapa kali ketukan akhirnya Rania membukakan pintu untuk ibunya.

"Ran, apa kamu baik baik saja, dari tadi siang ibu tidak melihat kami kamu keluar kamar, apa kamu sakit? "

"Ngga apa apa bu, Rania sedang tidak ingin melakukan apa pun, Rania hanya merasa putus asa saja, Ran takut menghadapi masa depan Ran sendiri, siapa yang ingin berteman dengan orang yang sudah tidak suci lagi, siapa pria yang ingin menikah dengan ku bu. Ran takut menghadapinya. " Rania menangis tergugu.

"Jangan menangis, masih ada ibu yang akan menemani mu, jangan takut melangkah. Ibu akan selalu ada do samping kamu. " Bu Arini menggenggam tangan Rania dengan lembut seakan menyalurkan ketenangan pada putri nya.

Rania memeluk bu Arini dengan erat seolah dunia akan mengambil ibu nya dari sisinya.

"Ibu ada kabar gembira buat kamu. "

"Kabar apa bu? "

"Tadi siang ibu bertemu lagi dengan orang akan berminat dengan rumah kita, beliau memberikan harga di atas rata-rata karena menurut nya rumah kita di terletak di tempat yang strategis, dan bagus untuk tempat usaha. "

"Dan maaf, ibu tidak menolak permintaan nya, ibu akan melepaskan rumah ini sebelum sesuatu terjadi dengan kamu Rania, kita akan pindah ke tempat yang tidak ada satu orang pun mengenali kita berdua. "

"Kita akan pindah ke mana bu? " Rania bertanya dengan wajah sembab.

"Kita akan pindah ke kampung nenek ibu yang sudah sangat lama sekali tidak pernah ibu datangi. "

"Apa Ran mengenalnya bu? "

"Ibu rasa tidak, karena neneknya ibu sudah meninggal saat ibu baru saja menikah dengan ayah kamu. "

"Kalau kita tinggal di sana, apakah tidak akan ada orang yang melarang nya? "

"Tidak akan, karena bapaknya ibu anak tunggal, dan nenek pun anak tunggal sehingga tidak ada saudara yang lain yang akan mengganggu kita. "

"Dan jangan khawatir, ibu memegang surat tanah itu jika suatu hari nanti akan ada orang yang menggugat rumah itu. "

"Baiklah kalau begitu, Ran akan ikut dengan ibu kemanapun ibu pergi. "

Bu Arini tersenyum lega melihat anaknya menyetujui keinginan tersebut, bukan tanpa alasan kenapa bu Arini ingin secepatnya pindah dari rumahnya yang sekarang di tempati, karena khawatir dengan gosip gosip tetangga jika Rania sampai hamil. Dan juga takut kalau orang yang sudah menghancurkan kehidupan putrinya datang dan mengambil Rania dari sisinya.

"Sekarang bersiaplah mengepak semua pakaian kamu, nanti malam juragan beras akan datang ke rumah dengan membawa beberapa saksi untuk transaksi penjualan rumah. "

"Bagaimana dengan barang barang yang ada di rumah ini bu? "

"Ibu akan bilang sama juragan beras itu untuk membagikan barang barang ini ke tetangga, mungkin juga ibu akan minta pak RT untuk memberikan pada tetangga yang mungkin akan membutuhkan barang barang yang kita punya. "

Rania bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang seharian ini tidak terkena air karena suasana hatinya yang sedang tidak baik.

Selesai membersihkan badan, Rania melihat di ruang tamu ada beberapa orang yang sedang berbincang, mungkin saja itu juragan beras dan beberapa orang saksi. Rania tidak mau ambil pusing, setelah selesai ganti baju, Rania melanjutkan mengepak pakaian yang akan di bawa nya pindahan ke rumah nenek buyut nya di kampung yang berada di Kalimantan.

Saat sedang mengepak baju, bu Arini masuk ke dalam kamar Rania, kemudian duduk di pinggir tempat tidur.

"Gimana bu, transaksi nya sudah selesai? "

"Sudah selesai, uangnya sebagian di transfer ke rekening ibu, dan sebagian ibu minta cash, karena ibu malas kalau harus bolak balik ke bank. "

"Kapan kita berangkat ke kampung nenek buyut? "

"Besok sore, ibu mau pamitan dulu dengan tetangga di sekitar rumah, agar mereka tidak menerka nerka kenapa kita pindah secara mendadak agar tidak ada cemoohan di kemudian hari. "

"Baiklah ibu. " Rania kembali membereskan semua pakaian yang akan di bawanya besok ke tempat yang baru.

Hari sudah berganti, sudah tiba waktu nya Rania dan ibunya berangkat ke kampung nenek buyutnya di Kalimantan Bu Arini asli Kalimantan, sedangkan ayahnya asli orang jawa. Hanya saja ayahnya yatim piatu sehingga tidak memiliki saudara.

Ada beberapa koper yang akan di bawa, Rania tengah bersiap berangkat, saat ini sedang menunggu taksi yang akan membawanya ke bandara. Tidak lama kemudian taksi yang dipesan sudah datang, bu Arini dan Rania segera naik taksi menuju bandara.

Sampai bandara mereka harus menunggu selama satu jam sebelum keberangkatan mereka menuju Kalimantan. Tidak lama kemudian panggilan pesawat yang akan membawa keduanya ke Kalimantan.

"Ibu itu pesawat yang akan membawa kita, ayo sekarang kita kesana. " Ajak Rania.

"Ayo nak, kita ke sana. "

Kemudian mereka masuk ke dalam pesawat, yang sudah siap untuk berangkat. Rania merasa sedih karena harus meninggalkan kota yang pernah menjadi tempat tinggalnya, tumbuh kembang nya selama hampir dua puluh tahun lamanya.

Bu Arini mengusap punggung Rania pelan, seakan memberikan ketenangan, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja.

Sementara di sebuah ruangan yang mewah, Leon yang sedang mengecek berkas yang bertumpuk di atas meja, mendengar suara ketukan di pintu ruangan nya.

"Masuk... "

Lalu asistennya Ryan masuk ke dalam ruangannya, kemudian berdiri di depan meja kerja Leon sambil sedikit menunduk dan membungkukan badannya.

"Bagaimana pencarian mu, apakah berhasil? " Leon bertanya tanpa mengalihkan pandangan nya dari berkas yang ada di depan matanya.

"Sudah tuan, gadis itu bernama Rania Prakasa, anak tunggal dari pasangan ibu Arini dan pak Prakasa, tinggal di jln XXX NO 5. Tapi... " Ryan menjeda perkataan nya.

"Tapi apa...? Leon meletakan berkas yang di pegang nya di atas meja.

" Mereka sudah pindah rumah, karena rumah lama mereka sudah di jual. "

"Apa kamu tahu kemana mereka pindah? " Leon dengan tatapan dinginnya seakan akan ingin menembus mata yang ada di hadapannya.

"Semua tetangga nya tidak ada yang tahu kemana pergi pergi, yang mereka tahu kalau bu Arini dan putrinya Rania sudah pergi dari sana. "

"Apa kamu sudah tanya pada Rt setempat. "

"Sudah tuan, namun pak Rt juga tidak tahu mereka pergi kemana karena mereka tidak meminta surat pindah karena katanya nanti akan menghubungi pak Rt jika memang membutuhkan surat pindah. " Jelas Ryan panjang lebar.

Leon terdiam, matanya menatap tajam Ryan yang salah tingkah dan gelisah karena tatapan Leon seperti belati tajam.

"Saya tidak mau tahu, pokoknya alamat gadis itu harus kamu temukan. " Leon berkata dengan nada datar dan dingin.

"Baik tuan, saya akan mengerahkan semua anak buah saya. "

"Saya tunggu laporan nya secepatnya di meja saya. "

" Baik tuan. "

Ryan keluar dari ruangan Leon dengan perasaan campur aduk. Sementara Leon terlihat sangat prustasi dengan keadaan ini, rasa bersalah semakin menggelayut di dalam hatinya.

Aarrrrrrggggghhhhh

Leon mengepakkan tangan nya hingga kuku kukunya terlihat memutih. "Dimana kamu sekarang, kumohon tunjukan keberadaan mu."

Leon semakin prustasi sehingga sengaja menenggelamkan dirinya dalam kesibukan dengan berkas berkasnya. Tidak terasa hari sudah malam, jam menujukan pukul 22.00. Leon segera merapikan berkas yang sudah selesai di cek dan di tanda tangan. Setelah semuanya beres, Leon keluar dari ruangan nya berjalan menuju lift ke lantai bawah.

Setelah terbang di pesawat selama 1 jam 40 menit, akhir nya bu Arini dan Rania sampai juga di bandara Internasional Supadio ( PNK) di Kubu Raya. Segera naik ke dalam taksi yang ada di sekitar bandara. Perjalanan dari bandara sekitar 1 jam, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah daerah yang terlihat asri, walaupun malam.

Taksi yang mengantar mereka sampai di depan rumah sederhana bercat hijau, walaupun tampak tidak terurus tapi rumah itu masih terlihat bagus. Bangunan yang tusk terlalu besar dengan pagar tidak terlalu tinggi, banyak di tumbuhi tanaman liar.

"Maaf bu, apa ibu yakin kalau rumah yang ibu tuju rumah ini? " sopir taksi tampak ragu karena melihat rumah tersebut.

"Saya sangat yakin pak, karena rumah ini milik nenek saya yang sudah beberapa tahun tidak di tempati. " Bu Arini menjelaskan.

"Baiklah bu, kalau memang rumah ini benar tujuan ibu. "

"Iya pak terima kasih, ini ongkosnya. " Bu Arini menyerahkan sejumlah uang.

"Tapi ini sangat besar bu. "

"Tidak apa apa pak ambil saja kembaliannya."

Pak sopir hanya mengangguk dan tersenyum karena bu Arini memberikan ongkos taksi sejumlah 2 kali lipat.

"Ayo Ran kita masuk ke dalam, cuacanya sangat dingin. " Ajak bu Arini.

"Iya bu, tapi benar ini rumah neneknya ibu, kok Ran ga yakin sih. "

"Ibu sangat yakin karena ibu besar di rumah ini, memang keadaan nya seperti ini tapi kalau sudah di bersihkan akan terlihat sangat bagus, dan pasti kamu akan betah tinggal di rumah ini. "

Bu Arini dan Rania masuk ke dalam rumah yang terlihat dari luar tampak sangat kotor namun saat sudah masuk ke dalam rumah tersebut, terlihat rapi, walaupun banyak debu dan juga ranting ranting patah, namun untuk rumah yang di tinggalkan cukup lama, rumah tersebut termasuk bersih.

Bu Arini menyalakan lampu ruang tamu kemudian berjalan ke ruang tengah dan juga ruang makan. Di sana ada beberapa kamar yang pintunya tertutup.. Meja dan kursi di tutup menggunakan kain putih.

"Bu kita akn tidur di mana? "

"Ya tentu saja kita akan tidur di kamar. Masa di ruang tamu. " Bu Arini tertawa kecil.

"Tapi kan sudah lama tidak di pakai rumah ini, pasti sangat berdebu. "

"Lebih baik kita lihat saja dulu kamarnya, mau lihat kamar ibu ga, ayo ibu tunjukan. "

Bu Arini mengajak Rania menuju salah sati kamar yang berada di tengah di apit dia kamar yang tampaknya sangat luas di lihat dari jarak pintu.

Bu Arini membuka pintu tersebut terdengar suara derit engsel pintu yang sudah lama tiidak di buka. Tampak sebuah kamar yang tidak terlalu luas tapi terlihat sangat nyaman. Tempat tidur yang di tutup kain putih di buka oleh bu Arini.

"Lihat kan, kamarnya masih tampak bagus walaupun sedikit bau apek karena sudah lama tidak di buka. malam ini kita tidur di sini, besok kita bereskan dulu rumah ini agar tidak bau apek. "

"Iya bu, Ran ikut saja apa kata ibu. Tapi bu Ran mau ke belakang, antar Ran ke kamar mandi yuk, Ran masih takut. "

"Ayoi ibu antar ke kamar mandi, letaknya di sebelah kamar ini. " Bu Arini berjalan ke kamar mandi di ikuti Rania yang sudah tidak kuat menahan buang air kecil.

"Bu,Ran lapar, kita cari makanan dulu yuk, tadi sebelum masuk ke gerbang perumahan, Ran lihat beberapa tukang jualan makanan. "

"Ayo, kebetulan ibu juga sudah merasa lapar. Kita jalan kaki saja ya. "

"iya bu ayo. "

Rania dan ibunya ke luar rumah untuk mencari makanan, karena perut mereka yang ingin di isi. Tidak lupa mengunci kembali pintu utama dan juga pintu gerbang.

Sekitar sepuluh menit mereka berjalan ke tempat jualan makanan. Di sana ada beberapa tempat makan tenda biru, Bu Arini dan Rania memutuskan untuk makan nasi goreng. Mereka makan dengan lahap, karena terakhir mereka makan saat di pesawat. Itupun dengan porsi sedikit.

Selesai makan, keduanya memutuskan kembali ke rumah namun sebelum nya mampir dulu ke mini market membeli cemilan dan beberapa minuman ukuran 2 letter. Setelah cukup berbelanja, keduanya pulang ke rumah dan segera beristirahat merebahkan tubuh yang terasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh.

"Bu bagaimana dengan kehidupan kita ke depannya, Ran sudah ga kerja, ibu pun tidak kerja hanya mengandalkan uang pensiun ayan yang tidak seberapa. "

"Tidak usah khawatir, uang hasil penjualan rumah masih sangat banyak kita bisa memanfaatkan nya untuk membuka usaha yang akan kita jadikan sebagai penghasilan kita." Rania mengangguk.

"Kamu bisa membuat kue kan, kita akan mencoba membuat toko kue dan roti, untuk awal kita jangan mengambil karyawan,, kita berdua saja dulu sebagai karyawan, nanti setelah terlihat hasilnya kita bisa angkat karyawan. "

"Ide bagus tuh bu, kok ibu kepikiran untuk membuat toko kue dan roti? "

"Semua sudah ibu pikirkan jauh hari sebelum kejadian yang menimpamu terjadi, setelah ayah meninggal ibu berpikir untuk pindah ke rumah nenek yang banyak menyimpan kenangan manis di rumah ini. Namun ibu belum ada kesempatan untuk membicarakan dengan kamu. "

"Mungkin di balik musibah yang menimpa kamu, ada hikmah di balik semua ini. "

1
tia
lanjut thor
tia
cepat satukan thor kembar sama papa nya
Nadia salma: ada lika liku dulu kak, biar ada gregetnya
total 1 replies
tia
tambah lagi Thor 🫢,,suka cerita ny
Nadia salma: siap kak...
total 1 replies
tia
update yg banyak lah thor
Nadia salma: akan saya usahakan kak, karena saya sambil kerja membagi waktu. Terima kasih sudah menyukai karya saya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!