Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Nathan meninggalkan rumah itu tanpa suara.
Sebelum pergi, ia sempat mengambil beberapa helai rambut Liora, ia memasukkannya ke dalam plastik kecil.
Tanpa menoleh lagi, ia pergi.
Beberapa saat kemudian, ia telah kembali ke apartemennya.
Pintu terbuka.
Marcus yang sejak tadi menunggu langsung menghampiri dengan wajah cemas.
“Tuan, Anda baik-baik saja?” tanyanya.
Nathan tidak langsung menjawab. Ia berdiri di depan cermin besar dan melepaskan kemejanya yang berlumuran darah, menatap tubuhnya yang kini dibalut perban.
“Mereka datang terlalu mendadak,” ujarnya datar. “Aku beruntung masih selamat.”
Marcus menghela napas lega, namun ekspresinya tetap serius.
“Anak buah kita sudah berpencar. Kami juga sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi baku tembak. Beberapa wajah mereka terekam. Sekarang orang-orang kita sedang memburu mereka.”
Nathan tetap diam sejenak, lalu perlahan mengangkat tangannya.
Sebuah plastik kecil berisi beberapa helai rambut.
“Marcus,” ucapnya pelan namun tegas, “bawa ini untuk tes DNA. Bandingkan dengan DNA Calista.”
Marcus sedikit terkejut, namun tetap menerima plastik itu.
“Nona Calista…?” ulangnya pelan.
Nathan menatap bayangannya di cermin.
Wajah itu kembali terlintas.
Sorot mata. Suara. Cara berbicara.
“Seorang wanita menyelamatkanku semalam,” ucapnya pelan. “Wajahnya… suaranya… sangat mirip dengan Calista.”
Marcus terdiam sejenak.
“Tuan… apakah mungkin itu benar-benar Nona Calista?” tanyanya hati-hati.
Nathan memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali.
“Tunggu hasil DNA-nya keluar,” jawabnya tegas. “Setelah itu, baru kita putuskan.”
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya kembali tajam.
“Andai dia memang tunanganku…” lanjutnya rendah, “aku akan menemukannya..Namun jika dia hanya seseorang yang kebetulan mirip—” Ia berpaling dari cermin.
“Anggap saja pertemuan itu tidak pernah terjadi.”
“Saya mengerti, Tuan. Saya akan menghubungi Dokter Lim,” kata Marcus.
“Tidak perlu,” potong Nathan tegas. “Mengenai lukaku, jangan sampai ada yang tahu. Sebelum pelaku utamanya ditemukan.”
“Baik… kalau begitu, bagaimana jika saya yang memeriksanya?” tanya Marcus hati-hati.
Nathan menggeleng pelan.
“Liora Meng pernah belajar ilmu pengobatan. Dia cukup ahli saat mengobati lukaku.”
“Liora Meng…?” Marcus mengernyit. “Kenapa nama ini terasa familiar…”
Ia terdiam, mencoba mengingat sesuatu.
Nathan menatapnya melalui pantulan cermin, sorot matanya tajam namun sulit dibaca.
Marcus langsung menunduk. “Saya permisi dulu, Tuan.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan keluar dari ruangan.
Pintu tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
Nathan perlahan mengeluarkan dompetnya, lalu menarik keluar sebuah kartu pengenal lama. Foto seorang wanita terpampang di sana.
Calista.
Tatapannya berubah.
“Calista…” gumamnya pelan. “Apakah itu benar-benar dirimu?”
Ia terdiam sejenak.
“Tapi kenapa aku merasa kau sedikit berbeda…”
Di sisi lain.
Liora perlahan membuka matanya.
Ia langsung duduk, pandangannya menyapu ruangan dan kemudian melangkah menuju ke kamarnya.
Kosong.
“Dia… sudah pergi,” gumamnya pelan.
Ia berjalan menuju meja. Di sana, ia menemukan sebuah kartu dan selembar kertas kecil.
Tangannya mengambil kertas itu. “Terima kasih karena telah menyelamatkanku. Uang ini sebagai bayaran.”
Liora terdiam setelah membacanya.
Tatapannya sedikit berubah, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Kenapa… tatapannya terasa tidak asing…?” gumamnya lirih.
Ia mengingat kembali pria bermasker itu.
Cara berbicara. Sorot matanya.
Tidak tahu kenapa kenapa, terasa begitu dekat.
“Di mana aku pernah melihatnya…?”
Ia menghela napas pelan, lalu menggeleng. “Mungkin saja… dia pernah menjadi pasien kakak Chu."
***
Dua hari kemudian.
Pagi itu, suasana apartemen Nathan masih sunyi seperti biasa. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama saat Marcus masuk dengan langkah cepat, membawa sebuah tablet di tangannya.
“Tuan,” ucapnya serius.
Nathan yang sedang berdiri di dekat jendela hanya melirik sekilas. “Katakan.”
Marcus menyalakan layar tablet dan menampilkan beberapa foto hasil tangkapan CCTV.
“Kami berhasil mengidentifikasi beberapa orang yang terlibat dalam penyerangan malam itu,” ujarnya. “Mereka bukan kelompok kecil biasa.”
Nathan memalingkan wajahnya, kini benar-benar memperhatikan.
“Lanjutkan.”
“Dari hasil penelusuran, mereka adalah anak buah dari kelompok Black Serpent,” lanjut Marcus. “Organisasi bawah tanah yang sudah lama bergerak di jalur perdagangan ilegal. Selama ini mereka jarang muncul di permukaan.”
Nathan menyipitkan mata.
“Black Serpent…” gumamnya pelan.
Nama itu jelas tidak asing.
“Siapa pemimpinnya sekarang?” tanyanya.
Marcus menggeser layar, menampilkan satu foto pria dengan tatapan dingin.
“Pemimpinnya dikenal dengan nama Liang Wei.”
“Dia baru mengambil alih dua tahun terakhir,” tambah Marcus. “Sejak itu, pergerakan mereka jadi lebih agresif.”
Nathan terdiam sejenak.
“Motif?” tanyanya singkat.
“Kemungkinan besar… berkaitan dengan proyek yang sedang Anda ambil alih, Tuan,” jawab Marcus. “Mereka tidak ingin Anda masuk terlalu jauh.”
Nathan terkekeh pelan, dingin.
“Menarik.”
Nathan berdiri tegak, sorot matanya berubah tajam. “Tetap awasi mereka,” ucapnya dingin. “Karena mereka yang memulai… maka aku yang akan mengakhirinya.”
Suasana ruangan seketika terasa menekan.
“Selidiki setiap gerak-gerik mereka. Dengan siapa mereka berhubungan, siapa yang berada di belakang mereka—aku ingin semuanya jelas.”
Marcus menunduk hormat. “Baik, Tuan.”
“Andaikan kejadian ini memang berkaitan dengan Liang Wei…” lanjutnya dengan suara rendah namun penuh tekanan, “…maka dia harus siap menerima konsekuensinya.”
Marcus mendekat, lalu menyerahkan sebuah berkas hasil pemeriksaan.
“Tuan, hasil tes DNA sudah keluar.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Nathan perlahan mengangkat pandangannya, menatap berkas itu sejenak sebelum akhirnya mengambilnya.
Tangannya tetap tenang.
Namun sorot matanya… berubah.
Ia membuka lembar demi lembar, membaca dengan teliti.
Dan tepat saat matanya jatuh pada bagian hasil akhir gerakannya terhenti.
Hening.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Marcus menunduk, menunggu.
“Kecocokan… 99,9%,” ucap Nathan akhirnya, suaranya rendah.
Tangannya perlahan mengepal.
“Dia…” suaranya hampir tak terdengar, “…Calista.”
"Tuan, Liora Meng ternyata adalah gadis yang akan dijodohkan dengan Anda. data lengkap yang tinggalkan teman anda sudah saya periksa tadi," kata Marcus.
Nathan menatap Marcus dan terdiam seketika.
"Calista...Liora....!"
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???