NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kondisi Pak RT

Malam itu, komplek perumahan yang biasanya tenang berubah menjadi hiruk-pikuk. Bukan karena pesta atau kenduri. Bukan karena tawuran atau kecelakaan. Tapi karena suara teriakan yang keluar dari rumah Pak RT Bambang, memecah kesunyian seperti pisau yang menyayat kain.

"TOLONG! TOLONG! ADA DI SINI! DI DEPANKU!"

Suara itu terdengar parau, serak, seperti suara orang yang sudah berteriak berjam-jam. Tapi warga yang sudah terbiasa dengan kegaduhan malam-malam terakhir tahu: Pak RT sudah seperti ini sejak Ustad Salim terbaring di rumah sakit. Semakin malam, semakin parah. Semakin larut, semakin keras.

Rumah Pak RT berada di ujung komplek, tepat di pertigaan jalan. Rumah sederhana berlantai satu dengan pagar besi hitam dan halaman depan yang ditanami bunga mawar.

Tapi malam ini, tidak ada keindahan yang tersisa. Lampu teras menyala kedap-kedip, seperti sedang berkedip ketakutan. Pintu depan terbuka lebar, menganga seperti mulut yang menjerit tanpa suara.

Beberapa tetangga mulai berhamburan keluar dari rumah mereka. Ada yang masih mengenakan sarung, ada yang masih memakai daster, ada yang sambil mengucek mata karena terbangun dari tidur. Mereka berkumpul di depan rumah Pak RT, berbisik-bisik dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Sudah seminggu ini," kata Bu Euis, tetangga sebelah kanan, sambil memegang kerudungnya yang belum sempat ia pasang rapi.

"Setiap malam. Semakin keras. Semakin parah. Kasihan istrinya."

"Katanya Pak RT kerasukan," timpal Pak Dede, tetangga depan yang sudah lanjut usia. Ia mengenakan kemeja koko putih yang sedikit kusut, sarung coklat, dan peci hitam di kepalanya.

"Setelah kejadian di masjid itu. Setelah Ustad Salim meruqyah dia."

Bu Euis menggeleng-gelengkan kepala.

"Bukan kerasukan biasa. Saya dengar... saya dengar ada sesuatu yang mengejar dia. Sesuatu yang tidak bisa dilihat."

Dari dalam rumah, suara teriakan Pak RT kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Lebih panik.

"JANGAN DEKAT! JANGAN DEKAT! MATANYA! LIHAT MATANYA!"

Suara kaca pecah menyusul. Sesuatu jatuh di dalam rumah—mungkin vas bunga, mungkin piring, mungkin cermin. Istrinya, Bu RT, keluar ke teras dengan wajah pucat pasi. Rambutnya diikat asal-asalan, jilbabnya tidak terpasang. Ia mengenakan daster rumah lengan panjang warna krem yang kusut di sana-sini.

Wajahnya sembab, matanya merah karena menangis. Ada goresan tipis di pipinya—mungkin terkena pecahan kaca saat berusaha menenangkan suaminya.

"TOLONG! TOLONG TENANGIN SUAMI SAYA!" teriaknya kepada warga yang berkumpul.

"SUDAH TIDAK BISA SAYA KENDALIKAN LAGI!"

Pak Dede melangkah maju. Beberapa warga lain mengikuti. Mereka masuk ke dalam rumah dengan hati-hati, takut akan sesuatu yang tidak mereka mengerti.

Rumah itu gelap. Lampu di ruang tamu tidak menyala. Hanya ada cahaya remang dari lampu teras yang masuk melalui jendela, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergoyang di dinding.

Bau anyir samar tercium—bukan bau bangkai seperti di rumah Tono, tapi bau keringat yang sudah mengering berhari-hari, bau ketakutan yang meresap ke dalam dinding.

Di ruang tengah, mereka melihat Pak RT.

Pria yang dulu tambun dan berwibawa dengan kemeja batik rapi dan peci hitam di kepalanya, kini tidak bisa dikenali. Badannya kurus kering, tulang rusuknya terlihat di balik baju tidur kusut berwarna abu-abu yang kancingnya terlepas di beberapa bagian, memperlihatkan dada yang cekung.

Rambutnya kusut tidak terawat, beberapa helai berdiri ke atas seperti orang yang baru tersengat listrik. Peci hitamnya—yang dulu selalu ia kenakan bahkan di dalam rumah—kini tidak ada. Mungkin terlepas saat ia berteriak-teriak. Sandalnya juga tidak ada.

Kakinya yang telanjang berlumuran tanah, mungkin karena ia sudah keluar masuk rumah berkali-kali malam ini.

Matanya... Tuhan, matanya. Mata Pak RT melotot lebar, bola matanya menonjol seperti akan keluar dari rongganya. Pupilnya mengecil, menyisakan lingkaran putih yang mengerikan di sekelilingnya.

Matanya bergerak cepat ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, seperti sedang mengikuti sesuatu yang bergerak di sekelilingnya. Sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Dan dari sudut mulutnya, ada busa tipis berwarna putih kekuningan. Buih yang keluar setiap kali ia membuka mulut untuk berteriak, setiap kali ia menggigit bibirnya karena ketakutan.

"PAK RT!" Pak Dede berusaha mendekat.

"TENANG, PAK! INI SAYA, PAK DEDE!"

Tapi Pak RT tidak mendengar–ia mendengar, tapi tidak bisa merespons. Ia hanya terus berteriak, terus menunjuk ke udara kosong di depannya.

"ITU DIA! LIHAT! LIHAT! MATANYA! MATANYA MERAH! JIDATNYA! ADA TULISAN HITAM! KAFARRO! KAFARRO!"

Ia berteriak sambil mundur, membentur meja makan di belakangnya. Piring-piring yang masih tersisa di atas meja jatuh berhamburan ke lantai, pecah berkeping-keping. Pak RT tidak peduli. Kakinya yang telanjang menginjak pecahan piring, tapi ia tidak merasakan sakit. Atau mungkin ia terlalu takut untuk merasakan sakit.

"TIDAK ADA APA-APA, PAK!" Pak Dede berusaha menenangkan.

"TIDAK ADA MATA MERAH! TIDAK ADA TULISAN! YANG ADA HANYA KAMI!"

Pak RT menggeleng keras. Gelengan yang panik, yang putus asa, seperti orang yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lihat itu nyata.

"KALIAN TIDAK BISA LIHAT! HANYA AKU! DIA HANYA INGIN AKU YANG MELIHAT! DIA MENGIKUTI AKU! KEMANA PUN AKU PERGI! DI MANA PUN AKU BERLINDUNG! DIA SELALU ADA! SELALU!"

Salah seorang warga yang lebih muda, seorang pemuda bernama Andri, mencoba mendekati Pak RT dari belakang. Maksudnya baik—ia ingin memegang bahu Pak RT, mencoba menenangkan dengan sentuhan fisik. Tapi ketika tangannya menyentuh bahu Pak RT yang kurus itu, Andri tersentak.

Dingin.

Bukan dingin seperti kulit orang yang kedinginan. Tapi dingin yang aneh. Dingin yang seperti berasal dari dalam. Dingin yang membuat bulu-bulu di tangannya berdiri.

Dan untuk sesaat, ketika Andri menatap ke belakang Pak RT—ke tempat yang selama ini ditunjuk Pak RT dengan jari gemetarnya—ia melihat sesuatu.

Bayangan hitam. Bukan bayangan biasa yang terbentuk karena cahaya. Tapi bayangan yang pekat, padat, seperti gumpalan kegelapan yang berdiri tegak di tengah ruangan.

Tingginya sekitar dua meter, dengan bentuk yang tidak jelas—kadang seperti manusia, kadang seperti tumpukan asap yang berusaha membentuk sesuatu. Dan di bagian atas bayangan itu, dua titik merah menyala.

Mata. Mata yang menatap langsung ke arah Andri.

Andri berkedip.

Bayangan itu hilang.

"Kau lihat?" Pak RT menoleh ke arah Andri. Matanya yang liar menatap pemuda itu dengan penuh harap—harap bahwa ada orang lain yang bisa melihat apa yang ia lihat.

"KAU LIHAT JUGA, 'KAN? AKU TIDAK GILA! ADA DI SANA! DI BELAKANGKU!"

Andri tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Tangannya yang tadi menyentuh bahu Pak RT masih terasa dingin. Dingin yang tidak mau hilang meskipun ia sudah menggosok-gosokkan telapak tangannya ke lengan bajunya.

"Saya... saya harus pulang," bisik Andri. Ia mundur selangkah, dua langkah, lalu berbalik dan berlari keluar rumah. Ia tidak peduli dengan tatapan aneh warga lain. Ia tidak peduli dengan panggilan ibunya yang berusaha menahan. Ia hanya ingin pulang, ingin mandi, ingin melupakan apa yang ia lihat.

Tapi ia tidak akan bisa melupakan. Dua titik merah itu akan terus muncul di mimpinya malam itu, dan malam-malam setelahnya.

Di teras, Bu RT jatuh berlutut. Tangisnya pecah. Tubuhnya yang gemetar ia biarkan berguncang tanpa ada yang menenangkan. Warga yang masih tersisa hanya bisa menatap dengan pandangan campur aduk—kasihan, takut, bingung.

"Sudah tiga minggu," isak Bu RT. "Tiga minggu dia tidak tidur. Tiga minggu dia seperti ini. Setiap malam. Setiap hari. Bahkan ketika siang, dia masih melihat... masih melihat bayangan itu."

"Dia sudah ke ustad?" tanya seorang ibu.

"Ustad Salim sudah... sudah tidak bisa. Beliau sendiri koma di rumah sakit. Ustad lain yang saya datangi... mereka coba meruqyah, tapi... tapi tidak ada yang berhasil. Bahkan ada yang pingsan seperti Ustad Salim."

Warga yang mendengar mulai berbisik. Ketakutan mulai merambat di antara mereka. Jika ustad-ustad yang terkenal sakti saja tidak bisa menolong, lalu siapa lagi yang bisa?

"Bawa ke rumah sakit jiwa saja," usul seorang bapak dengan suara pelan. "Mungkin dia perlu perawatan psikiater."

Bu RT menggeleng keras. "Suami saya tidak gila, Pak. Dia sakit. Dia diganggu. Dan saya tidak tahu... saya tidak tahu lagi harus minta tolong kepada siapa."

Di dalam rumah, suara Pak RT mulai melemah. Bukan karena ia tenang. Tapi karena suaranya habis. Yang tersisa hanya rintihan pelan, suara seperti orang yang menahan tangis, suara yang lebih menyayat hati daripada teriakan keras.

"Kafarro... kafarro... dia datang... dia akan mengambil... semuanya... dia akan mengambil..."

Bu RT menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di antara jari-jarinya, air mata terus mengalir.

---

Sementara itu, di sebuah rumah sederhana di sisi lain kota, Bu Sumarni—ibu Aisyah—sedang duduk di ruang tamunya. Wajahnya yang tua tampak lebih tua dari biasanya.

Keriput di wajahnya semakin dalam, matanya yang dulu tajam kini terlihat redup. Jilbab putih yang ia kenakan sedikit miring, tidak rapi seperti biasanya.

Di depannya, ada secarik kertas berisi beberapa nama dan alamat. Nama-nama ustad dan dukun berkedok ustad yang konon memiliki kemampuan untuk mengusir gangguan gaib. Ia mengumpulkan nama-nama ini dari tetangga, dari kerabat, dari siapa saja yang bisa ia tanyai.

Sejak rumah Tono dan Aisyah mulai diganggu, sejak ia sendiri merasakan keanehan saat berkunjung ke sana, Bu Sumarni tidak bisa diam. Ia sudah mencoba menghubungi beberapa ustad.

Ada yang langsung menolak ketika mencoba menerawang rumah tersebut. Ada yang datang, mencoba meruqyah, tapi kemudian pergi dengan wajah pucat dan tidak mau kembali. Ada juga yang berani mencoba, tapi hasilnya sama—tidak ada perubahan. Gangguan itu tetap ada. Bahkan semakin parah.

Bu Sumarni menghela napas panjang. Ia membayangkan saat Aisyah dan Rafiq melaksanakan pernikahan mereka. Rafiq tersenyum lebar dengan jenggot rapi dan kemeja putih. Aisyah tersenyum di sampingnya dengan gaun pengantin putih.

"Maafkan aku, Nak Rafiq," bisiknya. "Maafkan kami semua. Kami telah berbuat salah padamu. Tapi tolong... jangan sakiti anakku. Jangan sakiti cucuku yang masih dalam kandungan. Aku mohon..."

Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang bertiup pelan, menerbangkan tirai jendela yang terbuka.

Bu Sumarni memejamkan matanya. Besok, ia akan mendatangi nama terakhir di daftarnya—seorang kyai tua di desa seberang yang konon memiliki ilmu kebatinan yang sangat dalam. Kyai yang tidak mau disebut namanya. Kyai yang hanya mau menerima tamu dengan perjanjian tertentu.

Ia akan pergi ke sana. Sendirian jika perlu. Demi anaknya. Demi cucunya yang belum lahir.

Ia membuka matanya. Di sudut ruangan, di tempat paling gelap antara lemari dan dinding, ia melihat bayangan hitam sekilas. Lalu bayangan itu hilang.

Bu Sumarni menggenggam kertas di tangannya lebih erat.

"Besok," bisiknya. "Besok aku akan datang, Kyai. Tolong... tolong selamatkan anakku."

Di luar, malam semakin larut. Di rumah Pak RT, suara rintihan masih terdengar. Di rumah Tono dan Aisyah, bau bangkai semakin pekat.

Dan di rumah kecil di pinggir desa, Rafiq sedang duduk bersila di ruang tamu, memejamkan mata, dengan tiga huruf di dahinya yang menyala terang di tengah gelap.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!